Home / Romansa / Terperangkap Nafsu Sang Predator / Pernikahan Tanpa Pilihan

Share

Terperangkap Nafsu Sang Predator
Terperangkap Nafsu Sang Predator
Author: Mentari Senja

Pernikahan Tanpa Pilihan

Author: Mentari Senja
last update publish date: 2026-03-08 18:43:25

Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri.

Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya.

Di luar ruangan, suara para tamu undangan terdengar samar. Musik lembut terdengar mengalun, semua tampak seperti pesta bahagia. Padahal yang sedang terjadi bukanlah pernikahan yang indah, melainkan hanya sebuah transaksi.

Pintu ruang rias terbuka perlahan, Ratna Prasetyo masuk dengan mata sembab, yang berusaha ia sembunyikan.

"Alya," ucapnya dengan suara yang bergetar.

Alya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip dengan sebuah luka. "Ibu tidak perlu merasa bersalah."

Ratna langsung menggenggam tangan putrinya erat, "Ayahmu tidak punya pilihan, mereka telah membuka kembali kasus lama itu. Jika kita tidak menerima lamaran ini..."

"Ayah akan kembali di penjara," Alya melanjutkan kalimat itu dengan begitu tenang.

Keheningan langsung terjadi di antara mereka.

Ratna menunduk, air matanya perlahan mulai jatuh. "Ibu tidak pernah membayangkan, jika hidupmu akan seperti ini."

"Aku juga tidak pernah membayangkannya, Bu."

Namun sejak tiga hari yang lalu, saat surat panggilan hukum itu kembali muncul. Alya sudah tahu, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Nama perusahaan besar itu kembali di sebut, nama yang sudah lama ia hindari. Mahardika Corporation, dan satu nama di atas semuanya.

Arsen Alvero Mahardika.

Pria yang bahkan tidak berusaha menyembunyikan kuasanya, ketika datang ke rumah mereka dua hari yang lalu.

Alya masih mengingat dengan jelas, bagaimana pria itu duduk dengan tenang. Yang berada di ruang tamu mereka, jas hitamnya rapi, dan tatapannya yang begitu dingin.

"Aku bisa menghentikan semua ini," katanya.

Bima Prasetyo menatapnya dengan penuh kebencian, "Apa yang anda jadikan sebagai imbalannya?"

"Putrimu."

Kata itu terdengar begitu singkat dan jelas. Namun Bima seolah ragu untuk memberikan putrinya pada pria itu.

"A-apa ini sebuah pernikahan?" tanya Ratna cepat.

"Ya, kau benar."

Tidak ada ancaman dari ucapannya, namun kekuasaannya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Hingga tiba-tiba ketika pintu terdengar dari luar, dan membuat Alya tersadar dari lamunannya. Saat pintu terbuka, terlihat seorang pelayan wanita masuk dengan begitu sopan.

"Apa mempelai wanita sudah siap?"

Ratna mengangguk pelan, dan Alya menarik nafas panjang. Jari-jarinya terlihat mengepal, sebelum akhirnya ia melepaskan kepalan tangannya.

"Baiklah, Alya kau harus siap dengan semuanya," gumamnya pelan.

Karena Alya berpikir hari ini bukan tentang cinta, melainkan demi menyelamatkan keluarganya.

***

Lorong menuju altar terasa panjang, langkah Alya terasa begitu berat. Saat pintu besar terbuka, semua orang langsung menoleh padanya. Sorot lampu. kilatan kamera, wajah-wajah asing yang berbisik kagum.

Di ujung sana, Arsen berdiri menunggu Alya. Tegap, tenang, dan tidak ada senyum di wajahnya. Wajahnya tampan, dan matanya terlihat begitu gelap.

Tatapan mereka akhirnya bertemu, dan Alya merasakan sesuatu yang aneh, bukan cinta ataupun benci. Melainkan kesadaran bahwa pria itu benar-benar memegang kendali.

Tak lama Arsen langsung mengulurkan tangannya, Alya menatap tangan itu cukup lama. Hingga akhirnya Alya menyambut tangan itu, sentuhan yang hangat, kuat, dan pasti.

"Terima kasih, karena kamu sudah mau datang," ucap Arsen dengan begitu dingin.

"Seolah aku mempunyai sebuah pilihan," jawab Alya lirih.

