LOGIN“Ini surat kontraknya. Tanda tangan di sini, Nayla.”
Tangan Nayla gemetar saat menerima selembar kertas dari pria berjas hitam itu. Matanya menyisir setiap bait perjanjian. Hanya satu halaman, tapi dampaknya bisa mengubah hidupnya selamanya. Nikah kontrak. Ia menatap Arsen yang duduk di seberang meja. Tatapannya dingin, tak ada sedikit pun emosi. Pria itu sama sekali tidak memandangnya. Bahkan saat mereka duduk berdampingan untuk menandatangani kesepakatan gila ini, Arsen tetap menjaga jarak. "Kenapa kamu melakukan ini?" suara Nayla pelan, nyaris berbisik. Arsen mendongak perlahan. Tatapannya menusuk, tajam seperti belati. “Karena aku butuh istri untuk menghentikan gosip di kantor. Dan kamu... kamu butuh uang untuk menyelamatkan adikmu dari hutang rumah sakit. Kita saling menguntungkan, bukan?” Nayla terdiam. Ya... Dia memang butuh uang itu. Sangat. Tapi bagian yang paling menyakitkan adalah ketika Arsen mengatakannya tanpa rasa. Seolah hubungan mereka hanya sebatas transaksi bisnis. Padahal di masa lalu... Nayla pernah mencintainya. Pernah berharap jadi yang pertama dan terakhir. “Batas kontraknya satu tahun. Tidak ada hubungan fisik. Kamu hanya perlu tampil sebagai istriku di depan umum. Selebihnya, kita seperti orang asing,” ujar Arsen tegas. Ada sesuatu yang menyayat dalam dada Nayla, tapi ia menahannya. Tak boleh terlihat lemah. "Baik," katanya akhirnya. Tangannya menandatangani kertas itu dengan jari bergetar. Seketika, seluruh ruang terasa hampa. Pernikahan mereka berlangsung esok hari. Sederhana. Tanpa keluarga. Tanpa sahabat. Hanya dua orang saksi dan penghulu yang dibayar untuk merahsiakan semuanya. ** Keesokan malam... Gaun putih sederhana membalut tubuh Nayla. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Seorang istri—tanpa cinta. Dia terlihat cantik, tapi hatinya kosong. Ketika pintu kamar hotel dibuka, Arsen masuk dengan langkah tenang. Kemeja putihnya terbuka dua kancing atas, memperlihatkan garis leher yang tegas. Wangi tubuhnya langsung memenuhi udara. Nayla menunduk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kita tidur di tempat yang sama malam ini. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu,” ujarnya dingin. Nayla hanya mengangguk, lalu perlahan naik ke ranjang, berbaring di tepi kiri. Beberapa saat kemudian, Arsen ikut berbaring, memunggunginya. Tapi saat lampu dipadamkan, dan keheningan menguasai ruangan, Nayla mendengar desahan panjang dari pria itu. Desahan lelah… atau mungkin kesepian? Ia menoleh diam-diam, menatap punggung Arsen. Dalam hatinya, ia bertanya, Masih adakah ruang untukku di hatimu? Atau cinta kita benar-benar sudah mati? Tapi Nayla tahu satu hal—ia tidak boleh jatuh cinta lagi. Ini hanya kontrak. Tidak lebih. Namun, mengapa dadanya sesak seperti ditusuk duri? Arsen berdiri di depan jendela besar kamar kerjanya, menatap lampu-lampu kota yang berkelip dalam gelap malam. Kepalanya penuh dengan bayangan Nayla — tatapan matanya, senyuman tipisnya, dan suaranya yang selalu terdengar lembut tapi penuh maksud. Tapi ada sesuatu yang aneh. Arsen bukan pria bodoh. Dia tahu, seorang wanita tak akan begitu mudah menerima pernikahan kontrak tanpa sebab yang kuat. Terlalu mudah. Terlalu... mengalir. Dan itu yang membuatnya waspada. Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan. Arsen menoleh sedikit. "Masuk." Nayla muncul, masih mengenakan gaun tidur tipis yang membalut tubuh mungilnya. Rambutnya yang panjang digerai, menambah pesona misteriusnya. "Aku buat teh untukmu," ujarnya pelan sambil meletakkan cangkir di meja. Arsen memandangnya tajam. "Kenapa kau begitu baik padaku, Nayla?" Nayla terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. "Karena sekarang aku istrimu, kan?" "Kontrak, Nayla. Kau tahu itu." Nayla menunduk, lalu melangkah perlahan mendekatinya. Jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa inci. "Tapi bukankah kita tetap harus menjalankan peran masing-masing dengan baik, Tuan Arsen?" Nada suara itu lembut... tapi penuh tantangan. Arsen bisa merasakan tubuhnya menegang, namun dia tak menunjukkan apa-apa di wajahnya. “Jangan bermain api jika tak mau terbakar,” katanya dingin. Nayla membalas dengan senyuman. “Mungkin aku memang suka terbakar.” Arsen berpaling, tak mahu matanya terus menatap pesona wanita itu. Dia tahu permainan ini baru bermula, dan Nayla bukan gadis sembarangan. “Aku tidur dulu,” katanya, melangkah keluar dari ruang kerja. Nayla memandang punggung Arsen dengan pandangan penuh teka-teki. Ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang membuatnya penasaran... dan tertarik. Tapi dia juga tahu, Arsen bukan lelaki mudah ditaklukkan. “Mainan ini akan jadi lebih menarik daripada yang aku sangka,” bisiknya sendiri. Dengan senyuman penuh rahsia, Nayla pun kembali ke biliknya. Dalam diam, dia menyusun langkah demi langkah dalam misi yang belum Arsen ketahui.Langit sore itu kelabu, tapi suasana di apartemen jauh lebih suram. Nayla berdiri membelakangi Arsen, menatap keluar jendela yang dipenuhi butiran hujan. Suara langkah pria itu terdengar mendekat, berat dan penuh tekanan.“Aku akan ceritakan semuanya,” ucap Arsen akhirnya, suaranya dalam. “Tapi setelah ini, kau tidak bisa berpura-pura tidak tahu.”Nayla tetap diam, jemarinya meremas pinggiran sweater.“Ayahku… tidak mati karena sakit, seperti yang semua orang pikirkan,” lanjut Arsen. “Dia dibunuh. Dan yang membunuhnya adalah orang-orang yang sekarang berada di belakang Clara. Waktu itu, aku hanya anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Sampai suatu malam, aku melihat mereka… memukuli ayahku sampai dia berhenti bernapas.”Nayla menutup mata, menahan mual.“Aku ingin balas dendam. Tapi aku tahu aku tidak bisa melawan mereka sendirian. Jadi aku masuk ke lingkaran mereka, pura-pura ikut permainan kotor mereka. Aku harus kotor, Nayla… karena hanya
Hujan belum berhenti sejak malam sebelumnya. Udara dingin merayap ke dalam apartemen, membuat Nayla menarik selimut tipis di pundaknya saat duduk di ruang tamu. Arsen berangkat pagi-pagi sekali, tanpa banyak bicara. Ia hanya meninggalkan satu kalimat sebelum pergi: “Jangan buka pintu untuk siapa pun.”Nayla mengira itu hanya bentuk proteksi berlebihan. Sampai bel pintu berbunyi.Awalnya ia mengabaikan. Namun bunyi itu terdengar lagi, kali ini disertai ketukan pelan. Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian. Nayla mendekat, melihat melalui lubang intip.Seorang wanita berdiri di luar. Rambut hitam panjangnya basah oleh hujan, wajahnya cantik sempurna meski tanpa riasan. Matanya tajam, namun senyum tipisnya menusuk seperti pisau.Clara.Nayla membuka pintu sedikit, hanya sebatas rantai pengaman. “Apa yang kau inginkan?” suaranya dingin.“Aku pikir sudah saatnya kita bicara… sebagai dua wanita yang mencintai pria yang sama,” jawab C
Pagi itu, udara terasa berat. Langit mendung, seakan ikut menyimpan sesuatu yang tak ingin diungkapkan. Nayla duduk di meja makan sendirian, menggulir sendok di dalam cangkir kopi yang sudah dingin.Arsen belum keluar dari kamarnya sejak subuh. Biasanya ia sudah rapi dengan jas dan dasi, siap berangkat ke kantor. Namun kali ini, ada keheningan yang aneh.Pintu kamar terbuka perlahan. Arsen keluar, masih mengenakan kaos hitam dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, tatapannya sayu. “Kita harus bicara,” ucapnya tanpa basa-basi.Nayla mengangkat alis. “Tentang apa?”“Clara.”Nama itu membuat perut Nayla mengencang. Ia mempersiapkan diri, meski hatinya berdebar.Arsen duduk di depannya, menautkan jari-jari tangan. “Aku dan Clara… tidak seperti yang kau pikirkan.”Nayla tersenyum miring. “Oh? Jadi selama ini aku salah menilai? Kau tidak tidur dengannya? Tidak berjanji menikahinya?”Arsen menghela napas, mena
Malam telah larut ketika Arsen pulang. Suara pintu yang terbuka pelan memecah kesunyian apartemen. Nayla duduk di sofa, menunggu, meski matanya berat dan tubuhnya letih.Ia tidak bertanya dari mana Arsen datang. Hanya menatapnya diam-diam, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah lelaki itu. Tapi Arsen, seperti biasa, tahu bagaimana menyembunyikan rahasianya.“Kau belum tidur?” tanyanya, sambil melepas jas dan meletakkannya di kursi.“Aku menunggu,” jawab Nayla singkat.Arsen menatapnya sebentar, lalu berjalan menuju dapur, menuangkan segelas air. “Menunggu apa?”“Menunggu jawaban. Tentang Clara. Tentang kita.”Suara Nayla terdengar datar, tapi di baliknya ada badai yang siap meledak. Arsen meletakkan gelas, lalu menatapnya dengan mata yang dalam. “Aku lelah, Nayla. Kita bicarakan ini besok.”“Besok? Berapa lama lagi aku harus menunggu?!” Nayla berdiri, nadanya meninggi. “Aku bukan boneka yang kau simpan dan ambil kapan k
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik saat Nayla membuka matanya. Suasana kamar masih remang, hanya cahaya tipis dari jendela yang menyelinap masuk. Ia merasakan hangatnya tubuh Arsen yang memeluknya dari belakang, napasnya tenang dan stabil di leher Nayla.Degup jantung Nayla mulai tak beraturan. Ia tak bergerak, hanya berbaring dengan dada yang sesak oleh perasaan yang bercampur aduk. Semalam mereka tidak berbicara banyak, tapi malam itu tubuh mereka yang saling mendekat telah berbicara sendiri.“Sudah bangun?” suara Arsen serak, berat, dan masih lelap.Nayla hanya mengangguk kecil. Tapi pelukan Arsen semakin erat. Ia menarik tubuh Nayla lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna di dada bidang lelaki itu.“Maaf,” bisik Arsen, mengecup lembut tengkuk Nayla. “Aku hanya... ingin kamu tetap di sini.”Kucupan itu membuat tubuh Nayla bergetar. Ia seharusnya menjauh, mengingat Clara, mengingat semua yang telah terjadi. Tapi saat tangan Arsen mulai mengusap lengan dan pinggangnya
Langit malam menurunkan gerimis lembut, seakan memahami apa yang sedang dirasakan Nayla. Ia berdiri di depan jendela, menatap tetesan air hujan yang mengalir perlahan di balik kaca. Dadanya sesak. Hatinya sakit.Sudah beberapa hari sejak pertengkaran terakhirnya dengan Arsen. Kata-kata lelaki itu masih terngiang-ngiang di telinganya—tajam, dingin, seakan semua kesalahan ditumpahkan padanya."Jadi menurutmu aku yang salah? Setelah semua yang aku korbankan untuk hubungan ini?" bentak Nayla saat itu.Namun Arsen hanya diam. Tatapannya kosong, bahkan tak sedikitpun menyesal telah menyakitinya.Kini Nayla duduk di tepi ranjang, menatap bingkai foto yang dulu mereka ambil bersama saat awal pacaran. Senyuman Arsen di foto itu terasa begitu asing sekarang. Seakan lelaki itu bukan lagi orang yang sama."Kenapa kamu berubah, Arsen?" bisiknya lirih. "Atau... aku yang terlalu buta sejak awal?"Ponselnya berdering. Sebuah notifikasi pesan mas







