Mag-log in"Hari ini kamu ke pengadilan jam berapa, Kia?" tanya Beni dengan suara pelan. "Jam satu siang, Om. Tapi saya akan membawa Hakim.""Jangan, bayi baru tiga bulan, masa mau diajak ke tempat begitu. Biar bibik yang urus. Kamu alasan pergi kontrol ke rumah sakit saja." Wajah Kia langsung tak nyaman. Ia merasa sudah sangat merepotkan Beni atas semua masalahnya."Om, saya beneran gak enak.""Ya, ntar enaknya kalau ada suami yang bener-bener sayang sama kamu." Kia tersenyum malu-malu."Gak papa. Aku udah bilang mama, tapi maaf kalau aku gak bisa nemenin ya. Khawatir Lia mengirimkan orang untuk memata-matai kita." "Iya, Om, gak papa. Nanti malam, pulang kerja, Om pulang ke sini?" Beni mengangguk."Mulai hari ini, aku akan pulang ke sini. Aku juga harus menjauh perlahan dari Lia." Beni ingin menyampaikan hal lain setelah kalimat itu, tapi tertahan.Ia ingin memberitahu pada Kia, bahwa Adrian hendak menikahi Mirna. Ancaman Mirna tidak main-main, sehingga membuat Lia pun sepertinya terpaksa me
"Apa yang baru saja kamu bilang?" suaranya bergetar menahan amarah.Mirna mengusap pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan Lia. Namun kali ini ia tidak lagi menunjukkan wajah takut seperti biasanya. Tatapannya justru lurus kepada Lia."Saya bilang, saya calon istri Mas Adrian, Bu.""Kurang ajar!" bentak Lia. "Kamu ini cuma pembantu di rumah saya!""Status saya memang pembantu. Tapi hubungan saya dengan Mas Adrian bukan urusan pekerjaan. Lebih dari itu, kami seperti suami istri, asal Ibu tahu."Rani sampai ternganga. Ia bergantian menatap Mirna dan mamanya."Mama, dia ngaco, kan?" bisiknya."Level mas Adrian turun sejauh ini?" ucap Rani lagi hampir tak percaya. Lia maju beberapa langkah hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti. Tangannya terkepal, menahan diri agar tidak menampar pembantunya itu lagi."Kalau kamu sedang bercanda, ini bukan waktu yang tepat.""Saya tidak bercanda.""Lalu bukti kamu apa? Kamu pasti ngarang."Mirna menarik napas panjang. Sudah terlalu l
Dua minggu berlalu, Beni membiarkan mama dan papanya bersemangat dengan Kia dan juga Hakim. Wanita itu bahkan pindah ke rumah lebih besar milik orangtua Beni. Tidak tega hatinya jika memberitahu yang sebenarnya. Kedua orang tuanya sangat ingin dirinya memiliki istri yang bisa memberikan keturunan agar bisa menjadi penerus keluarga. Kini, dengan kehadiran Kia dan Hakim di tengah-tengah mereka, kedua orang tuanya menjadi begitu bersemangat. Papanya bahkan bisa menggendong Hakim dalam waktu lama, tanpa mengeluh capek dan pegal.Namun, selama dua minggu juga, Beni masih terpaksa menginap di rumah Lia. Membiarkan istrinya itu memiliki lebih banyak waktu bersamanya agar ia tidak curiga lagi tentang Kia. Meskipun ia masih bolak-balik mengecek keadaan Kia dan Hakim di rumah orang tuanya."Kamu udah dapat kabar di mana, Kia?" tanya Beni berpura-pura. Lia yang baru saja selesai mandi, langsung menggeleng."Bisa jadi pulang kampung, Mas.""Wah, baguslah. Mungkin pilihannya untuk tinggal bersama
Tak sampai satu menit kemudian, layar ponselnya menyala.Mas BeniAku lagi di jalan pulang dari butik. Tahan Ibu di sana. Jangan biarkan beliau pergi dulu. Aku sampai sekitar lima belas menit lagi.Rudi mengembuskan napas lega."Syukurlah," gumamnya pelan.Sementara itu, Fauziah masih memangku Hakim dengan penuh kasih sayang. Sesekali ia mengayun tubuh kecil bayi itu perlahan sambil bersenandung lirih. Senyum di wajahnya begitu tulus, seolah rasa rindunya pada seorang cucu akhirnya terobati.Hakim yang semula rewel justru terlihat tenang. Bayi itu memandang wajah Fauziah dengan mata bulatnya, lalu menguap kecil sebelum kembali memejamkan mata."Anak baik," bisik Fauziah sambil mengecup kening Hakim.Air mata tipis mulai menggenang di pelupuk matanya."Sudah bertahun-tahun saya berdoa supaya punya cucu. Kamu tahu kan, Beni itu anak saya satu-satunya." Kia mengangguk pelan."Kekecewaannya pada mantan-mantan kekasihnya dulu, menyebabkan dia kapok membina hubungan dengan wanita single yan
Di hadapannya duduk seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh tahun di atas kursi roda. Wajahnya masih tampak cantik meski dihiasi keriput halus. Tangan kirinya bertumpu di sandaran kursi, sementara tangan kanannya bergerak sedikit kaku, pertanda sisa stroke ringan yang pernah dideritanya.Di belakang kursi roda berdiri seorang pria paruh baya berpakaian rapi."Permisi," ucap pria itu sopan. "Apakah ini apartemen Pak Beni?""Iya... benar. Maaf, Bapak dan Ibu siapa?" tanya Kia bingung. Ia seperti pernah bertemu dengan wanita yang di kursi roda, tapi lupa di mana."Saya Rudi, sopir pribadi Bu Fauziah."Wanita tua itu langsung menatap Kia dari ujung kepala sampai kaki. Pandangannya kemudian jatuh pada Hakim yang berada dalam gendongan.Tatapan Fauziah berubah lembut."Masyaallah... cantik sekali." Kia tersenyum kikuk."Maaf, Ibu mencari Om Beni?" Fauziah mengangguk pelan."Iya. Anak saya tinggal di sini, kan? Ini apartemennya." Kia langsung menggeleng."Oh... bukan, Bu. Ini apartemen mi
Brak!Pintu kamar Adrian terbuka dengan keras hingga membentur dinding.Lia langsung masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Wajahnya masih dipenuhi amarah dan rasa penasaran akibat ucapan Rani beberapa saat sebelumnya.Namun kamar itu kosong.Ranjang Adrian tampak berantakan, tetapi tidak ada siapa pun di dalamnya."Adrian?" panggil Lia sambil melangkah lebih jauh.Tak ada jawaban.Ia membuka pintu kamar mandi. Kosong.Lemari pakaian sedikit terbuka, sementara beberapa baju terlihat tergantung rapi."Loh... ke mana dia?" gumam Lia pelan.Rani yang berdiri di ambang pintu ikut mengintip ke dalam."Lah, kok enggak ada." Lia menoleh tajam."Kamu tadi ngomong begitu seolah-olah tahu sesuatu." Rani mengangkat bahu."Aku cuma nebak, Ma.""Nebak?""Iya. Kan semalam aku lihat Mbak Mirna mondar-mandir di dekat kamar Mas Adrian dan emang sering ke kamar mas Adrian. Emang Mama gak merhatiin?"Kalimat itu membuat dada Lia kembali berdebar."Kapan? Kamu yakin gak salah lihat?""Nggak dong, Ma. Soalnya a
Lia berdiri di ambang pintu dengan napas yang tertahan. Matanya membulat melihat pemandangan di depannya. Beni sedang menggendong Kia.Tangan Kia melingkar di lehernya.Kepala wanita itu bersandar lemah di bahu pria tersebut."Kia!"Suara Lia terdengar tajam seperti pisau.Beni langsung menoleh. Wa
Kia menatap bayinya yang masih menangis di gendongannya. Kepalanya berdenyut semakin keras, sementara tubuhnya terasa semakin panas. Namun tatapan tajam Lia membuatnya tidak punya pilihan."Biar Mama gendong Hakim, kamu masak sana! Jangan manja kalau masih numpang di sini!"Kia menelan ludah. Tanga
Kia merasakan sakit di sekujur badannya. Kepalanya berat dan juga rasa dingin dari ujung kaki sampai ujung kepala. Untungnya hari ini Hakim tidak terlalu rewel, sehingga ia bisa berbaring. Sejak dibantu sufor, Hakim sebenarnya sudah tidak terlalu cengeng, hanya saja, bayinya itu sudah bau tangan da
"Kalau tidak ... aku gak tahu apa yang bisa aku lakukan!" bentak Adrian akhirnya, suaranya serak karena emosi.Kia menatap suaminya dengan mata merah dan sembab. Tubuhnya gemetar. Hakim yang berada di gendongan Adrian kembali menangis keras karena suara mereka yang meninggi."Mas, jangan teriak, na







