LOGINMalam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan.
Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-benar lengah. Semuanya membuat Alya merasa seperti berjalan, di dalam labirin tanpa jalan keluar. Namun satu hal yang tidak berubah dalam dirinya, yaitu rasa penasaran. Dan itu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Alya berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi halaman luas yang di terangi lampu-lampu taman. Beberapa pria bersenjata masih berjaga, bergerak pelan seperti bayangan hidup yang tidak pernah tidur. “Dunia yang sama sekali tidak aman,” gumamnya pelan. “Kalau memang berbahaya, kenapa justru aku di kurung di dalam sini?” Tidak ada jawaban, tentu saja tidak ada. Namun pikirannya tidak berhenti di situ, aturan kedua Arsen kembali terngiang di kepalanya. “Kamu tidak boleh masuk ke dalam ruangan yang terkunci.” Alya memejamkan mata sejenak, dan tak lama ia membuka kembali matanya. Namun tatapannya berubah menjadi lebih tajam, dan penuh tekad. “Aku bukan tipe yang patuh tanpa alasan,”bisiknya. Keputusan itu di buat dalam diam, dan Alya tidak akan pernah mundur. Lorong mansion di malam hari terasa berbeda, lebih dingin, dan sunyi. Langkah kaki Alya terdengar terlalu jelas di telinganya sendiri, membuatnya beberapa kali berhenti, seolah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Ia berjalan perlahan, mengingat jalur yang sempat ia lihat siang tadi. Belok kanan, lurus, lalu lorong sempit dengan lampu yang redup. Di sanalah sebuah pintu kayu besar berwarna gelap, dengan ukiran klasik yang terlihat mahal. Tidak ada tanda apapun, hanya sebuah gagang pintu sederhana dan lubang kunci. Pintu itu terkunci, dan Alya berdiri di depannya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Arsen sudah memperingatkannya, bahkan bukan sekedar memperingatkan. Ia jelas-jelas mengatakan, bahwa apa yang ada di balik pintu ini bisa saja membunuhnya. Namun justru itu yang membuatnya semakin yakin, ada sesuatu yang besar di balik pintu ini. Sesuatu yang di sembunyikan, dan entah kenapa, Alya merasa itu ada hubungannya dengan dirinya. “Apa mungkin, di balik pintu ini ada suatu hal yang menyangkut tentang keluargaku?”bisiknya pelan. Tangannya terangkat dan menyentuh permukaan pintu itu. Suasana terasa sepi, tidak ada penjaga di lorong ini. Seolah tempat ini memang sengaja di jauhkan dari perhatian. Alya menggigit bibirnya pelan, lalu berjongkok. Matanya memperhatikan lubang kunci, “Jangan bilang, kalo aku harus pakai cara yang tak seharusnya,” bisiknya. Dengan hati-hati, ia memasukkan jepit rambut ke dalam lubang kunci. Alya mencoba mengingat, dan merasakan pergerakan jepit rambut tersebut. Satu detik. Dua detik. Tidak bergerak sama sekali, dan Alya langsung mengernyit heran. “Ayo...” Hingga akhirnya bunyi klik terdengar, Alya langsung membeku. Menoleh ke belakang memastikan bahwa tidak ada siapa pun. “Aku benar-benar sudah gila,” gumamnya lirih. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu, dengan satu tarikan nafas, Alya membuka pintu itu. Ruangan di dalam begitu gelap, hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari lorong. Alya melangkah masuk dengan perlahan, tangannya meraba dinding, mencari sebuah saklar. Klik. Lampu menyala, dan seketika dunia Alya terasa berhenti. Ruangan itu bukan sekedar ruangan kerja, itu lebih seperti ruang kendali. Di tengah ruangan, ada meja kerja besar dengan permukaan hitam mengkilap. Di atasnya tersusun rapi beberapa berkas, laptop, dan ada sebuah pistol. Alya menelan ludah, “Aku yakin, bahwa ini bukan bisnis biasa,” gumamnya. Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut. Rak di dinding di penuhi oleh dokumen, beberapa berlabel dengan kode, dan yang lain dengan sebuah nama. Nama orang, perusahaan, dan ada beberapa yang di coret dengan tinta merah. Jantung Alya mulai berdetak lebih cepat, ini bukan hanya dunia gelap. Tapi ini dunia yang berbahaya, namun langkahnya tidak terhenti. Ia mendekati meja, lalu tangannya menyentuh salah satu berkas. “Aku harus tahu, ini berkas apa,” bisiknya. Alya membuka berkas itu, isinya hanya laporan keuangan. Transaksi, angka-angka besar, dan tidak masuk akan untuk sebuah bisnis legal. Ia menurut dokumen itu dengan cepat, lalu beralih ke berkas yang lain. Tapi yang ini terlihat berbeda, foto dokumen lama. Dan sebuah nama yang membuatnya seketika langsung membeku. Bima Prasetyo. Nafas Alya tercekat, tangannya langsung gemetar. “I-ini... kenapa nama papa bisa ada di dalam dokumen ini?” Ia membuka halaman berikutnya dengan cepat, hingga Alya menemukan sebuah foto seorang pria muda. Yang tak lain, foto itu adalah ayahnya ketika masih muda, bersama beberapa pria lain tanpa tidak ia kenal. Namun di sudut foto, ada seorang wanita. Cantik, elegan, dan wajahnya terasa familiar, meskipun Alya yakin belum pernah melihatnya. Dan di bawah foto itu tertulis: Kasus Kebakaran - 15 Tahun Yang Lalu. Kebakaran? Tangannya bergetar saat membalik halaman berikutnya, laporan investigasi. Nama-nama tersangka, dan satu nama yang di lingkari. Mahardika. Alya mundur satu langkah, pikirannya berputar mencoba mencerna semua yang ada di dalam dokumen itu. “I-ini... apa maksudnya semua ini?” Potongan-potongan mulai menyatu. Arsen, dendamnya, pernikahan ini, semua tidak hanya kebetulan. “Apa aku bagian dari semua ini?” gumam Alya lirih, bahkan suaranya hampir tidak terdengar. Hingga saat Alya hanyut dalam pikirannya, suara pintu terdengar di buka oleh seseorang. Alya membeku, perlahan ia menoleh ke belakang. Dan di sana, Arsen sudah berdiri dengan tegak, tatapan gelap, dan wajah yang datar “Aku sudah memperingatkanmu, Alya,” ucapnya yang begitu rendah. Alya langsung menutup berkas di tangannya, namun sudah terlambat. “Kamu tidak bilang tentang hal ini,” suaranya bergetar. “Kenapa kamu tidak bilang, bahwa ini ada hubungannya dengan keluargaku?” Arsen melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Apa yang kamu lihat?” tanyanya tenang. “Aku melihat banyak hal,” jawab Alya cepat. “Dan semuanya terlihat tidak masuk akal.” Arsen berhenti beberapa langkah darinya, tatapannya turun pada berkas yang masih berada di tangan Alya. Lalu kembali pada wajahnya. “Letakkan dokumen itu.“ Alya sama sekali tidak bergerak, “Jawab pertanyaanku dulu. Apa hubungannya dokumen ini dengan ayahku?!” Arsen tidak langsung menjawab, ia justru mendekat hingga jarak di antara mereka semakin tipis. “Aku bilang, letakkan dokumen itu.” Alya menggeleng cepat, “Tidak sebelum kamu menjelaskan semuanya.” Seketika suasana ruangan itu menjadi sunyi, bahkan terasa begitu berbahaya. Arsen menatapnya lama, lalu dengan gerakan cepat, ia meraih tangan Alya. Hingga berkas itu jatuh ke lantai. “Aku tidak suka mengulang sebuah perintah,” katanya dingin. “Lepaskan aku!” Namun cengkraman Arsen terlalu kuat, ia menarik Alya lebih dekat lagu. Bahkan tubuh mereka hampir bersentuhan. “Kamu sudah melanggar sebuah aturan, Alya,” bisiknya. Nafas Alya terlihat memburu, “Karena kamu sudah menyembunyikan sesuatu dariku!” “Dan kamu pikir, kamu sudah siap untuk tahu semua ini?” Alya menatap Arsen, hingga tatapan mereka bertemu. “Itu lebih baik, daripada di permainkan ” balas Alya. Untuk sesaat Arsen terdiam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu senyum tipis muncul di bibirnya, namun kali ini bukan sekedar dingin, tapi senyum yang terlihat berbahaya. “Kamu memang benar,” katanya pelan. “Apa?“ “Kamu bukan wanita yang bisa di kurung tanpa sebuah alasan.” Tangannya perlahan melepaskan cengkraman itu, dan Arsen tidak menjauh sama sekali. “Dan sekarang...” lanjutnya. “Kamu sudah membuka pintu, yang seharusnya tetap tertutup rapat.” Jantung Alya kembali berdegup kencang, “Apa maksudmu?” Arsen menatapnya dalam, “Mulai sekarang, kamu bukan lagi sekedar istri kontrak.” “Apa statusku sebelumnya memang hanya itu?”tanyanya. Arsen sedikit menunduk, lalu mendekat lagi. Tapi kali ini bukan sebuah ancaman, tetapi lebih intens. “Sekarang...” bisiknya pelan. “Kamu bagian dari masalahku.” Entah kenapa, itu terasa jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ia tidak hanya hidup di dunia Arsen, tapi Alya sudah masuk terlalu dalam. Dan mungkin tidak ada jalan keluar yang begitu mudah.Tujuh bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi Mahardika Mansion untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang rumah besar itu. Ratih Alya Mahardika, dinamai sesuai kesepakatan yang telah dibuat orang tuanya jauh sebelum kelahirannya, lahir sehat di sebuah pagi musim hujan, disambut air mata bahagia dari kedua orang tuanya yang telah menantikan kehadirannya dengan penuh cinta. Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang masih lemah namun berbinar bahagia, matanya tak lepas dari sosok mungil yang kini terbaring damai dalam pelukannya. "Dia cantik banget," bisik Arsen, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Persis kayak kamu." "Matanya kayak kamu," Alya membalas lembut, tersenyum menatap suaminya yang tak sanggup mengalihkan pandangan dari putri kecil mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Alvero Mahardika, pria yang dulu dijuluki predator karena kedinginan dan ketegasannya yang tak kenal ampun, merasakan kerapuhan yang begitu murni, begit
