LOGINWajah Yuana sudah cemberut saja sejak kakinya melangkah keluar cafe. Mau tidak mau dia akhirnya menyanggupi permintaan Arthur yang memaksanya pulang dengan terpaksa.
Mulutnya komat-kamit sambil mengutuk Arthur yang memberi perintah seenak jidatnya padahal dia bukan Bunda Vera atau bosnya yang mempunyai kasta tertinggi untuk memerintahnya. Jadilah dia harus mengirim pesan pada Anggela untuk membatalkan pertemuan mereka. Mana lagi dia cuma makan Churros dan minum segelas Latte yang kini membuat perutnya keroncongan. Emosi membuat dirinya jadi mudah lapar padahal pagi tadi dia sudah sarapan sepiring nasi ayam dan lauk pauk lainnya lengkap dengan sambal terasi. Lalu Arthur? Dia sudah kembali ke kantornya setelah memastikan Yuana benar-benar pergi dari cafe dan tidak masuk kembali ke sana. Benar-benar seenaknya. Yuana akhirnya memilih pulang dan langsung pergi ke dapur sesampainya di rumah. Ia menyambar piring lalu mengisinya dengan sepiring nasi lengkap dengan sayur asem, ayam goreng dan sambal goreng cumi. Dia makan seperti orang kalap, hingga Bunda Vera yang pergi ke dapur untuk mengambil minum sampai kaget sudah ada anak perempuannya di sana. "Astagfurullah... Yuan-Yuan! Sejak kapan kamu di sini? Datang-datang kagak ada suara, tiba-tiba ada di sini makan kayak orang kalap sampai cemong gitu. Kamu sehat?" Tanya Bunda Vera heran. "Bunda kira Yuana sakit? Orang sakit mana ada makan kayak gini Bun, Yuana cuma lapar doang." Ungkap Yuana dengan mulut yang masih mengunyah. "Telen dulu tu makanan baru ngomong. Ya siapa tau kamu lagi kesurupan. Datang-datang kagak ada salam kagak ada apa, malah langsung mentangkring di dapur sambil makan." Omel Bunda Vera. "Yuan udah salam Bun... Bunda aja yang kagak denger. Yuan laper Bun, Yuan mau nerusin makan lagi." Jawab Yuana sambil melanjutkan makannya. "Lagian kamu makan kayak orang kagak makan setahun aja. Padahal tadi pagi kamu juga dah sarapan, ini juga masih jam segini. Tumben kamu udah laper lagi. Kamu ada masalah?" Tanya Bunda Vera sedikit khawatir. "Cuma lagi kesel aja Bun, makanya jadi laper." Jawab Yuana lalu memasukkan kembali sesendok nasi kedalam mulutnya. "Kebiasaan kamu! Kalau ada masalah pasti larinya ke makanan, tapi herannya kamu gak gemuk-gemuk padahal udah makan sekarung. Heran... Bunda curiga kamu habis makan pasti langsung ke WC." Tebak Bunda Vera yang bikin Yuana mendadak gumoh. "Bundaaa... Yuan lagi makan nich!" Seru Yuana sambil mengerucutkan bibirnya. Bunda Vera hanya bisa mencebik seakan mengejek anaknya. "Kamu gagal wawancara? Kamu kagak jadi keterima kerja?" Tanya Bunda Vera menerka-nerka. "Siapa bilang? Senin besok Yuan sudah mulai masuk kerja." Jawab Yuana dengan bangganya. "Lha terus kenapa kamu uring-uringan begitu?" Tanya Bunda Vera kepo. "Tadi tuh pas Yuan lagi ngopi di cafe ada orang yang bikin Yuan kesel." Jawabnya. "Laki apa perempuan?" Tanya Bundanya lagi. "Laki, tinggi, ganteng dan kelihatannya pegawai kantoran tapi kelakuannya... Beeuhh... Na'udzubillah!" Sahut Yuan dengan nada kesal saat mengingat kelakuan Arthur tadi. "Ati-ati... Jangan-jangan dia jodoh kamu." Ujar Bunda Vera yang membuat Yuana tambah kesal aja. "Amit-amit... Kagak mungkin! Siapa yang mau sama dia?!" Seru Yuana sambil menggetok-getokkan tangannya ke meja dan jidatnya. "Kalau ngomong dijaga Yuan, jangan sampai mulutmu jadi boomerang. Ingat, ada Malaikat di sekitar kita." Tegur Bunda Vera mengingatkan dan malah membuat Yuana merinding sendiri. "Bunda kok malah nakut-nakutin sih..." Sungut Yuana membuat perasaannya menjadi was-was. Takut apa yang dikatakan Bundanya beneran terjadi. Kan Yuana jadi seneng... Ehh?? "Siapa pula yang nakut-nakutin? Bunda cuma ngingetin Yuan... Lagian bagus dong kalau kalian beneran berjodoh, Bunda kan pengen lihat kamu cepet nikah. Katamu dia ganteng dan mapan? Lumayan kan buat ngebingkem mulut pedasnya Bulek kamu yang suka bangga-banggain mantunya ítu." Ujar Bunda Vera yang bikin Yuana langsung melongo. Dia tidak tahu kalau Bundanya sampai punya pemikiran seperti itu. Tapi kalau dipikir-pikir wajar juga Bundanya seperti itu, lha wong Bulek Prapti itu suka ngatai-ngatain seenaknya. "Assalamu'alaikum... Mbak Vera..." Terdengar seruan salam dari depan rumah. Suara yang tidak asing di telingan ibu dan anak itu. "Yaelah... Panjang umur ni orang, baru aja diomongin. Wa'alaikumsalam..." Sahut Bunda Vera sambil menggerutu menuju depan rumahnya. "Ckck... Heran aku, almarhum Ayah dan Bulek Prapti kan bersaudara, serahim pula tapi bisa beda gitu ya sifatnya?” Gumam Yuana sambil meraih segelas air putih di depannya lalu meneguknya hingga tandas. Eerghk..... Suara sendawa Yuana sangat keras setelah dia menyelesaikan makannya, hingga mengundang celetukan panas dari suara seorang wanita paruh baya yang baru datang itu. "Ya ampun anak perempuan kagak ada anggun-anggunya ya?! Gimana mau punya pasangan? Belum apa-apa lelaki sudah pada lari." Sindir Bulek Prapti dengan pandangan menghina. "lho.. Emang ada ya orang sendawa yang anggun? Kalau ada contohin dong Bulek..." Bukan Yuana kalau tidak berani ngejawab sindiran Buleknya itu. "Ya kan kamu bisa nahan dikitlah suaranya Yuan." Ujar Bulek Prapti dengan nada sewot seperti biasanya. "Kalau ditahan yang ada masuk lagi anginnya, ntar yang ada malah keluar lewat bawah. Tambah masalah kan Bulek?" Sahut Yuana tidak mau kalah, membuat Bulek Prapti mati kutu. Melihat adu mulut anak dan adik iparnya itu, Bunda Vera hanya bisa menahan tawanya. "Kamu itu dibilangin orang tua! Nih lihat anakmu Mbak! Sukanya ngebantah orang tua makanya sampai sekarang gak laku-laku, jangan sampai jadi perawan tua!" Hardik Bulek Prapti sewot. "Lihat itu Juleha, sepupu kamu itu gak pernah ngebantah omongan Bulek, makanya sekarang dia sudah nikah dan mau punya anak, suaminya juga mapan dan sayang sama dia." Tambahnya yang kini sudah ngomel-ngomel sana sini membuat telinga Yuana mendadak gatal, mungkin karena belum dibersihkan seminggu ini. "Ya baguslah kalau Juleha sudah dapat pasangan yang tepat. Lagian jodoh aku tuh ada di tangan Tuhan, bukan di tangan Bulek. Jadi Bulek gak usah repot-repot mikirin, cukup di do'ain yang baik-baik aja, bukannya malah ngatain gitu Bulek." Sahut Yuana sambil melangkah pergi setelah meletakkan piring kotornya ke dalam wastafel. "Lihat tuh Mbak Vera, kelakuan anak kamu! Ngebantah terus aja kalau dibilangin. Itu karena terlalu kamu manja!" Seru Bulek Prapti yang sudah naik darah karena menghadapi Yuana yang berani melawan ucapannya. "Udah Prap... Gak usah teriak-teriak gitu!" Sahut Bunda Vera yang mulai kesal dengan adik iparnya itu. "Lagian benar kata Yuana, gak seharusnya kamu ngatain