공유

Aturan Sang Tuan Rumah

작가: Mentari Senja
last update 게시일: 2026-04-13 18:35:48

Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah.

Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asing.

Sudah hampir satu jam, sejak ia ditinggal sendirian. Tak ada pelayan yang berbicara lebih dari sekedar anggukkan. Tak ada suara langkah, selain miliknya sendiri.

Bahkan jam dinding pun berdetak pelan, seolah takut menganggu sesuatu, atau mungkin seseorang.

“Ini rumah atau sebuah penjara?” gumamnya pelan.

“Kalau itu penjara, kamu tidak akan berdiri bebas seperti itu.”

Suara berat dan dalam itu muncul tiba-tiba dari belakang. Alya menoleh cepat, dan Arsen sudah berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan di gulung setengah.

Tatapannya terlihat lurus, tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang membuat Alya merasa seperti sedang di awasi dari dalam.

“Kenapa aku tidak mendengar kamu masuk?” kata Alya yang mencoba terdengar biasa.

"Aku tidak perlu membuat sebuah suara.”

Jawaban itu terlalu singkat dan dingin. Arsen berjalan mendekat dengan langkah yang terukur. Setiap langkahnya seolah memiliki tujuan, tanpa keraguan sedikit pun.

Ia berhenti tepat di hadapan Alya, jarak mereka terlalu dekat. Sehingga Alya bida mencium aroma maskulin, yang begitu tajam.

“Duduk,” ucap Arsen.

Alya menatapnya, dan tidak bergerak sama sekali. “Kalau aku tidak mau?”

Arsen tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Alya beberapa detik, lalu menarik sudut bibirnya tipis.

“Kalau kamu tidak mau, kita akan mulai dengan cara yang lebih sulit.”

Alya menghela nafas kesal, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan sedikit keras.

“Puas?”

Arsen tidak menanggapi sindiran itu, ia justru berjalan ke kursi di seberangnya. Dan duduk dengan posisi santai, tapi tetap terlihat tegas.

Tangannya menyatu di depan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Alya.

“Mulai hari ini,” katanya pelan. “Kamu tinggal di sini, di bawah atap ini, dengan namaku.”

Alya mendengus kesal, “Bukan karena aku...”

“Aku tidak peduli alasanmu,” potong Arsen cepat.

Alya langsung mengepalkan tangannya di atas paha, “Kalau begitu langsung saja, apa yang kamu inginkan dariku?”

Arsen memiringkan sedikit kepalanya, seolah ia sedang menikmati pertanyaan itu.

“Pertanyaan yang bagus.”

Ia berdiri dan berjalan perlahan mengelilingi meja, lalu mendekati Alya lagi. Tapi kali ini, Arsen berhenti tepat di sampingnya.

Alya bisa merasakan kehadirannya, yang seperti sebuah tekanan.

“Aku akan memberitahumu sebuah aturan,” ucapnya rendah.

Alya menoleh dan menatapnya tajam. “Dan jika suatu saat aku melanggar, apa yang akan kau lakukan padaku?”

Arsen menunduk sedikit, lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Alya. “Jangan coba-coba untuk melanggar aturan dariku, atau kau akan tau sendiri akibatnya.”

Suara itu begitu pelan, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Alya meremang.

Alya langsung menjauh dan berdiri. “Aku tidak suka di ancam.”

“Ini bukan ancaman, Alya. Tetapi ini sebuah peringatan untukmu,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Seketika suasana menjadi hening, hingga tak lama akhirnya Arsen mulai mengatakan aturan tersebut.

“Aturan pertama, kamu tidak boleh keluar dari mansion tanpa izin dariku. Kedua...”

Alya langsung menoleh, “Apa kamu serius? Aku ini bukan tahanan,” potongnya cepat.

“Dunia di luar tidak aman untuk seseorang, yang sekarang memakai namaku.”

“Itu masalahmu, dan bukan masalahku.”

“Kamu salah, Alya,” ucapnya. “Mereka akan menjadikanmu target, untuk bisa mencapaiku, atau bahkan menghancurkanku.”

Alya terdiam sejenak, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu dalam nada suara Arsen yang terdengar begitu nyata.

Bukan sekedar mengontrol, tapi ancaman yang memang benar-benar ada. Namun ia tetap mengangkat dagunya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Arsen tertawa pelan, seolah tawa itu sedang meremehkan Alya. “Aku tidak meragukannya, tapi itu saja tidak cukup. Dan aturan kedua, kamu tidak boleh masuk ke ruangan yang terkunci.”

Seketika Alya langsung teringat dengan pintu yang berada di lorong tadi.

“Kenapa? Apa kamu takut, jika aku menemukan sesuatu di sana?”

Arsen menatapnya lebih dalam, “Ya.”

Jawaban jujur itu, justru membuat Alya sedikit terkejut. “Jadi kamu memang menyembunyikan sesuatu?”

“Semua orang memang menyembunyikan sesuatu, Alya,” ucapnya lebih rendah. “Bedanya... milikku ini bisa saja membunuhmu.”

