Mag-log in
Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri.
Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Di luar ruangan, suara para tamu undangan terdengar samar. Musik lembut terdengar mengalun, semua tampak seperti pesta bahagia. Padahal yang sedang terjadi bukanlah pernikahan yang indah, melainkan hanya sebuah transaksi. Pintu ruang rias terbuka perlahan, Ratna Prasetyo masuk dengan mata sembab, yang berusaha ia sembunyikan. "Alya," ucapnya dengan suara yang bergetar. Alya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip dengan sebuah luka. "Ibu tidak perlu merasa bersalah." Ratna langsung menggenggam tangan putrinya erat, "Ayahmu tidak punya pilihan, mereka telah membuka kembali kasus lama itu. Jika kita tidak menerima lamaran ini..." "Ayah akan kembali di penjara," Alya melanjutkan kalimat itu dengan begitu tenang. Keheningan langsung terjadi di antara mereka. Ratna menunduk, air matanya perlahan mulai jatuh. "Ibu tidak pernah membayangkan, jika hidupmu akan seperti ini." "Aku juga tidak pernah membayangkannya, Bu." Namun sejak tiga hari yang lalu, saat surat panggilan hukum itu kembali muncul. Alya sudah tahu, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Nama perusahaan besar itu kembali di sebut, nama yang sudah lama ia hindari. Mahardika Corporation, dan satu nama di atas semuanya. Arsen Alvero Mahardika. Pria yang bahkan tidak berusaha menyembunyikan kuasanya, ketika datang ke rumah mereka dua hari yang lalu. Alya masih mengingat dengan jelas, bagaimana pria itu duduk dengan tenang. Yang berada di ruang tamu mereka, jas hitamnya rapi, dan tatapannya yang begitu dingin. "Aku bisa menghentikan semua ini," katanya. Bima Prasetyo menatapnya dengan penuh kebencian, "Apa yang anda jadikan sebagai imbalannya?" "Putrimu." Kata itu terdengar begitu singkat dan jelas. Namun Bima seolah ragu untuk memberikan putrinya pada pria itu. "A-apa ini sebuah pernikahan?" tanya Ratna cepat. "Ya, kau benar." Tidak ada ancaman dari ucapannya, namun kekuasaannya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Hingga tiba-tiba ketika pintu terdengar dari luar, dan membuat Alya tersadar dari lamunannya. Saat pintu terbuka, terlihat seorang pelayan wanita masuk dengan begitu sopan. "Apa mempelai wanita sudah siap?" Ratna mengangguk pelan, dan Alya menarik nafas panjang. Jari-jarinya terlihat mengepal, sebelum akhirnya ia melepaskan kepalan tangannya. "Baiklah, Alya kau harus siap dengan semuanya," gumamnya pelan. Karena Alya berpikir hari ini bukan tentang cinta, melainkan demi menyelamatkan keluarganya. *** Lorong menuju altar terasa panjang, langkah Alya terasa begitu berat. Saat pintu besar terbuka, semua orang langsung menoleh padanya. Sorot lampu. kilatan kamera, wajah-wajah asing yang berbisik kagum. Di ujung sana, Arsen berdiri menunggu Alya. Tegap, tenang, dan tidak ada senyum di wajahnya. Wajahnya tampan, dan matanya terlihat begitu gelap. Tatapan mereka akhirnya bertemu, dan Alya merasakan sesuatu yang aneh, bukan cinta ataupun benci. Melainkan kesadaran bahwa pria itu benar-benar memegang kendali. Tak lama Arsen langsung mengulurkan tangannya, Alya menatap tangan itu cukup lama. Hingga akhirnya Alya menyambut tangan itu, sentuhan yang hangat, kuat, dan pasti. "Terima kasih, karena kamu sudah mau datang," ucap Arsen dengan begitu dingin. "Seolah aku mempunyai sebuah pilihan," jawab Alya lirih. Arsen tersenyum tipis, "Pilihan akan selalu ada. Hanya saja... resikonya berbeda." Prosesi pernikahan pun di mulai, janji suci telah terucap dari pihak Arsen. Ketika tiba giliran Alya, suaranya terdengar gemetar, namun ia tetap menyelesaikannya. Tanda tangan di lakukan, tepuk tangan dari para tamu terdengar menggema. Dan dalam hitungan menit, Alya resmi menjadi istri dari Arsen Alvero Mahardika. Sebuah pernikahan tanpa cinta, kepercayaan, dan tanpa tahu permainan apa yang sedang ia masuki. Malam itu mobil hitam panjang berhenti di depan sebuah mansion megah, yang berada di kawasan elit Jakarta Selatan. Bangunan itu menjulang tinggi. dengan lampu taman yang begitu indah. Bahkan itu lebih mirip benteng dari pada rumah. Mahardika Mansion. Rumah baru Alya, atau mungkin sebuah sangkar baru baginya. Arsen turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alya. Gestur tubuh yang sopan, yang begitu kontras dengan aura yang ia miliki. "Selamat datang," ucapnya tenang. Alya turun tanpa menyentuh tangannya, ia menatap bangunan itu lama. "Ada berapa banyak orang yang bersenjata di dalam rumah ini?" tanyanya datar. Arsen menoleh sedikit, "Tidak banyak, tapi cukup untuk memastikan kau tetap hidup." "Aku tidak meminta perlindungan." "Tapi aku akan memberikannya." Mereka pun masuk ke dalam, interior mansion itu terlihat begitu luas. Dengan dominasi warna gelap dan juga emas. Beberapa pria berjas berdiri di setiap sudut ruangan, tatapan mereka begitu tajam. Alya bisa merasakan dengan jelas, bahwa ia bukan hanya sekedar istri. Melainkan, ia adalah bagian dari sistem keamanan, dari sebuah permainan. Arsen berjalan di sampingnya, langkahnya begitu tenang. "Lambat laun kau akan terbiasa tinggal di rumah ini," katanya tanpa menoleh. Alya tersenyum sinis, "Tapi aku tidak ingin tetap terbiasa di rumah ini, rumah ini..." "Kita lihat saja nanti," potong Arsen cepat. Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar, yang berada di lantai dua. Saat Arsen membuka pintu itu, seketika langsung terlihat sebuah kamar yang begitu luas, dengan jendela tinggi dan tirai yang terlihat begitu gelap. "Ini adalah kamar kita berdua," ucap Arsen. Kata itu langsung membuat jantung Alya berdegup dengan cepat, "Ka-kamar kita?" Arsen langsung bisa melihat ada sebuah ketegangan dalam diri Alya, "Aku tidak akan pernah menyentuhmu, sebelum kau benar-benar siap." "Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menyentuhku, sedikitpun." Tatapan Arsen berubah sedikit lebih tajam, "Alya, aku memang menikahimu, tapi bukan untuk menyakitimu." "Lalu untuk apa kau menikahiku?" "Hanya untuk memastikan, bahwa kau tetap berada di tempat yang bisa aku kendalikan." Jawaban jujur itu lebih menyesakkan dari pada sebuah kebohongan. "Tapi aku bukan sebuah pion," bisik Alya lirik. Arsen tersenyum sinis, "Kau tahu, semua orang adalah sebuah pion bagi permainan yang lebih besar. Pertanyaannya hanya satu, kau ingin menjadi pion, atau menjadi seorang pemain?" Kalimat itu membuat Alya menatap Arsen dengan tajam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lain dalam diri pria itu. Kewaspadaan. Seolah ia sedang menghadapi sebuah ancaman yang nyata. "Jika aku menemukan bukti, bahwa kau telah menjebak ayahku," ucapnya. "Aku tidak akan tinggal diam." Arsen menatapnya begitu dalam, "Itu sangat bagus. Karena aku tidak suka wanita yang pasrah dan lemah." Seketika suasana kamara terasa hening kembali, hujan di luar masih turun. Mengetuk kaca jendela seperti irama perang yang baru saja akan di mulai. Alya sadar akan satu hal, ia memang menikah untuk menyelamatkan ayahnya. Namun ia mungkin baru saja masuk, ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari sekedar kasus lama. Arsen bukan pria kaya yang haus akan kekuasaan, tetapi ia seperti sedang memburuk sesuatu. Dan entah bagaimana, nama keluarga Alya, ada di dalam daftar buruannya. Arsen berbalik, dan melangkah menuju pintu. "Istirahatlah. Besok kau akan mulai memahami dunia yang sedang kau masuki sekarang." "Dan jika aku tidak ingin memahaminya?" tanya Alya. Arsen berhenti tanpa menoleh, "Asal kau tahu, bahwa dunia ini tidak peduli akan keinginanmu." Setelah berkata seperti itu, pintu tertutup dengan pelan. Dan Alya berdiri sendirian, di tengah kamar yang begitu luas itu. Ia melepas veil dari kepalanya, gaun putih itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Di luar hujan turun semakin deras, dan di dalam mansion itu, pernikahan ini bukan akhir dari segalanya. Ia adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap. Alya menatap bayangannya di cermin, ia mungkin di paksa menikah dan di jadikan bagian dari strategi. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan menjadi mangsa yang diam. Karena jika Arsen Mahardika adalah seorang predator, maka ia akan belajar menjadi sesuatu yang bahkan seorang predator pun, tidak bisa mengendalikannya.Tujuh bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi Mahardika Mansion untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang rumah besar itu. Ratih Alya Mahardika, dinamai sesuai kesepakatan yang telah dibuat orang tuanya jauh sebelum kelahirannya, lahir sehat di sebuah pagi musim hujan, disambut air mata bahagia dari kedua orang tuanya yang telah menantikan kehadirannya dengan penuh cinta. Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang masih lemah namun berbinar bahagia, matanya tak lepas dari sosok mungil yang kini terbaring damai dalam pelukannya. "Dia cantik banget," bisik Arsen, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Persis kayak kamu." "Matanya kayak kamu," Alya membalas lembut, tersenyum menatap suaminya yang tak sanggup mengalihkan pandangan dari putri kecil mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Alvero Mahardika, pria yang dulu dijuluki predator karena kedinginan dan ketegasannya yang tak kenal ampun, merasakan kerapuhan yang begitu murni, begit
Enam bulan berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Alya dari Milan akhirnya tiba. Arsen berdiri di area kedatangan bandara, jantungnya berdebar penuh antisipasi menunggu istrinya muncul dari pintu kedatangan internasional, dikelilingi buket bunga anggrek putih besar yang telah ia siapkan khusus untuk menyambutnya. Ketika akhirnya Alya muncul, mendorong troli berisi koper-koper besar, wajahnya langsung berbinar melihat sosok Arsen yang menunggu dengan senyum lebar dan buket bunga di tangan. "Arsen!" Alya berlari kecil meninggalkan trolinya, menghambur ke pelukan suaminya yang telah lama ia rindukan. Arsen menangkapnya erat, memutar tubuhnya sedikit di udara sebelum menurunkannya kembali, mencium bibirnya dengan penuh kerinduan yang telah terpendam selama berbulan-bulan. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya di sela ciuman mereka. "Aku juga," Alya membalas, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Enam bulan itu lama banget rasanya." Dalam perjalanan pulang menuju m
Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional. Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi kegembiraan sekaligus kebingungan. Proyek itu membutuhkan waktu enam bulan penuh di Italia, waktu yang berarti ia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan Arsen, meninggalkan kehidupan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah. "Kamu kelihatan bingung," suara Arsen mengejutkannya dari ambang pintu, membawa dua cangkir teh sore seperti kebiasaan mereka belakangan ini. "Aku dapet tawaran kerja," Alya menyerahkan ponselnya, membiarkan Arsen membaca email itu sendiri. "Proyek besar
Tiga bulan berlalu sejak vonis Damar dijatuhkan, dan kehidupan di Mahardika Mansion telah menemukan kedamaian yang jauh lebih stabil dari yang pernah Alya bayangkan bisa ia miliki. Yayasan sosial atas nama Ratih Mahardika resmi diluncurkan bulan lalu, dengan Alya turut membantu merancang pusat kegiatan bagi anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Pagi itu, Arsen bangun lebih awal dari biasanya, gelisah dengan sesuatu yang telah ia rencanakan diam-diam selama beberapa minggu terakhir. Ia mengintip ke kamar sebelah, memastikan Alya masih tertidur pulas, sebelum menyelinap keluar untuk menemui Dante yang sudah menunggunya di ruang kerja. "Semua udah disiapin, Bos?" Dante bertanya, menyerahkan sebuah folder tipis berisi rincian rencana yang telah mereka susun bersama. "Hampir," Arsen membuka folder itu, memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. "Aku cuma butuh pastiin semuanya sempurna. Ini kesempatan aku buat nebus semua kesalahan awal pernikahan kita." Rencana
Dua bulan setelah persidangan Damar Vardian dimulai, hakim akhirnya menjatuhkan vonis, dua puluh tahun penjara, hukuman yang dianggap adil oleh sebagian besar publik yang telah mengikuti kasus itu dengan saksama sejak awal. Arsen menghadiri sidang pembacaan vonis itu bersama Alya, duduk berdampingan di kursi pengunjung, tangan mereka saling menggenggam erat sepanjang persidangan. Damar tidak menoleh sekali pun ke arah mereka saat vonis dibacakan, matanya menatap kosong ke depan, seolah sudah menerima nasibnya jauh sebelum palu hakim diketuk. Ketika petugas membawanya keluar ruang sidang, untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Arsen, dan dalam tatapan singkat itu, tersirat sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang tak pernah terucap. "Kamu nggak apa-apa?" Alya bertanya pelan begitu mereka keluar dari gedung pengadilan, disambut kerumunan wartawan yang segera diusir menjauh oleh tim keamanan. "Aku baik," Arsen mengangguk, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang be
Satu bulan setelah malam mencekam di Cakung, kehidupan di Mahardika Mansion perlahan menemukan ritme barunya, ritme yang jauh lebih tenang, jauh lebih hangat dari yang pernah Alya bayangkan bisa terjadi di rumah yang dulu terasa seperti benteng dingin dan penuh rahasia. Persidangan Damar Vardian telah dimulai, disorot ketat oleh media yang kini bersimpati penuh pada keluarga Mahardika. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum, ditambah kesaksian Bima yang jujur dan terperinci, membuat kemungkinan besar Damar akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian kecil dari Alya merasa iba pada pria itu, korban dari kebencian dan kesetiaan yang salah arah selama lima belas tahun, tapi ia juga tahu, keadilan harus tetap ditegakkan bagi semua yang telah ia korbankan demi ambisinya. Ia membaca laporan berita pagi itu di ponselnya, foto Damar yang diborgol digiring memasuki ruang sidang, wajahnya jauh berbeda dari sosok tenang dan terkendali yang pernah menyanderanya beberapa minggu
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin







