LOGINDi usia Kandungan Nabila 37 Minggu, dengan perut yang semakin membesar. Hari ini Nabila baru saja selesai sidang skripsi. Meskipun sebenarnya Dewa dan sahabat Nabila yang menunggu di ruang tunggu sangat cemas mengingat kandungan Nabila.Begitu pintu ruang sidang terbuka, Nabila melangkah keluar dengan senyum merekah, meski napasnya sedikit terengah-engah membawa perutnya yang sudah semakin membesar di usia kandungan 37 minggu.Dewa yang sejak tadi berdiri gelisah di lorong langsung berjalan cepat memangkas jarak. Raut cemas di wajahnya seketika mencair saat melihat binar bahagia di mata istrinya."Gimana, Sayang? Lancar?" tanya Dewa menyambut Nabila, langsung merangkul pinggang istrinya untuk menopang bebannya."Lulus, Mas! Aku lulus!" seru Nabila setengah berbisik, tidak bisa menahan rasa bahagianya."Aaaaa! Selamat Nabila!" jerit Tria dan Rindi kompak namun tertahan. Mereka berdua bersama Diana yang berdiri di belakang Dewa langsung mengerubungi Nabila."Sumpah, Bil! Gue dari tadi d
Suasana rumah Dewa yang dari pagi ramai kini sudah Sepi. Nabila yang baru saja selesai makan malam pun langsung kembali lagi ke kamarnya."Mas, revisian aku belum beres loh," manyun Nabila saat Dewasa merebut laptop istri nya itu dan menaruhnya diatas lemari yang tidak bisa di jangkau istri nya."Besok lagi ya sayang. Hari ini kamu itu udah kecapean, istirahat dulu.""Iya sabar, aku masih kenyang kalo langsung tiduran nanti malah gak enak perut nya.""Tapi gak ngelanjutin skripsian juga sayang. Mending sini Mas pijitin kamu biar badan enakan. Lagian kamu tadi waktu acara udah bilang loh mau kasih Mas jatah." Goda Dewa sambil memeluk istrinya dari belakang tangannya melingkar di perut buncit istrinya."Ishhh... Giliran kaya gitu aja kamu gak lupa." Sahut Nabila."Ya tapi aku baru makan mas nanti gak enak kalo gituan lagi kekenyangan gini."Dewa tertawa kecil, kekehannya terasa hangat di ceruk leher Nabila saat ia mengecup lembut bahu istrinya."Ya nggak langsung sekarang juga, Sayang.
Dewa berjalan menuju lemari pakaian, mengambil daster dan melangkah kembali ke tepi ranjang. Ia melipat sedikit lengan kemejanya, lalu menatap Nabila yang memejamkan mata sambil mengelus perut buncitnya."Sini, Mas bantu duduk dulu perlan ya, Sayang," ucap Dewa lembut.Ia menyusupkan tangan di belakang punggung Nabila dan membimbingnya hingga posisi duduk. Nabila menyandarkan kepalanya di dada Dewa dengan mata yang masih setengah terpejam."Mas... pelan-pelan ya, badan aku rasanya kayak habis dipukulin, pegal semua," cicit Nabila dengan suara serak menahan kantuk.Dewa terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih sayang."Iya, Sayang. Mas pelan-pelan kok."Dengan telaten, tangan Dewa mulai membuka kancing dan melepas gaun yang dikenakan Nabila secara perlahan. Ketika gaun itu terlepas dari bahu, Dewa memakaikan daster longgar itu dari atas kepala Nabila, lalu menariknya turun menutupi tubuh sang istri."Nah, beres kan? Nyaman nggak?" tanya Dewa seraya merapikan bagian d
Dewa menuntun langkah Nabila masuk ke dalam ruang keluarga yang riuh dengan gelak tawa. Di sana, sudah berkumpul belasan keluarga besar Dewa, mulai dari para tante, om, hingga sepupu-sepupu yang sudah berkeluarga."Nah, ini dia bumilnya dateng!" seru Tante Farida begitu melihat Dewa dan Nabila berjalan masuk.Sontak, perhatian seluruh isi ruangan tertuju penuh ke arah Nabila. Suasana yang tadinya bising mendadak riuh oleh decak kagum para tante yang menyambut kedatangan mereka."Masya Allah, cantiknya...!" puji Tante dewi, tante tertua Dewa, sambil menangkup kedua pipinya sendiri. "Ini istri kamu, Dewaa? Ya ampun, cantik banget kaya artis korea!""Aduh, bening banget begini!" timpal Tante Rika gemas. "Dewa... kamu nyari di mana istri secantik ini? Berasa liat artis papan atas,"Nabila yang tidak menyangka akan disambut seheboh itu mendadak salah tingkah. Pipi mulusnya perlahan merona merah."Makasih, Tante... Nabila biasa aja kok.""Halah, biasa aja gimana! Beneran kan aku aja tadi wa
Prosesi siraman dan sungkeman acara tujuh bulanan berjalan lancar dan penuh khidmat. Setelah berganti pakaian yang lebih kering dan nyaman, Nabila bergabung dengan Diana, Tria, dan Rindi di sudut area taman belakang yang teduh. "Aduh, sumpah ya, akhirnya beres juga!" seru Nabila sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Tapi pandangannya tak sengaja beradu lagi dengan sosok Leo yang sedang berdiri di dekat meja prasmanan. "Tapi gila sih... sepupunya Mas Dewa itu gantengnya kebangetan." Tria langsung menyenggol lengan Nabila. "Siapa, Bil? Cowok tinggi jas biru yang di sana itu?" "Iya! Itu Kak Leo, sepupunya Mas Dewa," cerocos Nabila penuh semangat, lupa kalau tadi suaminya sempat cemburu "Ganteng banget kan? Hidungnya mancung, tinggi, terus matanya rada cokelat gitu, berasa liat bule kesasar di acara siraman!" Diana yang sedang menyeruput es buahnya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ibu sambung sekaligus sahabatnya itu. "Mama, plis deh! Jangan tertipu sama casing-
Setelah persiapan singkat yang dilakukan oleh Mama Saras, akhirnya hari ini acara tujuh bulanan akan dilaksanakan di taman belakang rumah Dewa. Semua dekorasi sudah siap dan para tamu undangan yang hadir hanya keluarga serta teman-teman terdekat saja."Bil, sini Mama kenalin sama adik Mama," panggil Mama Saras."Nah ini, Tante Farida dan ini suaminya, Om Mateo," ucap Mama Saras memperkenalkan adik kandungnya."Nabila, Om, Tante" sapa Nabila sambil tersenyum lebar."Duh, Maaf banget ya Waktu kalian Nikah Tante sekeluarga gak datang karena lagi ada acara keluarga di Belanda.""Iya, gapapa Tante.""Wah, Dewa hebat ya bisa dapet istri yang lebih muda," ucap Om Mateo.Nabila hanya tersenyum tipis."Ini si Leo mesti berguru ni sama Dewa yang bisa taklukin cewe." Ucap Tante Farida yang membuat Mama Saras tertawa."Ah namanya juga anak cowo dulu juga Dewa sama kaya begitu. Sampe Mba pikir dia gak akan nikah lah eh tapi ternyata malah nikah sama temen anaknya sendiri.""Owalah, ini kira-kira
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal







