تسجيل الدخولBella duduk dengan menyilangkan kedua kakinya pada sebuah sofa di markas Hell Devil. Wajahnya gelisah. Seperti tengah menunggu sesuatu.Ceklek!Kenop pintu berputar. Bella langsung berdiri demi melihat Pak Freddy dan anggota mafia Hell Devil muncul di depan pintu."Bagaimana? Apakah Leo ditemukan?" Tanya Bella.Semua anggota mafia Hell Devil menunduk dalam. Tidak berani melihat ke arah Bella. Demi melihat gelagat itu Bella langsung paham bahwa mata-mata sekaligus hacker paling berbakat milik mafia Hell Devil itu tidak ditemukan."Maaf Nona, kami kehilangan jejaknya setelah mengikuti ceceran darah Leo sampai ke tengah jalan tempat terakhir kali dia tergeletak. Kami sudah memeriksa seluruh ramah sakit di tempat itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada pasien baru dengan ciri-ciri seperti Leo," terang Pak Freddy."Jika kita tidak bisa menemukan Leo di rumah sakit artinya Leo masih hidup. Seseorang telah membawanya. Masalahnya siapa yang membawa Leo? Aku takut Leo jatuh ke tangan musuh.""Itul
Rombongan mafia Hell Devil tiba di tempat ponsel Leo jatuh. Mereka turun ke jurang dan bersusah payah mengambil ponsel itu.Wajah Pak Freddy menunjukkan guratan tak bersahabat."Periksa kemungkinan Leo ada di dasar jurang!" Perintahnya. Dua orang lagi turun menggunakan tali untuk menyisir dasar jurang. Sekitar setengah jam mereka mengubek-ubek jurang yang tidak lebar itu. Hingga akhirnya salah seorang mengabarkan tidak ada jejak manusia ditemukan disana seperti ranting yang patah terinjak ataupun rumput yang roboh ketika dilalui seseorang."Leo tidak ada di bawah," ucap orang itu.Wajah Pak Freddy langsung kusut."Ponselnya rusak Pak," anggota mafia Hell Devil yang turun untuk mengambil ponsel Leo sudah naik kembali. Ia menyerahkan ponsel itu pada Pak Freddy."Baik, masalah ponsel masih bisa kita atasi di markas nanti. Sekarang yang terpenting cari keberadaan Leo. Cari petunjuk apapun yang mungkin bisa membawa kita kepadanya," perintah Pak Freddy."Baik Pak!" Anggota mafia Hell Devil
Sesaat setelah Leo pergi dari ruang bawah tanah Rosna memanggil preman-preman yang berjaga di depan rumah sakit melalui panggilan telepon."APA SAJA YANG KAU LAKUKAN BANGSAT???!!!"Preman itu tampak tak paham."SEORANG PEMUDA TAK DIKENAL BERHASIL MASUK KE RUANG BAWAH TANAH. CEPAT TEMUKAN BOCAH KEPARAT ITU SEBELUM AKU MENCINCANG HABIS TUBUH KALIAN!!!""Ha? Ba-baik Nyonya Rosna. Kami akan menemukan bocah itu. Pasti, Nona jangan khawatir."Preman itu langsung mengajak satu rekannya untuk pergi menyisir wilayah sekitaran rumah sakit jiwa. Sementara rekan-rekannya yang lain tetap tinggal di sekitaran rumah sakit untuk melanjutkan berjaga-jaga.Percarian para preman itu berujung pada penemuan Leo yang sedang menelepon di atas bukit. Mereka naik ke atas bukit dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Tepat saat mereka telah tiba di belakang Leo mereka menghantam kepala bocah itu menggunakan potongan besi yang tadi di punggut dari tempat pembuangan sampah rumah sakit.***"H
"Ya, Nata meninggal karena skenario pembunuhan.""Siapa orang yang membunuhnya?"Rosna mendongak untuk melihat wajah Leo."Dia... Dia... Adalah... Aku!"Leo membelalakkan matanya tidak percaya."Pengakuan apa ini? Tidak! Tidak mungkin rasanya Rosna yang membunuh Natasya. Harusnya Tuan Rendy yang membunuhnya. Rasanya ini sungguh tidak benar. Ini di luar ekspektasiku," batin Leo."Hahahaha...! Dia... Mati karena aku. Aku yang membunuhnya. Aku yang menabraknya di depan anaknya. Malam itu dia sekarat! Hahahaha... Hahahaha...!!!"Tawa Rosna menggema di seluruh ruangan. Benar-benar seperti perempuan yang sudah gila. Leo mundur. Ia menyimpan ponselnya dan memakai maskernya lagi. Ini merasakan perasaan bahwa perempuan ini tak benar."Kau percaya? Hahahaha...!!!" Rosna masih tertawa lepas. Tawa yang sangat mirip orang-orang yang pikirannya sedang terganggu.Lalu detik berikutnya ekspresi Rosna berubah 180 derajat. Wanita itu berubah sendu. Ekspresinya menyayat hati. Ia ketakutan, juga merasa
