Home / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 4. Pertemuan Kedua

Share

Bab 4. Pertemuan Kedua

Author: Shira Sirius
last update publish date: 2026-01-02 22:07:16

Keesokan harinya di ruang kerja Perusahaan Cabang Pradana Grub.....

"Iya Mi... Mami gak usah khawatir deh, sebentar lagi Arthur akan bawakan mantu untuk Mami." Ucap Arthur sekenanya yang saat ini kembali meberima teror dari Maminya lewat telpon.

Itu tadi dikatakannya agar sang Mami tidak terus-terusan menodongnya untuk segera menikah. Apalagi harus pergi ke kencan buta yang sudah diatur oleh Maminya dengan wanita-wanita yang menurutnya tidak menarik itu.

"Kapan Ar?" Tanya Mami Lidia di seberang sana.

"Ya kalau sudah adalah..." Jawab Arthur santai tapi membuat sang Mami naik darah.

"Dasar bocah sableng! Ditanya serius jawabnya seenaknya!" Seru Mami Lidia yang terdengar begitu kesal oleh jawaban putra satu-satunya itu.

"Lho, itu Arthur juga serius Mi... Kalau belum ada, terus siapa yang mau dikenalin? Kaidan? Mami kan gak setuju. Jadi ntar kalau sudah ada Mi... Jelas kan?" Balas Arthur yang semakin membuat Maminya mencak-mencak di balik telponnya.

"Kamu itu keterlaluan Ar sama Mami! Mami sudah berusaha berulang kali buat nyariin kamu jodoh yang tepat tapi kamu selalu menolak." Keluh Mami Lidia yang dibarengi oleh omelan.

"Sekarang malah kabur sama Kaidan ke kantor cabang! Mami jadi tambah yakin jika kamu sama Kaidan ada apa-apanya. Mami ini janda Ar, kamu adalah satu-satunya anak Mami. Mami ingin melihat kamu menikah dan punya anak sebelum Mami pergi untuk menemui Papi kamu. Kamu ngertiin Mami sedikit dong Ar..." Tambah Mami Lidia yang sudah hilang kesabaran menghadapi putra satu-satunya itu.

Arthut meraup wajahnya dengan sangat lelah, lelah dengan segala omelan Maminya yang nanti ujung-ujungnya pasti drama tentang hidup dan mati.

"Mi, please... Beri Arthur sedikit waktu. Cari jodoh gak segampang itu. Seperti nemu bunga di pinggir jalan, dipetik lalu dibawa pulang. Ini masalah hati Mi..." Ujar Arthur yang mencoba bernegosiasi dengan Maminya.

"Oh itu bagus! Mami gak peduli kamu nemu perempuan di pinggir jalan asal dia perempuan baik-baik Mami pasti terima kok. Mami juga tidak peduli dia kaya atau tidak, yang penting dia perempuan tulen!" Sahut Mami Lidia yang gak mau kalah degan perdebatan itu.

"Astaga Mami... Sudah Arthur bilang..."

"Cukup Ar! Mungkin jalan satu-satunya Mami harus mencari teman almarhum Papi kamu untuk memenuhi janji perjodohan antara keluarga kita dan keluarga mereka." Tiba-tiba Mami Lidia memotong ucapan Arthur yang membuatnya menghela napas lelah.

"Janji perjodohan apa lagi sih Mi? Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi Mi..." Keluh Arthur.

"Diam kamu Ar! Meski Mimi sudah lama tidak bertemu dengan mereka dan tidak tahu dimana mereka sekarang tinggal, tapi Mami yakin bahwa mereka memiliki seorang anak gadis. Semoga saja anak gadis mereka belum menikah. Kalau sudah, maka siap-siap saja kamu terus melakukan kecan buta sampai kamu bisa menikah!" Ancam Mami Lidia.

"Astaga Mami.... Kenapa sampai segitunya sih Mi?" Ujar Arthur yang sudah begitu lelah.

"Ini sudah keputusan Mami, Arthut! Atau.... Jangan bilang kamu masih memikirkan wanita licik itu?!" Tanya Mami Lidia dengan nada sarkas yang membuat Arthur sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

Hal yang seharusnya tidak boleh dikatakan namun malah Maminya sendiri yang mengingatkan. Hal yang sudah susah payah Arthur kubur dalam-dalam.

"Mi, kenapa harus membahas itu lagi sih Mi? Aku sudah melupakannya, lagian dia juga sudah menikah, tapi Mami malah mengingatkannya lagi." Kata Arthur ketus.

Suaranya begitu datar dan dingin. Dia sudah mulai kesal saat ini. Sesuatu yang sangat menyakitkan yang sudah dia lupakan justru dibahas kembali.

Bukan berarti Arthur masih mengingat-ingat kenangan buruk itu, dia sudah melupakannya. Namun apabila diingatkan tentu saja sangat menyakitkan dan membuatnya tidak nyaman.

"Sayang maaf, Mami gak bermaksud membuka luka lamamu, Mami hanya..."

"Mi, aku masih banyak kerjaan. Aku tutup dulu telponnya ya..." Arthur segera mengakhiri panggilan telponnya sebelum pembicaraan itu melebar kemana-mana.

Dia memijit pangkal hidungnya, merasakan pening di kepalanya. Hari ini cukup melelahkan, pikirannya.

"Sepertinya aku perlu cafein." Ujarnya sendiri.

Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk dan muncullah Kaidan dari balik pintu itu.

"Ah, kebetulan Kai! Aku mau keluar sebentar, mau ngopi sambil cari angin sebentar." Kata Arthur saat melihat Kaidan masuk ke ruangannya.

"Tapi aku mau bicara soal calon karyawan baru yang akan aku wawancarai besok... Atau aku ikut kamu aja ya biar bisa sekalian kita bicarakan." Ujar Kaidan.

"Ntar aja deh, kamu gak perlu ikut. Aku mau sendirian aja biar kita gak disangka homo!" Sahut Arthur sambil menepuk pundak Kaidan dan melangkah pergi dari sana.

"Idiih... Najis!" Seru Kaidan yang dibalesi dengan gelak tawa Arthur yang semakin menjauh.

*****

Di cafe, Yuana sudah duduk anteng dengan segelas latte dingin dan sepiring churros buat camilannya. Tak lupa leptop kesayangan yang selalu menemaninya kemana-mana sudah terpampang di atas meja.

Ya, hari ini dia lembali datang ke cafe langanannya itu. Namun kali ini dia tidak sedang mendesain apapun. Semua pesanan desain sudah ia selesaikan dan untungnya bayaran sudah ditransfer, jadi bisa dia buat untuk mentraktir Angela hari ini sebagai tanda terimakasih karena sahabatnya itu dia bisa mendapat kesempatan untuk wawancara kerja besok.

Jadi kali ini dia memilih memutar drama Korea selagi menunggu Angela sampai siang nanti.

Sedang asyik-asyiknya nonton tiba-tiba ada seseorang yang mendatanginya, dan orang itu adalah Arthur.

Kaget dong Yuana... Mimpi apa Mas Suga KW yang tampan dan memiliki rahang kokoh seperti milik bule-bule Eropa itu nyamperin dia? Sungguh perpaduan wajah yang mempesona bikin jantungnya jedag jedug saja.

"Boleh saya duduk di sini? Saya tidak dapat meja karena semua penuh dan hanya meja ini yang punya satu kursi kosong." Tanya Arthur dengan sopan.

Yuana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan cafe. Memang hari ini cafe sangat penuh dan ramai tidak seperti biasanya. Sepertinya sedang ada acara Ulang Tahun anak kuliahan di sana. Yuana melihat Arthur sejenak lalu menganggukkan kepalanya.

"Ok, gak masalah. Silahkan..." Jawab Yuana dengan sangat, sangat, sangaatt senang hati.

"Terimakasih." Balas Arthur sambil menggeser kursi untuk dia duduki.

"Harusnya aku yang berterimakasih karena kemarin sudah kamu tolong." Mendengar ucapan Yuana itu Arthur mengerutkan dahinya seakan berpikir karena sudah melupakan kejadian kemarin. Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Arthur, Yuana langsung mengingatkannya.

"Kemarin di depan toilet.."

"Ahh... Om om genit??" Tebak Arthur yang langsung diangguki oleh Yuana.

"Gak masalah. Tolong abaikan saja saya dan silahkan lanjutkan kembali kerjaan anda." Kata Arthur yang cukup menjelaskan dia tidak mau diganggu. Mau gak mau Yuana hanya bisa mengangguk dan sesekali melirik ke arah Arthur yang duduk dengan elegant-nya.

"Ganteng sih... Cuma kurang ramah aja sama orang. Ganteng tapi ekspresi wajahnya lempeng banget! Lagi ada masalah kali ya?" Gumam Yuana dalam hatinya.

Lalu tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggil dan mendekat ke arah meja mereka, tapi orang yang dimaksud bukan Yuana melainkan Arthur.

"Arthur... Kamu di sini?" Sapa perempuan itu.

"Billa..?" Sahut Arthur pada perempuan cantik nan modis yang ia panggilnya Billa itu.

"Oh ternyata namanya Arthur... Cakep juga namanya." Batin Yuana yang hanya memperhatikan interaksi mereka berdua.

"Kamu kok di sini? Kamu sama siapa ini?" Tanya Billa sambil menoleh ke arah Yuana.

"Mati aku! Jangan-jangan dia pacarnya. Dia gak mungkin mikir aku selingkuhannya cowok ini kan?" Batin Yuana was-was.

"Oh, saya cuma..."

"Dia pacar aku!" Sahut Arthur memotong kalimat Yuana yang langsung membuatnya membeku, ingin sekali ia menjerit tapi kini ia hanya bisa menjerit dalam hati saja. Suaranya tidak bisa keluar, hilang entah kemana.

"Mati aku, mati aku...!! Bakalan ada Perang Dunia ketiga nih!" Batin Yuana ketar-ketir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 74. Untungnya Punya Suami Tajir

    Bu Ana datang bersama dua orang satpam untuk mengusir Ruben hari itu juga dari sana setelah diberi waktu untuk berkemas. Sementara Yudha sudah meninggalkan tempat itu setelah bu Ana datang. Mungkin dia tidak akan menginjakkan tempat itu lagi setelah ini, tempat yang membuat dirinya menelan kekecewaan dan amarah karena sebuah penghianatan. Mungkin setelah ini kamar 109 akan menjadi kamar yang di-backlist oleh Yudha seumur hidupnya. Tadi Ruben sempat memaki dan mengumpat namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena diancam akan melaporkannya kepada polisi jika membuat keributan lebih dari itu. Bagaimana pun juga dia sudah melakukan kesalahan, karena telah memasukkan seorang wanita yang tidak mempunyai hubungan resmi dengannya dan melakukan perbuatan asusila. Sebenarnya pihak Real Estate berhak melaporkannya kepada polisi namun Yudha masih berbuat baik mengingat hubungan lamanya dengan Maya. Bukan! bukan karena dia masih mencintai wanita itu, bahkan sampai saat ini pun Yudha masih

