تسجيل الدخول"Tak kusangka selama ini kamu ada di sini," kata Gara sambil meletakkan beberapa barang belanjaan berisi sayur-mayur."Kenapa, kamu sudah memberikan rumah ini untukku kan?" Tanya Bella. Perempuan itu kemudian membungkar belanjaan yang tadi Gara bawa."Yah, rumah ini memang milikmu. Sudah jadi hakmu. Tidak ada salahnya kalau kamu menempatinya," kata Gara."Kamu mau masak apa?" Tanya Gara setelah beberapa saat.Bella masih tak menoleh karena sibuk memisahkan beberapa sayur untuk di simpan ke dalam kulkas."Kamu mau dimasakin apa? Kamu udah lama kan nggak makan masakanku."Gara mengangguk."Apapun yang kamu masak aku tetep makan. Kamu masak apa yang menurutmu paling pandai kamu buat.""Aku paling pandai masak mie instan pake telur," gurau Bella sambil terkekeh."Iya, buat itu aja nggak apa-apa. Cari yang praktis. Kalau kelamaan masak nanti aku bisa kelaparan," kata Gara."Oke, kamu emang suami pengertian. Tau banget kalau istrinya nggak begitu pandai masak."Bella mulai mengambil panci u
PLLLAAAAKKKK!!!Gara memegangi pipinya. Sesudahnya ia menunduk, menyesali perbuatannya."Ceritakan sejujurnya pada Ibu apa yang sudah kamu lakukan terhadap istri dan anakmu!" Desak Ibunya Gara.Saat ini Gara ada di kediaman rumah Rihanda. Ibunya memaksa Gara untuk pulang ke rumah sebelum menemui Bella.Gara mengangguk lemah."Ya, Gara yang salah. Gara membiarkan Bella terlantar di luar apartemen karena Gara sibuk berkuda dengan teman-teman Gara. Saat Gara pulang Bella melihat Gara sedang bersama Leticia,, tetangga apartemen Gara. Itulah kenapa Bella menjadi salah paham.""Lalu kenapa kamu membiarkan istrimu pulang sendiri?""Itulah kesalahan Gara Bu. Sebabnya Gara cemburu buta dengan orang kepercayaan keluarga Hyuugo, Gara membiarkan Bella pulang. Mengabaikan dirinya. Saat itu Gara belum tahu jika Bella sedang mengandung anak Gara..." Gara tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Jika boleh dikatakan menyesal ia sangat menyesal sekali. Berita kebahagiaan tentang dirinya akan menjadi Pa
Setelah kalang kabut di jalanan Gara akhirnya tiba di bandara. Laki-laki berlari sambil terus menerus menelepon Bella. Sayangnya mau berapa puluh kali pun Gara menelepon ia tetap tak bisa menghubungi Bella.Gara berhenti di depan lobby keberangkatan. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Kemudian ia berjalan ke pinggir tempat sepi. Gara menyandarkan punggungnya di tembok.Ia menyadari jika telah terlambat mengejar Bella. Istrinya itu mungkin saja sudah pulang ke tanah air saat ini karena memang sudah beberapa jam sejak kepergian Bella dari apartemen Gara."Apa yang harus kulakukan sekarang?" Tanya Gara."Bella sedang hamil. Mungkinkah kejutan itu yang ingin ia tunjukkan kepadaku? Sesuatu yang selama ini aku tunggu-tunggu. Tapi saat hal itu tiba aku mengacaukan momen ini."Tanpa sadar Gara pun mulai menitikkan air matanya. Sekarang ini Gara benar-benar tidak bisa tenang."Bella sedang mengandung anakku tapi bodohnya aku malah menuduhnya yang tidak-tidak soal Leo. Harusnya aku mengerti
"Masuk dulu, kita bicarakan baik-baik di dalam." Gara membawa Bella masuk dengan cara menarik lengannya secara paksa."Lepas!" Bella menyentak tangannya keras hingga pegangan Gara terlepas. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Raut marahnya tidak bisa disembunyikan."Jangan dengarkan ucapan Leticia. Aku tidak pergi untuk bersenang-senang dengannya," jelas Gara pada istrinya."Periksa gawaimu Ra!" Perintah Bella. Ia masih berusaha meredam emosinya."Kenapa?" Tanya Gara dengan kening berkerut."Periksa saja!"Gara meraih ponselnya dari saku celana. Ia melihat 58 notifikasi panggilan tidak terjawab dari Bella."Aku puluhan kali nelpon kamu dari pukul sepuluh Ra. Sekalipun kamu nggak mau angkat. Kenapa? Kamu terlalu sibuk dengan gadis tadi makanya kamu sampai nggak sempat angkat telepon dariku?" Bella meluahkan kekesalannya."Kamu bilang kemarin nggak jadi terbang kan?" Tanya Gara balik. Seolah dia tak mau disalahkan dalam perkara ini."Karena aku nggak jadi terbang terus kamu
