LOGINHujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.
Arsen. Pria yang baru beberapa jam lalu, resmi menjadi suaminya. Dan kini pergi seolah pernikahan mereka hanyalah agenda bisnis yang sudah selesai. Alya menghela nafas pelan, "Hebat sekali. Hari pertama menikah, suamiku bahkan tidak peduli aku hidup atau mati." Kamar itu terlalu luas untuk seseorang, yang baru saja kehilangan kebebasannya. Langit-langit yang tinggi, dengan lampu kristal besar di tengah ruangan. Tempat tidur king size, dengan sprei hitam yang terlihat begitu mahal, namun terasa dingin. Tirai besar yang menutupi jendela, menjuntai panjang sampai ke lantai. Semuanya tampak sempurna, tapi tidak terasa seperti sebuah rumah. Semuanya terasa lebih seperti sebuah sangkar emas. Alya berjalan pelan ke tengah ruangan, ia melepas sepatu heels yang sejak tadi membuat kakinya terasa sakit. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya, sekarang terasa begitu berat. Ia berdiri di depan cermin besar, pantulan dirinya terlihat begitu asing. "Nyonya Mahardika," gumamnya yang hampir tertawa kecil. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar. Tok. Tok. Tok. Alya menoleh, "Masuk." Tak lama pintu terbuka perlahan, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah yang begitu sopan. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu. "Selamat malam, Nyonya. Saya Mira, kepala pelayan di mansion ini." Alya menatap wanita itu beberapa detik, sebelum akhirnya ia menjawab. "Nyonya?" "Iya, karena sekarang anda adalah nyonya saya," ucap kepala pelayan tersebut. Alya tersenyum manis, "Panggil saja saya, Alya. Mira terlihat sedikit ragu, "Mohon maaf, Nyonya. Tapi saya tidak berani." Alya menghela nafas pelan, tentu saja Mira tidak berani, karena di rumah ini panggilan pun memiliki aturan. "Baiklah, terserah kamu saja. Ada apa?" "Saya hanya ingin memastikan, bahwa anda baik-baik saja. Jika anda membutuhkan sesuatu, para pelayan siap membantu anda, Nyonya," jelas Mira. Alya kembali menatap wanita itu dengan sedikit rasa penasaran, "Ada berapa banyak pelayan yang bekerja di rumah ini?" "Sekitar dua puluh orang, Nyonya," jawab Mira. "Dan penjaga bersenjata?" tanya Alya kembali. Mira tampak terkejut dengan pertanyaan itu, namun ia tetap menjawab dengan begitu hati-hati. "Itu hanya urusan keamanan, Nyonya." Alya tersenyum tipis, "Jadi benar ya, penjaga bersenjata memang ada?" Mira tidak membantah, seketika suasana menjadi hening. Alya berjalan mendekati jendela besar, lalu menyingkap sedikit tirai yang panjang itu. Dari lantai dua, halaman mansion terlihat luas. Lampu taman menyala dengan terang, di antara pepohonan yang tertata rapi. Namun yang menarik perhatian Alya bukan taman itu, melainkan dua pria ber jas hitam yang berdiri di dekat gerbang. Dan mereka jelas membawa sebuah senjata. "Seperti sebuah benteng," gumam Alya. "Apa nyonya mengatakan sesuatu?" "Oh, tidak ada apa-apa," ucapnya yang kembali menoleh pada Mira. "Apakah semua orang di rumah ini, selalu di jaga ketat?" "Keamanan Tuan Arsen memang sangat ketat, Nyonya." "Tuan Arsen," ulang Alya. Ia masih belum terbiasa menyebut pria itu sebagi suaminya. "Apakah dia sering pergi malam hari?" Mira menunduk sedikit, "Tuan jarang menjelaskan tentang urusan pekerjaannya kepada kami." Alya hanya tersenyum samar, "Baiklah." Ia berjalan menuju tempat tidur, dan duduk di tepi ranjang. "Apa ada pakaian lain yang bisa aku pakai? Aku tidak bisa memakai gaun ini terus." "Tentu saja, Nyonya. Lemari di kamar ini sudah di siapkan dengan pakaian dan juga keperluan anda yang lainnya." Mira berjalan ke arah lemari besar, yang berada di sisi ruangan kemudian membukanya. Di dalamnya tersusun rapi puluhan gaun, pakai santai, bahkan sepatu dengan berbagai model. "I-ini semua, milikku?" "Benar, Nyonya. Ini semua sudah di persiapkan oleh Tuan Arsen, bahkan sebelum pernikahan anda di langsungkan." Alya tidak tahu harus bereaksi seperti apa, "Dia bahkan juga memilih pakaianku?" "Sepertinya begitu, Nyonya." Alya berdiri dan mendekati lemari itu, tangannya menyentuh salah satu gaun berwarna krem, yang tergantung di sana. Ukuran, gaya, bahkan warna. Semua terasa seperti sesuatu yang mungkin ia pilih sendiri. "Dia bahkan tidak mengenalku," bisiknya. Namun Mira menjawab dengan tenang, "Tuan Arsen selalu mengetahui apa yang ia inginkan." Kalimat itu membuat Alya terdiam, akhirnya Mira