Beranda / Romansa / Terperangkap Nafsu Sang Predator / Mansion yang Terlalu Sunyi

Share

Mansion yang Terlalu Sunyi

Penulis: Mentari Senja
last update Tanggal publikasi: 2026-04-13 18:35:10

Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

Arsen.

Pria yang baru beberapa jam lalu, resmi menjadi suaminya. Dan kini pergi seolah pernikahan mereka hanyalah agenda bisnis yang sudah selesai.

Alya menghela nafas pelan, "Hebat sekali. Hari pertama menikah, suamiku bahkan tidak peduli aku hidup atau mati."

Kamar itu terlalu luas untuk seseorang, yang baru saja kehilangan kebebasannya. Langit-langit yang tinggi, dengan lampu kristal besar di tengah ruangan. Tempat tidur king size, dengan sprei hitam yang terlihat begitu mahal, namun terasa dingin.

Tirai besar yang menutupi jendela, menjuntai panjang sampai ke lantai. Semuanya tampak sempurna, tapi tidak terasa seperti sebuah rumah. Semuanya terasa lebih seperti sebuah sangkar emas.

Alya berjalan pelan ke tengah ruangan, ia melepas sepatu heels yang sejak tadi membuat kakinya terasa sakit. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya, sekarang terasa begitu berat.

Ia berdiri di depan cermin besar, pantulan dirinya terlihat begitu asing.

"Nyonya Mahardika," gumamnya yang hampir tertawa kecil.

Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar.

Tok. Tok. Tok.

Alya menoleh, "Masuk."

Tak lama pintu terbuka perlahan, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah yang begitu sopan. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu.

"Selamat malam, Nyonya. Saya Mira, kepala pelayan di mansion ini."

Alya menatap wanita itu beberapa detik, sebelum akhirnya ia menjawab.

"Nyonya?"

"Iya, karena sekarang anda adalah nyonya saya," ucap kepala pelayan tersebut.

Alya tersenyum manis, "Panggil saja saya, Alya.

Mira terlihat sedikit ragu, "Mohon maaf, Nyonya. Tapi saya tidak berani."

Alya menghela nafas pelan, tentu saja Mira tidak berani, karena di rumah ini panggilan pun memiliki aturan.

"Baiklah, terserah kamu saja. Ada apa?"

"Saya hanya ingin memastikan, bahwa anda baik-baik saja. Jika anda membutuhkan sesuatu, para pelayan siap membantu anda, Nyonya," jelas Mira.

Alya kembali menatap wanita itu dengan sedikit rasa penasaran, "Ada berapa banyak pelayan yang bekerja di rumah ini?"

"Sekitar dua puluh orang, Nyonya," jawab Mira.

"Dan penjaga bersenjata?" tanya Alya kembali.

Mira tampak terkejut dengan pertanyaan itu, namun ia tetap menjawab dengan begitu hati-hati.

"Itu hanya urusan keamanan, Nyonya."

Alya tersenyum tipis, "Jadi benar ya, penjaga bersenjata memang ada?"

Mira tidak membantah, seketika suasana menjadi hening. Alya berjalan mendekati jendela besar, lalu menyingkap sedikit tirai yang panjang itu.

Dari lantai dua, halaman mansion terlihat luas. Lampu taman menyala dengan terang, di antara pepohonan yang tertata rapi.

Namun yang menarik perhatian Alya bukan taman itu, melainkan dua pria ber jas hitam yang berdiri di dekat gerbang. Dan mereka jelas membawa sebuah senjata.

"Seperti sebuah benteng," gumam Alya.

"Apa nyonya mengatakan sesuatu?"

"Oh, tidak ada apa-apa," ucapnya yang kembali menoleh pada Mira. "Apakah semua orang di rumah ini, selalu di jaga ketat?"

"Keamanan Tuan Arsen memang sangat ketat, Nyonya."

"Tuan Arsen," ulang Alya.

Ia masih belum terbiasa menyebut pria itu sebagi suaminya.

"Apakah dia sering pergi malam hari?"

Mira menunduk sedikit, "Tuan jarang menjelaskan tentang urusan pekerjaannya kepada kami."

Alya hanya tersenyum samar, "Baiklah."

Ia berjalan menuju tempat tidur, dan duduk di tepi ranjang. "Apa ada pakaian lain yang bisa aku pakai? Aku tidak bisa memakai gaun ini terus."

"Tentu saja, Nyonya. Lemari di kamar ini sudah di siapkan dengan pakaian dan juga keperluan anda yang lainnya."

Mira berjalan ke arah lemari besar, yang berada di sisi ruangan kemudian membukanya. Di dalamnya tersusun rapi puluhan gaun, pakai santai, bahkan sepatu dengan berbagai model.

"I-ini semua, milikku?"

"Benar, Nyonya. Ini semua sudah di persiapkan oleh Tuan Arsen, bahkan sebelum pernikahan anda di langsungkan."

