Share

bab 86

last update publish date: 2026-08-07 11:43:45

Tak lama kemudian, keduanya beriringan keluar kamar untuk berangkat ke rumah sakit.

"Aduhhh, aduhhh... Pasutri yang makin hari makin nempel ini mau kemana sih,"goda Diana saat dewa dan Nabila melewati ruang keluarga.

"Kamu ini kaya apa aja Di." Balas Nabila yang tertawa pelan.

"Ya habisnya kalian berdua ini ah bikin jiwa jomblo ku meronta-ronta dan bertanya when ya?"

"Makanya cari pacar." Kata Nabila sambil tertawa.

"Mana boleh pacaran. Tunggu lulus kuliah dulu lah baru cari pacar, kalo sekaran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   158 (end)

    Tadi malam Nabila melahirkan putri cantik yang di beri nama Kanaya Zenika Wiralesmana. Suasana di ruang rawat inap Nabila siang ini sangat ramai. Nevan yang sejak datang terus mengocehi adeknya."Adik kecil banget ya Opa," ucap Nevan yang di gendongan Papa Wira."Dulu, Abang juga kecil ya Opa. Abang lihat di foto." Tambah Nevan.Papa Wira tertawa terkeke-kekeh sambil mengecup pipi gembul cucu lakinya itu."Sekarang Abang Nevan udah gede, udah pinter, siap jadi pelindung buat adek,""Iya, nanti Abang yang jagain adek biar nggak digigit nyamuk!" seru Nevan polos, tangannya terulur-ulur ingin menyentuh pipi mungil adiknya yang sedang tertidur lelap di dalam boks bayi."Aduh, pinter banget si Abang," sahut Mama Saras yang sedang duduk di samping ranjang Nabila sambil mengelus lembut jemari menantunya."Gimana kondisinya sekarang, Nabila? Masih kerasa nyeri bekas jahitan?"Nabila tersenyum tipis, merapikan selimutnya."Udah agak mendingan kok, Ma. Tadi udah dibawa jalan pelan-pelan ke kama

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   157

    Dewa perlahan memutar gagang pintu kamar utama. Di atas ranjang, Nabila sedang berbaring miring, membelakanginya dengan napas yang tidak teratur."Sayang... masih tidur?" bisik Dewa lembut sambil menduduki tepi ranjang dan mengelus bahu istrinya.Nabila membalikkan badan dengan cepat. Bukannya tersenyum, wajahnya justru ditekuk masam. Matanya yang sembap menatap Dewa penuh kekesalan."Mas Dewa tuh ya! Bener-bener nakal!" semprot Nabila tiba-tiba, membuat Dewa mengernyit bingung."Loh... kok Mas baru pulang langsung dimarahi? Salah Mas apa, Sayang?" tanya Dewa heran.Nabila melempar sebuah testpack ke pangkuan Dewa."Lihat tuh! Kan aku udah pernah bilang, kalau gituan itu inget waktu! Mas selalu telat cabut, sekarang lihat hasilnya, Nevan masih kecil, Mas!" cerocos Nabila meluapkan rasa kesalnya yang dipendam sejak pagi.Dewa terpaku menatap dua garis merah di tangannya. Senyum lebar perlahan terbit di wajah tampannya, meski ia sadar sang istri sedang mengomel habis-habisan."Sayang...

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   156

    Beberapa bulan kemudian, Nabila mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia jadi sangat mudah lelah dan hampir setiap pagi selalu mual dan pusingPagi ini, begitu Dewa berangkat ke kantor, Nabila merapikan sisa sarapan dan menghampiri pengasuh anaknya."Mbak Yanti, tolong pegang Nevan sebentar ya. Saya mau ke kamar dulu, agak pusing," pamit Nabila sembari menyerahkan Nevan."Oh, iya, Bu Nabila. Mari sama Mbak Yanti dulu ya, Nevan," jawab Mbak Yanti ramah.Dengan perasaan campur aduk takut, cemas, sekaligus penasaran Nabila melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamarnya untuk melakukan tes kehamilan.Tiga menit terasa sangat lama. Nabila meletakkan testpack itu di pinggiran wastafel, lalu langsung membalikkan badan karena tak sanggup menatapnya secara langsung. Tangannya bertaut rapat di depan dada, sementara jantungnya berdegup kencang."Ya Allah... Apapun hasilnya, hamba pasrah... Tapi kalau boleh minta, Nevan masih kecil banget..." gumamnya lirih.Perlahan, Nabila memutar t

