LOGIN“Sekarang lakukan apa yang kamu bilang!” perintah Wiston.
Mata Bride menatap nanar mata suaminya. Berharap ada rasa kasihan dalam diri Wiston sehingga pria itu tidak memaksanya melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan, tapi yang dia lihat hanya mata merah penuh kemarahan dengan rahang mengeras menakutkan. “Aku tidak suka menunggu, Bride. Apakah kamu mau aku menyeret Catelyn ke sini untuk memberimu contoh?” geram Wiston. Mata Bride“Sekarang lakukan apa yang kamu bilang!” perintah Wiston. Mata Bride menatap nanar mata suaminya. Berharap ada rasa kasihan dalam diri Wiston sehingga pria itu tidak memaksanya melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan, tapi yang dia lihat hanya mata merah penuh kemarahan dengan rahang mengeras menakutkan. “Aku tidak suka menunggu, Bride. Apakah kamu mau aku menyeret Catelyn ke sini untuk memberimu contoh?” geram Wiston. Mata Bride berkabut menerima perlakuan suaminya, tapi dia tidak ingin suaminya menyentuh Catelyn dan dia sendiri tidak rela ada wanita lain yang menyentuh Wiston. Dia kemudian turun dari ranjang dan mendekati Wiston, menurunkan tubuhnya dan bersimpuh tepat di hadapan aset milik pria itu. Jika biasanya Wiston merasa biasa saja saat ada wanita yang ingin memuaskannya, tapi berbeda saat Bride yang ada di hadapannya. Tubuhnya merespon dengan berlebihan. Nafasnya tercekat, jantungnya berdeta
“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu. Aku juga sepertimu yang dibawa paksa ke sini dan dinikahi oleh Wiston untuk memuaskan gairahnya. Jika aku bersikap manis dan tidak menolaknya, Wiston akan memperlakukanku dengan baik. Bahkan dia mencukupi kebutuhanku mulai dari makan, tempat tinggal yang nyaman dan pakaian branded yang belum pernah aku miliki seumur hidupku, tapi kalau kita menolak perintahnya, Wiston akan bersikap kasar,” terang Bride. “Aku tidak sudi melayani gairahnya. Lagi pula dari mana dia bisa mengenalku?” geram wanita itu. “Sebelum kita saling bertanya yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Bagaimana jika kita berkenalan lebih dulu. Namaku Bride, siapa namamu?” tanya Bride. “Bride,” gumam wanita itu. “Namamu seperti nama adiku,” ucap wanita itu. “Benarkah? Aku merasa tersanjung. Aku sendiri anak tunggal. Mamaku sudah meninggal sedangkan papaku entah pergi ke mana setelah menjualku pada Wis
Nafas Bride tercekat melihatnya, berbeda ketika tadi dirinya melihat pria tampan yang ingin menggodanya. Meski keduanya sama-sama memperlihatkan dada mereka, tapi ketika Wiston yang melakukannya, dia tidak merasa jijik, tubuhnya seketika merasa panas dan inti miliknya melembab basah. Bride menahan nafasnya, melihat Wiston membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Tanpa rasa malu, pria itu menurunkan begitu sana celana tersebut. Bukan hanya celana panjangnya tapi juga menurunkan pelindung terakhir dari aset berharganya. Tak mampu menahan gairahnya yang tersulut, Bride menggigit bibir agar dirinya tidak mendesah melihat aset berharga suaminya. Bride berpikir Wiston akan ikut naik ke ranjang dan mendekatinya, tapi dia terkejut dan kecewa ketika seorang wanita yang menggunakan celana dalam dan penutup dada yang ketat, masuk ke kamar itu. Dia berjalan dengan gerakan menggoda, ekspresinya sungguh menjijikkan. Tangannya meremas
“Saya sudah mendapatkan apa yang Anda minta, Catelyn sudah berada di tangan saya. Apa yang harus saya lakukan?” ucap anak buah Wiston meminta petunjuk. “Kamu berada di mana sekarang? Aku akan menemuimu,” tegas Wiston. Dia terdiam mendengarkan sejenak perkataan anak buahnya saat memberikan alamat tempatnya berada. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Wiston mematikan ponselnya. Dia mengambil dan mengumpulkan pakaiannya lalu memakainya dengan cepat. Sebelum pergi, Wiston juga mengambil pakaian Bride lalu melemparkannya ke pangkuan wanita itu. “Cepat pakai pakaianmu sebelum para pelayan datang ke sini dan melihatmu telanjang,” ujar Wiston lalu berbalik meninggalkan istrinya begitu saja. Bride meremas pakaian yang ada di pangkuannya dan menatap tajam kepergian Wiston. Setelah pria itu tidak terlihat lagi dari pandangannya, tangis Bride pecah. Hinaan apalagi yang harus dia terima dari
“Apakah kamu sudah mengikuti kegiatan Catelyn? Cari kesempatan agar kamu bisa membawa wanita itu padaku,” ucap Wiston pada anak buahnya. “Setiap hari Catelyn mengantar anaknya ke sekolah tanpa Aaron bersamanya. Namun dia tidak pernah turun dari mobil, sangat susah untuk mendapatkannya,” tutur pria di depan Wiston. “Akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Ikuti terus kegiatan Catelyn, jika dia turun dari mobil untuk belanja atau melakukan kegiatan lain, langsung bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat wanita itu bunuh diri di depanku sama seperti Papa yang mati di depan mataku,” geram Wiston. “Baik Tuan, saya akan terus mengikuti Catelyn. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung mengabarkannya pada Anda.” Pulang dari pekerjaan, hati Wiston penuh dengan kekesalan karena anak buahnya belum bisa mendapatkan Catelyn. Dia membanting pintu rumah dan berjalan menuju kamar, tapi dia ingat jika dia ti
Lagi-lagi air mata Bride meleleh keluar karena tidak bisa menghindari penyatuan pria itu. Setiap hentakan yang Wiston lakukan, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia semakin marah ketika tubuhnya tidak bisa menolak pria itu, tapi malah menikmati setiap gerakannya. Bride kembali menggigit bibir agar Wiston tidak mendengar isak tangisnya. Setiap hujaman dan hentakan pria itu, meneteskan air mata yang meleleh panas. Wiston yang tidak tahu isi hati Bride terus bergerak menikmati celah sempit yang hangat dan lembut milik istrinya. Erangan Wiston mulai terdengar di telinga Bride, sebagai tanda jika pria itu sangat menikmati gerakannya. Ingin sekali dia menutup telinga karena erangan pria itu menandakan jika dirinya memberi kenikmatan pada pria yang semena-mena terhadapnya. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena tangan Wiston menggenggam tangannya dan menempelkannya di dinding kamar mandi, terlentang di sebelah ka







