LOGINTiga puluh menit sebelumnya....
"Hai Nas... Selamat Ulang Tahun ya, semoga panjang umur dan bahagia selalu. Nih, kado buat kamu." Ucap Nabilla, seupupu Arthur yang pada saat itu sedang meghadiri sebuah pesta ulang tahun salah satu teman kampusnya. Dan kebetulan pesta itu digelar cafe yang sama yang dikunjungi oleh Arthur dan Yuana. "Makasih ya Billa dah dateng, kadonya juga makasih ya say..." Balas Sanas sambil menerima kado dari Nabilla dan cipika-cipiki ala perempuan pada umumnya. "Sama-sama, kamu kan sahabat aku, tentu dong aku datang." Ujar Nabilla sembari tersenyum. "Hehe... Kamu emang best friend aku deh..." Sahut Sanas sembari tersenyum dan menggamit lengan Nabilla. Mereka pun terlibat beberapa obrolan bersama teman-teman mereka yang lain yang juga hadir di pesta tersebut. Hingga mata Nabilla tidak sengaja menangkap salah seorang pengunjung cafe tersebut yang tengah duduk bersama seorang perempuan. Dan pengunjung itu adalah Arthur, sepupunya sendiri. Mata Nabilla mengernyit menatap Arthur yang tengah duduk santai dengan mengutak atik ponsel di tangannya. "Itu kan Arthur? Kenapa dia bisa di sini ya? Ah, kalau gak salah perusahaan cabang miliknya kan ada di seberang cafe ini. Tapi tumben banget aku bisa gak sengaja ketemu dia di sini. Tapi... Wanita di depannya itu siapa ya?" Batin Nabilla bertanya-tanya. "Ah, mending aku samperin aja langsung daripada makin penasaran." Lanjutnya dalam hati dan langsung melangkah menuju ke arah meja Arthur dan Yuana. ***** Kembali ke saat ini.... "Pa..car?" Tanya Nabilla lagi dengan sedikit ragu. Dia ragu mungkin pendengaran dia salah. "Kamu budeg ya?!" Balas Arthur ketus. "Busyett!! Gitu amat balasnya? Kasar banget sama pacarnya. Eh, emang bener pacarnya bukan ya??" Tanya Yuana dalam hatinya. "Aku kan cuma tanya Ar, sensi banget kamu kayak cewek lagi PMS." Ujar Nabilla yang mulai sebal. "Suka-suka aku." Sahut Arthut masa bodoh, sedangkan Yuana yang melihat interaksi mereka makin ketar ketir diantara perdebatan mereka. Nabillla memutar bola matanya jengah lalu beralih pandangan ke arah Yuana yang sedari tadi cuma diam dan melihat. "Kamu beneran pacarnya Arthur? Kamu gak dipaksa buat jadi pacarnya kan?" Tanya Nabilla tiba-tiba yang membuat Yuana bingung harus menjawab apa. "Hahh?! Eh anu aku..." Belum sempat Yuana meneruskan ucapannya, namun Arthur langsung memotong pembicaraan. "Kayaknya kamu memang perlu ke THT, pendengaran kamu bermasalah. Dia pacar aku, gak perlu kamu tanya lagi, dia gak nyaman tau?!" Sahut Arthur ketus. "Ya, aku gak nyaman karena kalian berdua. Jadi kalau kalian punya masalah, please...jangan libatin aku!" Gumam Yuana dalam hatinya. "Arthur!! Kamu...! Ckk, aku kan cuma nanya siapa tau dia cuma terpaksa jadi pacar kamu karena kamu sering lari dari perjodohan yang tante Lidia persiapkan buat kamu. Dan kalian berdua tuh gak kayak orang lagi pacaran, terutama kamu Ar... Mukak kamu asem banget!" Ujar Nabilla tepat sasaran. Arthur sempat mengumpat dalam hati karena Billa bisa sepeka itu, namun bukan Arthur kalau tidak bisa menyangkalnya. "Nah itu dia! Gara-gara Mami yang sering jodoh-jodihin aku sama cewek lain, pacar aku jadi ngambek sekarang. Ya kan sayang? Kamu jangan ngambek terus dong... Kan kamu sendiri yang bilang mau backstreet dulu dari Mami." Sahut Arthur yang langsung beralih ke Yuana untuk memulai sandiwaranya. Dia meraih tangan Yuana dengan tatapan penuh