Share

Bab 58 Pion

Author: Kai24
last update publish date: 2026-09-20 07:15:28
​Hailey mengembuskan napas kasar yang terasa berat. Belum genap sehari ia memikirkan bisikan aneh Penelope di belakangnya kemarin, kini ia justru harus berhadapan langsung dengan Damian dalam kelas gabungan berpedang. Hailey memasang kuda-kudanya dengan perasaan tertekan.

​Ia benar-benar ingin menghindari situasi ini. Terlebih kelas Penelope—yang belum mendapat giliran—sedang menonton dari tribun sayap kanan. Hailey mengedarkan pandangan dan mendapati Laura, yang tak tahu-menahu soal keteganga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 79 Menampakkan wujud aslinya

    ​“Kau seharusnya tidak membuatku menjadi lawanmu, Hailey,” desis Ruby seraya mengacungkan belatinya di hadapan gadis yang tersungkur di atas hamparan salju. ​Hembusan angin badai menggemuruh nyaring, menambah kesan mencekam di antara mereka berdua. Surai merah muda milik Ruby bergoyang liar, sementara tiap langkah kakinya memancarkan ketetapan tekad atas maksud jahatnya. Niat yang semula hanya ingin merusak wajah cantik Hailey, kini menggelap total—ia ingin menyingkirkan gadis itu selamanya. ​“Jika aku tidak bisa memiliki Cedric, maka kau juga tidak boleh!” lirihnya dingin. ​Namun, Hailey sama sekali tak menghiraukan ancaman yang keluar dari mulut Ruby. Ia jauh lebih takut pada dirinya sendiri yang telah mencapai ambang batas kewarasan. ​“Brengsek! Pergi dari sini, Rubelia!” teriak Hailey sekuat tenaga. ​Jemarinya meremas salju tebal hingga jemarinya memutih, mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi menyembunyikan taring tajam yang perlahan mencuat. Setetes air mata hangat lolos mem

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 78 Sekelumit kenangan manis

    ​Sejak kembali ke kamar, Ruby tentu saja sama sekali tidak tidur. Ia menikmati tiap detik momen ketika Hailey diseret paksa dari ranjang oleh Nyonya Margaret. Ia bahkan memegangi perutnya yang geli akibat menahan tawa, lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyusul keluar. ​Setelah beberapa saat, Ruby melangkah perlahan menuju jendela kamar. Di bawah sana, terlihat jelas Hailey mengayunkan sekopnya kembali—kali ini gerakannya tampak lemas tak bertenga. ​“Kasihan sekali…” raut wajah Ruby dibuat seolah prihatin, namun sedetik kemudian ia terkekeh kegirangan. Jika ada yang melihatnya saat ini, tingkah lakunya sungguh menyerupai orang yang telah kehilangan kewarasan. ​Ruby menarik belati yang ia sembunyikan sejak siang, mengelus permukaan bilah logam itu perlahan, bahkan menyentuhnya ke bibir seolah benda itu adalah makhluk bernyawa. Ia lalu melapisi tubuhnya dengan mantel tebal dan sepatu hangat. Di sepanjang koridor menuju halaman belakang, ia terus bersenandung riang—mambayangkan

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 77 Dahaga yang tertahan

    ​Penelope menyapu pandangan ke sekeliling ruangan begitu tiba di kamar lebih awal dibanding yang lain. Segera setelah membersihkan diri, ia mengenakan piyama hangat dan bersiap untuk tidur. Namun, rasa penasaran yang mengusik membuat niatnya tertunda sejenak. Ia menarik laci mejanya dan mendapati belati miliknya telah raib. ​Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. ​“Ada apa, Pen? Kenapa kau tersenyum sendiri?” Suara Laura mendadak memecah keheningan, membuat Penelope tersentak. ​Dengan sigap, Penelope mendorong lacinya rapat-rapat, membuat Laura mengerutkan dahi melihat gestur buru-buru itu. ​“Tidak ada apa-apa… hanya sedang menunggu kabar baik,” sahut Penelope cepat seraya naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. “Semoga mimpi indah, Laura,” tambahnya, memberikan salam hangat pada satu-satunya rekan kamar yang baru saja kembali. ​Laura yang kelelahan tak terlalu memusingkan tingkah Penelope yang masih terdengar terkekeh samar dari balik selimut. I

