Share

Bab 4 Wanita yang Sama

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2025-10-01 11:00:59

“AXEL!!! Apa yang kamu lakukan di sini?” pekik Sera tertahan.

Pria berusia 27 tahun itu tidak menjawab, malah meringsek masuk ke dalam kamar. Sera melotot dan berusaha menyuruhnya keluar, tapi tenaga Axel lebih besar darinya. Hingga pada akhirnya Sera mengizinkan Axel masuk.

Ia berdiri diam sambil merapatkan jubah tidurnya. Kali ini ia sudah mengenakan lingerie merah nan seksi dengan belahan dada yang rendah. Untung saja ada jubah tidur yang menutupi lekuk tubuhnya.

Axel tersenyum menyeringai kemudian berjalan mendekati Sera. Setiap kali Axel melangkah maju, setiap kali itu pula Sera berjalan mundur. Hingga langkahnya terhenti karena terantuk dinding di belakangnya.

“Kenapa kamu selalu ketakutan jika melihatku?” tanya Axel kemudian.

Sera menggeleng. “Aku tidak ketakutan, aku hanya ---”

“Hanya apa?” Axel memotong kalimatnya dan sudah berdiri tak berjarak di depan Sera.

Sera tidak menjawab. Matanya mengerjap beberapa kali dengan dada yang naik turun mengolah udara. Axel tersenyum, matanya turun menatap dada busung yang sedang mengintip dari balik jubah tidur.

Sera melotot dan tergesa mempererat ikatan jubah tidurnya.

“Kamu mau apa, Axel?”

Axel tersenyum, mata pekatnya menatap Sera dengan tajam. Untuk sesaat Sera terhanyut oleh tatapannya dan tidak sadar jika tangan Axel sudah merengkuh pinggulnya dengan erat.

“Aku hanya ingin memastikan saja.”

Sera menggeliat mencoba lepas dari pelukan Axel, tapi pria itu semakin erat memeluknya.

“Memastikan apa?”

“Memastikan kalau kamu wanita di malam itu.”

Sera melotot dan berontak minta lepas, tapi tubuh Axel yang tinggi besar tidak mampu diimbangi tubuh mungil Sera.

Tanpa menunggu persetujuan Sera, Axel langsung memutar tubuh Sera dan menyibak rambutnya.

Axel terdiam saat melihat tato kupu-kupu yang ada di tengkuk Sera. Ia ingat wanita yang menghabiskan malam panas bersamanya mempunyai tato kupu-kupu di tengkuknya, sama dengan Sera.

“Apa kamu masih menyangkal jika kamu wanita di malam itu, Sera?”

Axel bersuara di telinga Sera sambil mengecup tengkuknya. Sera terdiam, memejamkan mata beberapa saat kemudian perlahan kepalanya mengangguk.

Sontak Axel tertawa dan melepaskan Sera begitu saja. Sera berdiri diam, bersandar di dinding sambil memegang jubah tidurnya.

“Kenapa kamu tidak bilang jika calon istri papaku saat itu?”

“Mana aku tahu kamu anak dari Regan. Kamu pikir aku sudah merencanakan kejadian malam itu?”

Axel menghela napas sambil menghembuskannya dengan kasar.

“Apa papaku tahu tentang kejadian malam itu?”

Sera mendelik dengan alis terangkat menatap Axel.

“Kamu pikir aku gila hingga menceritakan kejadian itu padanya.”

Axel mengulum senyum sambil menganggukkan kepala.

“Baguslah kalau dia tidak tahu. Jadi tidak masalah jika kamu mengajukan pembatalan pernikahan sekarang.”

Sera terperanjat mendengar permintaan Axel. “Kamu gila, Axel. Bukannya aku sudah bilang untuk melupakan kejadian malam itu.”

Axel mendengkus kasar. “Aku tidak mau, Sera. Aku tidak mau melupakannya.”

Sera berdecak, bahunya naik turun sambil menatap Axel.

“Harusnya kamu tahu kejadian malam itu salah dan tidak boleh terjadi. Jadi, aku mohon lupakan semuanya.”

Axel berdecak.

“Apa kamu semurah itu, Sera? Merelakan keperawananmu pada pria yang tidak kamu kenal dan melupakannya. Bagaimana jika papaku tahu kamu sudah tidak perawan lagi? Apa dia bisa menerimamu?”

Sera membisu, beberapa kali menelan saliva sambil menundukkan kepala. Dari tadi, ini yang sedang ia takutkan. Kenapa Axel seolah tahu isi pikirannya?

“Ajukan pembatalan pernikahan dan aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab padamu.”

Sera mendongak dan menatap Axel dengan mata melebar.

“Aku tidak pakai pengaman saat melakukannya. Bagaimana jika kamu hamil? Harusnya kamu senang, aku mau bertanggung jawab dengan perbuatanku.”

Sera berdecak sambil menggelengkan kepala. Semua tidak semudah yang dikatakan Axel. Dia baru saja menikah dan ini yang ia tunggu sekian lama, mengapa Axel malah memintanya untuk mengajukan pembatalan pernikahan?

Namun, Sera juga takut jika Regan akan mempermasalahkan mengenai keperawanannya. Bagaimana jika ia tidak bisa menerimanya?

“Aku tidak mau, Axel Lebih baik kamu pergi sekarang.”

Mata Axel tampak terluka menatap Sera. Tidak ia sangka wanita yang tidak bisa ia lupakan akan mengusirnya seperti ini. Padahal sejak malam itu, Axel sudah berjanji akan mencari dan menikahinya.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

Mata Sera melebar mendengar jawaban Axel. Sementara Axel malah tersenyum lebar, berjalan mendekat dan membuat Sera ketakutan.

“Kamu sebenarnya mau apa, Axel?”

Axel tidak menjawab. Ia langsung menarik jubah tidur Sera hingga koyak meninggalkan lingerie seksi yang membungkus tubuhnya. Axel tersenyum penuh kemenangan menatap Sera dengan liar.

“Kamu sudah tahu apa mauku dari awal, Sera. Kenapa mesti bertanya?”

Belum sempat Sera mengelak, Axel sudah menarik tubuhnya dan menjatuhkan ke kasur. Tanpa bicara, Axel langsung mencium bibir Sera.  

Awalnya Sera mendorong tubuh Axel, tapi itu tidak sepadan dengan kekuatan Axel. Tubuhnya semakin mengimpitnya hingga Sera berada di dalam kungkungannya. Saat tangan Axel membelai punggungnya, gelenyar tak biasa datang dan membuat Sera terkesiap dan mengerang.

Axel semakin memperdalam pagutannya seakan tak mau melepasnya, dan entah bagaimana, tubuh Sera seakan sudah mengenal Axel hingga tangannya spontan menjadi menarik dan meremas kepala Axel.

Seakan sudah paham dengan titik sensitif Sera, Axel menangkup kembali dada sintal Sera dengan tangannya. Sesapan Axel semakin dalam seiring dengan jemarinya yang bergerak memainkan Sera.

Tubuh Sera hampir lemas, ia juga kesulitan bernapas, tetapi Axel tidak ingin menyudahinya. Ia ingin terus menerus mencicipi bibir manis Sera yang lembut.

Setelah pagutan yang intens itu, Axel menyudahinya, sontak deru napas mereka saling beradu.

Axel menatap Sera dengan dalam, kemudian membelai rambut Sera seraya menyelipkan di balik telinganya. “Bibirmu membalas kecupanku dan tubuhmu juga mendekapku. Sekarang, apa kau masih mau mengelak?”

Sera tidak menjawab, hanya terdiam sambil menatap Axel dengan napas naik turun. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi bel di pintu. Axel menoleh ke arah pintu. Secepat kilat, Sera mendorong tubuh Axel dan bergegas bangkit.

Napas Sera memburu sambil berjalan menuju pintu. Ia mengintip di balik lubang pengintip lalu berdiri diam bersandar di belakang pintu.

Dengan lirih, ia berdesis, “Regan datang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 170 Hati yang Berdamai

    Axel berjalan gontai keluar dari ruang IGD. Sudah ada Sera, Nyonya Josephine juga Jefrey di sana. Semua yang melihatnya terdiam, tapi Sera berjalan lebih dulu berhambur memeluk Axel.“Dia … dia sudah pergi, Sera.”Axel bertutur dengan isakan. Suaranya parau sarat dengan kesedihan. Sera hanya diam, memeluknya erat mencoba menenangkan Axel.Sera pernah merasakan hal seperti ini. Membenci sekaligus merasakan kehilangan. Ini sakit dan membuatnya ambigu. Namun, Sera yakin seiring berjalannya waktu Axel pasti bisa melupakan semuanya.Keesokan paginya, langit dinaungin awan hitam. Gerimis datang sejak subuh seolah ikut berduka seperti Axel.Pria tampan berjas hitam itu terdiam mematung menatap gundukan tanah basah yang penuh bunga. Ada nama Regan terukir di batu nisannya yang masih baru.Beberapa kali helaan napas keluar masuk tergesa dari bibir Axel.“Aku sudah memaafkanmu, Pa. Istirahatlah dengan tenang,” gumam Axel.Wajahnya tidak

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 169 Kebodohan Regan

    “Siapa bilang aku kalah? Siapa yang bilang aku gagal?” seru Regan dengan arogan.Seringai terlihat jelas di wajahnya menghias dengan seram. Tak lama tawa menggelegar memenuhi seisi kabin mobil.“Aku yang menang. Aku yang akan memiliki semua aset keluargamu, Sera.”Regan terlihat senang. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang sambil mengeluarkan berkas yang ditanda tangani oleh Sera dari saku jasnya.Regan akan secepatnya mengurus pengalihan harta tersebut. Selanjutnya ia pergi dari kota ini dan menikmati semuanya, hidup tenang di luar kota.Namun, mata Regan langsung membola saat melihat tulisan tangan Sera yang tertera di berkas tersebut. Itu bukan tanda tangannya melainkan sebuah makian untuk Regan.“SIALAN!!! BERENGSEK!!! Dasar wanita jalang!!!”Regan melempar berkas itu hingga lecek dan berhamburan ke lantai mobil. Ia kesal merasa dibohongi. Salah Regan juga tidak memeriksanya lagi. Ia takut kehabisan waktu, satu yang pasti ia tidak