Arsen tersenyum tipis, "Pilihan akan selalu ada. Hanya saja... resikonya berbeda."

Prosesi pernikahan pun di mulai, janji suci telah terucap dari pihak Arsen. Ketika tiba giliran Alya, suaranya terdengar gemetar, namun ia tetap menyelesaikannya.

Tanda tangan di lakukan, tepuk tangan dari para tamu terdengar menggema. Dan dalam hitungan menit, Alya resmi menjadi istri dari Arsen Alvero Mahardika.

Sebuah pernikahan tanpa cinta, kepercayaan, dan tanpa tahu permainan apa yang sedang ia masuki.

Malam itu mobil hitam panjang berhenti di depan sebuah mansion megah, yang berada di kawasan elit Jakarta Selatan. Bangunan itu menjulang tinggi. dengan lampu taman yang begitu indah. Bahkan itu lebih mirip benteng dari pada rumah.

Mahardika Mansion.

Rumah baru Alya, atau mungkin sebuah sangkar baru baginya.

Arsen turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alya. Gestur tubuh yang sopan, yang begitu kontras dengan aura yang ia miliki.

"Selamat datang," ucapnya tenang.

Alya turun tanpa menyentuh tangannya, ia menatap bangunan itu lama. "Ada berapa banyak orang yang bersenjata di dalam rumah ini?" tanyanya datar.

Arsen menoleh sedikit, "Tidak banyak, tapi cukup untuk memastikan kau tetap hidup."

"Aku tidak meminta perlindungan."

"Tapi aku akan memberikannya."

Mereka pun masuk ke dalam, interior mansion itu terlihat begitu luas. Dengan dominasi warna gelap dan juga emas.

Beberapa pria berjas berdiri di setiap sudut ruangan, tatapan mereka begitu tajam. Alya bisa merasakan dengan jelas, bahwa ia bukan hanya sekedar istri. Melainkan, ia adalah bagian dari sistem keamanan, dari sebuah permainan.

Arsen berjalan di sampingnya, langkahnya begitu tenang. "Lambat laun kau akan terbiasa tinggal di rumah ini," katanya tanpa menoleh.

Alya tersenyum sinis, "Tapi aku tidak ingin tetap terbiasa di rumah ini, rumah ini..."

"Kita lihat saja nanti," potong Arsen cepat.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar, yang berada di lantai dua. Saat Arsen membuka pintu itu, seketika langsung terlihat sebuah kamar yang begitu luas, dengan jendela tinggi dan tirai yang terlihat begitu gelap.

"Ini adalah kamar kita berdua," ucap Arsen.

Kata itu langsung membuat jantung Alya berdegup dengan cepat, "Ka-kamar kita?"

Arsen langsung bisa melihat ada sebuah ketegangan dalam diri Alya, "Aku tidak akan pernah menyentuhmu, sebelum kau benar-benar siap."

"Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menyentuhku, sedikitpun."

Tatapan Arsen berubah sedikit lebih tajam, "Alya, aku memang menikahimu, tapi bukan untuk menyakitimu."

"Lalu untuk apa kau menikahiku?"

"Hanya untuk memastikan, bahwa kau tetap berada di tempat yang bisa aku kendalikan."

Jawaban jujur itu lebih menyesakkan dari pada sebuah kebohongan.

"Tapi aku bukan sebuah pion," bisik Alya lirik.

Arsen tersenyum sinis, "Kau tahu, semua orang adalah sebuah pion bagi permainan yang lebih besar. Pertanyaannya hanya satu, kau ingin menjadi pion, atau menjadi seorang pemain?"

Kalimat itu membuat Alya menatap Arsen dengan tajam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lain dalam diri pria itu.

Kewaspadaan.

Seolah ia sedang menghadapi sebuah ancaman yang nyata.

"Jika aku menemukan bukti, bahwa kau telah menjebak ayahku," ucapnya. "Aku tidak akan tinggal diam."

Arsen menatapnya begitu dalam, "Itu sangat bagus. Karena aku tidak suka wanita yang pasrah dan lemah."

Seketika suasana kamara terasa hening kembali, hujan di luar masih turun. Mengetuk kaca jendela seperti irama perang yang baru saja akan di mulai.

