Home / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 70. Semanis Ice Cream

Share

Bab 70. Semanis Ice Cream

Author: Shira Sirius
last update publish date: 2026-04-05 22:38:20

Jimy sudah mesam-mesem sedari tadi sejak Arthur mengeluarkan ATM card-nya buat bayar bill pesanan mereka.

"Terimakasih lho Pak Arthur... Padahal saya yang mau nraktir, eh malah Bapak yang jadi bayarin semuanya. Kan saya jadi seneng... Eh, sungkan maksudnya hehe..." Ucap Jimy malu-malu tapi di dalam hatinya dia bersorak hore karena bersyukur tidak jadi tekor buat bayarin makan orang sedivisinya.

"Anggap saja ini ucapan ulang tahun dari saya." Ujar Arthur dengan nada datar seperti biasanya. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 70. Semanis Ice Cream

    Jimy sudah mesam-mesem sedari tadi sejak Arthur mengeluarkan ATM card-nya buat bayar bill pesanan mereka. "Terimakasih lho Pak Arthur... Padahal saya yang mau nraktir, eh malah Bapak yang jadi bayarin semuanya. Kan saya jadi seneng... Eh, sungkan maksudnya hehe..." Ucap Jimy malu-malu tapi di dalam hatinya dia bersorak hore karena bersyukur tidak jadi tekor buat bayarin makan orang sedivisinya. "Anggap saja ini ucapan ulang tahun dari saya." Ujar Arthur dengan nada datar seperti biasanya. Secara dia gengsi harus dibayarin sama bawahannya sendiri. Apalagi tadi Yuana sudah pesan dan makan banyak, dia sebagai suaminya tentunya tahu diri. "Sekali lagi terimakasih Pak Arthur..." Ucap Jimy sekali lagi. "Hmm... Sahabis ini kalian langsung balik ke kantor. Saya balik duluan, Yuana ayo!" Ujar Arthur sambil mengajak yuana untuk kembali ke kantor duluan dengannya. "Saya ikut Bapak juga?" Tanya Yuan yang setengah ragu. Dia pikir untuk mengurangi rasa curiga teman-temannya, dia akan kemb

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 69. Terlanjur Masuk

    "Sekarang kita mau kemana Mas?" Tanya Yuana begitu masuk ke dalam mobil. "Emm... Mau balik ke kantor tapi nanggung, sebentar lagi waktunya jam istirahat. Gimana kalau kita pergi makan dulu baru balik lagi ke kantor." Jawab Athur sambil melihat ke arah arloji di tangannya. "Kamu mau makan apa sayang? Kamu saja yang nentuin, aku ngikut saja." Lanjutnya. "Emm... Apa ya Mas? Mas maunya makan apa?" Ujar Arthur yang malah balik tanya. "Kok kamu malah balik tanya sih?" Sahut Arthur seraya melirik sekilas ke arah Yuana yang duduk di sebelahnya. "Habisnya aku bingung mau makan apa, yang jelas aku mau minum yang seger-seger dan dingin, soalnya aku perlu mendinginkan hati dan pikiranku yang sudah panas sejak tadi. Soal makan aku ngikut Mas Ar aja." Ucap Yuana mengutarakan maunya. "Kalau minuman yang dingin dan seger-segee biasanya ada di restoran Jawa dan Sunda, variannya juga banyak. Gimana kalau makan di sana saja?" Saran Arthur. "Boleh, kalau gitu kita ke sana saja. Let's go...!

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 68. Melancarkan Misi

    Arthur dan Yuana kini sedang berada di Lobby Josh Hotel. Mereka tengah menunggu bagian resepsionis untuk mengkonfirmasi kedatangan dan janji temu mereka dengan Ruben. Tapi muka Yuana sudah terlihat masam saja. "Mas...." Panggilnya pada Arthur. "Hmm..." Sahut Arthur. "Pokoknya kalau nanti si tengik itu bikin aku kesel, jangan coba-coba halangi aku buat hajar dia lho Mas!" Ujar Yuana seraya berbisik di telinga Arthur. "Iya sayang... Terserah kamu saja." Jawab Arthur pasrah, dia hanya bisa angkat tangan kalau istrinya sudah ada maunya. Arthur hanya bisa berdo'a semoga Ruben bisa selamat sampai di alam baka. Tidak lama kemudian si resepsionis menghampiri mereka dengan wajah tersenyum. "Terimakasih sudah menunggu... Mari saya antar ke ruang meeting." Ucap resepsionis yang kemudian mengantar Arthur dan Yuana ke ruang meeting. "Silahkan masuk... Pak Ruben sebentar lagi akan segera tiba. Mohon ditunggu." Ujar si mbak resepsionis dengan ramah. "Baik, terimakasih." Sahut Yuana.