mohon seolah seperti seorang kekasih yang ingin dimaafkan dari kesalahannya. Tapi sebenarnya itu adalah tatapan agar Yuana mau mengikuti alur sandiwara dadakan itu. Nabilla seketika melongo dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka akan melihat Arthur yang tiba-tiba memohon pada seorang wanita dengan suara dan tatapan yang lembut. Mungkin itu yang dilihat oleh Nabilla, tapi beda halnya bagi Yuana. Bagi Yuana itu adalah tatapan intimidasi. Nabilla mulai sedikit percaya jika Yuana benar-benar pacar Arthur, tapi dia harus memastikan dulu jawaban apa yang akan Yuana berikan. Sementara Yuana bingung harus menjawab apa, ini kedua kalinya dia berurusan dengan hal yang rumit seperti ini setelah masalah dengan Pak Broto kemarin. Tapi entah mengapa dia merasa jika masalah saat ini tidak akan selesai dengan mudah seperti halnya kemarin. Namun mau tidak mau dia harus mengikuti alurnya, anggap saja ini adalah upah yang harus dia bayar karena Arthur telah menolongnya kemarin. Yuana menarik napasnya dalam-dalam, dia mulai memasang ekspresi kesal dan menjawab... "Maksud aku tuh bukan gitu... Aku cuma belum siap ketemu sama Mami kamu, bukan berarti harus nyembunyiin hubungan kita. Cukup bilang saja, 'Mi, aku sudah punya pacar jadi tolong jangan jodoh-jodohin aku lagi'. Gitu doang apa susahnya sih? Terus dia siapa lagi?! Jangan-jangan dia wanita pilihan Mami kamu!" Waow! Yuana benar-benar terlihat menghayati, membuat Arthur tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Dia merasa puas karena Yuan bisa mengimbangi alurnya. Tentu saja, Yuana bukanlah perempuan bodoh, itu adalah hasil dari dirinya yang sering nonton drama Korea disaat waktu senggangnya. "Yang benar aja?! Masak aku mau sama cewek kayak dia?!" Jawab Arthur sambil menunjuk ke arah Nabilla. Membuat Nabilla naik pitam dan langsung menggeplak punggung Arthur cukup keras sampai berbunyi, plak! Yang membuat Arthur mengaduh. "Aduh!! Apa-apaan sih kamu?! Main geplak segala!" Seru Arthur sambil mengusap-usap punggungnya. "Habisnya kamu ngomong seenaknya! Seharusnya yang bilang kayak gitu itu aku! Seandainya kita bukan sepupuan, gak bakalan juga aku suka sama cowok dingin macam kamu meski kamu cakep Arthur!" Sergah Nabilla kesal. Ah... Sekarang jelas sudah bagi Yuana, jika Nabilla dan Arthur itu bukanlah pasangan kekasih atau hubungan hasil perjodohkan Maminya Arthur. Mereka berdua adalah sepupu. Dan itu sudah menjawab pertanyaan Yuana yang tadinya cuma menerka-nerka. "Nah, kamu dengar sendiri kan sayang... Cewek bar-bar ini sepupu aku. Jadi sekarang kamu gak marah lagi kan sama aku?" Ucap Arthur lembut sambil tetap menggenggam tangan Yuana, membuat Nabilla yang melihatnya gumoh. Yuana melirik ke arah Nabilla yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seolah tau apa yang dikhawatirkan Yuana, Nabilla membuka mulutnya dan berkata... "Tenang aja, aku beneran sepupu dia. Nyokap aku itu adik almarhum papinya Arthur. Aku Nabilla, panggil aja Billa, kamu...?" Tanya Nabilla sambil mengulurkan tangannya. Melihat itu Yuana langsung menghempaskan genggaman tangan Arthur yang bikin panas dingin jantungnya dan menyambut tangan Nabilla untuk dijabatnya. "Yuana." Jawab Yuana singkat sambil tersenyum. "Udah kan kenalannya? Mending kamu pergi gih sekarang!" Usir Arthur dengan ketus. "Kamu ngusir aku Ar?!" Tanya Nabilla yang sudah jelas jawabannya itu. "Menurut kamu? Kamu kesini