Home / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 5. Sandiwara Lagi

Share

Bab 5. Sandiwara Lagi

Author: Shira Sirius
last update Last Updated: 2026-01-04 05:28:26

Tiga puluh menit sebelumnya....

"Hai Nas... Selamat Ulang Tahun ya, semoga panjang umur dan bahagia selalu. Nih, kado buat kamu." Ucap Nabilla, seupupu Arthur yang pada saat itu sedang meghadiri sebuah pesta ulang tahun salah satu teman kampusnya. Dan kebetulan pesta itu digelar cafe yang sama yang dikunjungi oleh Arthur dan Yuana.

"Makasih ya Billa dah dateng, kadonya juga makasih ya say..." Balas Sanas sambil menerima kado dari Nabilla dan cipika-cipiki ala perempuan pada umumnya.

"Sama-sama, kamu kan sahabat aku, tentu dong aku datang." Ujar Nabilla sembari tersenyum.

"Hehe... Kamu emang best friend aku deh..." Sahut Sanas sembari tersenyum dan menggamit lengan Nabilla.

Mereka pun terlibat beberapa obrolan bersama teman-teman mereka yang lain yang juga hadir di pesta tersebut. Hingga mata Nabilla tidak sengaja menangkap salah seorang pengunjung cafe tersebut yang tengah duduk bersama seorang perempuan.

Dan pengunjung itu adalah Arthur, sepupunya sendiri. Mata Nabilla mengernyit menatap Arthur yang tengah duduk santai dengan mengutak atik ponsel di tangannya.

"Itu kan Arthur? Kenapa dia bisa di sini ya? Ah, kalau gak salah perusahaan cabang miliknya kan ada di seberang cafe ini. Tapi tumben banget aku bisa gak sengaja ketemu dia di sini. Tapi... Wanita di depannya itu siapa ya?" Batin Nabilla bertanya-tanya.

"Ah, mending aku samperin aja langsung daripada makin penasaran." Lanjutnya dalam hati dan langsung melangkah menuju ke arah meja Arthur dan Yuana.

*****

Kembali ke saat ini....

"Pa..car?" Tanya Nabilla lagi dengan sedikit ragu. Dia ragu mungkin pendengaran dia salah.

"Kamu budeg ya?!" Balas Arthur ketus.

"Busyett!! Gitu amat balasnya? Kasar banget sama pacarnya. Eh, emang bener pacarnya bukan ya??" Tanya Yuana dalam hatinya.

"Aku kan cuma tanya Ar, sensi banget kamu kayak cewek lagi PMS." Ujar Nabilla yang mulai sebal.

"Suka-suka aku." Sahut Arthut masa bodoh, sedangkan Yuana yang melihat interaksi mereka makin ketar ketir diantara perdebatan mereka.

Nabillla memutar bola matanya jengah lalu beralih pandangan ke arah Yuana yang sedari tadi cuma diam dan melihat.

"Kamu beneran pacarnya Arthur? Kamu gak dipaksa buat jadi pacarnya kan?" Tanya Nabilla tiba-tiba yang membuat Yuana bingung harus menjawab apa.

"Hahh?! Eh anu aku..."

Belum sempat Yuana meneruskan ucapannya, namun Arthur langsung memotong pembicaraan.

"Kayaknya kamu memang perlu ke THT, pendengaran kamu bermasalah. Dia pacar aku, gak perlu kamu tanya lagi, dia gak nyaman tau?!" Sahut Arthur ketus.

"Ya, aku gak nyaman karena kalian berdua. Jadi kalau kalian punya masalah, please...jangan libatin aku!" Gumam Yuana dalam hatinya.

"Arthur!! Kamu...! Ckk, aku kan cuma nanya siapa tau dia cuma terpaksa jadi pacar kamu karena kamu sering lari dari perjodohan yang tante Lidia persiapkan buat kamu. Dan kalian berdua tuh gak kayak orang lagi pacaran, terutama kamu Ar... Mukak kamu asem banget!" Ujar Nabilla tepat sasaran.

Arthur sempat mengumpat dalam hati karena Billa bisa sepeka itu, namun bukan Arthur kalau tidak bisa menyangkalnya.

"Nah itu dia! Gara-gara Mami yang sering jodoh-jodihin aku sama cewek lain, pacar aku jadi ngambek sekarang. Ya kan sayang? Kamu jangan ngambek terus dong... Kan kamu sendiri yang bilang mau backstreet dulu dari Mami." Sahut Arthur yang langsung beralih ke Yuana untuk memulai sandiwaranya.

Dia meraih tangan Yuana dengan tatapan penuh mohon seolah seperti seorang kekasih yang ingin dimaafkan dari kesalahannya. Tapi sebenarnya itu adalah tatapan agar Yuana mau mengikuti alur sandiwara dadakan itu.

Nabilla seketika melongo dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka akan melihat Arthur yang tiba-tiba memohon pada seorang wanita dengan suara dan tatapan yang lembut.

Mungkin itu yang dilihat oleh Nabilla, tapi beda halnya bagi Yuana. Bagi Yuana itu adalah tatapan intimidasi.

Nabilla mulai sedikit percaya jika Yuana benar-benar pacar Arthur, tapi dia harus memastikan dulu jawaban apa yang akan Yuana berikan.

Sementara Yuana bingung harus menjawab apa, ini kedua kalinya dia berurusan dengan hal yang rumit seperti ini setelah masalah dengan Pak Broto kemarin. Tapi entah mengapa dia merasa jika masalah saat ini tidak akan selesai dengan mudah seperti halnya kemarin.

Namun mau tidak mau dia harus mengikuti alurnya, anggap saja ini adalah upah yang harus dia bayar karena Arthur telah menolongnya kemarin.

Yuana menarik napasnya dalam-dalam, dia mulai memasang ekspresi kesal dan menjawab...

"Maksud aku tuh bukan gitu... Aku cuma belum siap ketemu sama Mami kamu, bukan berarti harus nyembunyiin hubungan kita. Cukup bilang saja, 'Mi, aku sudah punya pacar jadi tolong jangan jodoh-jodohin aku lagi'. Gitu doang apa susahnya sih? Terus dia siapa lagi?! Jangan-jangan dia wanita pilihan Mami kamu!"

Waow! Yuana benar-benar terlihat menghayati, membuat Arthur tersenyum tipis nyaris tak terlihat.

Dia merasa puas karena Yuan bisa mengimbangi alurnya. Tentu saja, Yuana bukanlah perempuan bodoh, itu adalah hasil dari dirinya yang sering nonton drama Korea disaat waktu senggangnya.

"Yang benar aja?! Masak aku mau sama cewek kayak dia?!" Jawab Arthur sambil menunjuk ke arah Nabilla. Membuat Nabilla naik pitam dan langsung menggeplak punggung Arthur cukup keras sampai berbunyi, plak! Yang membuat Arthur mengaduh.

"Aduh!! Apa-apaan sih kamu?! Main geplak segala!" Seru Arthur sambil mengusap-usap punggungnya.

"Habisnya kamu ngomong seenaknya! Seharusnya yang bilang kayak gitu itu aku! Seandainya kita bukan sepupuan, gak bakalan juga aku suka sama cowok dingin macam kamu meski kamu cakep Arthur!" Sergah Nabilla kesal.

Ah... Sekarang jelas sudah bagi Yuana, jika Nabilla dan Arthur itu bukanlah pasangan kekasih atau hubungan hasil perjodohkan Maminya Arthur.

Mereka berdua adalah sepupu. Dan itu sudah menjawab pertanyaan Yuana yang tadinya cuma menerka-nerka.

"Nah, kamu dengar sendiri kan sayang... Cewek bar-bar ini sepupu aku. Jadi sekarang kamu gak marah lagi kan sama aku?" Ucap Arthur lembut sambil tetap menggenggam tangan Yuana, membuat Nabilla yang melihatnya gumoh.

Yuana melirik ke arah Nabilla yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seolah tau apa yang dikhawatirkan Yuana, Nabilla membuka mulutnya dan berkata...

"Tenang aja, aku beneran sepupu dia. Nyokap aku itu adik almarhum papinya Arthur. Aku Nabilla, panggil aja Billa, kamu...?" Tanya Nabilla sambil mengulurkan tangannya.

Melihat itu Yuana langsung menghempaskan genggaman tangan Arthur yang bikin panas dingin jantungnya dan menyambut tangan Nabilla untuk dijabatnya.

"Yuana." Jawab Yuana singkat sambil tersenyum.

