Share

Bab 7

Author: PUCHA
last update publish date: 2026-09-13 22:30:28

Bab 7

Suara deburan hujan yang menghantam atap mobil sedan hitam milik Arkan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di sepanjang jalan pulang.

Nara duduk menyamping, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, sengaja melempar pandangannya jauh ke luar.

Matanya masih sedikit sembap dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa amarah di parkiran kampus tadi. Arkan mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran lengan. Pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai tergenang air.

"Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?" suara berat Arkan memecah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.

Nara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Jangan ajak aku bicara."

"Kita akan sampai di rumah dalam sepuluh menit, Nara. Hapus air matamu kalau kamu tidak mau Mama berpikiran yang tidak-tidak," ucap Arkan, nadanya kembali datar dan dingin, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu telah menguap tanpa bekas.

Nara mendengus sinis, perlahan memutar tubuhnya untuk menatap Arkan dengan kilat kemarahan yang belum padam. "Kamu peduli tentang perasaan Mama? Setelah apa yang kamu katakan di parkiran tadi, kamu masih bisa bersikap seolah-olah kamu anak tiri yang berbakti?"

Arkan menginjak pedal rem perlahan saat lampu merah menyala di depan mereka. Dia menolehkan kepalanya, menatap Nara dengan pandangan yang dalam.

"Aku peduli pada Mama, tapi aku tidak bisa terus-menerus membohongi diriku sendiri hanya untuk membuat semua orang di rumah itu tersenyum nyaman."

"Itu karena kamu egois!" Nara mencengkram sabuk pengamannya dengan erat. "Kamu menghancurkan mimpiku ke London hanya karena sikap kekanak-kanakanmu! Kamu tau seberapa keras aku belajar untuk ujian itu?"

"Aku tau," sahut Arkan cepat, memotong kalimat Nara. "Aku tau setiap malam kamu terjaga sampai jam tiga pagi. Aku tau berapa cangkir kopi yang kamu habiskan. Dan aku juga tau, semua itu kamu lakukan hanya untuk melarikan diri dariku."

Nara tertegun, lidahnya mendadak kelu. Pria itu membaca setiap motif tersembunyinya dengan sangat tepat.

"Aku tidak melarikan diri!" bela Nara, suaranya sedikit bergetar.

"Aku ingin mandiri, aku ingin membuktikan pada Papa kalau aku berhak atas nilai-nilaiku, bukan karena aku anak tiri seorang Dekan!”

"Dan sekarang kamu mendapatkan peringkat pertama itu, kan? Nama Nara Anindita ada di baris paling atas papan pengumuman," Arkan mengalihkan kembali pandangannya ke depan saat lampu berubah hijau, melajukan mobilnya memasuki area perumahan elite mereka.

"Tujuanmu untuk membuktikan diri di depan Papa sudah tercapai."

"Tapi kemenangan itu palsu, Arkan! Aku menang karena kamu mengalah!" Nara memajukan tubuhnya, menuntut penjelasan dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Kamu tau apa artinya itu bagiku? Di mataku, peringkat pertama itu terasa seperti sedekah! Kamu membuatku terlihat seperti orang lemah yang butuh dikasihani oleh kakaknya!"

Arkan menghentikan mobilnya tepat di depan garasi rumah mewah berlantai dua mereka. Dia mematikan mesin, membuat suasana di dalam kabin mobil seketika menjadi sunyi senyap, menyisakan suara ketukan air hujan di luar. Arkan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Nara, jarak mereka kembali mengikis.

"Berapa kali harus kukatakan padamu, Nara? Jangan pernah mengaitkan tindakanku dengan status sialan itu!"

"Tapi kenyataannya kita satu rumah, Arkan! Ibuku adalah istri ayahmu!" Nara memukul dasbor mobil dengan frustrasi.

"Kamu mau mengabaikan itu?"

"Ya, aku mengabaikannya," desis Arkan, tangan panjangnya bergerak cepat mencengkeram kedua sisi sandaran kursi Nara, mengunci pergerakan gadis itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Mata gelap Arkan memancarkan intensitas yang sanggup melumpuhkan akal sehat Nara. "Aku tidak peduli dengan ikatan legal orang tua kita. Aku mengalah bukan karena aku kasihan padamu. Aku mengalah karena aku tau, jika aku membiarkanmu pergi ke London, aku akan kehilangan satu-satunya alasan yang membuatku bertahan di rumah ini."

Nara menahan nafasnya, jantungnya berpacu begitu cepat hingga terasa menyakitkan di dadanya. "Arkan ... lepas ... Papa bisa melihat kita dari jendela."

"Biarkan dia melihat," bisik Arkan tepat di depan bibir Nara yang bergetar. Jari-jemarinya perlahan menyentuh dagu Nara, menaikkannya dengan lembut namun penuh penekanan yang lembut.

"Aku lelah bersandiwara di kampus, Nara. Dan jika kamu terus menguji kesabaranku dengan memanggilku 'Kakak', aku tidak menjamin rahasia ini akan bertahan sampai malam perayaan beasiswamu besok."

Nara memejamkan matanya, merasakan deru nafas hangat Arkan yang berbaur dengan ketakutan dan debaran aneh yang kian mustahil untuk ia sangkal.

Tepat di saat atmosfer di dalam mobil terasa kian mencekam, lampu teras rumah mendadak menyala terang, menandakan seseorang di dalam rumah baru saja membuka pintu utama.

Nara menyentak dagunya dari jemari Arkan tepat saat bayangan Baskoro terlihat di balik kaca pintu teras. "Cepat buka kuncinya, Arkan! Papa keluar!"

Arkan tidak bergerak selama dua detik, matanya mengunci lekat bibir Nara yang gemetar, sebelum akhirnya terdengar bunyi klik yang dingin.

Nara langsung menyambar tasnya, mendorong pintu mobil dengan keras dan melangkah lebar menerobos gerimis.

"Wah, anak-anak Papa sudah pulang," sambut Baskoro dengan senyum lebar yang jarang ia perlihatkan. Dia menepuk pundak Nara yang basah.

"Papa sudah lihat papan pengumuman fakultas sore tadi, peringkat pertama, Nara! Papa bangga sekali."

Nara memaksakan senyumnya, meski rasanya seperti menarik benang yang hendak putus. "Terima kasih, Pa. Semua karena ... bimbingan dosen di kampus."

Arkan keluar dari mobil, berjalan tenang menaiki undakan teras dengan langkah konstan. "Selamat malam, Pa."

"Arkan," Baskoro menatap anak kandungnya, nadanya sedikit berubah formal namun tetap hangat. "Skormu turun di bagian esai, Profesor Subroto sempat menelepon Papa. Tapi tidak apa-apa, posisi ketiga masih sangat aman untuk cadangan utama. Yang penting kuota fakultas kita tetap dipegang oleh keluarga Dewangga."

"Tentu, Pa. Pemenangnya harus orang yang tepat," jawab Arkan datar, matanya melirik Nara sekilas.

Ratna muncul dari balik pintu ruang makan sambil membawa mangkuk sup besar. "Ayo, ayo, langsung ke meja makan! Mama sudah masak spesial untuk merayakan keberhasilan Nara!"

Suasana di meja makan terasa begitu menyesakkan bagi Nara. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti hitungan mundur bom waktu di kepalanya.

"Nara, kenapa supnya cuma diaduk-aduk?" tanya Ratna cemas. "Kamu masih pusing karena kehujanan tadi?"

"Enggak kok, Ma. Nara cuma ... masih kepikiran soal tahap wawancara selanjutnya," ucap Nara berbohong, menunduk dalam.

"Tidak perlu terlalu cemas, Nara," sela Baskoro sambil memotong dagingnya. "Skor tertulismu sudah sangat tinggi. Selisih lima poin dari Kevin itu jarak yang aman. Asalkan kamu bisa mempertahankan argumenmu di depan pewawancara, tiket ke London itu sudah pasti milikmu."

"Tapi, Pa..." Nara melirik Arkan yang sedang minum air putih dengan tenang. "Bagaimana kalau ada mahasiswa lain yang merasa nilai aku ... tidak murni? Maksudku, karena status Papa sebagai Dekan."

Baskoro meletakkan gelasnya dengan ketukan pelan namun tegas. "Siapa yang berani bicara begitu? Ujian tertulis diperiksa secara detail oleh komite independen. Kamu menang karena kamu mampu, Nara."

"Betul kata Papamu, Sayang," tambah Ratna, mengusap tangan Nara di atas meja. "Kamu sudah belajar sampai jam tiga pagi setiap hari. Arkan juga tahu seberapa keras kamu berusaha, kan, Arkan?"

Arkan meletakkan sendoknya, keheningan mendadak merayap di meja makan saat pria itu memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah Nara.

"Ya, Ma. Arkan tau betul seberapa keras Nara berusaha," ucap Arkan, suaranya berat dan lambat. "Nara melakukan segalanya demi bisa pergi sejauh mungkin dari rumah ini."

Nara tersedak air liurnya sendiri, dia menatap Arkan dengan mata membelalak penuh peringatan. Ratna tertawa kecil, mengira itu hanya candaan.

"Kamu ini bisa saja, Arkan. London memang jauh, tapi kan cuma dua tahun. Nanti kalau Nara pergi, kamu pasti kesepian tidak ada rival debat di rumah."

"Saya tidak akan kesepian, Ma," sahut Arkan, seringai tipisnya muncul kembali. "Karena saya pastikan, Nara tidak akan pergi ke mana-mana."

Baskoro mengernyitkan dahi, menatap anak lakil-lakinya dengan bingung. "Apa maksudmu, Arkan? Kalau Nara lulus wawancara, dia wajib berangkat.”

Nara meremas taplak meja di bawah jangkauan pandangan orang tua mereka. Jantungnya berdegup tidak terkendali. Dia takut Arkan benar-benar nekat menghancurkan sandiwara mereka malam ini juga.

"Maksud saya, seleksi wawancara tahun ini sangat dinamis, Pa," potong Arkan cepat, menetralkan atmosfer meja makan dengan senyum profesionalnya yang palsu.

"Banyak variabel yang bisa berubah dalam satu malam. Jadi, Nara harus tetap bersiap untuk skenario terburuk. Tetap di Jakarta, misalnya.

"Baskoro mengangguk-angguk, menerima penjelasan itu. "Ah, benar! Kewaspadaan itu penting dalam hukum. Bagus kamu mengingatkan adikmu."

Nara tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dia meletakkan sendoknya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Pa, Ma... Nara sudah kenyang, Nara izin ke kamar duluan untuk menyiapkan berkas wawancara besok."

"Lho, supnya belum habis, Nak?" tanya Ratna.

"Nanti Nara habiskan di kamar, Ma. Permisi." Nara langsung berdiri, melangkah cepat menuju tangga tanpa berani menoleh ke arah Arkan lagi.

Begitu sampai di kamarnya, Nara mengunci pintu dan melempar tasnya ke atas kasur. Dia berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang luar biasa kacau. Ancaman Arkan di mobil dan provokasi terselubungnya di meja makan tadi sudah membuktikan satu hal, Arkananta tidak sedang bermain-main. Pria itu benar-benar berniat menyabotase seluruh hidupnya demi sebuah obsesi gila.

Bzzzt.

Ponsel Nara di atas kasur bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor Arkan.

Arkan: "Pintu kamarmu dikunci lagi, Nara? Kamu tau betul kunci itu tidak akan bisa menahanku kalau aku benar-benar ingin masuk. Persiapkan dirimu untuk besok pagi, karena aku tidak akan membiarkan Kevin atau beasiswa sialan itu membawamu pergi."

Nara menjatuhkan ponselnya ke kasur, menatap pintu kamarnya dengan rasa takut yang kini bercampur dengan desiran aneh yang kian pekat di dadanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 102

    Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 101

    Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 100

    Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 99

    Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 97

    Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status