LOGINHari kepulangan Evelyn, Tamara sudah menduga adik iparnya akan bertanya pada Dame. Saat wanita tua itu keluar dari kamar gadis itu dia segera menghampiri sang nyonya.“ Nyonya, nyonya...”“ Reaksi Evelyn bagaimana? “ tanya Tamara.Dame mengangguk cepat. “ Sesuai perkiraan nyonya, nona Evelyn sepertinya begitu marah. “ ucap Dame.Sudut bibir Tamara menampilkan senyuman, dia begitu berterimakasih pada orang-orang dirumah ini yang berpihak padanya.Semuanya sudah Tamara susun dengan baik, dia bahkan bertindak seolah tidak tahu apa-apa. Saat Noah mengakui dia sudah tidur bersama Ciara, mungkin jika sebelumnya tidak mengetahui yang sebenarnya dia akan marah besar.“ Kau! “ Ciara tidak menyangka dengan pemikiran Tamara yang lebih licik.“ Anak itu, bukan anak suamiku! Dan berhenti mengganggu urusan rumah tangga kami! “ ucap Tamara penuh penekanan.“ Argh! Aku benci kau, Tamara! “ pekik Ciara, dia pergi dengan menghentakkan kakinya dengan kesal.Hening, seketika atmosfer diantara keduanya b
Di tengah - tengah kericuhan, tiba-tiba saja Ciara muncul. Wanita itu tampak senang dan berwajah sumringah. “ Sayang, kau kemana saja. “ ucapnya dengan berani bergelayut manja di lengan Noah.Belum selesai dengan masalah Evelyn dan Selena, kini Ciara ikut muncul dan memperkeruh keadaan.Wajah Sebastian sudah memerah marah saat melihat wanita lain bergelayut manja di lengan kakak iparnya, terlebih itu adalah Ciara.“ Mama ingin aku sujud di kaki Selena, oke aku ikut. “ seru Evelyn pada akhirnya.Evelyn menarik tangan Sebastian dan tangan ibunya untuk menjauh dari sana, dia akan membiarkan kakaknya untuk menyelesaikan masalah dengan Ciara.“ Temani aku, Bas. “Setelah kepergian tiga orang itu, Noah segera menepis Ciara. “ Apa maksudmu, berapa kali aku bilang jangan ganggu aku! “ pekik Noah dengan berani.Dia berbalik pada Tamara yang sudah menatap jenuh ke arah mereka. “ Sayang, ini...”Tamara mendorong tubuh Noah agar menjauh darinya, dia mendekat ke arah Ciara. “ Apa maumu? “ tanya Ta
" Aku baik-baik saja, kau berlebihan. "Evelyn kembali menarik tangannya dari Sebastian, dia melanjutkan mengunyah sereal dalam mangkuknya." Eve, kau kenapa? Tidak enak badan, atau kau sedang bertengkar dengan Mack? " cecar Tamara.Mereka berdua sudah cukup dekat, Tamara bisa merasakan ada yang tidak beres dengan adik iparnya. Tapi, Evelyn hanya menggeleng pelan." Mama menyakiti mu? " tanya Noah tiba-tiba, seketika membuat Tamara dan Sebastian saling memandang.Apa ini? Bukankah hubungan keluarga mereka baik-baik saja. Tidak mungkin Nyonya Petherson melukai anaknya sendiri.Namun, ekspresi Evelyn yang diam dan tertunduk bisa menjelaskan semuanya. Belum sempat mereka bertanya lebih banyak lagi, dari luar terdengar suara familiar yang memanggil nama Evelyn. " Evelyn, kau harus bertanggung jawab! "Diambang pintu, nampak Nyonya Petherson berdiri. Dadanya naik-turun, sorot mata tajam, kalimatnya terdengar penuh penekanan. " Dimana anak itu! " pekiknya lagi.Mereka semua segera tertuju
Menarik napas dalam, akhirnya Tamara tiba pada satu keputusan. Keluarga kecilnya baru saja akan dibangun, dia tidak ingin hancur begitu saja.Atau mungkin lebih baik akhiri semuanya sebelum di mulai.Pandangan keduanya bertemu, penyesalan jelas terpancar dari sorot sendu Noah. " Putuskan semua yang berhubungan dengan Ciara. " ungkap Tamara dengan tegas.Ada jeda sejenak dalam kalimat yang terucap darinya. " Tapi, sayang-- "" Atau akhiri hubungan kita sekarang juga! " sambungnya yang menyelesaikan kalimat terakhir.Noah menggeleng cepat, tidak dia tidak ingin kehilangan Tamara. Dia tentu akan memilih pada pilihan pertama. " Tidak, jangan tinggalkan aku! " sanggahnya cepat." Maka putuskan semua yang berhubungan dengan Ciara! "Kalimat Tamara penuh penegasan, tapi Noah justru diam. Membuat wanita muda tersebut terkekeh sambil memalingkan wajahnya, dia mengusap kasar sisa air mata di wajahnya." Mana julukan mafia kejam itu, kau hanya badjingan seperti yang lainnya! "Setelah mengucapka
