LOGINDewa terus tersenyum senang melihat wajah istrinya yang menggemaskan."Pintu kan udah di tutup rapat, Sayang. Lagian Diana palingan lagi fokus scroll-scroll pake earphone-nya.""Tetep aja nggak usah diomongin vulgar begitu! Lagian aku minta lepas kan gara-gara kamu yang ngomong nggak berasa!" omel Nabila gemas, jemarinya memilin ujung kaos suaminya dengan kesal."Ya kan emang enakan nggak pakai, Sayang. Lebih kerasa hangatnya," bisik Dewa tepat di telinga Nabila, menyenggolkan hidungnya ke pipi sang istri yang makin merona."Nggak ada ya! Pokoknya malam ini wajib hukumnya pakai. Kalo kamu nolak, aku tidur di kamar Diana!" ancam Nabila tegas, mendorong pelan dada Dewa agar berjarak."Kok gitu? Tega biarin suaminya tidur sendiri. Kalo Mas kangen tengah malam gimana?" Dewa merengut sok sedih, memasang wajah paling memelas yang ia punya."Gak ada penawaran lagi kalo mau ya harus pake pengaman. Kalo Mas gak mau yaudah kita gak usah gituan. Lagian aneh banget masa minta jatah hampir tiap ha
Perjalanan menuju hotel sore itu terasa menyenangkan. Nevan tertidur pulas di dalam baby car seat di bangku belakang ditemani Diana yang telaten menjaga adik bayi mungil nya. Sementara itu, di kursi depan, Nabila sibuk memeriksa ulang isi tas pakaian serta beberapa keperluan wisudanya untuk besok pagi.Dewa memutar kemudi dengan santai, melirik sesekali ke arah istrinya yang masih saja tampak sedikit cemas."Mas, kemeja sama jas kamu buat besok udah kebawa semua kan? Nggak ada yang ketinggalan di lemari?" tanya Nabila sembari menoleh ke belakang sekilas, memastikan tas jasnya tergantung rapi."Udah aman semua, Sayang. Dari tadi siang kan kamu sendiri yang meriksa tiga kali sebelum dimasukin ke mobil," jawab Dewa diselingi terkekeh pelan."Kamu tenang aja kenapa sih, jangan tegang gitu.""Bukan tegang, Mas. Aku cuma pengen besok semuanya lancar. Soalnya besok kan aku harus bangun pagi-pagi banget buat make up," keluh Nabila seraya menyandarkan punggungnya ke jok mobil."Udah panggil MU
Dewa tersenyum tipis."Bagian Ayahnya dong sekarang yang nenen.""Nggak ada ya Mas,""Loh kok gitu kamu takut nafsu ya kalo Mas yang nyusu.""Ishh mulutnya," gerutu Nabila yang berdiri lalu berjalan menuju box bayi untuk menidurkan anaknya.Dewa menyandarkan punggungnya ke sofa, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang telaten menata selimut Nevan. Matanya tidak lepas dari lekuk tubuh Nabila dari belakang."Mas cuma bercanda, Sayang. Jangan cemberut gitu ah, nanti cantiknya hilang," panggil Dewa dengan nada merayu.Nabila mengelus kepala Nevan sekali lagi sebelum membalikkan badan. Tangannya bersedekap di dada, matanya menatap Dewa curiga."Bercanda tapi matanya lirik-lirik gitu. Aku tahu ya isi otak kamu!""Yakin cuma bercanda? Kalau Mas buktiin sekarang gimana?" Dewa menepuk tempat kosong di sebelahnya."Sini duduk dulu. Kamu pasti capek sayang""Nggak mau, nanti kamu macem-macem lagi. Aku mau ganti baju aja," tolak Nabila sembari melangkah menuju lemari.Nabila mengambil baju ganti
Hari ini Nabila sedang berkaca dengan memakai kebaya untuk acara Wisuda di kampusnya dua hari lagi."Duh, Mas kok badan aku belum balik kurus lagi ya padahal Nevan udah mau 3 bulan loh," gerutu Nabila yang duduk di sofa kamar sebelah Dewa."Kemarin udah konsul sama dokter gizi kamu kan? Mereka bilang masih wajar kok, cuma perlu sabar aja, sayang.""Ishhh... Kamu sih gampang bilang sabar, sabar. Kalo aku kurus dan cantik kan kamu juga yang nikmatin.""Loh sekarang juga Mas Nikmatin kok. Terbuktikan semalam kita sampai gak tidur." Dewa terkekeh pelan sambil mencubit gemas pipi istrinya."Huh... Dasar nyebelin, itu Mulu yang di bahas. Harusnya kemarin itu aku gak kasih kamu jatah,""Loh mana bisa, kamu sendiri baru Mas cium-cium udah gak tahan minta yang lain,""Mas Dewa! Mulutnya ihhh mana ada aku begitu!" pekik Nabila, menyambar bantal sofa lalu menepukkannya tepat ke dada Dewa.Dewa tertawa lepas, menangkap bantal tersebut lalu menarik tubuh Nabila hingga terduduk di pangkuannya."Lho
Dewa bangkit dari ranjang, namun bukannya langsung menuju kamar mandi, ia malah membungkuk dan mendaratkan kecupan hangat di dahi Nabila cukup lama."Makasih ya, Sayang," bisik Dewa lembut tepat di depan wajah Nabila.Nabila mengedipkan matanya pelan, agak kaget dengan perubahan nada suara suaminya yang mendadak manis."Makasih buat apa?""Ya makasih udah mau bertahan, udah sabar nahan sakit dari awal mau melahirkan sampai sekarang kamu menyusui. Mas tadi panik banget pas liat kamu kaya tadi." Dewa mengelus pipi Nabila dengan ibu jarinya, menatap sang istri penuh rasa sayang."Masih nyeri banget nggak dadanya?"Nabila tersenyum tipis, rasa kesalnya menguap begitu saja melihat perhatian Dewa."Udah agak mendingan kok, udah nggak sekeras tadi. Makasih ya, Mas... udah mau bantuin.""Sama-sama, Sayang. Kan emang udah tugas Mas buat jagain kamu," balas Dewa, lalu terkekeh pelan."Lagipula... Yang tadi itu lumayan enak kok, nggak beban sama sekali.""Mas Dewa!" pekik Nabila pelan sambil men
Mama Saras tersenyum tipis melihat reaksi canggung anak dan menantunya, lalu ia menepuk bahu Dewa pelan."Jangan heran gitu, deh kalian. Cara paling cepat dan ampuh buat ngelancarin hisapan pas tersumbat gini ya dibantu suaminya kalau bayinya lagi tidur atau nggak mau nyusu.""Tapi... apa nggak apa-apa, Ma?" tanya Dewa memastikan, matanya bergantian menatap sang ibu dan Nabila yang mukanya sudah memerah—entah karena malu."Ya nggak apa-apa, orang sama istri sendiri. Daripada Nabila makin demam terus makin parah? Ya udah, Mama keluar dulu ya. Kamu urus istri yang telaten," pamit Mama Saras seraya mengedipkan mata sebelum melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.Suasana kamar mendadak hening. Hanya terdengar suara dengkur halus Nevan dari dalam box bayi dan deru pendingin ruangan. Dewa memandangi Nabila yang kini menunduk dalam-dalam sambil meremas selimut."Sayang... gimana?" tanya Dewa berbisik pelan, mengikis jarak duduk mereka di atas ranjang."Mas... malu tahu, ada Ma
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal







