Home / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 9. Stock Sabar Kaidan

Share

Bab 9. Stock Sabar Kaidan

Author: Shira Sirius
last update publish date: 2026-01-09 09:02:50

Arthur mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan rumah bergaya clasik modern. Rumah itu begitu terang dengan pencahayaannya yang cukup bagus.

"Jadi ini rumah yang bakalan kita tempati untuk sementara?" Tanya Arthur yang masih mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

Rumah dengan dua lantai tersebut tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil dengan empat kamar, dua di bawah dan duanya lagi di lantai atas.

Ada rooftop kecil juga yang asik buat nyantai di pagi atau sore hari. Di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 72. Antara Sial dan Untung

    Sesuai titah kakaknya, pagi-pagi sekali Yudha sudah duduk manis di sofa ruang keluarga rumah Yuana. Dia datang dengan satu rantang susun tiga yang penuh oleh masakan sang Bunda. "Kak, kamu beneran hamil?" Tanya Yudha begitu Yuana mengambil rantang makanan darinya dengan mata berbinar dan air liur yang hampir menetes. "Ngaco kamu! Kakak kagak hamil ya!" Seru Yuana sambil melemparkan bantal sofa ke arah adiknya. "Lha... Tadi malam kan Kakak bilang lagi ngidam masakannya Bunda. Aku kira Kakak beneran lagi hamil." Ujar Yudha yang kelihatan agak bingung dengan keabsurd kakaknya. "Emang orang ngidam harus hamil duluan? Kagak kan?!" Sahut Yuana rada sewot seraya melenggang pergi meninggalkan Yudha di ruang keluarga. Akhir-akhir ini Yuana memang agak sensitive jika berhubungan dengan kehamilan atau topik mengenai anak. "Yealah... Gak perlu ngegas gitu kali kak. Ya kan aku cuma nanya doang, kalau salah ya maaf... Sensi amat kamu hari ini, lagi dapet ya?" Sahut Yudha bertepatan de

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 71. Pusing Ala Arthur

    "Hmm... Baunya enak Mas, aku jadi makin lapar." Ujar Yuana yang duduk di meja makan sambil mengamati Arthur yang tengah membuat nasi goreng special pakai dua telur, request-nya untuk makan malam mereka.Aroma nasi bercampur bumbu yang digoreng begitu menggiurkan. Hidung Yuana sampai mengendus-endus aroma wangi gurih nasi goreng yang sampai ke hidungnya."Sabar ya sayang... Sebentar lagi selesai kok." Sahut Arthur dengan tangan yang masih tetap sibuk bergerak kesana kemari."Iya... Aku cuma bilang kalau aroma enaknya sudah sampai ke hidung aku." Balas Yuana menanggapi.Tak berselang lama, Arthur akhirnya selesai dan membawa dua buah piring nasi goreng buatannya ke meja makan."Waahh... Akhirnya yang ditunggu dari tadi datang juga. Hmm... Kelihatan enak banget Mas." Ucap Yuana dengan mata yang berbinar dan air liur yang hambir menetes."Kalau begitu kamu harus habisin! Nah... Kali ini tidak ada seafood-nya, hanya bakso, sosis, ayam, sawi dan dua telur goreng sesuai request kamu." Balas

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 70. Semanis Ice Cream

    Jimy sudah mesam-mesem sedari tadi sejak Arthur mengeluarkan ATM card-nya buat bayar bill pesanan mereka. "Terimakasih lho Pak Arthur... Padahal saya yang mau nraktir, eh malah Bapak yang jadi bayarin semuanya. Kan saya jadi seneng... Eh, sungkan maksudnya hehe..." Ucap Jimy malu-malu tapi di dalam hatinya dia bersorak hore karena bersyukur tidak jadi tekor buat bayarin makan orang sedivisinya. "Anggap saja ini ucapan ulang tahun dari saya." Ujar Arthur dengan nada datar seperti biasanya. Secara dia gengsi harus dibayarin sama bawahannya sendiri. Apalagi tadi Yuana sudah pesan dan makan banyak, dia sebagai suaminya tentunya tahu diri. "Sekali lagi terimakasih Pak Arthur..." Ucap Jimy sekali lagi. "Hmm... Sahabis ini kalian langsung balik ke kantor. Saya balik duluan, Yuana ayo!" Ujar Arthur sambil mengajak yuana untuk kembali ke kantor duluan dengannya. "Saya ikut Bapak juga?" Tanya Yuan yang setengah ragu. Dia pikir untuk mengurangi rasa curiga teman-temannya, dia akan kemb

