LOGINMelvin Surendra, terpaksa membatalkan rapat pentingnya karena sebuah masalah yang terjadi di kampus milik keluarganya.
Sosok pria jangkung berjalan mantap di koridor kampus. Kehadirannya menarik banyak perhatian orang-orang di sana. Aura karismatik memancar kuat dari tubuh tegapnya yang dibalut setelan jas mahal hitam. Wajah tampan nan dingin lelaki itu makin memperkukuh karismanya sebagai seorang presdir sebuah perusahaan.
Dengan wajah tampan dan karisma dari seorang presdir, banyak wanita yang tergila-gila dengan dirinya. Namun, Melvin bersikap acuh tak acuh pada wanita yang terang-terangan menatapnya.
Tujuannya saat ini adalah menemui rektor, orang yang sudah berhasil membuatnya begitu kesal pagi ini.
Tanpa berbasa-basi, Melvin membuka pintu ruangan.
“Tuan Melvin, ada yang bisa saya bantu?”
Rektor begitu gelisah saat melihat wajah dingin Melvin di depannya, ia pun gugup dan tak berani duduk di hadapannya.
“Apa yang sudah Anda lakukan, Tuan Joni?” begitu dingin dan menekan.
Tuan Joni yang berlaku sebagai rektor pun dibuat ketar-ketir dengan pertanyaan itu, ia sama sekali tak menduga jika masalah akan secepat ini terdengar.
“Soal itu saya bisa jelaskan---
“Itu tujuan kedatangan saya. Saya ingin mendengar penjelasan apa yang bisa Anda berikan untuk keputusan sebesar itu.”
Joni semakin gugup, ia pun memberanikan diri untuk duduk di hadapan Melvin.
Dengan seksama Melvin mendengar semua penjelasan dari Joni selaku rektor yang dipercaya kampus, namun ia merasa janggal dengan beberapa penjelasan yang di dengarnya.
“Anda percaya begitu saja dengan video itu?”
“Bukti sudah jelas, bahkan viral di kampus. Saya tidak bisa—
“Anda itu seorang rektor,” putus Melvin dingin. Nada bicara Melvin yang begitu pelan dan dingin mampu membuat suasana di sana mendadak jadi beku. “dan keputusan Anda sangatlah tidak bijak! Pencabutan beasiswa bukan hal sepele, terlebih kepada mahasiswa berprestasi.”
Joni hanya bisa tertunduk, ia takut juga malu seakan tengah di kuliti.
“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Diberi apa Anda sampai begitu patuh?”
Joni terkejut, ia gelagapan hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
“Segera selesaikan ini, jangan mengganggu pekerjaanku lagi!”
Dengan rasa kesal Melvin meninggalkan kampus, melajukan mobilnya kembali menuju perusahaannya.
Melvin yang tengah marah tak fokus pada kemudinya, ia pun berusaha menghubungi asisten pribadinya.
Hingga tiba-tiba seorang wanita menyeberang dengan sembarangan, membuat Melvin terkejut dan kehilangan kendali mobilnya.
Brak!
Asap tebal mengepul dari mobil.
Melvin kehilangan kesadaranya, kepalanya menghantam kemudi hingga membuatnya pingsan.
Kanza yang melihat itu begitu panik, ia segera berlari menuju mobil.
Kanza berusaha membuka pintu mobil, namun sayangnya mobil dalam posisi terkunci. Kanza begitu panik saat asap semakin mengepul dari depan.
Kanza melihat sekelilingnya, namun orang-orang masih belum menyadari adanya kecelakaan.
Dari dalam, samar-samar Melvin melihat seseorang yang tengah berusaha menolong dirinya.
Kanza yang terlalu panik memukul kaca mobil dengan batu, hingga pukulan ketiga barulah kaca mobil itu pecah diikuti dengan beberapa warga yang datang membantunya.
“Aw,” pekiknya saat lengannya tergores kaca.
Berhasil, pintu akhirnya terbuka dan warga berusaha mengeluarkan Melvin dari dalam sana.
“Pak, tolong panggil ambulance. Tolong Pak,” seru Kanza panik.
Kepala Melvin terus mengeluarkan darah segar, melihat itu Kanza melepas kardigannya dan menggunakannya untuk menekan luka di kepala Melvin.
Tak lama ambulance datang dan membawa tubuh Melvin pergi.
*** Tiga hari kemudian
Melvin sudah tak sadarkan diri sejak dua hari, dan selama itu pula Kanza setia menemaninya.
Gadis itu tak tahu siapa Melvin, sebab saat kejadian itu Melvin tak membawa serta dompet miliknya yang berisi kartu identitas.
Alhasil Kanza mendaftarkan Melvin dengan nama seadanya, dan dirinya yang bertanggung jawab sebagai wali pasien disana.
“Kenapa masih belum sadar ya? Tuan saya mohon segera lah sadar, saya benar-benar minta maaf.” Gumam Kanza penuh penyesalan.
Kanza terus menatap Melvin, ia berdoa agar Melvin segera membuka matanya. Ia benar-benar takut jika sesuatu yang buruk menimpa Melvin karena ulah dari kecerobohan dirinya.
Ia tahu ini semua kesalahannya, dan apa yang dilakukannya saat ini adalah bentuk pertanggung jawabannya. Bahkan ia menggunakan uang tabungannya untuk biaya rumah sakit.
Sedih, Kanza kembali mengingat beasiswanya.
Kini ia harus lebih ekstra bekerja agar bisa membayar biaya hidup juga biaya pendidikan.
Ia merindukan suasana kampus, suasana belajar di dalam kelas juga suasana riuh teman-temannya.
Walau tak banyak bergaul dengan semua orang, namun Kanza membangun hubungan baik dengan semua teman-teman kampus. Hanya dengan Tari dan anggotanya yang tak sekalipun ingin ia berjumpa.
“Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya benar-benar tidak bermaksud membuat Anda celaka,” bisiknya. “Jika nanti, Tuan, sadar dan ingin menghukum saya, saya siap kok. Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya, tapi saya mohon Anda sadar dulu.”
Mendengar itu, perlahan kelopak mata Melvin bergerak diikuti jemarinya.
Kanza terkejut, antara senang namun juga takut.
“Tuan, Anda sudah sadar?” tanyanya.
Kanza bergerak tak tentu arah, ia takut juga gelisah. Ia pun segera menekan tombol di atas ranjang Melvin untuk memanggil dokter.
“Air, aku mau air,” pria itu berkata dengan suara serak.
Melihat kenyataan itu membuat Melvin membuka matanya lebar-lebar, orang yang selama ini dianggapnya baik tidak lebih dari perusak hubungan orang.Dan ia menyesali fikiran itu.“Besok aku akan memecatnya, kamu tenang saja.”Sambil menumpukan kepalanya pada kepala mini istrinya.“Jangan.”Kanza yang berseru itu membuat suaminya terkejut, hingga ia membuat jarak dengan istrinya.“Kenapa?”“Aku punya rencana sendiri, dan bukan sekarang kamu bisa memecatnya.”Melvin masih tidak mengerti, ia mengerutkan dahi menatap Kanza dengan penuh tanya.Menyadari itu, Kanza kembali bersandar di dada bidang suaminya.“Ada tikus yang sedang bermain di Perusahaan, dan rasanya wanita itu ada sangkut pautnya.”“Dan kalau kamu memecat dia sekarang, bagaimana nanti jika dia membocorkan semua rahasia Perusahaan.”Melvin sama sekali tidak terkejut, laki-laki itu begitu tena
Melvin yang baru saja keluar dari ruangan mendadak merasa sangat kesal, di depannya terlihat Endi tengah begitu dekat dengan Kanza seolah tengah menciumnya.Ia pun berjalan cepat menghampiri keduanya.“Kalian lagi ngapain?”tanyanya saat melihat gestur aneh Endi yang sedang berbisik pada Kanza.“Tidak ada.”singkat Kanza, mendorong tubuh Endi menjauhNamun tatapan wanita itu langsung tertuju pada jas yang ada ditangan suaminya.Ia tersenyum miring dengan tatapan elang tak lepas dari jas suaminya.“Permainan yang sengit, sampai bekas lipstikpun tidak bisa di hidari.” Sindir Kanza yang berlalu pergi meninggalkan kedua laki-laki yang sedang saling tatap dalam kebingungan.Kanza melangkah menuju lift, meninggalkan begitu saja suaminya dengan rasa kesal hingga ke ubun-ubunnya.Melihat itu, Melvin yang masih belum sadar segera mengejar istrinya bersama Endi.Di dalam lift, kedua laki-laki itu mencari sumber kemarahan Kanza. Jas yang ada ditangan Melvin berkali-kali di bolak balik, melihat ha
Pagi yang sangat cerah untuk Kanza memulai harinya di negara yang telah lama ia tinggalkan.Penampilannya begitu formal namun sangat elegan, tampak sangat mahal.“Udah siap melawan dunia, hehe.”tawanya di akhir di depan cermin besar.Kanza keluar, ia berdiri di meja makan. Mengecek kembali semau bawaan yang akan di bawa bersamanya.Dan hal terakhir yang di perhatikannya adalah kotak bekal.“Hari pertama, lebih baik menyendiri.”Mengambil kotak bekal dan keluar dari apartemennya.Melvin dan Endi bersiap di ruang meeting, ada Hendra juga Raka yang ikut serta disana.“Pah, siapa yang mau papa masukkan ke dalam Perusahaan sampai semua harus di kumpulkan?”tanya Raka berbisik.“Nanti kamu pasti tahu.”balas Hendra berbisik, menarik perhatian Melvin yang sedang tadi menatap keduanya.Semua orang sudah berkumpul, termasuk jajaran direksi juga para pemegang saham.Hendra membuka mettin
Mendengar gertakan suaminya membuat hati Kanza sakit, niat hati pulang untuk bisa bersama suaminya tapi malah ini yang di dapatnya.Kanza masih diam mematung di tempatnya, berat ia ingin melangkah keluar namun apa yang di yakininya membuat semua terasa runyam.“Memang benar ternyata.”diam, memberi jeda.Melvin begitu tegang mendengar suara istrinya, begitu juga dengan Endi yang ikut tegang.“Pernikahan tanpa landasan cinta hanya akan saling menyiksa.” Setelah mengatakan itu, Kanza menarik kopernya pergi keluar dari dalam rumah. Dengan kasar menghapus air matanya, ia mantap meninggalkan rumah yang di rindukannya itu.“Lo gila ya!”bentak Endi.Melvin hanya diam, ia sama sekali tidak bereaksi melihat istrinya keluar dari rumah.Endi keluar dengan tergesa-gesa, mencari sekeliling berusaha menemukan Kanza yang mungkin belum jauh perginya.En yang panik lebih memilih menghubungi om dan tantenya, menceritakan semua yang terjadi hari ini hingga kepergian Kanza secara tiba-tiba.“Akh! Yang ni
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus bersiap penerbangan malam.”Dan tidak butuh waktu lama, kini ketiganya duduk di dalam pesawat yang siap lepas landas m
Ting.Bunyi pesan masuk, namun bukan dari ponsel milik Kanza melainkan dari ponsel lain yang juga berada di keranjang tadi.Hm?Tangannya mengambil ponsel dengan warna maroon itu, warna favoritnya.Kanza pun menyalakan ponsel tersebut, kemudian membuka aplikasi pesanny
Melvin masih memejamkan mata, mengabaikan Kanza yang menunggu jawaban atas apa yang telah di ucapkannya barusan.“Tuan, tolong jawab. Tuan tahu darimana masalah saya itu?”“Pilihanmu hanya dua. Menikah denganku sebagai pertanggung jawabanmu, atau menikah denganku dan kamu bisa kembali kuliah sepert
“Menikah denganku.”Sepanjang malam Kanza benar-benar tak bisa memejamkan matanya, permintaan Melvin seakan terus berdengung di pikiran juga telinganya.Hingga pagi menjelang, Kanza masih tak bisa memejamkan mata.“Jadinya nggak tidur kan,” gumamanya s
Melvin perlahan membuka matanya, ia mulai membiasakan matanya dengan cahaya.Tenggorokannya benar-benar kering, ia begitu kehausan.Berkali-kali ia meminta minum, namun Kanza yang takut malah berdiri jauh dari tempat Melvin berada.“Air, haus sekali,” gumamnya terbata-bata.Dengan perasaan was-was,







