LOGINKeesokan harinya,
Siang di perumahan yang mewah, Angga dan Angel sedang makan siang bersama dirumah. Tiba tiba, Ting tong… Ting Tong… suara bel berbunyi, Angel tau itu pasti aku yang datang. Angel tidak memberitahu Angga, bahwa aku datang. Angel sudah menyuruh satpam untuk memberi masuk kepada wanita yang bernama Putri. Angel tidak menghabiskan makanan nya, lalu pergi ke ruang tamu. Angga masih memakan makanan nya, dia terbiasa harus menghabiskan makanannya dari kecil. Diruang tamu, yahh benar dugaan Angel. Yang datang adalah aku. Lalu Angel bergegas ke ruang makan lagi yang masih ada Angga disana dan Angel kembali duduk disebelah Angga. Setelah Angga selesai menghabiskan Makanannya. “Sayangg, sudah selesai makan nya” Ucap Angel dengan nada manja. “ Iya udah” ucap angga singkat. “Ayo ke ruang tamu, aku mau kenalin kamu ke calon istri siri kamu” ucap Angel sambil tersenyum. Angga terkaget matanya membulat, “secepat itu” batin Angga. Angga masih terdiam kaget, lalu Angel menariknya dan Angga hanya menurut saja. Aku yang sedang duduk diruang tamu dengan gelisah dan jantung yang berdebar debar. Lalu melihat Angel datang menghampiriku dengan seorang lelaki tinggi, wajah yang tampan, dewasa dan berwibawa. Jantungku semakin berdebar, “apakah seorang yang tampan seperti ini mau denganku, yang tidak secantik istrinya” ucap batinku. Angga menatapku terkejut, seorang wanita yang cantik berpenampilan sederhana dengan rambutnya yang panjang terurai. “Ini bukan nya Putri Anggraini” ucap batin Angga. “Sayang, ini namanya Putri yang mau aku kenalin ke kamu” Ucap Angel memperkenalkan Aku dengan Angga. Angga masih terkejut, “Benar ini Putri” ucap batinnya lagi, dan membuat Angga senang Flashback on 3 tahun yang lalu, Angga di telepon dari rumah sakit bahwa Mamahnya mengalami kecelakaan. Saat dirumah sakit, Angga melihat Mamah nya masih berbaring di ranjang. Lalu seorang suster Datang, “Ibu Sonya sudah tidak apa apa, semuanya sudah ditangani. Dia masih dalam pengaruh obat bius. Untung Ibu Sonya dibawa cepat ke rumah sakit kalau tidak, kami tidak tau Ibu Sonya bisa selamat atau tidak” Ucap suster menjelaskan. Angga hanya menatap Mamah nya yang masih berbaring. lalu suster tersebut melanjutkan penjelasannya. “Tadi yang membawa Ibu Sonya ke sini itu adalah seorang Siswi, dia juga yang membantu mendonorkan Darah kepada Ibu Sonya” Ucap Suster itu. Angga mendongkakkan kepalanya, “dimana sekarang orang nya??” Ucap Angga bertanya kepada Suster itu. “Dia ada disebelah, sedang istirahat. Dia lemas setelah mendonorkan darahnya, katanya dia gak pernah mendonorkan darah dan memang takut jarum. Jadi selama pengambilan Darah dia nangis dan setelah selesai dia tertidur” Ucap Suster itu. “Oke makasih Sus” Lalu Angga berlari kesebelah melihat wanita tersebut yang masih memakai seragam sekolah. Angga menatapnya wajah cantik yang mungil ini dengan bulu mata yang lentik dan kulit yang putih. “Udah cantik, baik hati pula” batin Angga. Angga melihat seragam yang dikenakan wanita itu. “Owh namanya Putri Anggraini, sekolahnya di SMK Nusantara” melihat dari seragam yang Putri. Lalu Angga pergi membelikan makanan untuk Putri dikantin. Setelah kembali dari kantin, Angga ingin menemui siswa itu. Tapi ternyata tidak ada, “kemana dia??” Angga mencari dan menengok kanan kirinya tidak ada. Lalu Angga mencari suster, “Sus Sus,,, Siswi yang tadi menolong Mamah saya kemana??” Tanya Angga sambil menenteng makanan yang tadi dia beli untuk siswi itu. “Dia sudah balik Pak Angga, Tadi saya juga sudah menahannya, tapi dia bilang, dia telat bekerja. Terus langsung pergi” jawab suster itu, takut Pak Angga marah dengan nya, karena rumah sakit itu punya keluarganya. “Oke Sus, terima kasih” Ucap Angga. “Untung udah liat nama dan sekolah siswi itu jadi saya bisa menemuinya untuk berterima kasih” ucap