Jantung Alya berdetak lebih cepat, tapi ia tidak mau mundur. “Lalu, apa aturan yang ketiga?”ucapnya yang seolah sedang menantang.

Arsen kembali duduk dan langsung menyilangkan kaki.

“Kamu tidak boleh ikut campur dengan semua urusanku.”

Alya tertawa sinis, “Jika aku tidak boleh ikut campur dengan urusanmu, kenapa kamu menikahiku? Bukankah, itu bearti aku sudah berada di dalam urusanmu?”

Pertanyaan itu membuat Arsen diam sesaat, Alya bisa merasakan tatapannya berubah menjadi lebih tajam.

“Karena itu bagian dari rencanaku,”katanya pelan.

“Re-rencana apa?”

“Bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui sekarang.”

Alya langsung berdiri, “Jangan main-main denganku, karena aku bukan boneka.”

Arsen menatapnya lama, lalu berdiri dan jarak di antara mereka hilang.

“Aku tahu,” katanya begitu pelan.

Tangannya terangkat, dan hampir menyentuh wajah Alya.

Namun seketika langsung berhenti beberapa senti saja, seolah ia sedang menahan diri.

“Kalau kamu boneka,” lanjutnya. “Kamu tidak akan berani menatapku dengan tatapan seperti itu.”

Alya tidak berkedip, “Dan jika kamu berharap bahwa akun akan tunduk,” suaranya begitu tegas. “Kamu sudah salah memilih orang.”

Senyum tipis terlihat di wajah Arsen. Untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat seperti sebuah ketertarikan.

“Bagus.”

“Apanya yang bagus?” tanya Alya heran.

“Aku sangat tidak suka sesuatu yang begitu mudah di dapatkan.”

Kalimat itu membuat suasana berubah, bukan lagi sekedar perdebatan. Tapi sesuatu yang lebih berbahaya.

Alya mundur satu langkah, “Jangan berpikir, bahwa ini sebuah permainan?”

Saat Alya mundur, Arsen malah mendekat satu langkah. “Ini memang permainan.”

“Dan aku bukan bagian dari permainan ini.”

Arsen tersenyum tipis, “Kamu sudah berada di dalamnya, sejak kamu mengatakan ‘iya’di altar waktu itu.”

Kalimat itu seperti sebuah tamparan, Alya mengepalkan tangannya.

“Kalau bukan karena ayahku...”

“…kamu tidak akan pernah ada di sini.”

Arsen langsung menyelesaikan kalimat itu tanpa ragu.

Alya menatapnya dengan emosi yang mulai naik, “Aku tidak akan diam saja.”

“Silahkan saja melawan sesukamu,” ucapnya seolah menantang. “Tapi ingat satu hal, semakin kamu melawan, maka semakin membuat kamu masuk lebih dalam lagi.”

Jantung Alya berdetak cepat, ada sesuatu dalam cara Arsen berbicara. Bukan sekedar ancaman, tapi seperti sebuah janji. Dan itu lebih menakutkan.

“Aku tidak takut padamu,”ucap Alya.

Mendengar itu, Arsen langsung tersenyum. Kali ini senyumnya lebih jelas, dan lebih gelap dari biasanya.

“Kamu akan belajar.”

Ia berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya tenang, seolah percakapan tadi hanyalah hal kecil.

Namun sebelum benar-benar pergi, Arsen berhenti di ambang pintu.

Tanpa menoleh. Ia berkata. “Dan ada satu aturan lagi.”

Alya mengangkat alisnya, “Aturan apalagi?”

Arsen akhirnya menoleh, tatapannya kembali mengunci pada Alya.

“Jangan pernah mencoba untuk lari dari rumah ini. Karena saat aku menemukanmu, tangkapanku tidak akan sehalus hari ini.”

Setelah berkata seperti itu, pintu langsung tertutup pelan. Alya hanya bisa berdiam diri, nafasnya terasa berat.

Tangannya masih sedikit gemetar, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Gila,”bisiknya pelan.

Alya menoleh ke seluruh ruangan, mansion itu kembali sunyi. Tapi, seperti ada sesuatu yang sedang menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Alya sadar akan suatu hal. Ia tidak hanya menikah dengan pria berbahaya, Alya hidup di dalam dunia predator

Dan tanpa ia sadari, tatapannya tadi sudah membuat sang predator mulai tertarik.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ancaman Terakhir

    Pesan itu datang tiga hari kemudian, dikirim langsung ke ponsel pribadi Alya, nomor yang seharusnya hanya diketahui oleh Arsen, Dante, dan segelintir orang kepercayaan di mansion. Kamu cantik sekali di foto itu, Nyonya Mahardika. Sayang sekali kalau harus rusak. Terlampir satu foto: Alya sedang berjalan keluar dari butik dekat Senayan, tiga hari lalu, saat ia diam-diam meminta izin keluar sebentar tanpa pengawalan penuh. Tangannya gemetar memegang ponsel. Ia langsung berlari ke ruang kerja Arsen, hampir menabrak salah satu penjaga di lorong. "Arsen!" Pria itu mendongak dari layar laptopnya, ekspresi berubah waspada begitu melihat wajah Alya yang pucat. "Ada apa?" Alya menyodorkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Arsen membaca pesan itu, rahangnya mengeras seketika, matanya menggelap seperti badai yang siap meledak. "Kapan ini masuk?" "Baru saja." Arsen langsung menekan interkom, memanggil Dante