bukan untuk nungguin kami berdua pacaran kan?" Tanya Arthut sarkas. Entah kenapa Arthur begitu ketus dengan Nabilla yang notabenenya adalah sepupunya sendiri. Seperti ada sesuatu yang membuat Arthur tidak menyukai Nabilla dan ingin menjauhinya. Nabilla nampak menahan emosinya, dia tidak ingin ribut dengan Arthur setidaknya untuk saat ini. Karena hari ini dia berada di sana untuk merayakan pesta ulang tahun Sanas dan dia tidak ingin membuat keributan di hari bahagia sahabatnya itu. Untungnya suara panggilan temannya menyelamatkannya dari suasana tak mengenakkan itu. "Billa...!" Seorang teman Nabilla memanggilnya untuk segera bergabung dengan teman mereka lainnya, karena sepertinya acara akan segera dimulai. "Tuh..." Ujar Arthur memberi isyarat dengan dagunya untuk Nabilla agar segera pergi. Nabilla menghentakkan kakinya sebal sambil berdecak kesal ke arah Arthur, namun dia menyempatkan untuk berpamitan dengan Yuana ramah sebelum dirinya pergi dari sana. "Yuana, senang berkenalan denganmu. Aku pergi dulu, semoga kamu betah sama dia." Ucap Nabilla sambil menengok sengit sejenak ke arah Arthur. "Sama-sama, aku juga senang, sekalian aku juga minta maaf atas apa yang terjadi barusan." Balas Yuana. "Kamu gak perlu minta maaf sayang. Cepet kamu pergi sono gih!" Usir Arthur yang ikut menimpali. "Berisik kamu! Ini aku juga mau pergi. Ya udah Yuan, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Bye..." Pamit Nabilla sambil melambaikan tangannya pada Yana dan melangkah pergi meninggalkan pasangan bohongan itu. Arthur kembali duduk di kursinya, begitu pula Yuana yang langsung terduduk dengan perasaan lega. Hingga suara Arthur kembali terdengar. "Kamu gak perlu ngobrol sama dia jika suatu saat kalian berdua ketemu lagi. Jika kamu melihat dia, cukup menghindar saja, jangan sampai ketemu." Ucap Arthur yang kini sudah dengan mode normal seperti di awal mereka bertemu. Yuana mengangguk tanda mengerti. "Tenang saja, aku ngerti kok. Tapi, menurutku kamu terlalu kasar sama Billa, kalian berdua kan sepupu." Ujar Yuana mengutarakan apa yang dia pikirkan. Karena menurut Yuana, Nabilla sebenrnya orang yang cukup ramah walau diawal tadi terkesan songong. "Aku sangat berterimakasih karena kamu sudah membantuku, tapi masalahku dengan Billa aku rasa itu bukan urusan kamu." Ucap Arthur dengan nada dingin membuat Yuana tak bisa berkata apa pun. Benar kata Arthur, hubungan antara sepupu itu bukanlah urusannya. Pesanan Espresso Arthur baru saja diantar oleh pelayan dan suasana di meja mereka kembali hening meski di sekitar mereka cukup ramai, hanya sesekali terdengar suara seruputan kopi yang diminum Arthur. Yuana kembali sibuk dengan leptopnya walau sesekali melirik ke arah Arthur yang sibuk mengutak-atik gawainya. "Pantesan setiap kata yang keluar dari mulunya itu pahit, minumnya aja Espresso. Kira-kira hidupnya pahit juga kali ya?" Batin Yuana. Arthur melirik ke arah arloji bermerknya dan menghabiskan sisa kopi yang tersisa. Pandangannya lalu beralih ke arah Yuana yang masih setia dengan leptopnya, menikmati menonton drakor kesayangannya. Hingga suara Arthur kembali terdengar menghentikan konsentrasinya dari layar laptop. "Aku harus pergi." Ucap Arthur tiba-tiba. "Oh, ok. Silahkan." Jawab Yuana tidak begitu perduli dan kembali melanjutkan menonton drama dari laptopnya. "Kamu juga." Kata Arthur lagi, membuat Yuana mengerutkan keningnya , tidak mengerti