Alya tidak tahu harus bereaksi seperti apa, "Dia bahkan juga memilih pakaianku?"

"Sepertinya begitu, Nyonya."

Alya berdiri dan mendekati lemari itu, tangannya menyentuh salah satu gaun berwarna krem, yang tergantung di sana.

Ukuran, gaya, bahkan warna. Semua terasa seperti sesuatu yang mungkin ia pilih sendiri.

"Dia bahkan tidak mengenalku," bisiknya.

Namun Mira menjawab dengan tenang, "Tuan Arsen selalu mengetahui apa yang ia inginkan."

Kalimat itu membuat Alya terdiam, akhirnya Mira membungkuk sedikit.

"Jika tidak ada yang di butuhkan lagi, saya akan pamit, Nyonya."

Alya mengangguk pelan, "Baiklah, terima kasih."

Setelah pintu tertutup, ruangan itu kembali sunyi. Alya menggantu gaun pengantinnya dengan gaun tidur sederhana, yang ada du dalam lemari.

Setelah berganti pakaian, Alya keluar dari kamar. Lorong mansion itu panjang dan terlihat begitu sepi.

Lampu dinding memancarkan cahaya redup, yang membuat bayangan tampak lebih panjang. Langkah Alya bergema pelan di lantai marmer.

Ia berjalan tanpa tujuan yang pasti, hanya ingin melihat seperti apa tempat yang kini menjadi rumahnya.

Di ujung lorong, sebuah pintu besar menarik perhatiannya. Pintu itu berbeda dari yang lain, lebih besar, lebih gelap, dan tampak terkunci.

Alya mendekatinya secara perlahan, ada sebuah panel sidik jari di samping pintu.

"Ruangan apa ini?" gumam Alya heran.

Ia mencoba memutar gagang pintu, namun pintu itu terkunci. Saat Alya hendak pergi, ada sebuah suara dari arah belakangnya.

"Tuan tidak suka, jika ada orang lain yang menyentuh pintu itu."

Alya tersentak dan langsung menoleh, seorang pria tinggi tengah berdiri beberapa langakah darinya.

Jas hitamnya rapi, wajahnya keras dengan tatapan yang begitu tajam.

"Aku tidak mendengar langkahmu," kata Alya pelan.

Pria itu tersenyum, "Saya Dante Wirawan."

"Apa kau penjaga rumah ini?"

"Saya bekerja untuk Tuan Arsen," jawab Dante begitu jelas.

Alya langsung menyilangkan tangan di dada, "Dan tugasmu, apa juga untuk mengawasi aku?"

"Keamanan anda adalah prioritas bagi kami," jawab Dante sambil menundukkan kepalanya.

Alya tertawa kecil, "Tapi, kedengarannya seperti sebuah penjara yang sopan."

"Jika Tuan Arsen ingin memenjarakan seseorang, caranya akan jauh lebih sederhana."

Kalimat itu seketika langsung membuat Alya menatap Dante dengan tajam, "Apa dengan sebuah ancaman?"

"Lebih tepatnya, Tuan Arsen akan memenjarakan seseorang dengan sebuah fakta yang dia dapatkan."

Setelah berkata seperti itu, Dante langsung menoleh ke arah pintu besar itu.

"Akan lebih baik, jika anda kembali ke kamar sekarang. Nyonya."

"Tapi kenapa?"

"Karena beberapa tempat di rumah ini, tidak dimaksudkan untuk anda."

Alya mendekat satu langkah, "Semakin kau mengakatan itu, maka semakin besar rasa penasaranku."

Alya bisa merasakan, bahwa tatapan Dante kini berubah menjadi semakin tajam.

"Asal anda tahu, Nyonya. Rasa penasaran selalu membawa masalah."

Alya tidak menjawab, namun dalam hatinya ia sudah mengetahui satu hal yang pasti. Rumah ini penuh dengan rahasia, dan Arsen jelas menyembunyikan sesuatu di balik semua kekuasaan itu.

Alya berbalik dan berjalan kembali kr arah kamarnya. Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah lorong panjang itu.

"Permainan macam apa yang kau mainkan, Arsen Mahardika?" bisiknya pelan.

Di luar, hujan masih turun. Dan di dalam mansion itu, Alya baru saja mengambil langkah pertama menuju dunia yang penuh dengan rahasia. Yaitu, dunia milik seorang predator.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Musuh Baru Muncul

    Bima dan Ratna Prasetyo tiba di Mahardika Mansion menjelang subuh, diantar oleh dua mobil lapis baja yang dikawal ketat sepanjang perjalanan dari Bandung. Wajah keduanya pucat, masih diselimuti syok setelah tim keamanan Arsen mendobrak masuk rumah mereka tengah malam, memberi waktu kurang dari sepuluh menit untuk berkemas sebelum dibawa pergi. Alya berlari menghambur memeluk ibunya begitu mobil berhenti di depan mansion. "Ibu nggak apa-apa?" "Ibu baik-baik saja, sayang," Ratna mengusap punggung putrinya, meski suaranya sendiri masih gemetar. "Cuma kaget. Orang-orang itu datang tiba-tiba, bilang rumah kita dalam bahaya." Bima berdiri agak jauh, menatap Arsen yang baru keluar dari pintu utama mansion dengan raut wajah dingin dan terkalkulasi. Ada ketegangan lama yang masih membekas di antara kedua pria itu, ketegangan yang belum pernah benar-benar terselesaikan sejak pernikahan paksa enam bulan lalu. "Terima kasih," ucap Bima kaku, "sudah jemput