 Alya sadar akan satu hal, ia memang menikah untuk menyelamatkan ayahnya. Namun ia mungkin baru saja masuk, ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari sekedar kasus lama.

Arsen bukan pria kaya yang haus akan kekuasaan, tetapi ia seperti sedang memburuk sesuatu. Dan entah bagaimana, nama keluarga Alya, ada di dalam daftar buruannya.

Arsen berbalik, dan melangkah menuju pintu. "Istirahatlah. Besok kau akan mulai memahami dunia yang sedang kau masuki sekarang."

"Dan jika aku tidak ingin memahaminya?" tanya Alya.

Arsen berhenti tanpa menoleh, "Asal kau tahu, bahwa dunia ini tidak peduli akan keinginanmu."

Setelah berkata seperti itu, pintu tertutup dengan pelan. Dan Alya berdiri sendirian, di tengah kamar yang begitu luas itu. Ia melepas veil dari kepalanya, gaun putih itu terasa lebih berat dari sebelumnya.

Di luar hujan turun semakin deras, dan di dalam mansion itu, pernikahan ini bukan akhir dari segalanya. Ia adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap.

Alya menatap bayangannya di cermin, ia mungkin di paksa menikah dan di jadikan bagian dari strategi. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan menjadi mangsa yang diam.

Karena jika Arsen Mahardika adalah seorang predator, maka ia akan belajar menjadi sesuatu yang bahkan seorang predator pun, tidak bisa mengendalikannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Arsen Kehilangan Kendali

    Suasana di ruang kerja Arsen terasa seperti neraka yang membeku. Telepon genggam yang baru saja ia terima pesannya tergenggam erat di tangannya, hingga tulang-tulang jari memutih dan urat-urat di lengannya menonjol.Di layar itu tertulis pesan singkat namun cukup untuk membuat darahnya mendidih:“Wanita yang kau jaga itu kini ada di tangan kami. Serahkan seluruh saham dan kendali perusahaan dalam 24 jam, atau kau akan menerima mayatnya sepotong demi sepotong.”Arsen melempar ponsel itu ke dinding dengan kekuatan penuh. Benda itu pecah berkeping-keping, menyisakan suara benturan yang memekakkan telinga.“Mereka berani… mereka benar-benar berani menyentuh milikku!”Suaranya menggelegar, dingin namun sarat amarah yang meledak-ledak. Selama ini, tidak ada satu pun orang yang berani menantangnya secara terbuka, apalagi mengambil apa yang ia anggap sebagai haknya. Namun kini, mereka menyentuh titik terlemahnya Alya.Dante, yang baru saja masuk membawa laporan, langsung membeku di tempat. Ia

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Alya Hampir Dibunuh

    Suasana di halaman belakang Mahardika Mansion terasa gelap dan sunyi. Hanya diterangi lampu taman yang redup, menciptakan bayangan panjang di atas rumput yang basah embun. Alya berjalan perlahan, berniat mencari udara segar setelah seharian terkurung di dalam ruangan. Ia tidak menyadari bahwa malam itu, bahaya sedang mengintai dari balik kegelapan.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba dua sosok pria muncul dari balik semak-semak. Wajah mereka tertutup topeng, dan di tangan mereka tergenggam senjata tajam yang berkilau samar.“Jangan bergerak!” bentak salah satu dari mereka, suaranya berat dan kasar.Alya tertegun, napasnya tertahan. Ia berusaha mundur, namun punggungnya sudah menyentuh dinding tembok. “Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”“Kami hanya menjalankan perintah,” jawab pria lainnya sambil melangkah mendekat. “Kau menjadi beban bagi banyak orang, Nona Mahardika. Dan beban harus disingkirkan.”Saat salah satu pria itu hendak menyergapnya, tiba-tiba suara langkah