batin Angga lalu kembali ke ruang rawat Mamahnya. Setelah beberapa minggu Ibu Sonya sudah membaik, dan Angga ingin bertemu dengan siswi itu. Kebetulan SMK Nusantara itu punya salah satu temannya Angga, jadi Angga pun menghubungi temannya yang bernama Zayn, dan bertemu dengan nya di sekolah. Zayn memberi data siswa atas nama Putri Anggraini kepada Angga. Angga membacanya dengan seksama. “Putri itu salah satu anak berprestasi, dia selalu mendapatkan Ranking 1 dikelas nya. Tapi gua diberitahu wali kelasnya, dia anak yatim piatu dan hanya tinggal dengan neneknya. Dia juga bekerja untuk membayar biaya sekolah” ucap Zayn kepada Angga. Angga benar benar terkesan kepada Putri. “Zayn,, Semua biaya sekolahnya Putri , gua yang tanggung. Tapi lu gak usah kasih tau dia kalau gua yang bayar” Ucap Angga kepada Zayn. “Siap Nga” jawab Zayn menyetujuinya. Angga melihat Putri diruang guru dari kejauhan, saat Putri diberitahu bahwa semua biaya sekolah sudah lunas semua sampai akhir. Betapa bahagianya Putri, Angga tersenyum bahagia melihat Senang seperti itu. “Senyuman yang sangat manis” ucap batin Angga. Angga mengikuti Putri dan melihat dia selepas pulang sekolah membantu nenek nya berjualan. Angga seperti nya mulai jatuh cinta kepada Putri. Angga selalu hadir saat acara yang ada disekolah itu untuk melihat Putri dari kejauhan, memastikan dia sehat selalu. “andaikan umurku dan umurmu tidak terlalu jauhh Put, ingin rasanya aku mendekatimu dan menyatakannya kepadamu.” Batin Angga. Suatu saat, dihari kelulusan Putri. Angga harus berhenti melihat dan mengikuti Putri dari kejauhan. Karena Angga terpaksa harus nikah dengan Angel. Angga harus bertanggung jawab kepada Angel. “Semoga kamu bisa sukses Put, dan hidup bahagia” batin Angga lalu meninggalkan sekolah itu. FLASHBACK OFF Hening yang Penuh Luka Angga masih terperangkap dalam lamunannya, bayangan masa lalu dan kebodohan hari ini berputar menjadi pusaran yang menyesakkan. Sebuah sentuhan lembut dan suara manja menariknya kembali. “Sayangg,” ujar Angel, suaranya seperti belati berbalut gula, menyayat kesadaran Angga. “Eehh... I-Iya,” Angga tersentak, berusaha keras menyusun ekspresi datar yang ia butuhkan untuk menutupi gemuruh di dadanya. Seorang gadis berdiri di hadapannya, aura polosnya menciptakan kontras menyakitkan dengan kekacauan yang akan segera terjadi. “Halo, saya Putri,” suaraku dengan lembut, senyuman tulus, senyum yang terasa begitu asing di tengah rumah yang penuh kepalsuan ini. “Halo juga, saya Angga,” jawab Angga, meraih tanganku. Sentuhan itu... singkat, namun cukup untuk membuat arus dingin menjalari nadinya. Gadis yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia kagumi dalam diam. Sekarang berdiri di hadapannya, dan dipersiapkan untuk menjadi korban dari sandiwara istrinya. Angel mendekat, berbisik dingin di telinga suaminya, “Gimana Sayangg, pilihanku?” Angga menelan ludah, suaranya nyaris tanpa emosi. “Kelihatan seperti anak baik-baik.” Pernyataan datar itu, tanpa komentar mendalam sudah cukup bagi Angel. Senyum sinis merekah di bibirnya. “Bagus, Tidak ada komentar apapun dari Angga. Tidak perlu repot drama lagi kayak kemarin. Pria bodoh, selalu gampang diatur” Batin Angel sambil tersenyum kecil. “Ya sudah, kalian ngobrol dulu, pendekatan dulu saja ya,,,” Ucap Angel mengambil tasnya, langkahnya ringan, seolah baru saja menyingkirkan seonggok sampah. “Aku mau ke mal dulu, sudah ditunggu teman-temanku.” Lanjut Angel. “Sayang aku jalan ya... Muachhh,” Angel mengecup pipi Angga, sebuah ciuman tanpa makna, hanya formalitas belaka. “Kamu hati-hati, ya,” jawab Angga. Sepasang mata teduh itu mengikuti Angel hingga hilang di balik pintu. Aku masih duduk diam, kaku. Kecanggungan itu terasa seperti dinding es. Jantungnya berdetak liar, irama yang terlalu cepat untuk situasi ini. Angga memecah keheningan yang menyesakkan. “Kamu umur berapa?” “Uuumur... saya 19 tahun, Pak,” jawabku terbata. Angga tersenyum. Senyum tipis yang menyimpan ribuan penyesalan. “Dia tidak berubah, bahkan makin cantik. Ya Allah, apakah dia benar-benar jodohku? Sekarang Kau pertemukan aku dengannya, tapi dalam posisi yang sangat salah. Aku serahkan semua kepadamu, Ya Allah” batin Angga Kami berbincang. Angga bertanya tentang keluarga dan pekerjaanku. Pada akhirnya, Angga membuat keputusan berani yang memicu badai di hatinya. “Kamu ikut saya pergi sebentar, yah, menemui seseorang. Tapi kamu tidak boleh bicara dengan Angel, ya.” Ucap Angga “Ketemu siapa, Pak?” Ucapku panik. Aku baru bertemu dengan Angga, tapi sudah mengajaknya pergi dan rahasia. “Tenang,” Angga tersenyum, kali ini lebih tulus. “Yang akan kamu temui itu perempuan, orangnya baik. Jadi kamu tidak usah takut ya” Ucap Angga menenangkanku. “Iya, Pak.” Ucapku dan mengangguk, kebingungannya tertelan oleh kepastian dari tatapan Angga. Angga bergegas berganti baju. Ketika ia meminta Bibi dan Pak Satpam untuk merahasiakan kepergiannya, ia merasa seperti seorang pengkhianat. Tapi pengkhianatan ini terasa benar. Bersambung…Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?""Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia.""Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.
Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu."Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau...""Gak usah, Pah," potongku cepat, sed
Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men
Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah. "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengekAngga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecilMendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes
Setelah ritual mandi yang menyegarkan, aku keluar dari kamar mandi. Aroma sedap langsung menyeruak, menggelitik hidung dan membangunkan selera makanku yang baru saja tertidur. Aku mengikuti jejak aroma itu, menemukan Angga sedang sibuk di dapur, dengan sentuhan terakhir pada masakannya. "Mas, wangi sekali," ujarku, suaraku sedikit tercekat oleh aroma yang menggoda. Angga menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya saat melihatku."Sudah rapi rupanya, Tuan Putri," godanya, kemudian mengambil sedikit makanan dengan sendok. "Cobain deh, coba kurang apa?." Ia menyuapiku dengan lembut.Aku mengecapnya perlahan, membiarkan setiap rasa menari di lidah. "Hmm, Mas... ini enak sekali! Tidak kurang apa-apa, pas banget. Sumpah, ini paling enak yang pernah aku makan. Bagaimana bisa kamu memasak seenak ini?" Aku menatapnya penuh kekaguman.Angga terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah. "Mama yang ngajarin. Kata Mama, walaupun laki-laki, harus bisa masak. Biar nanti bisa bahagiain istri," uc
Di Mobil Angga, Perjalanan Pulang Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak menikmati keheningan setelah hiruk pikuk kantor. Namun, pandanganku jatuh ke kakiku sendiri. Ada lecet kecil di bagian tumit, bekas gesekan sepatu kerja seharian. Aku meringis pelan saat menyentuhnya. "Kaki kamu kenapa, Put?" Suara berat Angga terdengar. Rupanya dia menyadari gerak-gerikku dari sudut matanya saat menyetir. Aku menoleh, tersenyum tipis. "Oh, ini, Mas. Kaki aku agak sedikit lecet. Tapi gapapa kok, lecet biasa aja." Ucapku Angga mengerem perlahan di lampu merah. Alih-alih melihat lampu, matanya justru menatap kakiku, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan serius. "Bukan 'gapapa.' Lecet itu luka, dan luka itu harus diobati. Ambil P3K di dashboard depanmu, obati sekarang." Nada bicaranya tegas, tidak menerima penolakan. "nanti aja di rumah. Ini cuma lecet kecil, beneran deh. Lagian, aku enggak bisa mengobati sambil mobil jalan begini," kataku, berusaha mengali