anak aku kayak gitu." Bunda menghela napasnya sebelum kembali bersuara... "Bukan salahnya belum menikah sampai sekarang, itu karena Tuhan belum nemuin dia sama jodohnya. Seharusnya kamu selaku Buleknya lebih tau sebagai orang tua dan mendo'akan kebaikannya bukan malah mencelanya. Urusan manjain gaknya, itu urusan aku Prap. Bukannya kamu juga manjain Juleha juga selama ini?" Ujar Bunda Vera yang sudah tidak terima anaknya dibully terus sama adik iparnya itu. Ibu mana yang gak sedih anaknya dikata-katain seperti itu? Bulek Prati yang mendengar ucapan kakak iparnya hanya bisa mencap mencep sambil ngedumel memunggungi Bunda Vera. "Ibu dan anak sama aja, dibilangin ngeyelan." Gumamnya sewot. "Lagian kamu itu ke sini mau ngapain?" Tanya Bunda Vera mencoba bersabar menghadapi kelakuan adik iparnya itu. Kemudian Bulek Prapti menoleh ke arah Bunda Vera sambil menyodorkan sebuah undangan. "Nih, besok lusa hari Minggu ada acara tujuh bulanannya Juleha, Mbak Vera sama anak-anak mbak harus datang bantu-bantu." Ujar Bulek Prapti yang masih sedikit sewot. "Bantuin masak-masak? Kan gak perlu pakai undangan segala Prap, cukup bilang aja pasti aku bantuin." Kata Bunda Vera. "Bukan, soal masakan udah diserahin sama pihak catering. Suami Juleha itu manager jadi makanan buat tamu juga harus berkelas dan enak dong... Mbak Vera sama Yuana cukup berdiri menyambut tamu saja." Jawab Bulek Prapti dengan sombongnya. "Ohh..." Bunda Vera hanya bisa ber-ohh saja mendengar keangkuhan iparnya itu. "Terus ini kebaya seragam buat kalian kenakan besok. Jangan sampai telat ya Mbak, kalian harus datang pagi-pagi." Ujar Bulek Prapti sembari menyerahkan tote bag berisi kebaya. "Iya Prap, ntar aku bilang sama Yuana dan Yudha." Sahut Bunda Vera sambil menerima tote bag itu. "Ya udah aku pulang dulu Mbak. Assalamu'alaikum..." Pamit Bulek Prapti begitu saja. "Wa'alaikumsalam..." Jawab Bunda Vera seraya mengantar adik iparnya sampai ke depan rumah. "Sudah pulang itu nenek lampir?" Tanya Yuana yang tiba-tiba sudah nongol di belakang Bundanya dengan masker wajah warna hitam. Membuat Bunda Vera kaget dan langsung menggeplak lengannya. Plak..! "Aduh Buunn... Sakit!" Seru Yuana yang meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengannya. "Habisnya kamu yang lebih mirip nenek lampir! Ngagetin Bunda aja kamu... Jangan bikin jantungan! Tiba-tiba nongol dengan wajah item kayak gitu!" Seru Bundanya kesal. "Hehe... Maaf Bunda." Sahut Yuana sambil meringis. "Nih buat kamu, pakai buat acara tujuh bulanannya Jaleha Minggu lusa." Kata Bundanya sambil menyodorkan bungkusan kebaya warna ungu. "Idiih... Warnanya merah, kaya cabe-cabean aja." Celetuk Yuana seenaknya. "Mulut kamu itu Yuan... Ckck..." Tegur Bundanya. "Hehe... Becyanda Bun, bercyandaaa...."Tidak seperti biasanya, Maya datang ke kampus sendirian tanpa Yudha yang biasa mengantar jemputnya. Tentu saja dia masih malu untuk bertatap muka dengan Yudha karena kejadian memalukan kemarin. Makanya sebisa mungkin dia menghindari bertemu dengan Yudha di kampus, meski dalam hatinya dia sedikit menyesal telah mengabakan ketulusan Yudha padanya. Selama ini Maya menilai jika keluarga Yudha dari kalangan biasa-biasa saja, tidak miskin dan tidak kaya mengingat kehidupan mereka di kampung dibilang sederhana. Tidak tahunya keluarganya adalah induk semang Real Estatae paliing elit di daerah sekitar kampus mereka. "Maya…¡!" Seru Desy, salah satu teman Maya yang hobby-nya menjilat. "Ya ampun Des... Bikin kaget aja kamu!" Ujar Maya yang langsung sadar dari lamunannya. "Hahh... Aku cari kemana-mana ternyata kamu sudah ada di kelas." Kata Desy yang terlihat sedikit ngos-ngosan napasnya. "Cari aku?? Ada apa?" Tanya Maya jadi agak parno dan was-was sendiri. "Btw... Kamu datang ke kampu