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   155

    Setelah menyelesaikan hidangan fine dining mereka yang disajikan penuh estetika, Dewa langsung menuntun Nabila menuju lift khusus yang membawanya menuju lantai area kamar Presidential Suite hotel.Nabila yang berdiri di samping Dewa di dalam lift terus memperhatikan angka lantai yang merambat naik."Mas, beneran cuma sebentar kan?" Tanya Nabila memecah keheningan lift, jari-jarinya meremas pelan ujung pakaiannya."Iya, Sayangku. Kamu udah tanya itu lima kali sepanjang jalan tadi," jawab Dewa lembut sembari menarik jemari Nabila, menyatukan sela-sela jari mereka dengan erat."Ya aku kepikiran Nevan, Mas. Aku takut dia rewel terus Mama kesusahan.""Nevan itu udah biasa sama Oma dan Opa-nya. Lagian tadi Mama sendiri kan yang nyuruh kita puas-puasin? Kamu percayain aja sama Mama, ya?"Ting.Pintu lift terbuka. Dewa membawa Nabila melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap, berhenti tepat di depan sebuah pintu suite berukiran elegan. Begitu kartunya ditempelkan dan pintu terbu

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   154

    Begitu melangkah keluar rumah dan pintu mobil tertutup rapat, suasana mendadak terasa begitu hening.Nabila menghela napas panjang, bersandar di jok mobil sambil menatap ke luar jendela. Sudah lama ia tak merasakan sensasi duduk di dalam mobil tanpa kerepotan menggendong Nevan."Aneh ya, Mas..." gumam Nabila pelan.Dewa yang sedang memutar kemudi melirik sebentar."Aneh kenapa, Sayang?""Bisa pergi cuma berdua gini. Kangen sih, tapi kepikiran Nevan terus."Dewa tersenyum tipis. Tangan kirinya terulur dari kemudi, menggenggam jemari Nabila dan membawanya ke atas paha. Ia mengelus punggung tangan istrinya telaten."Itu wajar, Mama Nabila. Tapi hari ini, khusus beberapa jam ke depan, lupain dulu pusingnya urusan rumah. Fokusnya cuma kamu dan Mas." Dewa mengecup singkat punggung tangan Nabila sebelum kembali memegang setir.Rencana Dewa benar-benar padat. Tujuan pertama mereka adalah bioskop. Dewa sengaja memesan tiket kelas premier agar Nabila bisa duduk nyaman tanpa takut pegal.Ketika

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   153

    Pagi ini Nabila dan Dewa benar-benar akan pergi berduaan."Udah siap sayang?" Tanya Dewa sambil memakai jam tangan nya."Menurut kamu aku cocoknya pake sendal, heels, atau sneakers?" Tanya Nabila yang berdiri di depan rak sepatu nya."Jangan pake heels nanti kamu ngeluh pegel. Lagian kita kan mau pergi ke banyak tempat sayang jadi pake yang kamu merasa nyaman aja,""Tapi aku jadi tinggi kalo pake heels jadi gak jomplang banget berdiri di samping kamu yang tinggi banget.""Udah pake sendal aja biar cepet." Usul dewa saat Nabila sudah mengambil sepatu heels 15cm nya."Aku udah lama loh gak peke ini. Dulu waktu aku masih kerja selalu pake heels ini Mas.""Ya tapi itu terlalu tinggi sayang. Nanti kalo keseleo gimana coba kamu kan udah lama gak pake.""Ahh.. ribet kamu, yaudah lah kalo gitu gak usah aja kita pergi males dari tadi aku pake baju kamu kontarin terus," sewot Nabila yang memilih menjauhi rak sepatu nya dan duduk di sofa pojok kamarnya."Duhh... Salah ngomong nih aku," batin Dew

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 6

    Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 5

    Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 4

    Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 3

    Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status