mengapa juga dia harus ikut pergi? Dia sudah ada janji untuk bertemu dengan Angela dijam makan siang yang kurang satu jam lagi. Lagian dia juga sedang asyik-asyiksa menonton drakor. Kenapa juga dia harus pergi? "Aku? Kenapa aku harus pergi juga? Aku masih ada keperluan di sini." Tanya Yuana tidak mengerti. "Aku tidak ingin Billa curiga jika aku keluar sendirian dan meinggalkanmu sendiri di sini sementara dia masih di dalam cafe ini." Jelas Arthur. Yuana mengerti apa yang dikhawatirkan Arthur tapi bagaimana pun juga dia tidak bisa meninggalkan tempat itu karena sudah janji bertemu dengan Angela siang itu. "Tapi aku masih ada janji bertemu dengan temanku di sini." Ujar Yuana jujur. "Jika itu lelaki, batalkan!" Perintah Arthur seenaknya. "Dia perempuan kok." Sahut Yuana. "Tetap batalkan!" Balas Arthur semakin seenaknya. "Hahh?! Gila nih orang!"Sesuai titah kakaknya, pagi-pagi sekali Yudha sudah duduk manis di sofa ruang keluarga rumah Yuana. Dia datang dengan satu rantang susun tiga yang penuh oleh masakan sang Bunda. "Kak, kamu beneran hamil?" Tanya Yudha begitu Yuana mengambil rantang makanan darinya dengan mata berbinar dan air liur yang hampir menetes. "Ngaco kamu! Kakak kagak hamil ya!" Seru Yuana sambil melemparkan bantal sofa ke arah adiknya. "Lha... Tadi malam kan Kakak bilang lagi ngidam masakannya Bunda. Aku kira Kakak beneran lagi hamil." Ujar Yudha yang kelihatan agak bingung dengan keabsurd kakaknya. "Emang orang ngidam harus hamil duluan? Kagak kan?!" Sahut Yuana rada sewot seraya melenggang pergi meninggalkan Yudha di ruang keluarga. Akhir-akhir ini Yuana memang agak sensitive jika berhubungan dengan kehamilan atau topik mengenai anak. "Yealah... Gak perlu ngegas gitu kali kak. Ya kan aku cuma nanya doang, kalau salah ya maaf... Sensi amat kamu hari ini, lagi dapet ya?" Sahut Yudha bertepatan de
"Hmm... Baunya enak Mas, aku jadi makin lapar." Ujar Yuana yang duduk di meja makan sambil mengamati Arthur yang tengah membuat nasi goreng special pakai dua telur, request-nya untuk makan malam mereka.Aroma nasi bercampur bumbu yang digoreng begitu menggiurkan. Hidung Yuana sampai mengendus-endus aroma wangi gurih nasi goreng yang sampai ke hidungnya."Sabar ya sayang... Sebentar lagi selesai kok." Sahut Arthur dengan tangan yang masih tetap sibuk bergerak kesana kemari."Iya... Aku cuma bilang kalau aroma enaknya sudah sampai ke hidung aku." Balas Yuana menanggapi.Tak berselang lama, Arthur akhirnya selesai dan membawa dua buah piring nasi goreng buatannya ke meja makan."Waahh... Akhirnya yang ditunggu dari tadi datang juga. Hmm... Kelihatan enak banget Mas." Ucap Yuana dengan mata yang berbinar dan air liur yang hambir menetes."Kalau begitu kamu harus habisin! Nah... Kali ini tidak ada seafood-nya, hanya bakso, sosis, ayam, sawi dan dua telur goreng sesuai request kamu." Balas
Jimy sudah mesam-mesem sedari tadi sejak Arthur mengeluarkan ATM card-nya buat bayar bill pesanan mereka. "Terimakasih lho Pak Arthur... Padahal saya yang mau nraktir, eh malah Bapak yang jadi bayarin semuanya. Kan saya jadi seneng... Eh, sungkan maksudnya hehe..." Ucap Jimy malu-malu tapi di dalam hatinya dia bersorak hore karena bersyukur tidak jadi tekor buat bayarin makan orang sedivisinya. "Anggap saja ini ucapan ulang tahun dari saya." Ujar Arthur dengan nada datar seperti biasanya. Secara dia gengsi harus dibayarin sama bawahannya sendiri. Apalagi tadi Yuana sudah pesan dan makan banyak, dia sebagai suaminya tentunya tahu diri. "Sekali lagi terimakasih Pak Arthur..." Ucap Jimy sekali lagi. "Hmm... Sahabis ini kalian langsung balik ke kantor. Saya balik duluan, Yuana ayo!" Ujar Arthur sambil mengajak yuana untuk kembali ke kantor duluan dengannya. "Saya ikut Bapak juga?" Tanya Yuan yang setengah ragu. Dia pikir untuk mengurangi rasa curiga teman-temannya, dia akan kemb