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 168 Senjata Makan Tuan

    Sera membeku sambil melirik pisau kecil yang berkilatan tepat di dekat lehernya. Ia tahu bagaimana temperamen Regan. Mantan suaminya ini sangat nekat dan ia tidak akan segan menggores kulitnya.Regan tersenyum melihat reaksi Sera.“Bagus. Kubilang juga apa. Pada akhirnya kamu yang hancur dan bertekuk lutut di kakiku.”Sera hanya diam, melirik Nyonya Josephine seolah memberi isyarat agar wanita itu tidak mengambil tindakan gegabah.“Sekarang tanda tangan ini!!!”Tiba-tiba Regan mengambil berkas draft pengalihan harta milik Sera yang dilontarkan padanya. Sera diam. Meski itu hanya salinan, tapi kalau tanda tangannya sudah berada di sana, maka Regan bisa melakukan apa saja.“LAKUKAN, SERA!!!” Regan meninggikan suaranya membuat wanita cantik itu terjingkat.“Kamu memang bajingan, Regan. Apa belum cukup kamu mengambil hartaku?” Nyonya Josephine yang bersuara.Memang beberapa aset milik keluarga Silverlake sudah berubah kepemilikan m

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 167 Pergolakan Regan

    “APA!!! Tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan Om Regan?” sergah Sophie.Axel tersenyum masam sambil menatap sinis Sophie dan Tuan Henry.“Tanya saja pada papamu!! Ia pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Sophie terkejut, kemudian matanya beralih menatap Tuan Henry. Sayangnya, pria paruh baya itu sudah memalingkan wajah menghindar tatapan Sophie.“BAWA MEREKA, PAK!!!” titah Axel kemudian.Tanpa menunggu lagi, Tuan Henry sudah digelandang keluar dari ruangannya. Sophie tampak kebingungan. Ia berlari mengejar mengikuti mereka. Namun, kakinya terhenti saat melihat sang Papa sudah masuk ke dalam mobil polisi.Sophie menoleh ke samping melihat Axel sedang berdiri tegak menatapnya dari samping mobil. Sophie mendekat dan langsung berdiri diam di depannya.“Apa maksudnya ini, Xel? Apa ini rencanamu untuk membatalkan pertunangan kita? Kamu sudah merencanakan dari jauh hari, bukan?”Axel berdecak sambil mengibaskan tangan ke udara.

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 166 Kenyataan Pahit untuk Sophie

    “Iya. Awalnya memang seperti itu, tapi ---”Nyonya Josephine menggantung kalimatnya dan membuat Axel penasaran. Selama ini, setahunya Regan yang membujuk perjodohannya dengan Sophie. Bahkan Regan mengancamnya saat itu.“Tapi apa, Nek?”Nyonya Josephine menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.“Tapi aku batalkan usai aku mengetahui keterlibatan Henry pada kematian ayahmu.”Mata Axel membola menatap Nyonya Josephine tanpa kedip.“Apa maksud Nenek?”Nyonya Josephine mendengkus kasar sambil menatap kosong keluar jendela.“Rendy Baldwin Anderson adalah nama ayahmu. Ia bertunangan dengan ibumu. Karena kebodohan mereka, tiga bulan sebelum pernikahan, ibumu hamil duluan.”“Tidak disangka Rendy mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Aku curiga dengan kecelakaannya dan meminta orang menyelidikinya.”“Ternyata ada campur tangan Henry dalam kecelakaan itu. Henry menyukai ibumu dan tidak suka dengan pernikah

  • Terperangkap Hasrat Anak Tiriku   Bab 165 Kebangkitan Nyonya Josephine

    Perlahan Regan membuka mata saat merasakan sinar mentari menyilaukan wajahnya. Seingat dia, semalam ia tidak bisa masuk ke dalam rumah, tapi ternyata kini ia sudah berada di dalam kamarnya.Regan mengulum senyum sambil meraup wajahnya dengan kasar. Rasanya penghuni rumah ini masih menaruh hormat padanya.Pelan, Regan bangkit dari kasur kemudian masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk sarapan pagi. Namun, kakinya langsung terhenti saat tangannya mencekal handle pintu dan tidak bisa membukanya.“Apa? Apa yang terjadi?”Mata Regan blingsatan. Ia memperhatikan lubang kunci dan tidak terdapat anak kunci yang menempel di sana.“SIALAN!! Apa-apaan ini? Siapa yang mengurungku di sini?”“AXEL!!! SERA!!! BUKA PINTU!!!”Regan kembali bersuara kini ditambah dengan gedoran di pintu. Tidak sekali ia melakukannya, tapi beberapa kali membuat siapa saja yang berada di dalam rumah itu mendengar.Sementara itu di depan pintu kamar, terlihat seoran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status