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 73. Akhirnya Yudha Tahu

    "Hai istriku... Mau ikutan nonton live drama gak?" Tanya Arthur pada Yuana yang kini sedang selonjoran sambil nonton drakor di laptopnya.. "Live drama apaan? Ini juga lagi nonton drakor Mas." Tanya Yuana balik karena tidak paham dengan ucapan Arthur yang terdengar ambigu itu. "Yang kamu tonton itu kan ceritanya fiktif, kalau yang ini asli. Itu lho sayang.... Drama yang judulnya 'Aku Tertangkap Di Kamar Pria Lain'... Mumpung lagi rame nih sekarang, yuk!" Jawab Arthur yang membuat Yuana mengerutkan dahinya. Dan setelah sadar apa yang dimaksud Arthur, Yuana langsung berteriak dengan nada kesal. "Maasss!!! Kamu itu ya! Yang bener aja kita nontonin Yudha yang lagi mergoki pacarnya selingkuh? Mana tega aku lihat wajah kecewanya nanti. Lagian pasti sangat menjijikkan melihat dua orang beda kelamin yang lagi kumpul kebo! Gak mau! Jijik aku Mas!" Tolak Yuana mentah-mentah. "Yaahh... Sayang banget dong kalau gitu, padahal pasti seru lho..." Ujar Arthur dengan nada melas. "Astaga Mas, k

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 72. Antara Sial dan Untung

    Sesuai titah kakaknya, pagi-pagi sekali Yudha sudah duduk manis di sofa ruang keluarga rumah Yuana. Dia datang dengan satu rantang susun tiga yang penuh oleh masakan sang Bunda. "Kak, kamu beneran hamil?" Tanya Yudha begitu Yuana mengambil rantang makanan darinya dengan mata berbinar dan air liur yang hampir menetes. "Ngaco kamu! Kakak kagak hamil ya!" Seru Yuana sambil melemparkan bantal sofa ke arah adiknya. "Lha... Tadi malam kan Kakak bilang lagi ngidam masakannya Bunda. Aku kira Kakak beneran lagi hamil." Ujar Yudha yang kelihatan agak bingung dengan keabsurd kakaknya. "Emang orang ngidam harus hamil duluan? Kagak kan?!" Sahut Yuana rada sewot seraya melenggang pergi meninggalkan Yudha di ruang keluarga. Akhir-akhir ini Yuana memang agak sensitive jika berhubungan dengan kehamilan atau topik mengenai anak. "Yealah... Gak perlu ngegas gitu kali kak. Ya kan aku cuma nanya doang, kalau salah ya maaf... Sensi amat kamu hari ini, lagi dapet ya?" Sahut Yudha bertepatan de

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 71. Pusing Ala Arthur

    "Hmm... Baunya enak Mas, aku jadi makin lapar." Ujar Yuana yang duduk di meja makan sambil mengamati Arthur yang tengah membuat nasi goreng special pakai dua telur, request-nya untuk makan malam mereka.Aroma nasi bercampur bumbu yang digoreng begitu menggiurkan. Hidung Yuana sampai mengendus-endus aroma wangi gurih nasi goreng yang sampai ke hidungnya."Sabar ya sayang... Sebentar lagi selesai kok." Sahut Arthur dengan tangan yang masih tetap sibuk bergerak kesana kemari."Iya... Aku cuma bilang kalau aroma enaknya sudah sampai ke hidung aku." Balas Yuana menanggapi.Tak berselang lama, Arthur akhirnya selesai dan membawa dua buah piring nasi goreng buatannya ke meja makan."Waahh... Akhirnya yang ditunggu dari tadi datang juga. Hmm... Kelihatan enak banget Mas." Ucap Yuana dengan mata yang berbinar dan air liur yang hambir menetes."Kalau begitu kamu harus habisin! Nah... Kali ini tidak ada seafood-nya, hanya bakso, sosis, ayam, sawi dan dua telur goreng sesuai request kamu." Balas