"Udah kan kenalannya? Mending kamu pergi gih sekarang!" Usir Arthur dengan ketus.

"Kamu ngusir aku Ar?!" Tanya Nabilla yang sudah jelas jawabannya itu.

"Menurut kamu? Kamu kesini bukan untuk nungguin kami berdua pacaran kan?" Tanya Arthut sarkas.

Entah kenapa Arthur begitu ketus dengan Nabilla yang notabenenya adalah sepupunya sendiri. Seperti ada sesuatu yang membuat Arthur tidak menyukai Nabilla dan ingin menjauhinya.

Nabilla nampak menahan emosinya, dia tidak ingin ribut dengan Arthur setidaknya untuk saat ini. Karena hari ini dia berada di sana untuk merayakan pesta ulang tahun Sanas dan dia tidak ingin membuat keributan di hari bahagia sahabatnya itu. Untungnya suara panggilan temannya menyelamatkannya dari suasana tak mengenakkan itu.

"Billa...!" Seorang teman Nabilla memanggilnya untuk segera bergabung dengan teman mereka lainnya, karena sepertinya acara akan segera dimulai.

"Tuh..." Ujar Arthur memberi isyarat dengan dagunya untuk Nabilla agar segera pergi.

Nabilla menghentakkan kakinya sebal sambil berdecak kesal ke arah Arthur, namun dia menyempatkan untuk berpamitan dengan Yuana ramah sebelum dirinya pergi dari sana.

"Yuana, senang berkenalan denganmu. Aku pergi dulu, semoga kamu betah sama dia." Ucap Nabilla sambil menengok sengit sejenak ke arah Arthur.

"Sama-sama, aku juga senang, sekalian aku juga minta maaf atas apa yang terjadi barusan." Balas Yuana.

"Kamu gak perlu minta maaf sayang. Cepet kamu pergi sono gih!" Usir Arthur yang ikut menimpali.

"Berisik kamu! Ini aku juga mau pergi. Ya udah Yuan, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Bye..." Pamit Nabilla sambil melambaikan tangannya pada Yana dan melangkah pergi meninggalkan pasangan bohongan itu.

Arthur kembali duduk di kursinya, begitu pula Yuana yang langsung terduduk dengan perasaan lega. Hingga suara Arthur kembali terdengar.

"Kamu gak perlu ngobrol sama dia jika suatu saat kalian berdua ketemu lagi. Jika kamu melihat dia, cukup menghindar saja, jangan sampai ketemu." Ucap Arthur yang kini sudah dengan mode normal seperti di awal mereka bertemu.

Yuana mengangguk tanda mengerti.

"Tenang saja, aku ngerti kok. Tapi, menurutku kamu terlalu kasar sama Billa, kalian berdua kan sepupu." Ujar Yuana mengutarakan apa yang dia pikirkan. Karena menurut Yuana, Nabilla sebenrnya orang yang cukup ramah walau diawal tadi terkesan songong.

"Aku sangat berterimakasih karena kamu sudah membantuku, tapi masalahku dengan Billa aku rasa itu bukan urusan kamu." Ucap Arthur dengan nada dingin membuat Yuana tak bisa berkata apa pun.

Benar kata Arthur, hubungan antara sepupu itu bukanlah urusannya. Pesanan Espresso Arthur baru saja diantar oleh pelayan dan suasana di meja mereka kembali hening meski di sekitar mereka cukup ramai, hanya sesekali terdengar suara seruputan kopi yang diminum Arthur.

Yuana kembali sibuk dengan leptopnya walau sesekali melirik ke arah Arthur yang sibuk mengutak-atik gawainya.

"Pantesan setiap kata yang keluar dari mulunya itu pahit, minumnya aja Espresso. Kira-kira hidupnya pahit juga kali ya?" Batin Yuana.

Arthur melirik ke arah arloji bermerknya dan menghabiskan sisa kopi yang tersisa. Pandangannya lalu beralih ke arah Yuana yang masih setia dengan leptopnya, menikmati menonton drakor kesayangannya.

Hingga suara Arthur kembali terdengar menghentikan konsentrasinya dari layar laptop.

"Aku harus pergi." Ucap Arthur tiba-tiba.

"Oh, ok. Silahkan." Jawab Yuana tidak begitu perduli dan kembali melanjutkan menonton drama dari laptopnya.

"Kamu juga." Kata Arthur lagi, membuat Yuana mengerutkan keningnya , tidak mengerti mengapa juga dia harus ikut pergi?

Dia sudah ada janji untuk bertemu dengan Angela dijam makan siang yang kurang satu jam lagi. Lagian dia juga sedang asyik-asyiksa menonton drakor. Kenapa juga dia harus pergi?

"Aku? Kenapa aku harus pergi juga? Aku masih ada keperluan di sini." Tanya Yuana tidak mengerti.

"Aku tidak ingin Billa curiga jika aku keluar sendirian dan meinggalkanmu sendiri di sini sementara dia masih di dalam cafe ini." Jelas Arthur.

Yuana mengerti apa yang dikhawatirkan Arthur tapi bagaimana pun juga dia tidak bisa meninggalkan tempat itu karena sudah janji bertemu dengan Angela siang itu.

"Tapi aku masih ada janji bertemu dengan temanku di sini." Ujar Yuana jujur.

"Jika itu lelaki, batalkan!" Perintah Arthur seenaknya.

"Dia perempuan kok." Sahut Yuana.

"Tetap batalkan!" Balas Arthur semakin seenaknya.

"Hahh?! Gila nih orang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 16. Arthur Kesal

    "Hai Ar..." Sapa Kaidan begitu masuk ke ruangan Arthur. "Main nyelonong aja, gak ketuk pintu. Dari mana aja kamu?" Sindir Arthur. "Yaelah, perlu aku ulang lagi sambil ketuk pintu?" Sahut Kaidan santai. "Telat!" Sahut Arthur ketus. "Dari mana aja kamu?" Tanya Arthur kembali karena Kaidan belum menjawab pertanyaannya. "Dari toilet, biasa... Panggilan alam. Kenapa? Kangen ya sama aku?" Jawab Kai dengan senyum tengilnya. "kamu gak berharap aku jawab iya kan?" Ujar Arthur sarkas dan langsung membuat Kai terbahak mendengarnya. "Hahaha... Aku bakal koprol kalau kamu jawab gitu." Ujarnya sambil tertawa. "Mimpi!!" Seru Arthur yang tambah membuat Kai makin tertawa geli dibuatnya. "Oh ya, barusan Yuana ke sini kan?" Tanya Kai setelah tawanya berhenti. "Hemm..." Jawab Arthur tanpa berucap dan hanya sibuk dengan berkasnya. "Dia bilang apa?" Tanya Kai yang terlihat tidak puas dengan jawaban cuek Arthur. Arthur melirik sekilas pada Kaidan dan kembali pada kertas-kertas di depan

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 15. Setan Ganteng

    Melihat senyuman smirk Arthur itu mbuat Yuana tiba-tiba merinding. Yuana perlahan mundur tapi detik kemudian tangannya langsung ditarik oleh Arthur ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintunya segera. Kejadian yang sangat cepat dan tiba-tiba itu membuat Yuana tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah yang tegang dia hanya bisa pasrah. "Segitu sukanya ya kamu sama saya hingga buntutin saya sampai ke sini?" Tuduh Arthur sembari memojokkan Yuana di balik daun pintu ruangannya. "Eh bukan kok...! Saya bekerja di sini. Maaf Pak Bos, saya sungguh tidak tahu jika kamu... Ah maksud saya anda adalah Pak Arthur CEO perusahaan ini. Saya kira nama kalian hanya kebetulan saja sama." Ujar Yuana sambil mencengkeram erat map yang dia bawa dengan jantung yang sudah gak karu-karuan berisiknya. Yuana saat itu tidak bisa menatap Arthur yang berada di depannya, dia hanya menunduk dengan tubuh kaku dan jantung dag dig dug der. Hening... Tidak ada suara setelah itu, Arthur pun hanya diam tidak men

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 14. Jangan Bilang Kamu....

    Tadinya Yuana sempat kebingungan, kenapa tiba-tiba harus ikut ke ruang meeting? Padahal tinggal menyerahkan rancangan desain iklan saja ke klien ewat email. Dia mengira itu begitu saja sudah cukup, jika ada perubahan atau dirasa kurang puas tinggal kirim aduan lewat pesan atau telepon. Tidak tahunya perwakilan dari perusahaan klien malah datang sendiri untuk memastikan apa yang mereka inginkan sudah sesuai. Jadilah Yuana yang merupakan penanggungjawab rancangan iklan itu harus mempresentasikan sendiri hasil desainnya tadi. Walau ini dadakan dan gak siap, untungnya dia bisa mempresentasikannya dengan baik. Padahal ini hari pertamanya bekerja. "Desain sofa ini namanya Sofa Bed, seperti namanya sofa ini bisa diubah menjadi tempat tidur. Sofa jenis ini sekarang ini sedang populer namun masih belum banyak yang menggunakan. Desain sofa ini sangat cocok digunakan untuk rumah atau apartemen kecil yang mungkin punya kamar terbatas karena hemat ruangan." Yuana mulai menerangkan. "Jika a

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 13. Hari Pertama Kerja

    Yuana berjalan beriringan di sebuah lorong gedung bersama dengan seorang lelaki muda yang mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darinya. Lalu langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan semi kaca yang ada di dalam gedung tersebut. "Nah Yuana, ini adalah ruang tim desain yang akan kamu tempati bersama rekan-rekan lainnya dalam melaksanakan pembuatan desain." Ujar Rama yang merupakan ketua divisi rancangan perusahaan cabang dimana Yuana diterima kerja. Ya, hari ini adalah hari pertama dirinya masuk kerja. "Baik Pak." Jawab Yuana sambil mengangguk. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang terdiri dari beberapa kubikel. Di sana sudah ada tiga orang perempuan dan satu orang lelaki gemulai tengah duduk di kubikel mereka masing-masing. Suara Rama yang terdengar saat berbicara dengan Yuana membuat mereka yang tadinya menatap ke arah layar komputer berubah melihat ke arah Rama dan Yuana yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Prok, prok...! "Ok, tolong perhatiannya sebentar... K

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 12. Terima Tamu

    Wajah Yuana sudah ditekuk sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara Syifa sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. "Pfftt... Bhaha... Teh Yuana mah ada-ada saja sampai bikin Mang Untung kebingungan begitu, hahaha." Syifa tidak henti-hentinya tertawa karena insiden membagongkan barusan. "Ini semua gara-gara Bulek Prapti tuh Syif! Bikin Mang Untung salah paham aja. Hampir saja itu orang kege'eran gara-gara kata 'untung' yang sama dengan namanya." Ujar Yuana sambil membuat tanda kutip dengan jarinya saat mengucap kata 'untung'. Wajahnya sudah ditekuk sampai merah padam saking kesal dan malunya. "Hihi... Sabar ya Teh, resiko punya Bulek hiper aktif dan hiper julid emang gitu." Kata Syifa yang masih saja cekikikan. "Iya bener, hiper aktif julidnya." Sahut Yuana yang malah membuat keduanya saling tatap lalu tertawa bersamaan. "Udah-udah, jangan bercanda mulu! Ntar kena semprot lagi sama si Ratu Julid itu, cepat ke meja depan ntar keburu tamu kehormatan beliau datang." Ujar Yuana sam

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 11. Yuana Vs Juleha

    POV Yuana "Duhh... Ni Uler Kadut ngapain musti keluar dari sarangnya sih? Males binti mules kalau musti ngadepin dia." Rutukku dalam hati. "Hai Jul, pa kabar?" Sapaku basa basi. Juleha ini meski dia adik sepupuku tapi usianya sepelantaran sama aku, jadi kita sepakat hanya panggil nama tanpa ada embel-embel kakak atau adik satu sama lain. Dia itu anak satu-satunya Bulek Prapti dan Paklek Yanto. Sebenarnya dia punya kakak laki-laki tetapi sudah meninggal pas kakaknya masih balita karena DB. Makanya dia dimanja banget sama orang tuanya. "Kamu bisa lihat sendiri, aku lagi bahagia sekarang ini. Bentar lagi aku bakalan punya baby yang lucu dan pasti cakep kayak aku. Terus pinternya kayak papanya." Jawabnya tak lupa dibarengi dengan embel-embel keangkuhan yang belum pasti terjadi. Ini nih yang bikin kuping gue tiba-tiba congekan. Belum apa-apa udah sombong amat! "Iya, semoga aja ya Jul..." Jawabku sekenanya. "Lho... Itu sudah pasti Yuan. Akunya aja cakep dan suami aku selain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status