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Hutang Darah Lama

    Udara di ruang kerja Arsen dipenuhi aroma kayu dan wangi tembakau yang halus. Di hadapannya terbenayt tumpukan dokumen lama, foto laporan, dan catatan yang telah tersimpan selama lima belas tahun.Arsen duduk di kursi besarnya, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Di sebelahnya, Dante berdiri tegap, sementara dua wanita lain juga hadir. Laras sekretarisnya yang setia, dan Sari, asisten pribadinya yang selalu siap sedia. Keduanya berdiri dengan sikap waspada, pandangan mereka sesekali beralih pada Alya yang berdiri di dekat jendela."Semua ini berasal dari arsip lama yang berhasil kami temukan di gudang perusahaan," kata Dante sambil menunjuk tumpukan kertas. "Ternyata kasus kebangkrutan perusahaan ibu anda tidak sesederhana yang tercatat."Arsen meraih satu foto lama, di sana terlihat ibunya, dan si sampingnya berdiri Bima Prasetyo, ayah Alya dengan senyum yang tampak palsu."Ayahmu bukan hanya saksi, Alya," ucap Arsen dengan suara rendah namun tegas. "Dia adalah salah satu or

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Peluru yang Salah Sasaran

    Malam di Mahardika Mansion tidak pernah benar-benar sunyi. Alya baru saja selesai bekerja di ruang kerjanya, menutup sketsa desain yang sudah ia kerjakan berjam-jam.Saat ia berjalan menuju kamar utama, langkahnya terhenti mendengar suara kendaraan berhenti mendadak di depan gerbang. Diikuti suara teriakan dan derap langkah cepat. Belum sempat ua berpikir, pintu utama terbuka keras. Arsen masuk lebih dulu, diikuti Dante dan dua orang pengawal lainnya. Wajah Arsen tegang, matanya tajam memindai seluruh ruangan seolah mencari ancaman, jasnya sedikit robek di lengan, dan ada noda darah di bahunya."Tuan, mereka berusaha mendekat dari arah timur," lapor Dante sambil memegang senjata rakitan di pinggangnya. "Sepertinya kelompok yang bekerja sama dengan Selena."Arsen tidak menjawab, matanya tertuju langsung pada Alya yang berdiri di tangga. Tanpa bicara, ia melangkah cepat mendekatinya, menarik pergelangan tangan Alya dengan cengkraman kuat namun tidak kasar."Kamu di sini. Jangan berger

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Serangan di Tengah Malam

    Jam dinding di ruang tengah Mahardika Mansion menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Suasana sunyi, hanya terdengar suara angin malam yang berhembus pelan menembus celah jendela besar. Alya baru saja selesai memeriksa sketsa desain yang ia kerjakan, hendak beranjak ke kamar ketika tiba-tiba lampu seluruh rumah padam seketika.“Apa ini...” gumam Alya, berusaha menenangkan diri. Sebelum ia sempat melangkah, suara tembakan memecah keheningan, diikuti teriakandan langkah kaki yang berlarian kencang di halaman depan.“Nyonya! Tetap di tempat!” teriak suara Dante dari arah lorong, disusul suara tembakan lain yang lebih keras.Alya merasakan detak jantungnya berpacu kencang. Ia bergerak meraba dinding, mencoba mencari jalan menuju kamar tidur utama tempat Arsen biasanya berada. Namun sebelum ia sempat sampai, sosok besar tiba-tiba muncul dari balik bayangan, menarik lengannya dengan cepat namun tidak kasar.“Di sini!” suara berat Arsen terdengar tepat di telinganya. Napasnya teratur, tidak ter

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Bukan Milikmu

    Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat, tapi tidak mampu menghilangkan dinginnya pandangan yang saling bertautan di antara meja makan panjang itu. Arsen duduk di ujung, punggungnya tegak lurus seperti patung. Di sebelahnya Dante berdiri diam sebagai bayangan, sementara di sisi lain meja, jauh du posisi Arsen terdapat dua tamu tidak terduga. Salah satunya adalah Rafael, rekan bisnis Arsen dari Singapura yang dikenal dengan pesonanya yang memikat. Dan satunya lagi adalah Luna, mitra kerja dari Eropa yang cerdas dan berani, yang sering bekerja sama dengan Arsen dalam proyek internasional. Alya duduk di tengah, memainkan sendok dengan tenang meski hatinya bergemuruh. Sejak tiba ia langsung bisa merasakan tatapan Arsen yang tidak pernah lepas darinya, tatapan antara kepemilikan, kecurigaan, dan sesuatu yang mulai sulit di artikan. "Jadi, ini istri yang sering kamu sebut, Arsen?" tanya Rafael sambil tersenyum tipis, matanya menatap Alya dengan pandangan yang penuh rasa ingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status