MasukDua minggu kemudian, Arsen diperbolehkan pulang ke Mahardika Mansion untuk melanjutkan masa pemulihannya di rumah, dengan pengawasan dokter pribadi. Kembali ke tempat yang dulunya terasa seperti penjara bagi Alya, kini terasa berbeda. Udara di dalam rumah itu tidak lagi terasa kaku dan penuh tekanan, meski pengawasan keamanan tetap diperketat untuk mencegah serangan balasan dari pihak yang tersisa. Arsen berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, meski ia sering menolak menggunakannya dan berusaha terlihat kuat. Namun Alya selalu mengingatkannya agar tidak memaksakan diri, menunjukkan perhatian yang semakin hari semakin terlihat jelas. “Kau harus istirahat lebih banyak, Arsen,” tegur Alya saat melihat suaminya itu masih duduk di meja kerja meneliti laporan perusahaan. “Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Dokter bilang terlalu banyak berpikir bisa membuat tekanan darahmu naik.” Arsen menoleh, lalu tersenyum tipis, senyum yang kini terasa lebih alami
Selama tujuh hari berikutnya, Arsen menghabiskan waktunya terbaring di tempat tidur rumah sakit, meski kondisi fisiknya mulai membaik dengan cepat. Namun ia tidak pernah diam saja. Bahkan saat terbaring lemah, ia tetap memimpin operasi pencarian dan pengumpulan bukti melalui Dante, bukan Dante yang berkhianat, melainkan tim pengawas khusus yang ia bentuk bertahun-tahun lalu sebagai cadangan jika terjadi pengkhianatan dari dalam. Kabar tentang kebenaran perlahan mulai disebarkan secara hati-hati. Dokumen asli yang ditemukan di tempat persembunyian Dante berhasil membuktikan bahwa Bima Prasetyo tidak bersalah dalam kasus korupsi lima belas tahun lalu. Sebaliknya, dokumen itu menunjukkan bahwa Selena dan ayahnya sendiri yang mencuri dana dan memalsukan bukti untuk menghindari tanggung jawab. Suatu sore, Bima dan Ratna datang berkunjung ke ruang perawatan. Suasana terasa canggung pada awalnya, mengingat selama ini hubungan mereka terjalin dalam ke
Sementara Arsen berjuang mempertahankan nyawanya di ruang perawatan, kekacauan di luar masih berlanjut. Kabar tentang serangan, penculikan, dan pengkhianatan di lingkaran tertinggi keluarga Mahardika menyebar dengan cepat, meski berusaha dibungkam oleh tim keamanan. Namun Arsen memiliki jaringan yang luas, dan kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya.Di ruang kerja sementara yang aman di lantai atas rumah sakit, Alya duduk bersama Bima dan Ratna, ditemani oleh sejumlah pengawal setia yang kini menjaga mereka dengan ketat. Salah satu asisten lama Arsen, yang baru saja tiba dengan laporan terbaru, melangkah masuk dengan wajah serius.“Nyonya Alya, Tuan Bima,” sapanya sopan. “Kami telah mengamankan lokasi kejadian. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi penting mengenai keberadaan Dante dan Selena, serta motif sebenarnya di balik pengkhianatan mereka.”“Katakan saja,” perintah Alya dengan nada tegas, mencoba meniru ketegasan Arsen agar dirinya terlihat mampu menghadapi situas
Hujan deras mengguyur wilayah pinggiran kota sejak sore, mengubah jalanan menjadi sungai lumpur dan menutupi suara apa pun di luar pagar tinggi gudang tua itu. Udara terasa dingin, bercampur bau besi berkarat, minyak tanah, dan samar-samar bau logam basah yang hanya bisa dikenali sebagai bau darah.Di dalam ruangan utama yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu sorot yang berkedip-kedip, suasana terasa mencekam. Arsen Alvero Mahardika bersandar pada tiang penyangga beton, tubuhnya terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Sebuah luka tembus di sisi perutnya masih mengeluarkan darah, merembes membasahi kain kemeja hitam yang sudah lusuh dan kotor. Namun rasa sakit itu terasa jauh lebih kecil dibandingkan rasa takut yang mencengkeram dadanya saat ia melihat Alya tergeletak tak sadarkan diri di lantai beberapa meter di depannya.“Alya…” gumamnya, suaranya serak dan napasnya memburu. Ia mencoba melangkah maju, tapi kakinya terasa lemas. Setiap gerakan membuat rasa nyeri di
Dengan berakhirnya pertarungan, waktunya tiba untuk mengungkapkan seluruh kebenaran secara terbuka, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk membersihkan nama baik semua pihak yang telah terjebak dalam kebohongan selama bertahun-tahun. Semua bukti yang dikumpulkan. Dokumen, rekaman, dan kesaksian, disusun rapi. Arsen memutuskan untuk menyerahkan sebagian besar bukti yang bersifat hukum kepada pihak berwenang yang dapat dipercaya, sementara yang berkaitan dengan urusan internal akan diselesaikan secara adil tanpa melibatkan kekerasan lagi. Suatu sore, di ruang kerja yang kini terasa lebih damai, Arsen, Alya, Bima, dan Ratna berkumpul kembali untuk membaca bersama seluruh isi dokumen yang disimpan Nyonya Elvira 15 tahun lalu. Di dalamnya terdapat rincian yang sangat jelas mengenai rencana pembunuhan, nama-nama yang terlibat, serta alasan mengapa mereka ingin menjatuhkan Nyonya Elvira. Ternyata, selain ambisi ke
Penangkapan Selena dan Dante tidak berjalan mulus tanpa perlawanan. Begitu berita ditangkapnya kedua pemimpin itu menyebar ke jaringan bawah tanah, kelompok pendukung mereka yang masih tersisa segera mengamuk dan melancarkan serangan balasan untuk membebaskan mereka atau setidaknya menghancurkan Arsen dan semua yang menjadi miliknya. Selama tiga hari berturut-turut, terjadi pertempuran sengit di berbagai tempat. Gudang penyimpanan, kantor cabang, hingga jalan-jalan sepi di pinggiran kota menjadi medan pertempuran. Arsen memimpin pasukannya sendiri, bergerak dengan strategi yang matang, namun tetap harus waspada terhadap serangan mendadak. Di tengah kekacauan itu, Alya tetap berada di tempat persembunyian yang aman, namun ia merasa tidak tenang hanya berdiam diri. Ia ingin membantu, ingin menjadi bagian dari perjuangan ini, bukan hanya menjadi beban yang harus dilindungi. Suatu sore, saat Arsen sedang memimpin pasukan untuk merebut kembali salah satu mar
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin
Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.
Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya
Malam di Mahardika Mansion tidak pernah benar-benar sunyi. Alya baru saja selesai bekerja di ruang kerjanya, menutup sketsa desain yang sudah ia kerjakan berjam-jam.Saat ia berjalan menuju kamar utama, langkahnya terhenti mendengar suara kendaraan berhenti mendadak di depan gerbang. Diikuti suara