membungkuk sedikit. "Jika tidak ada yang di butuhkan lagi, saya akan pamit, Nyonya." Alya mengangguk pelan, "Baiklah, terima kasih." Setelah pintu tertutup, ruangan itu kembali sunyi. Alya menggantu gaun pengantinnya dengan gaun tidur sederhana, yang ada du dalam lemari. Setelah berganti pakaian, Alya keluar dari kamar. Lorong mansion itu panjang dan terlihat begitu sepi. Lampu dinding memancarkan cahaya redup, yang membuat bayangan tampak lebih panjang. Langkah Alya bergema pelan di lantai marmer. Ia berjalan tanpa tujuan yang pasti, hanya ingin melihat seperti apa tempat yang kini menjadi rumahnya. Di ujung lorong, sebuah pintu besar menarik perhatiannya. Pintu itu berbeda dari yang lain, lebih besar, lebih gelap, dan tampak terkunci. Alya mendekatinya secara perlahan, ada sebuah panel sidik jari di samping pintu. "Ruangan apa ini?" gumam Alya heran. Ia mencoba memutar gagang pintu, namun pintu itu terkunci. Saat Alya hendak pergi, ada sebuah suara dari arah belakangnya. "Tuan tidak suka, jika ada orang lain yang menyentuh pintu itu." Alya tersentak dan langsung menoleh, seorang pria tinggi tengah berdiri beberapa langakah darinya. Jas hitamnya rapi, wajahnya keras dengan tatapan yang begitu tajam. "Aku tidak mendengar langkahmu," kata Alya pelan. Pria itu tersenyum, "Saya Dante Wirawan." "Apa kau penjaga rumah ini?" "Saya bekerja untuk Tuan Arsen," jawab Dante begitu jelas. Alya langsung menyilangkan tangan di dada, "Dan tugasmu, apa juga untuk mengawasi aku?" "Keamanan anda adalah prioritas bagi kami," jawab Dante sambil menundukkan kepalanya. Alya tertawa kecil, "Tapi, kedengarannya seperti sebuah penjara yang sopan." "Jika Tuan Arsen ingin memenjarakan seseorang, caranya akan jauh lebih sederhana." Kalimat itu seketika langsung membuat Alya menatap Dante dengan tajam, "Apa dengan sebuah ancaman?" "Lebih tepatnya, Tuan Arsen akan memenjarakan seseorang dengan sebuah fakta yang dia dapatkan." Setelah berkata seperti itu, Dante langsung menoleh ke arah pintu besar itu. "Akan lebih baik, jika anda kembali ke kamar sekarang. Nyonya." "Tapi kenapa?" "Karena beberapa tempat di rumah ini, tidak dimaksudkan untuk anda." Alya mendekat satu langkah, "Semakin kau mengakatan itu, maka semakin besar rasa penasaranku." Alya bisa merasakan, bahwa tatapan Dante kini berubah menjadi semakin tajam. "Asal anda tahu, Nyonya. Rasa penasaran selalu membawa masalah." Alya tidak menjawab, namun dalam hatinya ia sudah mengetahui satu hal yang pasti. Rumah ini penuh dengan rahasia, dan Arsen jelas menyembunyikan sesuatu di balik semua kekuasaan itu. Alya berbalik dan berjalan kembali kr arah kamarnya. Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah lorong panjang itu. "Permainan macam apa yang kau mainkan, Arsen Mahardika?" bisiknya pelan. Di luar, hujan masih turun. Dan di dalam mansion itu, Alya baru saja mengambil langkah pertama menuju dunia yang penuh dengan rahasia. Yaitu, dunia milik seorang predator.Tujuh bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi Mahardika Mansion untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang rumah besar itu. Ratih Alya Mahardika, dinamai sesuai kesepakatan yang telah dibuat orang tuanya jauh sebelum kelahirannya, lahir sehat di sebuah pagi musim hujan, disambut air mata bahagia dari kedua orang tuanya yang telah menantikan kehadirannya dengan penuh cinta. Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang masih lemah namun berbinar bahagia, matanya tak lepas dari sosok mungil yang kini terbaring damai dalam pelukannya. "Dia cantik banget," bisik Arsen, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Persis kayak kamu." "Matanya kayak kamu," Alya membalas lembut, tersenyum menatap suaminya yang tak sanggup mengalihkan pandangan dari putri kecil mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Alvero Mahardika, pria yang dulu dijuluki predator karena kedinginan dan ketegasannya yang tak kenal ampun, merasakan kerapuhan yang begitu murni, begit
