Share

Bab 5

Penulis: PUCHA
last update Tanggal publikasi: 2026-08-20 10:17:59

Bab 5

Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar.

08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai.

"Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?"

Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak."

"Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01.

Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penentu masa depan ke London ini tak lebih dari sekadar kuis harian biasa.

Tok! Tok! Tok!

Pengawas ujian mengetuk meja pengeras suara. "Waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Lembar soal akan dibagikan. Handphone nonaktifkan, letakkan di depan meja masing-masing. Waktu kalian seratus dua puluh menit."

Begitu lembar soal berkulit kuning itu mendarat di meja Nara, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Matanya menyisir barisan soal esai. Analisis sengketa hukum dagang internasional berlatar arbitrase. Kasus yang sangat rumit.

Nara menarik napas dalam-dalam, mencoba fokus, dan mulai menggoreskan penanya. Namun, baru tiga puluh menit berjalan, keheningan ruangan dipecah oleh suara gesekan kertas yang cukup nyaring dari baris depan.

Sreeek.

Arkan membalik lembar soalnya ke halaman kedua. Gerakannya begitu santai, menggoreskan pena dengan kecepatan konstan tanpa jeda untuk berpikir panjang.

Nara menelan ludah, melirik lembar jawabannya sendiri yang baru terisi sepertiga halaman.

‘Bagaimana bisa dia secepat itu?’ batin Nara panik. Konsentrasinya mendadak buyar. Setiap ketukan pulpen Arkan di meja depan terdengar seperti hitungan mundur yang mengejek ambisinya.

"Fokus, Nara! Jangan lihat dia," bisik Nara pada dirinya sendiri, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Dia kembali memaksa matanya membaca baris undang-undang di lembar soal.

Satu jam berlalu. Di saat sebagian besar mahasiswa di ruangan itu mulai mengacak rambut frustrasi atau menggigit ujung pensil, Arkan tiba-tiba merapikan alat tulisnya. Dia berdiri, membawa lembar jawabannya yang terlihat penuh terisi, lalu berjalan ke meja pengawas di depan.

"Saya sudah selesai, Pak," ucap Arkan, suaranya yang berat memecah keheningan aula.

Pengawas ujian terbelalak, melirik jam tangannya. "Masih ada sisa waktu lima puluh menit, Saudara Arkan. Anda yakin tidak mau memeriksa kembali?"

"Tidak perlu, Pak. Semua jawaban sudah mutlak," jawab Arkan datar.

Dia berbalik, melangkah menyusuri koridor tengah aula untuk menuju pintu keluar. Saat melewati baris meja nomor 12, meja dimana Nara berada, langkah Arkan melambat selama satu detik. Dia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kaca aula.

Nara mencengkeram pulpennya hingga buku jarinya memutih. "Semua jawaban sudah mutlak," tiru Nara di dalam hati dengan rasa kesal yang membakar.

Sifat arogan pria itu justru menjadi cambuk yang mengembalikan fokusnya. Dengan kemarahan yang tertahan, Nara memacu jemarinya untuk menyelesaikan sisa soal ujiannya.

"Gila! Aku mau pingsan rasanya! Soal nomor tiga itu maksudnya apa coba?!" keluh Citra begitu mereka keluar dari aula ujian dua jam kemudian.

Nara memijat lehernya yang kaku. "Itu jebakan logika hukum, Cit. Kalau kamu pakai pasal dasar, jawabannya pasti salah."

"Ah, sudahlah! Otakku butuh asupan gula sekarang juga," cetus Citra lesu.

"Nara!"

Sebuah suara familier menghentikan langkah mereka di lobi lantai satu. Kevin berjalan mendekat dengan tas ransel yang disampirkan di satu pundak. Topeng golden boy-nya sudah kembali, meski gurat lelah pasca ujian tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

"Eh, Kak Kevin," sapa Citra spontan.

Kevin tersenyum ramah, namun matanya langsung terkunci pada Nara. "Gimana ujiannya tadi, Nar? Sulit?"

"Lumayan, Vin. Studi kasusnya di luar prediksi," jawab Nara formal, menjaga jarak aman setelah insiden di ruang Senat kemarin.

"Ya, aku juga sempat kelabakan di bagian arbitrase tadi," Kevin tertawa kecil, mengacak rambutnya sendiri dengan gaya kasual. Dia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Nara.

"Ngomong-ngomong, buat merayakan kita yang berhasil bertahan hidup dari ujian gila ini ... mau makan siang bareng di kafe depan kampus? Aku yang traktir."

Nara ragu. "Aku …,"

"Ayo dong, Nar. Jangan menolak. Anggap saja ini tanda permintaan maafku atas ... kejadian kemarin. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita sebagai sesama rekan jurusan," potong Kevin dengan nada suara yang terdengar tulus, hampir memohon.

Citra menyenggol lengan Nara dengan bersemangat, memberi kode mata agar Nara menerima ajakan pria tampan itu.

Nara baru saja hendak membuka mulutnya untuk menolak secara halus, ketika suasana di lobi kampus yang ramai mendadak terasa mendingin secara drastis. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat dari arah koridor utama.

Arkan berjalan melewati mereka. Pria itu membawa segelas kopi hitam di tangan kanannya, sementara tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Dia tidak berhenti berjalan, namun tepat saat tubuhnya sejajar dengan meja tempat Nara dan Kevin berdiri, Arkan memutar kepalanya perlahan.

Matanya yang gelap mengunci pandangan Kevin, lalu beralih ke arah Nara.

Itu adalah tatapan paling mengintimidasi yang pernah Nara lihat sepanjang hidupnya. Matanya tajam, dingin, dan sarat akan aura kepemilikan yang sangat pekat, sebuah peringatan sunyi yang seolah berkata 'Jangan coba-coba melangkah melewati batas jika kamu tidak mau hancur.'

Kevin seketika terbungkam, senyum di wajahnya membeku di udara. Atmosfer di sekitar mereka mendadak begitu mencekam hingga Citra bahkan menahan napasnya tanpa sadar.

Arkan terus berjalan lurus keluar menuju area parkir tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di lobi fakultas.

Nara menatap punggung Arkan yang menjauh dengan jantung yang berdegup liar di dalam dadanya. Rasa takut dan getaran aneh kembali bercampur aduk di dalam dirinya.

"Nar..." bisik Citra dengan suara bergetar, memecah keheningan. "Kak Arkan kalau menatap orang ... kenapa kayak mau membunuh ya?"

Kevin berdeham, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat ciut. "Jadi gimana, Nara? Mau makan siang bareng?"

Nara menarik napas dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Maaf, Kevin. Aku tiba-tiba ingat ada urusan keluarga yang mendesak di rumah. Aku harus pulang sekarang."

Tanpa menunggu balasan dari Kevin, Nara langsung berbalik dan setengah berlari menuju gerbang kampus, mengejar siluet mobil sedan hitam yang dia tahu pasti sedang menunggunya di luar

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Aksara_Semesta
Nara, Arkan dan Kevin. hmmm
goodnovel comment avatar
SiapaSaya
ayo naraaa! kamu bisa ke London
goodnovel comment avatar
DuarDuar
semangat naraaaaaa!
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 102

    Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 101

    Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 100

    Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 99

    Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 97

    Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status