Blam!Gara menutup pintu apartemennya. Wajahnya sendu. Ia menghembuskan nafas berat sebelum berbalik untuk pergi.Saat Gara berbalik badan untuk meninggalkan apartemennya saat itu juga muncul Leticia yang sama-sama ingin keluar."Oh, hai Ra," sapa Leticia dengan senyuman sumringah di wajahnya."Hai," sapa Gara singkat. Terlihat tidak berminat dan terkesan memaksakan senyumannya."Mau kemana?" Tanya Leticia sengaja mengakrabkan diri dengan Gara."Nggak kemana-mana," jawab Gara sudah mengayunkan kakinya pergi menuju lift."Hmmm, selalu cuek dan dingin," batin Leticia. Gadis berambut pirang itu segera menyusul masuk lift. Ia tak sengaja melihat layar gawai Gara yang menampilkan tiket pertunjukan musik Féerie di Moulin Rouge."Mau ke pertunjukan musik kenapa justru murung?" Tanya Leticia memancing Gara untuk bercerita."Ck, siapa yang mau ke pertunjukan musik?" Tanya Gara balik sambil menyimpan gawainya."Itu, bukannya kamu tadi sudah memesan tiket ke pertunjukan musik?" Leticia masih ter
Bella duduk dengan menyilangkan kedua kakinya pada sebuah sofa di markas Hell Devil. Wajahnya gelisah. Seperti tengah menunggu sesuatu.Ceklek!Kenop pintu berputar. Bella langsung berdiri demi melihat Pak Freddy dan anggota mafia Hell Devil muncul di depan pintu."Bagaimana? Apakah Leo ditemukan?" Tanya Bella.Semua anggota mafia Hell Devil menunduk dalam. Tidak berani melihat ke arah Bella. Demi melihat gelagat itu Bella langsung paham bahwa mata-mata sekaligus hacker paling berbakat milik mafia Hell Devil itu tidak ditemukan."Maaf Nona, kami kehilangan jejaknya setelah mengikuti ceceran darah Leo sampai ke tengah jalan tempat terakhir kali dia tergeletak. Kami sudah memeriksa seluruh ramah sakit di tempat itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada pasien baru dengan ciri-ciri seperti Leo," terang Pak Freddy."Jika kita tidak bisa menemukan Leo di rumah sakit artinya Leo masih hidup. Seseorang telah membawanya. Masalahnya siapa yang membawa Leo? Aku takut Leo jatuh ke tangan musuh.""Itul
"Loh, Do, buku paket bahasa Inggrisku ketinggalan di mobil. Aku balik ke mobil dulu ya. Titip tas.""Heleh, modus mau liat Bella lagi pasti.""Beneran Do.""Yaudah deh, mana tas kamu. Sini aku bawain ke kelas.""Thanks Do. Kamu baik banget."Gara memberikan tasnya pada Edo kemudian berlari kembali ke par
Senin pagi yang cerah. Bella bangun pagi sekali jadi Gara tidak perlu repot-repot membangunkan gadis itu."Kupikir kebiasaan bangun siangmu sudah berubah. Rupanya hanya karena salad buah," dengus Gara sambil menyetir mobil.Bella tersenyum tidak perduli. Ia menikmati salad buah buatan Gara dengan ceri
Bella menghampiri suaminya yang tampak tengah sibuk belajar."Raa..." Panggil Bella manja sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Gara dari belakang."Kenapa?" Tanya Gara cuek tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku."Cari salad buah yok," ajak Bella.Gara mengerutkan keningnya."Kamu tahu ini jam
Flashback"Pak, cepet dikit dong. Bella telat loh," kata Bella sambil melirik jam tangannya dengan cemas."Iya Nona. Ini Bapak juga sudah ngebut kok. Bentar lagi kita sampai kok."Bella mulai melihat gedung sekolahnya dan keadaannya sudah sepi. Pagar sudah di turup. Siswa yang telat tidak diijinkan mas