Enam bulan berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Alya dari Milan akhirnya tiba. Arsen berdiri di area kedatangan bandara, jantungnya berdebar penuh antisipasi menunggu istrinya muncul dari pintu kedatangan internasional, dikelilingi buket bunga anggrek putih besar yang telah ia siapkan khusus untuk menyambutnya. Ketika akhirnya Alya muncul, mendorong troli berisi koper-koper besar, wajahnya langsung berbinar melihat sosok Arsen yang menunggu dengan senyum lebar dan buket bunga di tangan. "Arsen!" Alya berlari kecil meninggalkan trolinya, menghambur ke pelukan suaminya yang telah lama ia rindukan. Arsen menangkapnya erat, memutar tubuhnya sedikit di udara sebelum menurunkannya kembali, mencium bibirnya dengan penuh kerinduan yang telah terpendam selama berbulan-bulan. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya di sela ciuman mereka. "Aku juga," Alya membalas, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Enam bulan itu lama banget rasanya." Dalam perjalanan pulang menuju m
Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional. Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi kegembiraan sekaligus kebingungan. Proyek itu membutuhkan waktu enam bulan penuh di Italia, waktu yang berarti ia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan Arsen, meninggalkan kehidupan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah. "Kamu kelihatan bingung," suara Arsen mengejutkannya dari ambang pintu, membawa dua cangkir teh sore seperti kebiasaan mereka belakangan ini. "Aku dapet tawaran kerja," Alya menyerahkan ponselnya, membiarkan Arsen membaca email itu sendiri. "Proyek besar
Tiga bulan berlalu sejak vonis Damar dijatuhkan, dan kehidupan di Mahardika Mansion telah menemukan kedamaian yang jauh lebih stabil dari yang pernah Alya bayangkan bisa ia miliki. Yayasan sosial atas nama Ratih Mahardika resmi diluncurkan bulan lalu, dengan Alya turut membantu merancang pusat kegiatan bagi anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Pagi itu, Arsen bangun lebih awal dari biasanya, gelisah dengan sesuatu yang telah ia rencanakan diam-diam selama beberapa minggu terakhir. Ia mengintip ke kamar sebelah, memastikan Alya masih tertidur pulas, sebelum menyelinap keluar untuk menemui Dante yang sudah menunggunya di ruang kerja. "Semua udah disiapin, Bos?" Dante bertanya, menyerahkan sebuah folder tipis berisi rincian rencana yang telah mereka susun bersama. "Hampir," Arsen membuka folder itu, memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. "Aku cuma butuh pastiin semuanya sempurna. Ini kesempatan aku buat nebus semua kesalahan awal pernikahan kita." Rencana
Dua bulan setelah persidangan Damar Vardian dimulai, hakim akhirnya menjatuhkan vonis, dua puluh tahun penjara, hukuman yang dianggap adil oleh sebagian besar publik yang telah mengikuti kasus itu dengan saksama sejak awal. Arsen menghadiri sidang pembacaan vonis itu bersama Alya, duduk berdampingan di kursi pengunjung, tangan mereka saling menggenggam erat sepanjang persidangan. Damar tidak menoleh sekali pun ke arah mereka saat vonis dibacakan, matanya menatap kosong ke depan, seolah sudah menerima nasibnya jauh sebelum palu hakim diketuk. Ketika petugas membawanya keluar ruang sidang, untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Arsen, dan dalam tatapan singkat itu, tersirat sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang tak pernah terucap. "Kamu nggak apa-apa?" Alya bertanya pelan begitu mereka keluar dari gedung pengadilan, disambut kerumunan wartawan yang segera diusir menjauh oleh tim keamanan. "Aku baik," Arsen mengangguk, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang be
Satu bulan setelah malam mencekam di Cakung, kehidupan di Mahardika Mansion perlahan menemukan ritme barunya, ritme yang jauh lebih tenang, jauh lebih hangat dari yang pernah Alya bayangkan bisa terjadi di rumah yang dulu terasa seperti benteng dingin dan penuh rahasia. Persidangan Damar Vardian telah dimulai, disorot ketat oleh media yang kini bersimpati penuh pada keluarga Mahardika. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum, ditambah kesaksian Bima yang jujur dan terperinci, membuat kemungkinan besar Damar akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian kecil dari Alya merasa iba pada pria itu, korban dari kebencian dan kesetiaan yang salah arah selama lima belas tahun, tapi ia juga tahu, keadilan harus tetap ditegakkan bagi semua yang telah ia korbankan demi ambisinya. Ia membaca laporan berita pagi itu di ponselnya, foto Damar yang diborgol digiring memasuki ruang sidang, wajahnya jauh berbeda dari sosok tenang dan terkendali yang pernah menyanderanya beberapa minggu
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya







