Se connecterKeesokan harinya di ruang kerja Perusahaan Cabang Pradana Grub.....
"Iya Mi... Mami gak usah khawatir deh, sebentar lagi Arthur akan bawakan mantu untuk Mami." Ucap Arthur sekenanya yang saat ini kembali meberima teror dari Maminya lewat telpon. Itu tadi dikatakannya agar sang Mami tidak terus-terusan menodongnya untuk segera menikah. Apalagi harus pergi ke kencan buta yang sudah diatur oleh Maminya dengan wanita-wanita yang menurutnya tidak menarik itu. "Kapan Ar?" Tanya Mami Lidia di seberang sana. "Ya kalau sudah adalah..." Jawab Arthur santai tapi membuat sang Mami naik darah. "Dasar bocah sableng! Ditanya serius jawabnya seenaknya!" Seru Mami Lidia yang terdengar begitu kesal oleh jawaban putra satu-satunya itu. "Lho, itu Arthur juga serius Mi... Kalau belum ada, terus siapa yang mau dikenalin? Kaidan? Mami kan gak setuju. Jadi ntar kalau sudah ada Mi... Jelas kan?" Balas Arthur yang semakin membuat Maminya mencak-mencak di balik telponnya. "Kamu itu keterlaluan Ar sama Mami! Mami sudah berusaha berulang kali buat nyariin kamu jodoh yang tepat tapi kamu selalu menolak." Keluh Mami Lidia yang dibarengi oleh omelan. "Sekarang malah kabur sama Kaidan ke kantor cabang! Mami jadi tambah yakin jika kamu sama Kaidan ada apa-apanya. Mami ini janda Ar, kamu adalah satu-satunya anak Mami. Mami ingin melihat kamu menikah dan punya anak sebelum Mami pergi untuk menemui Papi kamu. Kamu ngertiin Mami sedikit dong Ar..." Tambah Mami Lidia yang sudah hilang kesabaran menghadapi putra satu-satunya itu. Arthut meraup wajahnya dengan sangat lelah, lelah dengan segala omelan Maminya yang nanti ujung-ujungnya pasti drama tentang hidup dan mati. "Mi, please... Beri Arthur sedikit waktu. Cari jodoh gak segampang itu. Seperti nemu bunga di pinggir jalan, dipetik lalu dibawa pulang. Ini masalah hati Mi..." Ujar Arthur yang mencoba bernegosiasi dengan Maminya. "Oh itu bagus! Mami gak peduli kamu nemu perempuan di pinggir jalan asal dia perempuan baik-baik Mami pasti terima kok. Mami juga tidak peduli dia kaya atau tidak, yang penting dia perempuan tulen!" Sahut Mami Lidia yang gak mau kalah degan perdebatan itu. "Astaga Mami... Sudah Arthur bilang..." "Cukup Ar! Mungkin jalan satu-satunya Mami harus mencari teman almarhum Papi kamu untuk memenuhi janji perjodohan antara keluarga kita dan keluarga mereka." Tiba-tiba Mami Lidia memotong ucapan Arthur yang membuatnya menghela napas lelah. "Janji perjodohan apa lagi sih Mi? Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi Mi..." Keluh Arthur. "Diam kamu Ar! Meski Mimi sudah lama tidak bertemu dengan mereka dan tidak tahu dimana mereka sekarang tinggal, tapi Mami yakin bahwa mereka memiliki seorang anak gadis. Semoga saja anak gadis mereka belum menikah. Kalau sudah, maka siap-siap saja kamu terus melakukan kecan buta sampai kamu bisa menikah!" Ancam Mami Lidia. "Astaga Mami.... Kenapa sampai segitunya sih Mi?" Ujar Arthur yang sudah begitu lelah. "Ini sudah keputusan Mami, Arthut! Atau.... Jangan bilang kamu masih memikirkan wanita licik itu?!" Tanya Mami Lidia dengan nada sarkas yang membuat Arthur sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Hal yang seharusnya tidak boleh dikatakan namun malah Maminya sendiri yang mengingatkan. Hal yang sudah susah payah Arthur kubur dalam-dalam. "Mi, kenapa harus membahas itu lagi sih Mi? Aku sudah melupakannya, lagian dia juga sudah menikah, tapi Mami malah mengingatkannya lagi." Kata Arthur ketus. Suaranya begitu datar dan dingin. Dia sudah mulai kesal