Leo menaiki lift yang membawanya turun ke ruang bawah tanah. Keluar dari lift Leo langsung menemukan sebuah pintu besi yang di kunci dengan sistem. Kali ini Leo tak perlu menggunakan kemampuan merentasnya untuk membobol kata sandi pintu ini.Ia cukup memasukkan kata sandi yang tadi sudah di berikan oleh temannya Ahnan."Dandelion merah," gumam Leo sembari memasukkan kata sandi ke layar monitor kecil itu.Klik!Kunci pintu terdengar terbuka.Ssreeeeekkkk!!!Pintu otomatis langsung berbuka. Pemandangan pertama yang Leo tangkap dengan matanya adalah seorang wanita berbadan kurus tengah meringkuk membelakangi pintu.Tuk!Tuk!Tuk!Langkah kaki Leo menggema ketika ia memasuki ruangan itu. Rosna tetap tak bergeming sama sekali. Entah dia tidur atau tidak Leo tidak tahu karena wanita itu benar-benar tidak terlihat wajahnya.Grep!Leo terkejut luar biasa saat Rosna berbalik dengan cepat dan memegang tangan Leo."Siapa kamu?" Tanya Rosna."Aku Ahnan," jawab Leo berbohong."Bohong!" Teriak Rosn
"Nona, usia kehamilan Nona adalah 11 minggu. Kondisinya cukup sehat. Tapi mengingat usia Nona masih di bawah umur ini akan meningkatkan resiko kematian ibu maupun janinnya. Sebaiknya Nona melakukan pemeriksaan rutin. Juga segera ke rumah sakit jika merasakan ketidaknormalan yang terjadi selama kehamilan," terang Dokter Linda yang memeriksa Bella hari ini."Baik Dok." Bella bangun dari tempat tidur sembari membenahi pakaiannya."Oh, iya, Nona apakah suami Nona tidak ikut mengantarkan Nona?" Tanya Dokter Linda."Hehehe nggak Dok. Suaminya itu anak saya. Sekarang masih ada di Paris untuk kuliah," jawab ibunya Gara.Tadinya Dokter Linda pikir ibunya Gara adalah ibunya Bella. Karena periksa kehamilan hanya ditemani oleh Ibunya pikiran Dokter Linda sampai kemana-mana.Seperti kebanyakan kasus siswa hamil di luar nikah. Dokter Linda awalnya menduga Bella bagian dari segelintir bocah-bocah yang salah pergaulan dan berujung kehamilan yang tidak diinginkan. Rupanya ia telah salah sangka. Sehing
Keenam bocah berseragam SMA swasta itu duduk dalam satu meja yang sama. Di depannya sudah tersaji berbagai makanan dan minuman pesanan masing-masing."Ekhemm... Yang baru jadian bolehlah traktir kita," ujar Vano dengan sindiran tipis-tipis.Semua orang saling pandang menyelidik."Emangnya siapa yang ba
Hari ini adalah hari minggu jadi tidak ada yang mengusik tidur Bella. Gadis itu baru terbangun pukul delapan pagi, tepat ketika Gara keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk."Selamat pagi sayang," sapa Gara terlihat aneh. Bagi Bella memang aneh karena Gara tidak bias
"Versi cerita yang aku temukan adalah Tuan Rendy dan Tuan Rano dulunya sama-sama tergabung dalam anggota mafia Black Dragon di bawah kepemimpinan Tuan Tohir. Bisa dikatakan dulunya mereka bersahabat dekat. Mereka bahkan terlibat kisah cinta yang rumit." Leo menyalakan sebatang rokok lalu menghisapny
"Aku akan ke markas sekarang juga!" Potong Bella tak sabaran untuk segera mengetahui detail lengkap informasi itu.Sambungan telepon dimatikan. Bella melepaskan jas Gara dan mengembalikannya pada suaminya."Kamu mau kemana?" Tanya Gara."Ke markas.""Malam begini Bel?""Iya. Aku tidak bisa menunda hingga