" Yah, kurasa kakek cukup baik padaku dengan memberikan mobil ini. "Sebastian tengah mengemudi, di jalanan kota yang licin dengan salju dia mengendarai mobil yang baru saja diberikan kakeknya.Tujuannya saat ini adalah kediaman Noah, dia akan merayakan malam natal besok dengan keluarga kecil Tamara. Senyum tak hentinya mengembang di wajah tampan pemuda tersebut. Namun, mantanya memicing saat melihat seseorang yang dia kenal di ujung jalan sana. " Evelyn? "Dia segera menepikan mobil, turun dari sana dengan payung menghampiri Evelyn. " Eve, sedang apa kau disini? Apa kau tidak kedinginan? "Di bawah tiang lampu jalan, Evelyn berdiri tanpa payung di tengah hujan salju. Meski tidak terlalu lebat, tapi suhu disekitar begitu dingin.Mendengar suara Sebastian dia tetap menunduk, seolah tak peduli dengan keadaan sekitar.Pandangan Sebastian mengedar, dia pikir mungkin Evelyn menunggu kekasihnya. Tapi, menyadari hanya ada mereka di jalanan itu dia kembali berbicara. " Ayo pulang, disini din
Suasana kediaman Petherson masih menegang, sementara Noah sudah pulang. Dia pulang bersama Mack, tentu Evelyn masih ingin menyelesaikan urusannya disini.Dada gadis itu tampak naik turun, gejolak amarah masih terasa bergemuruh. " Kau sudah tidak menganggap Mama, Eve? " tanya Nyonya Petherson pelan.Tangan Evelyn terkepal kuat, dia memejamkan mata sejenak untuk meredam emosi sebelum menjawab. " Lalu, apa mama pernah menganggap aku? " tanya balik Evelyn.Nyonya Petherson tidak paham dengan ucapan gadis itu, dia masih bertanya. " Apa maksudmu? Bukannya selama ini kau yang selalu menjauh dari mama? " Evelyn tersenyum getir, bahkan terasa menyedihkan. Di balutan harta yang berlimpah, ada hati seorang gadis yang ingin di perhatikan ibunya." Kapan Mama memperhatikan ku? Apa Mama tahu kebiasaan ku, makanan favorit ku? Tidak kan. " lirihnya yang terdengar menyedihkan.Nyonya Petherson menunduk, dia tak menyangka ternyata hubungannya dan Evelyn sejauh itu. " Maafkan Mama, Eve. " balasnya yang
“ Tamara, perkenalkan ini Tuan Delamo. “ seru Edrick yang memperkenalkan putrinya.Di depan mereka duduk seorang pria yang kiranya seusia dengan Edrick. Dia adalah Delamo, seorang pebisnis kotor yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.Pria tua licik dengan tampang yang cukup
“ Siapa tadi, kau mengenalnya? “ tanya Luci penasaran saat Tamara kembali masuk.Tamara menghela napas panjang, yang sebenarnya dia pikirkan bagaimana Sebastian nanti jika tak ada dirinya di rumah.Remaja itu terlalu lemah jika harus terus berdebat dengan Nella dan Olivia terus. Satu-satunya cara y
Kringgg!Suara pintu kedai kopi yang terbuka menarik perhatian pemilik di dalamnya. Tamara masuk dalam keadaan rambut yang sedikit acak juga pakainya yang tampak bernoda.“ Tamara, apa yang terjadi padamu? “ tanya seorang wanita berusia tiga puluhan.Dia adalah Luci, pemilik kedai kopi itu. Wanita
Tamara Monroe, putri sulung keluarga Monroe. Memiliki paras cantik, berkulit putih dengan rambut panjang bergelombang berwarna kecoklatan.Tinggi 170 centimeter, membuatnya tampak seperti seorang model profesional.Berasal dari keluarga terpandang seperti keluarga Monroe tentu semua orang akan berp







