เข้าสู่ระบบTubuh Topan mematung, ia merasakan seluruh aliran darahnya mengalir deras. Ia melirik pada Helena yang tersenyum palsu padanya, lalu dengan teganya wanita itu mendorongnya.
“Ibu, dengan siapa kau datang?” Helena membawa ibu mertuanya duduk. Dewi menatap pada putranya kecewa, “Lihatlah, karena tidak peka dan tidak menghargai istrimu, Helena sampai ingin cerai darimu,” katanya dengan sinis, “kau pikir bisa mendapatkan istri sepertinya?” “Ibu, kita sudah sering membahas ini. Aku–” “Cukup!” tukas Dewi menolak mendengarkan bantahan putranya, “pecat sekretarismu yang tidak tahu diri itu, atau kau bukan lagi putraku!” “Ibu!” Topan berdecak, ia menatap pada Helena dengan serius, “Apa ini juga rencanamu? Kau sengaja minta ibuku yang sakit datang untuk merusak hubungan kami?” Helena tetap diam, ia menepuk pelan tangan mertuanya dan berkata. “Ibu, tunggu di sini, aku buatkan teh hangat untukmu.” Helena berdiri, melangkah keluar meninggalkan dua orang yang sudah lama tidak saling menyapa. Namun sebelum ia benar-benar menjauh, suara ibi Dewi mengejutkannya. “[Anak bodoh,” makinya. “[Tidak bisakah kamu berpikir lebih baik? Jika kamu memiliki anak darinya, semua harta miliknya menjadi milikmu,]” katanya dengan suara seperti berbisik. Helena tersenyum miring, tidak menyangka jika selama ini, tidak ada satu pun yang benar-benar tulus padanya. Mereka semua mengejar harta yang ayahnya tinggalkan. Ia melangkah menjauh dengan tenang, meminta bawahannya membuat teh hangat untuk dua orang. Sementara dirinya berjalan untuk mengeluarkan sesak rasa sesak yang merasuk setelah kedatangan Topan. “Apa yang dia lakukan?” Helena menatap keluar toko, serang pria yang dikenal tengah mengangkat tangan sambil tersenyum ke arahnya. Ia mendesah, melangkah keluar dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi di antara mereka. Sementara Fandy yang melihat itu, lantas segera masuk ke dalam mobil. “Apa yang kau lakukan?” Helena menatap tajam pada pria yang menyelamatkan sekaligus menambah masalah untuknya. Berdiri dengan tegak, Reygan melepas kacamata miliknya, lalu menunjuk ke arah toko milik Helena. “Tentu saja, aku ingin mencari hadiah untuk nenekku.” Kening Helena mengkerut, ia tidak yakin dengan ucapan Reygan, tetapi karena dia tidak ingin kehilangan pelanggan, Reygan diminta untuk mengikutinya masuk. “Fandy, jangan kemana-mana.” Reygan melangkah di belakang Helena, mengekor seperti pria yang baru saja jatuh cinta. “Pak, apa yang kau lakukan,” desah Fandy, “di dalam jelas ada suaminya dan mertuanya.” Sesampainya di dalam toko, pelayan yang bekerja di bawah Helena tercengang, mereka jelas mengetahui siapa yang masuk ke toko mereka. Helena mempersilakan Reygan mencari apa yang dicarinya. “Katakan saja pada dia apa yang Anda cari,” ujar Helena meminta bawahannya menemani Reygan. Akan tetapi, dengan tegas Reygan menolak didampingi orang lain. Helena mengangguk, ia meminta yang lain melanjutkan pekerjaannya sementara dirinya menemani Reygan mencari hadiah untuk sang nenek. “Bisa aku tahu usia nenek?” tanya Helena mencoba profesional meski sudah merasa gugup. Sementara yang ditanya hanya diam seolah memastikan sesuatu. Dalam situasi seperti itu, Topan keluar dari ruangan Helena dan tidak sengaja melihat Reygan yang menatap lekat pada istrinya. Ia mengerutkan kening, lalu tersenyum. “Pak Reygan, Anda di sini?” Topan datang dengan wajah cerah, berdiri di dekat istrinya sambil merangkul pinggang Helena. Reygan mengangguk singkat, ia kembali menatap Helena yang memalingkan wajah darinya. “Saya ingin memberi hadiah untuk nenek, kebetulan lewat dan melihat toko ini.” Tertawa singkat, Topan mengangguk pelan, ia semakin memperlihat kemesraan pada Reygan seperti yang orang lain lihat selama ini. “Karena kita akan menjadi rekan kerja. Hadian untuk nenek, anggap saja hadiah dari istriku.” “Anda sangat murah hati, Pak,” tukas Reygan, “tapi maafkan saya karena harus menolak. Saya tidak ingin–” “Bawalah. Seperti yang Pak Topan katakan, anggap saja hadiah dari saya.” Tersenyum singkat, Reygan menatap keduanya bergantian dan mengangguk. “Jika sudah diputuskan, maka saya akan membawa yang Anda pilihkan.” _______________ “Kulihat kau ada sesuatu dengan pak Reygan.” Hani bersedekah di depan Helena yang tengah memainkan ponselnya. “Bukan urusanmu!” Helena mengangkat wajah, menatap sekilas wajah Hani yang semakin memuakkan. Hani menghentakkan kaki, ia pergi mengadu pada Topan yang sibuk dengan pekerjaannya. “Sayang, istrimu membuatku kesal.” Mendengar itu, Helena hanya mendesah pelan. Ia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. “Lihatlah, bagaimana dia tidak sopan padamu. Kau masih mempertahankan rumah tangga dengan dia?” Hani duduk di dekat Topan dengan sebelah tangan meraba dada kekasihnya. “Tenanglah, jangan terpancing dengannya.” Reygan membuka lembaran berikutnya dan kembali fokus dalam bekerja. “Tapi Sayang. Dia mengusirku. Katanya, aku tidak pantas berada di rumah ini,” adu Hani kembali tidak ingin kalah, “haruskah aku pergi?” Topan menghentikan pekerjaannya, ia membawa Hani dalam dekapannya dan berjanji akan memberi pelajaran pada Helena. “Kamu tenang saja, aku akan masuk ke kamarnya dan memberi pelajaran.” Topan melepas pelukan, lalu berdiri dan hendak ke kamar Helena. “Aku ikut.” Hani lantas berdiri, berjalan di belakang sang suami dengan bibir merekah. ‘Kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan padaku Helena,’ batin Hani. Baru saja mereka ingin mengetuk pintu, Helena keluar dengan penampilan yang begitu anggun. Gaun hijau muda dengan perhiasan kecil yang berkilau di lehernya. “Ada apa?” Helena bertanya pada kedua orang yang terlihat heran melihatnya. Topan memperhatikan sang istri yang semakin hari semakin berubah cantik. Ia seperti melihat Helena yang semasa gadis, cantik dan lebih energi. “Mau kemana?” tanyanya selidik, ia tahu kebiasaan Helena setiap malamnya. Wanita yang dinikahinya ini, lebih memilih membaca buku dibanding ikut dengannya ke acara penting. Namun malam ini, Topan tidak mengerti, mengapa hatinya begitu terluka melihat penampilan baru Helena. “Hani, lebih baik kau bawa kekasihmu menjauh dariku,” kata Helena melirik pada Hani yang begitu terpaku dengan penampilan Helena yang menawan. Ia melihat pada Topan yang bahkan tidak berkedip, “Nyonya, yang pak Topan tanyakan tidak salah. Jawab saja, Nyonya mau kemana malam-malam seperti ini?” Tertawa rendah, Helena bersedekap. “Kalian memang cocok bersama. Kalian sama-sama tidak mengerti dan bodoh.” “Jaga ucapanmu Helena!” bentak Topan kembali dibuat murka. “Pelankan suaramu. Lebih baik sekarang kau tanda tangani secepatnya. Kalau tidak, aku pastikan kelakuanmu yang tidak tahu malu ini mendapatkan balasannya.” “Kau mengancamku?” Topan mencekal tangan Helena dan menariknya kembali ke dalam kamar. “Lepaskan aku!” Pekik Helena merasakan tangannya sakit, “kau gila, lepaskan aku.” Tubuh itu, diangkat oleh Topan, lalu membuang ke atas kasur dengan senyum puas. “Kau sangat ingin berpisah denganku ya?” Topan membuka kancing bajunya, merangkak naik ke atas ranjang untuk memberi pelajaran pada Helena. “Kau mau apa?”Ruangan yang tadi terdengar ramai mendadak menjadi sunyi ketika alunan musik romantis diputar, lampu berubah menjadi lebih reman, tetapi masih bisa mengenali satu sama lain. Pintu besar yang tadi sempat tertutup sebentar kini kembali terbuka, semua orang yang berada di sana menatap pintu tersebut dengan penuh harap. Mereka sama-sama penasaran dengan bintang mereka malam ini. Ibu Dewi mengusap lengan putranya, menenangkan Topan bahwa sudah seharusnya untuk pasrah dan merelakan semua. Mereka berdua telah sadar bahwa yang sudah berlalu adalah kegagalan mereka. Langkah kaki itu keduanya memasuki ruangan, semua orang yang berada di sana, terpukau dan tak henti memuji kecantikan dari mantan istri Topan. Helena mengenakan gaun indah berwarna gold bertabur dengan serbuk berlian hingga setiap ia melangkah akan menampilkan keindahannya. Di sebelahnya, Topan mengenakan jas hitam dengan bunga mawar kuning di kantongnya. “Mereka berdua benar-benar sangat serasi. Tuhan begitu baik sampai memberi
Hani menegang, ia menelan ludah kasar, mencoba tetap kuat meski tubuhnya sulit untuk digerakkan. Ia tidak bisa lagi membela diri, sebab semua bukti sudah ada di depan mata.“Katakan padaku, Hani, mengapa kau sampai tega melakukan ini pada ibuku?” tanya Topan lirih, “aku … orang yang seharusnya kau celakan bukan ibuku tapi aku,” lanjut Topan kecewa. Meski sejak kecil, ia tahu bahwa ibu Dewi bukankah ibu kandungnya, tetapi Topan tidak pernah ingin melihat wanita yang sudah membesarkannya itu menderita, ia tidak ingin ada yang membuat ibunya terluka meski mereka tidak akur seperti anak dan ibu.“Kenapa?” bentak Topan.“A-aku bisa jelaskan, kau … ini tidak seperti yang kau pikirkan Topan, dia …,” ujar Hati terbata-bata, “tenangkan dirimu dulu, kita … aku bisa–”“Pergi Hani,” usir Topan kemudian, “semakin kau berkelit, semakin sakit hatiku. Kau jelas ingin melenyapkan ibuku karena dia lebih memilih Helena dibandingkan dengan dirimu.” Topan mengangkat wajah, ia kecewa dan marah karena keny
“Aku sebenarnya …,” ujar Helena mulai ragu.“Kenapa?” Reyan memajukan wajahnya, menatap mata indah itu yang saat ini berkedip cepat di depan matanya.Satu kecupan mendarat sempurna di hidung yang mancung. Helena makin mengerjap, wajahnya sampai merah bersemu. Bahkan tatapan lembut Reygan membuatnya lupa harus mengatakan apa seharusnya.“Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu,” kata Reygan lembut, “besok setelah sarapan, kita ke rumah sakit.”“Rumah sakit?” terdengar suara penolakan dan tidak suka.“Ya, kita harus ke rumah sakit dna kau tidak ada alasan untuk menolak.” Reygan tersenyum lembut, mengusap wajah merah istrinya dan kembali mengecupnya cepat.“Reygan!”“Sekarang istirahat, aku harus mengurus sesuatu untuk acara besar kita.” Reygan berdiri, ia merapikan selimut istrinya kemudian mengecup laagi kening Helena lebih dalam.Tidak menjawab, Helena hanya mengangguk, membiarkan Reygan meninggalkan kamar dengan langkah cepat hingga menghilang dari balik pintu. Helena mendesah pelan
“Kau masih marah?” Helena berjalan di belakang suaminya yang masih terlihat marah, meski di tangannya ada tas kecil miliknya.“Aku hanya tidak mau jika Topan datang, kau tahu sendiri, kan dia masih mengharapkanmu?” Reygan akhirnya membuka suara, menyatakan penolakannya atas kehadiran Topan. Ia tidak ingin kejadian saat itu kembali terulang di pesta mereka.“Aku pastikan, dia tidak akan melakukan hal yang sama,” ujar Helena yakin, “justru aku yang khawatir kalau Raisa muncul dan mengacaukan semua,” dengus Helena.Sorot mata Reygan terlihat curiga, “Bukankah kau ingin dia ada di pesta kita?”Terdengar desahan kecil, Helena mengangguk. Ia berjalan lebih cepat karena tidak sabar sampai di dalam kamar. Di belakang, Reygan mendesah pelan, ia berjalan di belakang Helena untuk menjaga tubuh yang terlihat lemah itu.Di dalam kamar mereka, Helena langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan terburu-buru. Sejak di mobil tadi, ia sudah merasa aneh dengan perutnya, seperti sesuatu yan
“Nona, kita kembali.” Fandy membantu Alea untuk berdiri setelah merasa tubuhnya lemas melihat tatapan dingin Reygan padanya.“Fandy, apa Reygan akan kembali menghukumku? Apa dia akan mengurungku lagi dan meminta orang-orang membuat mimpi buruk itu?” Alea bertanya dengan tatapan penuh ketakutan, ia kembali mengingat kejadian-kejadian yang pernah dilalui saat tak sengaja mencelakai Helena.Fandy menggeleng, meski ia juga tidak yakin dengan keputusan terakhir bosnya. Ia hanya ingin menenangkan Alea. Membuatnya yakin bahwa semua akan baik-baik saja setelah mereka kembali.“Kau pasti berbohong, aku … wanita itu yang tidak mampu menahan tubuhnya, dia terjatuh setelah tak sengaja kudorong.” Alea menatap kedua tangannya, lalu tak lama berteriak histeris.“Nona, tenangkan dirimu.” Fandy memeluk Alea, memberikan ketenangan.‘Begitu cintanya kamu dengan bos, Nona, sampai seperti ini,’ batin Fandy meneteskan air mata.___________________“Aku tidak apa-apa.” Helena menghela napas karena Reygan ti
“Menyingkirlah!” Kedua wanita itu segera memberi jalan, tanpa mengatakan banyak kata lagi, mereka memilih untuk pergi dan tidak lagi berbalik ke belakang. Setelah merasa aman, barulah mereka menoleh ke belakang, menatap pintu lift yang sudah tertutup.“Huh, hampir saja,” bisik mereka, “sepertinya akan seru, ada istri sah dan wanita yang berharap menjadi istri,” kekeh keduanya seolah sebelumnya tidak merasa terancam dengan tatapan Alea.“Kamu benar. Aku ingin lihat bamana akhir keduanya nanti, akankah bos akan memilih salah satunya.”Temannya berpendapat bahwa yang tetap menang adalah Helena, karena jika Alea yang menang tentu bukan Helena yang akan dinikahi.“Kau benar, jika nona Alea menang, tentu yang menjadi nyonya dia, bukan nona Helena. Tapi, aku akan tetap memihak nona Helena, bukan karena dia putri konglomerat, tetapi kita sudah melihat dia jauh lebih terlihat cocok dalam segala segi untuk pak bos.”“Sudah jangan diteruskan,” katanya dengan suara dipelankan, “nona Alea sudah s
Tersenyum kecil, Helena mendongak. Ia menatap wajah tampan Reygan yang. Helena mengulurkan tangan, menyentuh hidung mancung Reygan yang begitu indah.“Tidak kusangka hidungmu sangat bagus,” katanya memuji, “pantas saja, banyak wanita yang–”Reygan menangkap tangan Helena, lalu mengecupnya lembut se
“Helena,” panggil seseorang dari arah belakang. Reygan yang mendengar itu, segera berbalik, begitu pun dengan Helena.Melihat kehadiran neneknya, Reygan melirik pada Helena yang juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua terlihat canggung, apalagi ini pertemuan yang cukup menegangkan.Nyonya Sari
Alea meremas gaun miliknya di bawah meja. Menahan emosi yang hendak meledak melihat perhatian Reygan pada Helena yang terlihat sangat berlebihan sebagai rekan kerja.Suara deheman nyonya Sari berhasil membuat semua orang fokus padanya. Helena yang sejak tadi tidak tahan dengan sikap Reygan yang ber
Dengan napas terengah, Helena mendengus, ia keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan kesal. Ia ingin tahu, apa yang akan ayahnya lakukan pada Topan.“Ayah, maafkan aku karena terlambat mengetahui tentang kesehatanmu,” kata Topan sembari duduk di kursi dengan nyaman.“Hum, tidak apa-apa. Kau temu