Yudha baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, namun belum sempat menutup pintu mobilnya kembali seseorang sudah memanggil namanya. "Yudha..!!" Seru Nabilla sambil berlari kecil menghampiri Yudha. "Baru datang Dha?" Sapa Nabillla. "Iya, kamu sendiri baru datang juga?" Balas Yudha. "Iya, baru aja aku turun dari ojol terus lihat kamu turun dari mobil." Angguk Nabilla sambil menjawab. "Kamu naik ojol Bill? Mobil kamu kemana?" Tanya Yudha yang heran tumben-tumbennya Nabilla pergi ke kampus naik ojol. "Lagi di bengkel Dha, mogok!" Jawabnya sambil meringis. "Ya ampun Billa... Kenapa gak bilang ke aku sih? Tau gitu aku bisa barengin kamu tadi." Ujar Yudha yang membuat Nabilla heran, ternyata Yudha emang sebaik itu. Sayang, kebaikan Yudha tidak terlihat di mata Maya. Mungkin mata Maya rabun sampai tidak bisa melihat ada pria sebaik Yudha dan rela menyakitinya demi bisa bersama lelaki licik seperti Ruben. "Ya... Ada pepatah mengatakan j
Seperti biasanya Arthur berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Kali ini dia memasak sup jagung telur oriental yang hangat dilengkapi sandwich isi daging dan keju. Arthur juga menyiapkan segelas jus jeruk manis untuk Yuana dan segelas susu hangat untuknya sendiri. Sementara Yuana sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya. Biasanya dia sudah bersih-bersih rumah di pagi hari bersamaan dengan Artgur yang sibuk memasak. Namun sampai Arthur hampir selesai menyajikan sarapan mereka, Yuana masih belum keluar juga dari kamarnya. "Yuana kok masih belum turun juga sih? Masa belum selesai mandi? Atau jangan-jangan malah molor lagi?" Gumam Arthur yang menunggu istrinya turun untuk sarapan. Hingga semuanya selesai tersaji, Arthur melepaskan apronnya dan berteriak dari bawah tangga memanggil istrinya. "Sayaaang... Sarapannya sudah siap! Ayo sarapan!" Teriak Arthur sambil melihat ke arah atas lantai dua. "Bentar Mas... Ini juga mau turun!" Sahut Yuana berteriak dari dalam kama
Hari ini Arthur bangun pagi-pagi sekali bukan untuk menyiapkan sarapan, melainkan untuk joging pagi. Mumpung hari Minggu. Namun Arthur tidak ingin pergi sendiri, ia juga akan menyeret istrinya untuk bangun pagi-pagi dan mengajaknya joging pagi hari itu. Tapi Yuana malah merengek gak mau ikut dan memilih untuk bergelung di dalam selimutnya yang hangat. "Sayang, ayo cepetan bangun! Ikut Mas joging pagi." Ajak Arthur sembari menggoyang-goyangkan tubuh Yuana agar cepat bangun. "Ugh... Aku masih ngantuk, Mas pergi aja sediri." Jawab Yuana dengan suara seraknya dan malah membungkus tubuhnya lagi di dalam selimut. "Ya ampun sayang.... Kok malah tidur lagi sih? Kamu harus olahraga sekarang, gerakin tubuh. Dari kemarin kamu makan terlalu banyak, habis itu cuma goleran dan guling-guling aja, kalau kamu gak olahraga pencernaan kamu bisa terganggu lho..!" Kata Arthur menasehati. "Tapi aku males Mas... Aku masih ngantuk!" Sahut Yuana sambil merem. "Ya sudah kalau gitu, padahal tadinya Ma