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 76 Api dendam yang tak padam

    ​Sudah dua hari Ruby menikmati pemandangan dari balik jendela kaca besar akademi. Di bawah sana, Hailey tampak sibuk membersihkan tumpukan salju di berbagai sudut. Ruby merasa amat terhibur tiap kali mendengar murid-murid lain menatap ke arah objek yang sama lalu tertawa terbahak-bahak, atau saling berbisik melontarkan hinaan. Bagi Ruby, tak ada hari yang lebih indah dibanding melihat gadis pirang itu menderita. Setidaknya, pemandangan itu cukup untuk mengikis rasa jengkelnya. ​Sebelumnya, saat Penelope menyebut bahwa Hailey mendapat kiriman surat dari Cedric, Ruby bergegas mengacak-acak seluruh isi kamar, tetapi ia gagal menemukan sang burung sihir. Padahal, ia berniat melakukan hal yang sama seperti saat ia menusuk mati Noctius—ikan merah kecil milik Hailey—dengan gunting. Burung itu mungkin disembunyikan di tempat yang tak ia tahu, atau bisa jadi sudah terbang kembali membawa balasan dari Hailey. Saat menyadarinya, Ruby sempat mengumpat kasar. Namun kini, melihat Hailey bekerja ka

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 75 Mempertahankan prinsip

    ​“Aku memindahkannya ke sangkar tempat burung-burung magis lain tinggal.” ​Suara Laura yang terdengar dari belakang punggung Hailey membuat gadis itu menoleh. Hembusan napas lega lolos dari celah bibirnya. Laura menepuk-nepuk pelan bahu Hailey—ia paham betul kecemasan yang membayangi sahabatnya usai tragedi yang menimpa Noctius, ikan kesayangannya. ​“Lalu kenapa bulu-bulunya bisa berserakan di lantai?” ​“Tadi wali kelasmu datang mencarimu. Saat kubilang kau sedang tidak ada, matanya mendadak tertuju pada burung magisnya. Dia lalu berusaha menangkapnya secara paksa sampai burung itu berontak liar dan bulunya rontok ke mana-mana,” Laura mengendikkan bahu. “Kukatakan saja itu burung milik Kepala Sekolah yang kupinjam dari sangkar bawah, baru dia mau melepaskannya. Benar-benar wanita yang aneh.” ​Hailey mengerutkan dahi. Selain penasaran mengapa Lenora mendadak mencarinya, ia juga heran dengan reaksi agresif sang wali kelas terhadap seekor burung magis. Tentu saja hewan itu ketaku

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 74 Hubungan yang semakin terkikis

    ​“Ada apa di sana, Pen?” ​Suara Ruby memotong tepat saat Penelope hendak menjangkau buku yang jatuh di dekat kakinya. ​“Aku merasa mendengar suara Damian,” sahut Penelope, ragu. Ia menyapu pandangan ke sudut ruangan yang tampak lengang dan sunyi. Tak ada siapa pun—setidaknya begitu yang terlihat. Perhatiannya perlahan teralih, melupakan buku yang tergeletak begitu saja di lantai. ​Ruby memutar matanya jengkel. “Kau hanya terlalu rindu padanya, makanya sampai mendengar suaranya di mana-mana,” dengus Ruby mencoba membujuk Penelope agar beranjak. Jika dibiarkan, Penelope bisa mematung berjam-jam hanya karena menduga mendengar suara sang tunangan. Kebiasaan obsesif itu terkadang membuat Ruby sedikit merinding. ​“Tapi aku yakin sempat mencium aroma parfumnya,” Penelope masih enggan melangkah. ​Di bawah kolong meja tepat di sampingnya, dua insan yang sedang sembunyi makin tertekan. Hailey tak berani menggerakkan tubuhnya sedikit pun, sementara Damian di sampingnya menahan napas sepela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status