saat ini. Sesuatu yang sangat menyakitkan yang sudah dia lupakan justru dibahas kembali. Bukan berarti Arthur masih mengingat-ingat kenangan buruk itu, dia sudah melupakannya. Namun apabila diingatkan tentu saja sangat menyakitkan dan membuatnya tidak nyaman. "Sayang maaf, Mami gak bermaksud membuka luka lamamu, Mami hanya..." "Mi, aku masih banyak kerjaan. Aku tutup dulu telponnya ya..." Arthur segera mengakhiri panggilan telponnya sebelum pembicaraan itu melebar kemana-mana. Dia memijit pangkal hidungnya, merasakan pening di kepalanya. Hari ini cukup melelahkan, pikirannya. "Sepertinya aku perlu cafein." Ujarnya sendiri. Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk dan muncullah Kaidan dari balik pintu itu. "Ah, kebetulan Kai! Aku mau keluar sebentar, mau ngopi sambil cari angin sebentar." Kata Arthur saat melihat Kaidan masuk ke ruangannya. "Tapi aku mau bicara soal calon karyawan baru yang akan aku wawancarai besok... Atau aku ikut kamu aja ya biar bisa sekalian kita bicarakan." Ujar Kaidan. "Ntar aja deh, kamu gak perlu ikut. Aku mau sendirian aja biar kita gak disangka homo!" Sahut Arthur sambil menepuk pundak Kaidan dan melangkah pergi dari sana. "Idiih... Najis!" Seru Kaidan yang dibalesi dengan gelak tawa Arthur yang semakin menjauh. ***** Di cafe, Yuana sudah duduk anteng dengan segelas latte dingin dan sepiring churros buat camilannya. Tak lupa leptop kesayangan yang selalu menemaninya kemana-mana sudah terpampang di atas meja. Ya, hari ini dia lembali datang ke cafe langanannya itu. Namun kali ini dia tidak sedang mendesain apapun. Semua pesanan desain sudah ia selesaikan dan untungnya bayaran sudah ditransfer, jadi bisa dia buat untuk mentraktir Angela hari ini sebagai tanda terimakasih karena sahabatnya itu dia bisa mendapat kesempatan untuk wawancara kerja besok. Jadi kali ini dia memilih memutar drama Korea selagi menunggu Angela sampai siang nanti. Sedang asyik-asyiknya nonton tiba-tiba ada seseorang yang mendatanginya, dan orang itu adalah Arthur. Kaget dong Yuana... Mimpi apa Mas Suga KW yang tampan dan memiliki rahang kokoh seperti milik bule-bule Eropa itu nyamperin dia? Sungguh perpaduan wajah yang mempesona bikin jantungnya jedag jedug saja. "Boleh saya duduk di sini? Saya tidak dapat meja karena semua penuh dan hanya meja ini yang punya satu kursi kosong." Tanya Arthur dengan sopan. Yuana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan cafe. Memang hari ini cafe sangat penuh dan ramai tidak seperti biasanya. Sepertinya sedang ada acara Ulang Tahun anak kuliahan di sana. Yuana melihat Arthur sejenak lalu menganggukkan kepalanya. "Ok, gak masalah. Silahkan..." Jawab Yuana dengan sangat, sangat, sangaatt senang hati. "Terimakasih." Balas Arthur sambil menggeser kursi untuk dia duduki. "Harusnya aku yang berterimakasih karena kemarin sudah kamu tolong." Mendengar ucapan Yuana itu Arthur mengerutkan dahinya seakan berpikir karena sudah melupakan kejadian kemarin. Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Arthur, Yuana langsung mengingatkannya. "Kemarin di depan toilet.." "Ahh... Om om genit??" Tebak Arthur yang langsung diangguki oleh Yuana. "Gak masalah. Tolong abaikan saja saya dan silahkan lanjutkan kembali kerjaan anda." Kata Arthur yang cukup menjelaskan dia tidak mau diganggu. Mau gak mau Yuana hanya bisa mengangguk dan sesekali melirik ke arah Arthur yang duduk dengan elegant-nya. "Ganteng sih... Cuma kurang ramah aja sama orang. Ganteng tapi ekspresi wajahnya lempeng banget! Lagi ada