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 70. Semanis Ice Cream

    Jimy sudah mesam-mesem sedari tadi sejak Arthur mengeluarkan ATM card-nya buat bayar bill pesanan mereka. "Terimakasih lho Pak Arthur... Padahal saya yang mau nraktir, eh malah Bapak yang jadi bayarin semuanya. Kan saya jadi seneng... Eh, sungkan maksudnya hehe..." Ucap Jimy malu-malu tapi di dalam hatinya dia bersorak hore karena bersyukur tidak jadi tekor buat bayarin makan orang sedivisinya. "Anggap saja ini ucapan ulang tahun dari saya." Ujar Arthur dengan nada datar seperti biasanya. Secara dia gengsi harus dibayarin sama bawahannya sendiri. Apalagi tadi Yuana sudah pesan dan makan banyak, dia sebagai suaminya tentunya tahu diri. "Sekali lagi terimakasih Pak Arthur..." Ucap Jimy sekali lagi. "Hmm... Sahabis ini kalian langsung balik ke kantor. Saya balik duluan, Yuana ayo!" Ujar Arthur sambil mengajak yuana untuk kembali ke kantor duluan dengannya. "Saya ikut Bapak juga?" Tanya Yuan yang setengah ragu. Dia pikir untuk mengurangi rasa curiga teman-temannya, dia akan kemb

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 69. Terlanjur Masuk

    "Sekarang kita mau kemana Mas?" Tanya Yuana begitu masuk ke dalam mobil. "Emm... Mau balik ke kantor tapi nanggung, sebentar lagi waktunya jam istirahat. Gimana kalau kita pergi makan dulu baru balik lagi ke kantor." Jawab Athur sambil melihat ke arah arloji di tangannya. "Kamu mau makan apa sayang? Kamu saja yang nentuin, aku ngikut saja." Lanjutnya. "Emm... Apa ya Mas? Mas maunya makan apa?" Ujar Arthur yang malah balik tanya. "Kok kamu malah balik tanya sih?" Sahut Arthur seraya melirik sekilas ke arah Yuana yang duduk di sebelahnya. "Habisnya aku bingung mau makan apa, yang jelas aku mau minum yang seger-seger dan dingin, soalnya aku perlu mendinginkan hati dan pikiranku yang sudah panas sejak tadi. Soal makan aku ngikut Mas Ar aja." Ucap Yuana mengutarakan maunya. "Kalau minuman yang dingin dan seger-segee biasanya ada di restoran Jawa dan Sunda, variannya juga banyak. Gimana kalau makan di sana saja?" Saran Arthur. "Boleh, kalau gitu kita ke sana saja. Let's go...!

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 68. Melancarkan Misi

    Arthur dan Yuana kini sedang berada di Lobby Josh Hotel. Mereka tengah menunggu bagian resepsionis untuk mengkonfirmasi kedatangan dan janji temu mereka dengan Ruben. Tapi muka Yuana sudah terlihat masam saja. "Mas...." Panggilnya pada Arthur. "Hmm..." Sahut Arthur. "Pokoknya kalau nanti si t

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 67. Misi Penting Arthur

    Yuana sedang memperhatikan Arthur yang sedang sibuk membuatkan spaghetti untuk sarapan mereka dengan tatapan gelisah. "Mas, kita beneran gak perlu pergi ke kantor?" Tanya Yuana untuk kesekian kalinya. Takutnya Arthur hanya asal bicara saja. "Iya, berenar... Soalnya kita ada misi penting kali i

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 66. Pengakuan Arthur

    Pagi ini Yuana bangun kesiangan. Itu gara-gara tadi malam dia susah tidur karena kepikiran dengan omongannya Arthur. Omongan yang sudah mirip dengan pengakuan cinta. Kalau sudah begitu, wanita mana yang bakalan bisa tidur nyenyak? Terlebih lelaki itu adalah seorang Arthur Pradana, lelaki idaman wan

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 65. Yuana Panik, Ternyata Arthur...

    "Aku pulang dulu Josh, istriku sendiri di rumah." Itulah yang diucapkan Arthur saat berpamitan dengan Joshua di cafe shop tadi. Tadinya Arthur berpikir jika saat ini Yuana akan kesepian di rumahnya, namun pikirannya ternyata salah. Baru saja dia melangkah memasuki rumah, sudah terdengar suara ga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status