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 69. Terlanjur Masuk

    "Sekarang kita mau kemana Mas?" Tanya Yuana begitu masuk ke dalam mobil. "Emm... Mau balik ke kantor tapi nanggung, sebentar lagi waktunya jam istirahat. Gimana kalau kita pergi makan dulu baru balik lagi ke kantor." Jawab Athur sambil melihat ke arah arloji di tangannya. "Kamu mau makan apa sayang? Kamu saja yang nentuin, aku ngikut saja." Lanjutnya. "Emm... Apa ya Mas? Mas maunya makan apa?" Ujar Arthur yang malah balik tanya. "Kok kamu malah balik tanya sih?" Sahut Arthur seraya melirik sekilas ke arah Yuana yang duduk di sebelahnya. "Habisnya aku bingung mau makan apa, yang jelas aku mau minum yang seger-seger dan dingin, soalnya aku perlu mendinginkan hati dan pikiranku yang sudah panas sejak tadi. Soal makan aku ngikut Mas Ar aja." Ucap Yuana mengutarakan maunya. "Kalau minuman yang dingin dan seger-segee biasanya ada di restoran Jawa dan Sunda, variannya juga banyak. Gimana kalau makan di sana saja?" Saran Arthur. "Boleh, kalau gitu kita ke sana saja. Let's go...!

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 68. Melancarkan Misi

    Arthur dan Yuana kini sedang berada di Lobby Josh Hotel. Mereka tengah menunggu bagian resepsionis untuk mengkonfirmasi kedatangan dan janji temu mereka dengan Ruben. Tapi muka Yuana sudah terlihat masam saja. "Mas...." Panggilnya pada Arthur. "Hmm..." Sahut Arthur. "Pokoknya kalau nanti si tengik itu bikin aku kesel, jangan coba-coba halangi aku buat hajar dia lho Mas!" Ujar Yuana seraya berbisik di telinga Arthur. "Iya sayang... Terserah kamu saja." Jawab Arthur pasrah, dia hanya bisa angkat tangan kalau istrinya sudah ada maunya. Arthur hanya bisa berdo'a semoga Ruben bisa selamat sampai di alam baka. Tidak lama kemudian si resepsionis menghampiri mereka dengan wajah tersenyum. "Terimakasih sudah menunggu... Mari saya antar ke ruang meeting." Ucap resepsionis yang kemudian mengantar Arthur dan Yuana ke ruang meeting. "Silahkan masuk... Pak Ruben sebentar lagi akan segera tiba. Mohon ditunggu." Ujar si mbak resepsionis dengan ramah. "Baik, terimakasih." Sahut Yuana.

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 67. Misi Penting Arthur

    Yuana sedang memperhatikan Arthur yang sedang sibuk membuatkan spaghetti untuk sarapan mereka dengan tatapan gelisah. "Mas, kita beneran gak perlu pergi ke kantor?" Tanya Yuana untuk kesekian kalinya. Takutnya Arthur hanya asal bicara saja. "Iya, berenar... Soalnya kita ada misi penting kali ini." Jawab Arthur yang semakin ambigu saja. "Misi penting apaan? Bukan misi yang aneh-aneh kan Mas?" Tanya Yuana curiga. Arthur hanya diam saja tidak menjawab, tangannya masih sibuk menyusun pasta spaghetti yang sudah matang di atas piring. "Mas... Kok gak dijawab sih? Gak ada hal yang aneh kan?" Tanya Yuana sekali lagi. "Ini kamu makan dulu saja, karena misi kita kali ini akan membutuhkan tenaga ekstra." Ucap Arthur sambil menyuapkan Spaghetti yang baru saja dia buat dan mau tidak mau Yuana membuka mulutnya dengan patuh. "Gimana? Enak kan? Habiskan ya sayang... Setelah ini kita juga akan menghabisi seseorang." Ujar Arthur tanpa disaring dulu kata-katanya membuat Yuan langsung ters

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status