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Tidak Akan Lari

    Berita itu menyebar lebih cepat dari yang siapa pun kira. Layar televisi di ruang keluarga Mahardika Mansion menyala sejak pagi, menampilkan wajah Arsen dalam sorotan kamera wartawan yang berdesakan di depan gedung Mahardika Corporation. Judul berita berganti-ganti, tapi intinya sama: rahasia yang selama ini dikubur rapat, kini terbongkar ke publik. Alya berdiri di ambang pintu, menatap layar itu dengan dada sesak. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Arsen sendiri yang bilang, malam sebelum semuanya meledak, bahwa ia akan membiarkan dunia tahu siapa dirinya sebenarnya, bukan lagi bersembunyi di balik topeng pengusaha sukses. "Kamu nggak perlu nonton itu," suara Dante terdengar dari belakangnya. Pria itu baru datang, jasnya masih basah oleh gerimis pagi. "Bakal bikin kepala pusing doang." "Aku cuma mau tahu seberapa buruk," jawab Alya pelan. "Buruk," Dante tidak berbasa-basi. "Tapi Bos udah siapin ini dari lama. Dia bukan tipe yang main t

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Perjalanan ke Bandung terasa seperti mimpi buruk yang bergerak terlalu lambat. Mobil hitam Arsen melaju kencang di tol yang nyaris kosong tengah malam, dikawal dua kendaraan Dante di depan dan belakang. Alya duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram ponsel, mencoba menghubungi ibunya untuk kesekian kali. Tidak ada jawaban. "Kenapa nggak diangkat," gumamnya, suara panik mulai merayap masuk meski ia berusaha menahannya. "Bisa jadi sinyal terputus," kata Arsen, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Tangannya di setir mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Atau bisa jadi..." "Jangan," potong Arsen tegas, sekilas menoleh padanya. "Jangan pikirkan yang terburuk sebelum kita sampai di sana." Alya menahan napas, menelan ketakutan yang mengancam meledak jadi air mata. Ia menatap keluar jendela, kegelapan jalan tol yang berkelebat cepat, dan mencoba mengingat kembali kata-kata Arsen semalam.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Malam Pengakuan

    Ruang rapat Mahardika Corporation masih berbau darah dan tinta printer. Alya berdiri di ambang pintu, memandangi kekacauan yang tersisa dari pertemuan dewan direksi tadi siang, kertas berserakan, satu kursi terguling, dan noda merah kering di sudut meja kaca yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu persis apa yang terjadi di sana. Satu orang kepercayaan Selena tewas sebelum sempat membuka mulut. "Kamu seharusnya istirahat," suara Arsen datang dari belakang, berat dan pelan, seperti biasa saat ia lelah tapi menolak mengakuinya. Alya berbalik. Arsen berdiri dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dan ada bercak darah kering di pergelangan tangan kanan yang belum sempat ia cuci. Bukan darahnya sendiri. "Aku nggak bisa tidur selama ada mayat di ruang rapat kantor kita, Arsen." "Sudah dibereskan." Ia melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Alya seolah mencari retakan yang bisa ia perbaiki. "Yang belum dibereskan adalah kepalamu. Kamu mikirin sesuatu." Alya tidak menj

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kejatuhan Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Selena Terpojok

    Pagi itu, ponsel Alya berdering tepat jam tujuh, nomor tidak dikenal yang sama seperti sebelumnya. Ia melirik ke arah Arsen yang sedang bersiap-siap di ruang ganti, kemudian menjawab panggilan itu dengan suara pelan. "Alya," suara Selena terdengar tegang, jauh berbeda dari ketenangan yang ia tunjukkan kemarin. "Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin bekerja sama dengan kalian, tapi aku butuh perlindungan segera. Reza mulai curiga bahwa aku ragu-ragu, dan aku takut dia akan bertindak lebih cepat dari rencana." "Di mana kau sekarang?" Alya bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Aku di apartemen pribadiku di kawasan Kemang. Tapi Alya, aku pikir aku sedang diawasi. Ada mobil yang sudah parkir di depan gedung sejak semalam, dan aku yakin itu bukan kebetulan." Alya segera memberi isyarat pada Arsen yang langsung mendekat begitu melihat ekspresi seriusnya. "Tunggu, Selena. Aku akan memberitahu Arsen sekarang. Kami akan mengirim bantuan segera."

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Mansion yang Terlalu Sunyi

    Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pernikahan Tanpa Pilihan

    Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kontrak Pernikahan

    Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status