Bu Ana datang bersama dua orang satpam untuk mengusir Ruben hari itu juga dari sana setelah diberi waktu untuk berkemas. Sementara Yudha sudah meninggalkan tempat itu setelah bu Ana datang. Mungkin dia tidak akan menginjakkan tempat itu lagi setelah ini, tempat yang membuat dirinya menelan kekecewaan dan amarah karena sebuah penghianatan. Mungkin setelah ini kamar 109 akan menjadi kamar yang di-backlist oleh Yudha seumur hidupnya. Tadi Ruben sempat memaki dan mengumpat namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena diancam akan melaporkannya kepada polisi jika membuat keributan lebih dari itu. Bagaimana pun juga dia sudah melakukan kesalahan, karena telah memasukkan seorang wanita yang tidak mempunyai hubungan resmi dengannya dan melakukan perbuatan asusila. Sebenarnya pihak Real Estate berhak melaporkannya kepada polisi namun Yudha masih berbuat baik mengingat hubungan lamanya dengan Maya. Bukan! bukan karena dia masih mencintai wanita itu, bahkan sampai saat ini pun Yudha masih
"Hai istriku... Mau ikutan nonton live drama gak?" Tanya Arthur pada Yuana yang kini sedang selonjoran sambil nonton drakor di laptopnya.. "Live drama apaan? Ini juga lagi nonton drakor Mas." Tanya Yuana balik karena tidak paham dengan ucapan Arthur yang terdengar ambigu itu. "Yang kamu tonton itu kan ceritanya fiktif, kalau yang ini asli. Itu lho sayang.... Drama yang judulnya 'Aku Tertangkap Di Kamar Pria Lain'... Mumpung lagi rame nih sekarang, yuk!" Jawab Arthur yang membuat Yuana mengerutkan dahinya. Dan setelah sadar apa yang dimaksud Arthur, Yuana langsung berteriak dengan nada kesal. "Maasss!!! Kamu itu ya! Yang bener aja kita nontonin Yudha yang lagi mergoki pacarnya selingkuh? Mana tega aku lihat wajah kecewanya nanti. Lagian pasti sangat menjijikkan melihat dua orang beda kelamin yang lagi kumpul kebo! Gak mau! Jijik aku Mas!" Tolak Yuana mentah-mentah. "Yaahh... Sayang banget dong kalau gitu, padahal pasti seru lho..." Ujar Arthur dengan nada melas. "Astaga Mas, k
Arthur benar-benar menemui Joshua sepulang kerja di cafe shop langganan mereka yang cukup jauh dari kantor cabangnya sekarang. Dan di sana Joshua sudah datang terlebih dahulu. Duduk di salah satu meja dekat dinding kaca yang mengarah ke luar. "Maaf Josh, kamu sudah menunggu lama ya? Sekarang aku
Yuana kembali ke ruangannya dengan langkah kaki yang setengah diseret. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Lesu, sudah mirip orang yang kena anemia saja. Bahkan membuat Angela terheran melihatnya."Ekspresi muka kamu kenapa kayak gitu? Jalan gontai kayak orang kurang darah aja. Baru putus cinta? U
"Mas Ar sedari tadi pagi mogok buat sarapan. Setiap melihat ke arahku langsung melengos. Jelas siapa yang gak marah jika wajah rupawannya kena tonjok? Dan kini perasaanku jadi gak enak. Ah bodoh ah!! Meski tadinya gak berniat nonjok matanya, tapi tetap saja aku yang salah." Gerutu Yuana yang sejak
POV YuanaMami Lidia akhirnya pulang juga ke rumahnya setelah merasakan masakan Mas Arthur saat makan malam tadi. Tadinya beliau mau menginep kalau tidak teringat jika besok pagi dia ada pertemuan sosialita, alhasil Mami memutuskan untuk pulang malam ini juga. Dan aku sangat bersyukur sekali akan h