Enam bulan berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Alya dari Milan akhirnya tiba. Arsen berdiri di area kedatangan bandara, jantungnya berdebar penuh antisipasi menunggu istrinya muncul dari pintu kedatangan internasional, dikelilingi buket bunga anggrek putih besar yang telah ia siapkan khusus untuk menyambutnya. Ketika akhirnya Alya muncul, mendorong troli berisi koper-koper besar, wajahnya langsung berbinar melihat sosok Arsen yang menunggu dengan senyum lebar dan buket bunga di tangan. "Arsen!" Alya berlari kecil meninggalkan trolinya, menghambur ke pelukan suaminya yang telah lama ia rindukan. Arsen menangkapnya erat, memutar tubuhnya sedikit di udara sebelum menurunkannya kembali, mencium bibirnya dengan penuh kerinduan yang telah terpendam selama berbulan-bulan. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya di sela ciuman mereka. "Aku juga," Alya membalas, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Enam bulan itu lama banget rasanya." Dalam perjalanan pulang menuju m
Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional. Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi kegembiraan sekaligus kebingungan. Proyek itu membutuhkan waktu enam bulan penuh di Italia, waktu yang berarti ia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan Arsen, meninggalkan kehidupan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah. "Kamu kelihatan bingung," suara Arsen mengejutkannya dari ambang pintu, membawa dua cangkir teh sore seperti kebiasaan mereka belakangan ini. "Aku dapet tawaran kerja," Alya menyerahkan ponselnya, membiarkan Arsen membaca email itu sendiri. "Proyek besar
Tiga bulan berlalu sejak vonis Damar dijatuhkan, dan kehidupan di Mahardika Mansion telah menemukan kedamaian yang jauh lebih stabil dari yang pernah Alya bayangkan bisa ia miliki. Yayasan sosial atas nama Ratih Mahardika resmi diluncurkan bulan lalu, dengan Alya turut membantu merancang pusat kegiatan bagi anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Pagi itu, Arsen bangun lebih awal dari biasanya, gelisah dengan sesuatu yang telah ia rencanakan diam-diam selama beberapa minggu terakhir. Ia mengintip ke kamar sebelah, memastikan Alya masih tertidur pulas, sebelum menyelinap keluar untuk menemui Dante yang sudah menunggunya di ruang kerja. "Semua udah disiapin, Bos?" Dante bertanya, menyerahkan sebuah folder tipis berisi rincian rencana yang telah mereka susun bersama. "Hampir," Arsen membuka folder itu, memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. "Aku cuma butuh pastiin semuanya sempurna. Ini kesempatan aku buat nebus semua kesalahan awal pernikahan kita." Rencana
Dua bulan setelah persidangan Damar Vardian dimulai, hakim akhirnya menjatuhkan vonis, dua puluh tahun penjara, hukuman yang dianggap adil oleh sebagian besar publik yang telah mengikuti kasus itu dengan saksama sejak awal. Arsen menghadiri sidang pembacaan vonis itu bersama Alya, duduk berdampingan di kursi pengunjung, tangan mereka saling menggenggam erat sepanjang persidangan. Damar tidak menoleh sekali pun ke arah mereka saat vonis dibacakan, matanya menatap kosong ke depan, seolah sudah menerima nasibnya jauh sebelum palu hakim diketuk. Ketika petugas membawanya keluar ruang sidang, untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Arsen, dan dalam tatapan singkat itu, tersirat sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang tak pernah terucap. "Kamu nggak apa-apa?" Alya bertanya pelan begitu mereka keluar dari gedung pengadilan, disambut kerumunan wartawan yang segera diusir menjauh oleh tim keamanan. "Aku baik," Arsen mengangguk, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang be
Satu bulan setelah malam mencekam di Cakung, kehidupan di Mahardika Mansion perlahan menemukan ritme barunya, ritme yang jauh lebih tenang, jauh lebih hangat dari yang pernah Alya bayangkan bisa terjadi di rumah yang dulu terasa seperti benteng dingin dan penuh rahasia. Persidangan Damar Vardian telah dimulai, disorot ketat oleh media yang kini bersimpati penuh pada keluarga Mahardika. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum, ditambah kesaksian Bima yang jujur dan terperinci, membuat kemungkinan besar Damar akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian kecil dari Alya merasa iba pada pria itu, korban dari kebencian dan kesetiaan yang salah arah selama lima belas tahun, tapi ia juga tahu, keadilan harus tetap ditegakkan bagi semua yang telah ia korbankan demi ambisinya. Ia membaca laporan berita pagi itu di ponselnya, foto Damar yang diborgol digiring memasuki ruang sidang, wajahnya jauh berbeda dari sosok tenang dan terkendali yang pernah menyanderanya beberapa minggu
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin
Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya