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ancaman Terakhir

    Pesan itu datang tiga hari kemudian, dikirim langsung ke ponsel pribadi Alya, nomor yang seharusnya hanya diketahui oleh Arsen, Dante, dan segelintir orang kepercayaan di mansion. Kamu cantik sekali di foto itu, Nyonya Mahardika. Sayang sekali kalau harus rusak. Terlampir satu foto: Alya sedang berjalan keluar dari butik dekat Senayan, tiga hari lalu, saat ia diam-diam meminta izin keluar sebentar tanpa pengawalan penuh. Tangannya gemetar memegang ponsel. Ia langsung berlari ke ruang kerja Arsen, hampir menabrak salah satu penjaga di lorong. "Arsen!" Pria itu mendongak dari layar laptopnya, ekspresi berubah waspada begitu melihat wajah Alya yang pucat. "Ada apa?" Alya menyodorkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Arsen membaca pesan itu, rahangnya mengeras seketika, matanya menggelap seperti badai yang siap meledak. "Kapan ini masuk?" "Baru saja." Arsen langsung menekan interkom, memanggil Dante

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Tidak Akan Lari

    Berita itu menyebar lebih cepat dari yang siapa pun kira. Layar televisi di ruang keluarga Mahardika Mansion menyala sejak pagi, menampilkan wajah Arsen dalam sorotan kamera wartawan yang berdesakan di depan gedung Mahardika Corporation. Judul berita berganti-ganti, tapi intinya sama: rahasia yang selama ini dikubur rapat, kini terbongkar ke publik. Alya berdiri di ambang pintu, menatap layar itu dengan dada sesak. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Arsen sendiri yang bilang, malam sebelum semuanya meledak, bahwa ia akan membiarkan dunia tahu siapa dirinya sebenarnya, bukan lagi bersembunyi di balik topeng pengusaha sukses. "Kamu nggak perlu nonton itu," suara Dante terdengar dari belakangnya. Pria itu baru datang, jasnya masih basah oleh gerimis pagi. "Bakal bikin kepala pusing doang." "Aku cuma mau tahu seberapa buruk," jawab Alya pelan. "Buruk," Dante tidak berbasa-basi. "Tapi Bos udah siapin ini dari lama. Dia bukan tipe yang main t

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Perjalanan ke Bandung terasa seperti mimpi buruk yang bergerak terlalu lambat. Mobil hitam Arsen melaju kencang di tol yang nyaris kosong tengah malam, dikawal dua kendaraan Dante di depan dan belakang. Alya duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram ponsel, mencoba menghubungi ibunya untuk kesekian kali. Tidak ada jawaban. "Kenapa nggak diangkat," gumamnya, suara panik mulai merayap masuk meski ia berusaha menahannya. "Bisa jadi sinyal terputus," kata Arsen, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Tangannya di setir mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Atau bisa jadi..." "Jangan," potong Arsen tegas, sekilas menoleh padanya. "Jangan pikirkan yang terburuk sebelum kita sampai di sana." Alya menahan napas, menelan ketakutan yang mengancam meledak jadi air mata. Ia menatap keluar jendela, kegelapan jalan tol yang berkelebat cepat, dan mencoba mengingat kembali kata-kata Arsen semalam.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Malam Pengakuan

    Ruang rapat Mahardika Corporation masih berbau darah dan tinta printer. Alya berdiri di ambang pintu, memandangi kekacauan yang tersisa dari pertemuan dewan direksi tadi siang, kertas berserakan, satu kursi terguling, dan noda merah kering di sudut meja kaca yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu persis apa yang terjadi di sana. Satu orang kepercayaan Selena tewas sebelum sempat membuka mulut. "Kamu seharusnya istirahat," suara Arsen datang dari belakang, berat dan pelan, seperti biasa saat ia lelah tapi menolak mengakuinya. Alya berbalik. Arsen berdiri dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dan ada bercak darah kering di pergelangan tangan kanan yang belum sempat ia cuci. Bukan darahnya sendiri. "Aku nggak bisa tidur selama ada mayat di ruang rapat kantor kita, Arsen." "Sudah dibereskan." Ia melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Alya seolah mencari retakan yang bisa ia perbaiki. "Yang belum dibereskan adalah kepalamu. Kamu mikirin sesuatu." Alya tidak menj

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kejatuhan Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kontrak Pernikahan

    Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Dunia yang Tidak Alya Kenal

    Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status