masalah kali ya?" Gumam Yuana dalam hatinya. Lalu tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggil dan mendekat ke arah meja mereka, tapi orang yang dimaksud bukan Yuana melainkan Arthur. "Arthur... Kamu di sini?" Sapa perempuan itu. "Billa..?" Sahut Arthur pada perempuan cantik nan modis yang ia panggilnya Billa itu. "Oh ternyata namanya Arthur... Cakep juga namanya." Batin Yuana yang hanya memperhatikan interaksi mereka berdua. "Kamu kok di sini? Kamu sama siapa ini?" Tanya Billa sambil menoleh ke arah Yuana. "Mati aku! Jangan-jangan dia pacarnya. Dia gak mungkin mikir aku selingkuhannya cowok ini kan?" Batin Yuana was-was. "Oh, saya cuma..." "Dia pacar aku!" Sahut Arthur memotong kalimat Yuana yang langsung membuatnya membeku, ingin sekali ia menjerit tapi kini ia hanya bisa menjerit dalam hati saja. Suaranya tidak bisa keluar, hilang entah kemana. "Mati aku, mati aku...!! Bakalan ada Perang Dunia ketiga nih!" Batin Yuana ketar-ketir."Hai Ar..." Sapa Kaidan begitu masuk ke ruangan Arthur. "Main nyelonong aja, gak ketuk pintu. Dari mana aja kamu?" Sindir Arthur. "Yaelah, perlu aku ulang lagi sambil ketuk pintu?" Sahut Kaidan santai. "Telat!" Sahut Arthur ketus. "Dari mana aja kamu?" Tanya Arthur kembali karena Kaidan belum menjawab pertanyaannya. "Dari toilet, biasa... Panggilan alam. Kenapa? Kangen ya sama aku?" Jawab Kai dengan senyum tengilnya. "kamu gak berharap aku jawab iya kan?" Ujar Arthur sarkas dan langsung membuat Kai terbahak mendengarnya. "Hahaha... Aku bakal koprol kalau kamu jawab gitu." Ujarnya sambil tertawa. "Mimpi!!" Seru Arthur yang tambah membuat Kai makin tertawa geli dibuatnya. "Oh ya, barusan Yuana ke sini kan?" Tanya Kai setelah tawanya berhenti. "Hemm..." Jawab Arthur tanpa berucap dan hanya sibuk dengan berkasnya. "Dia bilang apa?" Tanya Kai yang terlihat tidak puas dengan jawaban cuek Arthur. Arthur melirik sekilas pada Kaidan dan kembali pada kertas-kertas di depan
Melihat senyuman smirk Arthur itu mbuat Yuana tiba-tiba merinding. Yuana perlahan mundur tapi detik kemudian tangannya langsung ditarik oleh Arthur ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintunya segera. Kejadian yang sangat cepat dan tiba-tiba itu membuat Yuana tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah yang tegang dia hanya bisa pasrah. "Segitu sukanya ya kamu sama saya hingga buntutin saya sampai ke sini?" Tuduh Arthur sembari memojokkan Yuana di balik daun pintu ruangannya. "Eh bukan kok...! Saya bekerja di sini. Maaf Pak Bos, saya sungguh tidak tahu jika kamu... Ah maksud saya anda adalah Pak Arthur CEO perusahaan ini. Saya kira nama kalian hanya kebetulan saja sama." Ujar Yuana sambil mencengkeram erat map yang dia bawa dengan jantung yang sudah gak karu-karuan berisiknya. Yuana saat itu tidak bisa menatap Arthur yang berada di depannya, dia hanya menunduk dengan tubuh kaku dan jantung dag dig dug der. Hening... Tidak ada suara setelah itu, Arthur pun hanya diam tidak men
Tadinya Yuana sempat kebingungan, kenapa tiba-tiba harus ikut ke ruang meeting? Padahal tinggal menyerahkan rancangan desain iklan saja ke klien ewat email. Dia mengira itu begitu saja sudah cukup, jika ada perubahan atau dirasa kurang puas tinggal kirim aduan lewat pesan atau telepon. Tidak tahunya perwakilan dari perusahaan klien malah datang sendiri untuk memastikan apa yang mereka inginkan sudah sesuai. Jadilah Yuana yang merupakan penanggungjawab rancangan iklan itu harus mempresentasikan sendiri hasil desainnya tadi. Walau ini dadakan dan gak siap, untungnya dia bisa mempresentasikannya dengan baik. Padahal ini hari pertamanya bekerja. "Desain sofa ini namanya Sofa Bed, seperti namanya sofa ini bisa diubah menjadi tempat tidur. Sofa jenis ini sekarang ini sedang populer namun masih belum banyak yang menggunakan. Desain sofa ini sangat cocok digunakan untuk rumah atau apartemen kecil yang mungkin punya kamar terbatas karena hemat ruangan." Yuana mulai menerangkan. "Jika a