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 67. Misi Penting Arthur

    Yuana sedang memperhatikan Arthur yang sedang sibuk membuatkan spaghetti untuk sarapan mereka dengan tatapan gelisah. "Mas, kita beneran gak perlu pergi ke kantor?" Tanya Yuana untuk kesekian kalinya. Takutnya Arthur hanya asal bicara saja. "Iya, berenar... Soalnya kita ada misi penting kali ini." Jawab Arthur yang semakin ambigu saja. "Misi penting apaan? Bukan misi yang aneh-aneh kan Mas?" Tanya Yuana curiga. Arthur hanya diam saja tidak menjawab, tangannya masih sibuk menyusun pasta spaghetti yang sudah matang di atas piring. "Mas... Kok gak dijawab sih? Gak ada hal yang aneh kan?" Tanya Yuana sekali lagi. "Ini kamu makan dulu saja, karena misi kita kali ini akan membutuhkan tenaga ekstra." Ucap Arthur sambil menyuapkan Spaghetti yang baru saja dia buat dan mau tidak mau Yuana membuka mulutnya dengan patuh. "Gimana? Enak kan? Habiskan ya sayang... Setelah ini kita juga akan menghabisi seseorang." Ujar Arthur tanpa disaring dulu kata-katanya membuat Yuan langsung ters

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 66. Pengakuan Arthur

    Pagi ini Yuana bangun kesiangan. Itu gara-gara tadi malam dia susah tidur karena kepikiran dengan omongannya Arthur. Omongan yang sudah mirip dengan pengakuan cinta. Kalau sudah begitu, wanita mana yang bakalan bisa tidur nyenyak? Terlebih lelaki itu adalah seorang Arthur Pradana, lelaki idaman wanita sejuta umat. Saking susah tidurnya, Yuana baru bisa tertidur tadi subuh. Akibatnya dia jadi bangun kesiangan, dan entah apa yang terjadi dirinya bangun dalam keadaan nungging, sudah mirip orang yang lagi sujud syukur. Mungkin di bawah alam sadarnya dirinya telah bersyukur mendapatkan suami macam Arthur, meski suaminya itu mood-nya suka naik turun macam roller coaster tapi punya suami Arthur itu bisa membuat semua wanita di dunia ini iri. "Astaga! Aku kesiangan! Duhh, gimana nih..??Mana kesiangannya pakek banget lagi! Itu si Angry Bird juga gak bangunin aku lagi. Eh, mending jangan! Ntar yang ada aku baper, tapi kalau gak ada yang bangun aku kesiangan juga... Ah bodoh ah! Dia juga man

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 65. Yuana Panik, Ternyata Arthur...

    "Aku pulang dulu Josh, istriku sendiri di rumah." Itulah yang diucapkan Arthur saat berpamitan dengan Joshua di cafe shop tadi. Tadinya Arthur berpikir jika saat ini Yuana akan kesepian di rumahnya, namun pikirannya ternyata salah. Baru saja dia melangkah memasuki rumah, sudah terdengar suara gaduh dari dalam sana. Dan alangkah terkejutnya dia karena di sana sudah ada Nabilla dan juga Kaidan yang duduk di lantai beralaskan karpet bersama Yuana. Mereka bertiga sedang bermain domino dengan begitu gembira hingga tidak ada yang sadar jika Arthur sudah pulang dan melihat mereka bertiga dengan tatapan shocknya. "Haha... Kamu kalah lagi Kai! Siniin muka kamu!" Seru Nabilla sambil tertawa puas melihat wajah cemberut Kaidan yang penuh dengan corengan bedak berwarna putih dan kini bertambah lagi karena dia kalah main lagi. "Haha... Ya ampun Bang, kamu sudah mirip badut yang suka joget-joget di pinggir jalan, pffttt, hahahaa...." Ledek Yuana sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status