Beranda / Romansa / Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh / Bab 9. Hati Melembut Membawa Harapan

Share

Bab 9. Hati Melembut Membawa Harapan

Penulis: Dera Tresna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 06:25:19

Deg…

Jantung Amber seakan berhenti ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Dia langsung mengambil kalender yang berada di atas meja di depannya lalu menghitungnya. Tangannya gemetar ketika menyadari jika dirinya sudah terlambat datang bulan. Dia kemudian menjelaskan hal tersebut pada dokter.

“Untuk memastikannya, Anda akan dibantu perawat untuk melakukan tes kehamilan karena jika Anda hamil, saya akan memberikan resep yang berbeda pada obat yang harus Anda minum,” terang dokter.

Seorang pera
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 259. Tempat Baru yang Tidak Seharusnya

    “Saya sudah mendapatkan apa yang Anda minta, Catelyn sudah berada di tangan saya. Apa yang harus saya lakukan?” ucap anak buah Wiston meminta petunjuk. “Kamu berada di mana sekarang? Aku akan menemuimu,” tegas Wiston. Dia terdiam mendengarkan sejenak perkataan anak buahnya saat memberikan alamat tempatnya berada. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Wiston mematikan ponselnya. Dia mengambil dan mengumpulkan pakaiannya lalu memakainya dengan cepat. Sebelum pergi, Wiston juga mengambil pakaian Bride lalu melemparkannya ke pangkuan wanita itu. “Cepat pakai pakaianmu sebelum para pelayan datang ke sini dan melihatmu telanjang,” ujar Wiston lalu berbalik meninggalkan istrinya begitu saja. Bride meremas pakaian yang ada di pangkuannya dan menatap tajam kepergian Wiston. Setelah pria itu tidak terlihat lagi dari pandangannya, tangis Bride pecah. Hinaan apalagi yang harus dia terima dari

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 258. Pelampiasan Rasa Marah

    “Apakah kamu sudah mengikuti kegiatan Catelyn? Cari kesempatan agar kamu bisa membawa wanita itu padaku,” ucap Wiston pada anak buahnya. “Setiap hari Catelyn mengantar anaknya ke sekolah tanpa Aaron bersamanya. Namun dia tidak pernah turun dari mobil, sangat susah untuk mendapatkannya,” tutur pria di depan Wiston. “Akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Ikuti terus kegiatan Catelyn, jika dia turun dari mobil untuk belanja atau melakukan kegiatan lain, langsung bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat wanita itu bunuh diri di depanku sama seperti Papa yang mati di depan mataku,” geram Wiston. “Baik Tuan, saya akan terus mengikuti Catelyn. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung mengabarkannya pada Anda.” Pulang dari pekerjaan, hati Wiston penuh dengan kekesalan karena anak buahnya belum bisa mendapatkan Catelyn. Dia membanting pintu rumah dan berjalan menuju kamar, tapi dia ingat jika dia ti

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 257. Sedikit Merasakan Kebebasan

    Lagi-lagi air mata Bride meleleh keluar karena tidak bisa menghindari penyatuan pria itu. Setiap hentakan yang Wiston lakukan, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia semakin marah ketika tubuhnya tidak bisa menolak pria itu, tapi malah menikmati setiap gerakannya. Bride kembali menggigit bibir agar Wiston tidak mendengar isak tangisnya. Setiap hujaman dan hentakan pria itu, meneteskan air mata yang meleleh panas. Wiston yang tidak tahu isi hati Bride terus bergerak menikmati celah sempit yang hangat dan lembut milik istrinya. Erangan Wiston mulai terdengar di telinga Bride, sebagai tanda jika pria itu sangat menikmati gerakannya. Ingin sekali dia menutup telinga karena erangan pria itu menandakan jika dirinya memberi kenikmatan pada pria yang semena-mena terhadapnya. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena tangan Wiston menggenggam tangannya dan menempelkannya di dinding kamar mandi, terlentang di sebelah ka

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 256. Mulai Mengenal Ekspresinya

    Wiston menunda pertemuan pentingnya karena tiba-tiba dia ingin pulang, memeriksa keadaan Bride. Bukan karena dia peduli dengan wanita itu, tapi dia ingin memastikan jika Bride mengikuti aturannya. Makan minum dengan baik dan istirahat yang cukup agar wanita itu cepat hamil. “Sedang apa dia?” tanya Wiston pada pelayannya setelah sampai rumah. “Sedang mandi Tuan, saya juga sudah membawakan makanannya untuk Nona Bride,” jawab pelayan tersebut. Wiston kemudian pergi ke kamar, tapi merasa aneh karena keadaannya begitu sepi. “Bride ...!” panggil Wiston, tapi tidak ada jawaban. “Bride ...!” panggilnya lagi. Wiston mendekati pintu kamar mandi dan menggedornya tapi tidak ada tanda-tanda Bride akan membuka pintunya. “Bride! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya sekarang!” seru Wiston. Dia menunggu untuk beberapa

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 255. Kehormatan Terenggut

    Dinding tipis yang menjaga kehormatannya selama ini, runtuh seketika. Inti milik Wiston yang menghantamnya seperti bom meluluh lantahkan dinding itu. Bercak merah menodai sprei sutra berwarna putih yang menjadi alas kedua tubuh yang sedang menyatu itu. Rasa jijik menelusup dalam diri Bride ketika pria itu berhasil mengambil kehormatannya. Dia membuang muka menghindari tatapan Wiston dengan milik pria itu yang masih menyatu di dalam inti miliknya, tubuh kekar pria itu menindihnya membuatnya tak mampu menghindar. Tahu jika Bride menatapnya dengan jijik, Wiston mencengkram rahang wanita itu dan memaksa Bride untuk menatapnya. “Lihat aku! Aku suamimu, kamu tidak punya hak untuk menolakku. Mengerti kamu?” geram Wiston dengan segala kemarahan dalam dirinya. Bride mengangguk takut sambil mencucurkan air mata, menatap pria itu. Tubuhnya bergerak di bawah kungkungan tubuh Wiston ketika pri

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 254. Jangan Membuatku Marah

    “Tapi aku sudah mendaftar untuk melanjutkan semesterku tahun ajaran ini, tidak mungkin aku membatalkannya.” Air mata Bride mengalir dari pelupuk matanya. “Papa sudah menandatangani surat persetujuan jika Papa sebagai wali telah setuju jika kamu menikah dengan Tuan Wiston, jadi ikuti saja apa yang Tuan Wiston katakan.” “Tapi Pa ...” Belum sempat Bride menyelesaikan pembicaraannya dengan papanya, Wiston telah merebut ponsel itu dan mematikan panggilannya. Dia kemudian menyerahkan ponsel itu pada pelayannya. “Sekarang ikut aku!” ujar Wiston mencengkeram lengan Bride dan menyeret wanita itu untuk duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Di depannya terdapat dokumen yang harus dia tandatangani. Wiston mengambil pena dari kantong baju dan meletakkannya di hadapan Bride. “Tanda tangani ini!” perintah Wiston. “Tidak ...! Aku tidak ingin menikah denganmu,” seru Bride m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status