Yuana berjalan beriringan di sebuah lorong gedung bersama dengan seorang lelaki muda yang mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darinya. Lalu langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan semi kaca yang ada di dalam gedung tersebut. "Nah Yuana, ini adalah ruang tim desain yang akan kamu tempati bersama rekan-rekan lainnya dalam melaksanakan pembuatan desain." Ujar Rama yang merupakan ketua divisi rancangan perusahaan cabang dimana Yuana diterima kerja. Ya, hari ini adalah hari pertama dirinya masuk kerja. "Baik Pak." Jawab Yuana sambil mengangguk. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang terdiri dari beberapa kubikel. Di sana sudah ada tiga orang perempuan dan satu orang lelaki gemulai tengah duduk di kubikel mereka masing-masing. Suara Rama yang terdengar saat berbicara dengan Yuana membuat mereka yang tadinya menatap ke arah layar komputer berubah melihat ke arah Rama dan Yuana yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Prok, prok...! "Ok, tolong perhatiannya sebentar... K
Wajah Yuana sudah ditekuk sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara Syifa sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. "Pfftt... Bhaha... Teh Yuana mah ada-ada saja sampai bikin Mang Untung kebingungan begitu, hahaha." Syifa tidak henti-hentinya tertawa karena insiden membagongkan barusan. "Ini semua gara-gara Bulek Prapti tuh Syif! Bikin Mang Untung salah paham aja. Hampir saja itu orang kege'eran gara-gara kata 'untung' yang sama dengan namanya." Ujar Yuana sambil membuat tanda kutip dengan jarinya saat mengucap kata 'untung'. Wajahnya sudah ditekuk sampai merah padam saking kesal dan malunya. "Hihi... Sabar ya Teh, resiko punya Bulek hiper aktif dan hiper julid emang gitu." Kata Syifa yang masih saja cekikikan. "Iya bener, hiper aktif julidnya." Sahut Yuana yang malah membuat keduanya saling tatap lalu tertawa bersamaan. "Udah-udah, jangan bercanda mulu! Ntar kena semprot lagi sama si Ratu Julid itu, cepat ke meja depan ntar keburu tamu kehormatan beliau datang." Ujar Yuana sam
POV Yuana "Duhh... Ni Uler Kadut ngapain musti keluar dari sarangnya sih? Males binti mules kalau musti ngadepin dia." Rutukku dalam hati. "Hai Jul, pa kabar?" Sapaku basa basi. Juleha ini meski dia adik sepupuku tapi usianya sepelantaran sama aku, jadi kita sepakat hanya panggil nama tanpa ada embel-embel kakak atau adik satu sama lain. Dia itu anak satu-satunya Bulek Prapti dan Paklek Yanto. Sebenarnya dia punya kakak laki-laki tetapi sudah meninggal pas kakaknya masih balita karena DB. Makanya dia dimanja banget sama orang tuanya. "Kamu bisa lihat sendiri, aku lagi bahagia sekarang ini. Bentar lagi aku bakalan punya baby yang lucu dan pasti cakep kayak aku. Terus pinternya kayak papanya." Jawabnya tak lupa dibarengi dengan embel-embel keangkuhan yang belum pasti terjadi. Ini nih yang bikin kuping gue tiba-tiba congekan. Belum apa-apa udah sombong amat! "Iya, semoga aja ya Jul..." Jawabku sekenanya. "Lho... Itu sudah pasti Yuan. Akunya aja cakep dan suami aku selain







