LOGINBab 6
Nara menatap papan pengumuman digital di lobi Fakultas Hukum dengan mata tak berkedip. Di baris paling atas hasil seleksi tertulis Global Prestise Scholarship, namanya tercetak jelas. Nara Anindita (NIM: 2024011032) – Skor: 95 Kevin Mahendra (NIM: 2022011005) – Skor: 90 Arkananta Dewangga (NIM: 2022011001) – Skor: 89 "Nar! Kamu peringkat pertama!" Citra mengguncang bahu Nara dengan histeris. "Kamu mengalahkan Kak Kevin dan Kak Arkan sekaligus! Gila, kamu resmi jadi legenda baru fakultas!" Nara tidak bersorak, jantungnya justru mencelos melihat angka 89 di samping nama Arkan. Sembilan puluh lima berbanding delapan puluh sembilan? Jarak angka itu terlalu jauh untuk standar seorang Arkananta. "Cit, aku ke ruang panitia dulu," ucap Nara datar, melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya. "Eh? Mau ngapain? Bukannya harusnya merayakan?" "Ada berkas administrasi yang mau kupastikan." Nara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen panitia beasiswa. Ruangan itu sepi karena sebagian besar dosen sedang menghadiri rapat pleno. Beruntung, Profesor Subroto, dosen senior sekaligus panitia inti sedang merapikan lembar jawaban di mejanya. "Permisi, Prof," sapa Nara, mencoba mengatur nafasnya. "Ah, Nara. Selamat ya, kamu meraih skor tertinggi," Profesor Subroto tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu?" "Terima kasih, Prof. Sebenarnya... saya ke sini karena merasa ada kekeliruan data. Apa saya boleh melihat lembar evaluasi skor saya? Dan... kalau diperbolehkan, lembar milik Kak Arkan?" Profesor Subroto mengernyitkan dahi. "Lembar evaluasi itu rahasia, Nara. Tapi karena ini untuk transparansi dan kamu peringkat pertama, saya bisa tunjukkan lembar kalian berdua. Kebetulan Arkan juga tidak keberatan jika ada yang mau menyanggah nilainya." Profesor Subroto menarik dua berkas dari tumpukan kuning. Begitu lembar milik Arkan diletakkan di atas meja, Nara langsung menyisir baris demi baris tulisan tangan pria itu. Di halaman pertama, analisis hukumnya sangat sempurna, mendapat poin penuh. Namun, saat Nara membalik ke halaman terakhir bagian esai analisis kasus bernilai 15 poin, matanya membelalak. Halaman itu kosong bersih. Tidak ada satu pun goresan tinta di sana. "Prof... kenapa bagian esai terakhir Kak Arkan kosong?" tanya Nara, suaranya tercekat. Profesor Subroto menghela nafas, menggelengkan kepalanya penuh penyesalan. "Itu dia yang kami herankan, Nara. Waktunya masih sisa lima puluh menit saat dia mengumpulkan. Saya sempat bertanya apa dia lupa mengisi halaman belakang, tapi dia hanya bilang 'waktunya sudah habis bagi saya'. Kalau saja dia isi bagian ini, peringkat pertama pasti jatuh ke tangannya dengan skor sempurna." Tangan Nara gemetar hebat. 'Waktunya sudah habis?' batinnya berteriak menahan amarah. 'Pria itu sengaja melakukannya,' gumam Nara dalam hati. "Terima kasih, Prof. Saya permisi dulu," ucap Nara dengan suara bergetar. Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan rahang yang mengeras. Kemenangan ini tidak terasa manis. Ini adalah penghinaan terbesar bagi seluruh kerja kerasnya. Arkan tidak sedang memberinya hadiah, pria itu sedang mengasihaninya seolah dia adalah anak kecil yang butuh uluran tangan seorang kakak. Nara berjalan cepat menuju area parkir luar yang sepi di bawah pohon-pohon rindang kampus. Di sana, mobil sedan hitam milik Arkan sudah terparkir. Dan tepat seperti dugaannya, Arkan sedang bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponselnya dengan ekspresi yang teramat santai. "Arkan!" teriak Nara dari jarak lima meter. Arkan mendongak, memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu menatap Nara tanpa dosa. "Selamat atas peringkat pertamamu, Nara. Bukankah itu yang kamu impikan?"Nara maju, mencengkeram kerah kemeja Arkan dengan amarah yang meledak-ledak. "Apa-apaan