Share

Pilihan Alya

Author: Mentari Senja
last update publish date: 2026-08-27 08:34:06

Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional.

Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Rumah Sang Predator

    Tujuh bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi Mahardika Mansion untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang rumah besar itu. Ratih Alya Mahardika, dinamai sesuai kesepakatan yang telah dibuat orang tuanya jauh sebelum kelahirannya, lahir sehat di sebuah pagi musim hujan, disambut air mata bahagia dari kedua orang tuanya yang telah menantikan kehadirannya dengan penuh cinta. Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang masih lemah namun berbinar bahagia, matanya tak lepas dari sosok mungil yang kini terbaring damai dalam pelukannya. "Dia cantik banget," bisik Arsen, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Persis kayak kamu." "Matanya kayak kamu," Alya membalas lembut, tersenyum menatap suaminya yang tak sanggup mengalihkan pandangan dari putri kecil mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Alvero Mahardika, pria yang dulu dijuluki predator karena kedinginan dan ketegasannya yang tak kenal ampun, merasakan kerapuhan yang begitu murni, begit

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Cinta Tanpa Permainan

    Enam bulan berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Alya dari Milan akhirnya tiba. Arsen berdiri di area kedatangan bandara, jantungnya berdebar penuh antisipasi menunggu istrinya muncul dari pintu kedatangan internasional, dikelilingi buket bunga anggrek putih besar yang telah ia siapkan khusus untuk menyambutnya. Ketika akhirnya Alya muncul, mendorong troli berisi koper-koper besar, wajahnya langsung berbinar melihat sosok Arsen yang menunggu dengan senyum lebar dan buket bunga di tangan. "Arsen!" Alya berlari kecil meninggalkan trolinya, menghambur ke pelukan suaminya yang telah lama ia rindukan. Arsen menangkapnya erat, memutar tubuhnya sedikit di udara sebelum menurunkannya kembali, mencium bibirnya dengan penuh kerinduan yang telah terpendam selama berbulan-bulan. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya di sela ciuman mereka. "Aku juga," Alya membalas, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Enam bulan itu lama banget rasanya." Dalam perjalanan pulang menuju m

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pilihan Alya

    Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional. Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi kegembiraan sekaligus kebingungan. Proyek itu membutuhkan waktu enam bulan penuh di Italia, waktu yang berarti ia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan Arsen, meninggalkan kehidupan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah. "Kamu kelihatan bingung," suara Arsen mengejutkannya dari ambang pintu, membawa dua cangkir teh sore seperti kebiasaan mereka belakangan ini. "Aku dapet tawaran kerja," Alya menyerahkan ponselnya, membiarkan Arsen membaca email itu sendiri. "Proyek besar

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Predator yang Berlutut

    Tiga bulan berlalu sejak vonis Damar dijatuhkan, dan kehidupan di Mahardika Mansion telah menemukan kedamaian yang jauh lebih stabil dari yang pernah Alya bayangkan bisa ia miliki. Yayasan sosial atas nama Ratih Mahardika resmi diluncurkan bulan lalu, dengan Alya turut membantu merancang pusat kegiatan bagi anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Pagi itu, Arsen bangun lebih awal dari biasanya, gelisah dengan sesuatu yang telah ia rencanakan diam-diam selama beberapa minggu terakhir. Ia mengintip ke kamar sebelah, memastikan Alya masih tertidur pulas, sebelum menyelinap keluar untuk menemui Dante yang sudah menunggunya di ruang kerja. "Semua udah disiapin, Bos?" Dante bertanya, menyerahkan sebuah folder tipis berisi rincian rencana yang telah mereka susun bersama. "Hampir," Arsen membuka folder itu, memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. "Aku cuma butuh pastiin semuanya sempurna. Ini kesempatan aku buat nebus semua kesalahan awal pernikahan kita." Rencana

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Tidak Lagi Terperangkap

    Dua bulan setelah persidangan Damar Vardian dimulai, hakim akhirnya menjatuhkan vonis, dua puluh tahun penjara, hukuman yang dianggap adil oleh sebagian besar publik yang telah mengikuti kasus itu dengan saksama sejak awal. Arsen menghadiri sidang pembacaan vonis itu bersama Alya, duduk berdampingan di kursi pengunjung, tangan mereka saling menggenggam erat sepanjang persidangan. Damar tidak menoleh sekali pun ke arah mereka saat vonis dibacakan, matanya menatap kosong ke depan, seolah sudah menerima nasibnya jauh sebelum palu hakim diketuk. Ketika petugas membawanya keluar ruang sidang, untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Arsen, dan dalam tatapan singkat itu, tersirat sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang tak pernah terucap. "Kamu nggak apa-apa?" Alya bertanya pelan begitu mereka keluar dari gedung pengadilan, disambut kerumunan wartawan yang segera diusir menjauh oleh tim keamanan. "Aku baik," Arsen mengangguk, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang be

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Dunia Baru

    Satu bulan setelah malam mencekam di Cakung, kehidupan di Mahardika Mansion perlahan menemukan ritme barunya, ritme yang jauh lebih tenang, jauh lebih hangat dari yang pernah Alya bayangkan bisa terjadi di rumah yang dulu terasa seperti benteng dingin dan penuh rahasia. Persidangan Damar Vardian telah dimulai, disorot ketat oleh media yang kini bersimpati penuh pada keluarga Mahardika. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum, ditambah kesaksian Bima yang jujur dan terperinci, membuat kemungkinan besar Damar akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian kecil dari Alya merasa iba pada pria itu, korban dari kebencian dan kesetiaan yang salah arah selama lima belas tahun, tapi ia juga tahu, keadilan harus tetap ditegakkan bagi semua yang telah ia korbankan demi ambisinya. Ia membaca laporan berita pagi itu di ponselnya, foto Damar yang diborgol digiring memasuki ruang sidang, wajahnya jauh berbeda dari sosok tenang dan terkendali yang pernah menyanderanya beberapa minggu

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Mansion yang Terlalu Sunyi

    Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pernikahan Tanpa Pilihan

    Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status