"Sekarang kita mau kemana Mas?" Tanya Yuana begitu masuk ke dalam mobil. "Emm... Mau balik ke kantor tapi nanggung, sebentar lagi waktunya jam istirahat. Gimana kalau kita pergi makan dulu baru balik lagi ke kantor." Jawab Athur sambil melihat ke arah arloji di tangannya. "Kamu mau makan apa sayang? Kamu saja yang nentuin, aku ngikut saja." Lanjutnya. "Emm... Apa ya Mas? Mas maunya makan apa?" Ujar Arthur yang malah balik tanya. "Kok kamu malah balik tanya sih?" Sahut Arthur seraya melirik sekilas ke arah Yuana yang duduk di sebelahnya. "Habisnya aku bingung mau makan apa, yang jelas aku mau minum yang seger-seger dan dingin, soalnya aku perlu mendinginkan hati dan pikiranku yang sudah panas sejak tadi. Soal makan aku ngikut Mas Ar aja." Ucap Yuana mengutarakan maunya. "Kalau minuman yang dingin dan seger-segee biasanya ada di restoran Jawa dan Sunda, variannya juga banyak. Gimana kalau makan di sana saja?" Saran Arthur. "Boleh, kalau gitu kita ke sana saja. Let's go...!
Arthur dan Yuana kini sedang berada di Lobby Josh Hotel. Mereka tengah menunggu bagian resepsionis untuk mengkonfirmasi kedatangan dan janji temu mereka dengan Ruben. Tapi muka Yuana sudah terlihat masam saja. "Mas...." Panggilnya pada Arthur. "Hmm..." Sahut Arthur. "Pokoknya kalau nanti si tengik itu bikin aku kesel, jangan coba-coba halangi aku buat hajar dia lho Mas!" Ujar Yuana seraya berbisik di telinga Arthur. "Iya sayang... Terserah kamu saja." Jawab Arthur pasrah, dia hanya bisa angkat tangan kalau istrinya sudah ada maunya. Arthur hanya bisa berdo'a semoga Ruben bisa selamat sampai di alam baka. Tidak lama kemudian si resepsionis menghampiri mereka dengan wajah tersenyum. "Terimakasih sudah menunggu... Mari saya antar ke ruang meeting." Ucap resepsionis yang kemudian mengantar Arthur dan Yuana ke ruang meeting. "Silahkan masuk... Pak Ruben sebentar lagi akan segera tiba. Mohon ditunggu." Ujar si mbak resepsionis dengan ramah. "Baik, terimakasih." Sahut Yuana.
Yuana sedang memperhatikan Arthur yang sedang sibuk membuatkan spaghetti untuk sarapan mereka dengan tatapan gelisah. "Mas, kita beneran gak perlu pergi ke kantor?" Tanya Yuana untuk kesekian kalinya. Takutnya Arthur hanya asal bicara saja. "Iya, berenar... Soalnya kita ada misi penting kali ini." Jawab Arthur yang semakin ambigu saja. "Misi penting apaan? Bukan misi yang aneh-aneh kan Mas?" Tanya Yuana curiga. Arthur hanya diam saja tidak menjawab, tangannya masih sibuk menyusun pasta spaghetti yang sudah matang di atas piring. "Mas... Kok gak dijawab sih? Gak ada hal yang aneh kan?" Tanya Yuana sekali lagi. "Ini kamu makan dulu saja, karena misi kita kali ini akan membutuhkan tenaga ekstra." Ucap Arthur sambil menyuapkan Spaghetti yang baru saja dia buat dan mau tidak mau Yuana membuka mulutnya dengan patuh. "Gimana? Enak kan? Habiskan ya sayang... Setelah ini kita juga akan menghabisi seseorang." Ujar Arthur tanpa disaring dulu kata-katanya membuat Yuan langsung ters