ini, Arkan?! Kenapa esai halaman terakhirmu kosong?"Arkan tidak berkedip, dia hanya menatap tangan Nara di kerah kemejanya, lalu kembali menatap mata gadis itu. "Aku lupa membalik halaman. Manusiawi, kan?" "Jangan bohong!" Nara mendorong dada Arkan dengan kasar. "Profesor Subroto bilang kamu punya sisa waktu lima puluh menit! Kamu sengaja mengosongkannya agar nilaimu turun di bawahku! Kamu sengaja mengalah, kan?" "Kalau iya, kenapa?" sahut Arkan, suaranya mendadak berubah dingin dan berat. "Kamu harusnya senang, jalanmu ke London sekarang terbuka lebar tanpa ada gangguan dariku." "Aku mau menang karena aku mampu, Arkan! Bukan karena belas kasihan dari seorang kakak!" Air mata frustrasi Nara mulai menggenang di ujung matanya. "Kamu menginjak-injak harga diriku! Kamu bikin aku terlihat seperti benalu lemah yang butuh dikasihani di depan Papa!"Arkan terdiam sejenak. Seringai santainya runtuh, Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Nara terdesak mundur dan punggungnya membentur pintu mobil. Arkan mencengkeram kedua pergelangan tangan Nara, menguncinya dengan erat di sisi tubuh gadis itu. "Berhenti memanggilku dengan label sialan itu, Nara," desis Arkan tepat di depan wajah Nara, matanya menggelap penuh rasa frustrasi yang terpendam. "Lepasin, Arkan! Kamu kakakku ...," "Aku mengalah bukan karena aku kakak yang baik!" potong Arkan dengan bentakan rendah yang sarat akan emosi, membuat Nara seketika terbungkam. Nafas Arkan memburu, menatap langsung ke dalam manik mata Nara yang bergetar hebat. "Lalu kenapa?" tuntut Nara, suaranya serak menahan tangis. "Kenapa kamu hancurkan mimpiku untuk bisa mandiri?"Arkan mendekatkan wajahnya, membiarkan deru nafas hangatnya menyentuh kulit wajah Nara yang memerah. "Karena beasiswa itu mengharuskan pemenangnya tinggal di London selama dua tahun, Nara. Dua tahun." Nara mematung, lidahnya mendadak kelu melihat kilat luka dan obsesi yang bercampur di mata Arkan. "Aku melakukan ini karena aku egois," bisik Arkan, suaranya merendah, terdengar begitu intim sekaligus berbahaya di keheningan area parkir. "Aku tidak bisa membayangkan hidup di belahan bumi yang berbeda tanpamu selama dua tahun. Aku tidak sanggup membiarkanmu pergi sejauh itu dari jangkauan mataku." "Arkan ... kamu gila ...," "Ya, aku gila karena menahan diri selama dua tahun ini di rumah itu," Arkan mencengkeram tangan Nara lebih erat, menolak melepaskannya. "Jadi, berhentilah berlagak seolah aku melakukan ini demi status persaudaraan kita. Tidak ada seorang kakak yang menatap adiknya dengan rasa lapar dan cemburu seperti caraku menatapmu selama ini, Nara Anindita.” Nara terengah, jantungnya bertolak belakang dengan logika hukum yang biasa dia agungkan. "Lepas, Arkan! Ini kampus! Kamu tidak berhak mengurungku seperti ini!" "Aku tidak sedang mengurungmu, Nara. Aku sedang mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku," balas Arkan, suaranya merendah namun getaran obsesinya semakin pekat. Dia melepas cengkraman tangannya, beralih menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut Nara, memaksa gadis itu menatapnya lurus. "Dua tahun di London hanya akan membuatmu melupakanku dan aku tidak akan membiarkan garis sialan yang dibuat orang tua kita benar-benar memisahkan kita." Nara menepis tangan Arkan dengan sisa kekuatan yang dia miliki, air matanya luruh membasahi pipi. "Kamu egois! Kamu menghancurkan satu-satunya caraku untuk tidak merasa menjadi benalu di rumah itu! Aku membencimu, Arkananta! Aku benar-benar membencimu!”Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend
Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu
Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend
Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan
Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk
Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu







