LOGINBab 5
Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar. 08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai. "Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?" Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak." "Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01. Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penentu masa depan ke London ini tak lebih dari sekadar kuis harian biasa. Tok! Tok! Tok! Pengawas ujian mengetuk meja pengeras suara. "Waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Lembar soal akan dibagikan. Handphone nonaktifkan, letakkan di depan meja masing-masing. Waktu kalian seratus dua puluh menit." Begitu lembar soal berkulit kuning itu mendarat di meja Nara, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Matanya menyisir barisan soal esai. Analisis sengketa hukum dagang internasional berlatar arbitrase. Kasus yang sangat rumit. Nara menarik napas dalam-dalam, mencoba fokus, dan mulai menggoreskan penanya. Namun, baru tiga puluh menit berjalan, keheningan ruangan dipecah oleh suara gesekan kertas yang cukup nyaring dari baris depan. Sreeek. Arkan membalik lembar soalnya ke halaman kedua. Gerakannya begitu santai, menggoreskan pena dengan kecepatan konstan tanpa jeda untuk berpikir panjang. Nara menelan ludah, melirik lembar jawabannya sendiri yang baru terisi sepertiga halaman. ‘Bagaimana bisa dia secepat itu?’ batin Nara panik. Konsentrasinya mendadak buyar. Setiap ketukan pulpen Arkan di meja depan terdengar seperti hitungan mundur yang mengejek ambisinya. "Fokus, Nara! Jangan lihat dia," bisik Nara pada dirinya sendiri, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Dia kembali memaksa matanya membaca baris undang-undang di lembar soal. Satu jam berlalu. Di saat sebagian besar mahasiswa di ruangan itu mulai mengacak rambut frustrasi atau menggigit ujung pensil, Arkan tiba-tiba merapikan alat tulisnya. Dia berdiri, membawa lembar jawabannya yang terlihat penuh terisi, lalu berjalan ke meja pengawas di depan. "Saya sudah selesai, Pak," ucap Arkan, suaranya yang berat memecah keheningan aula. Pengawas ujian terbelalak, melirik jam tangannya. "Masih ada sisa waktu lima puluh menit, Saudara Arkan. Anda yakin tidak mau memeriksa kembali?" "Tidak perlu, Pak. Semua jawaban sudah mutlak," jawab Arkan datar. Dia berbalik, melangkah menyusuri koridor tengah aula untuk menuju pintu keluar. Saat melewati baris meja nomor 12, meja dimana Nara berada, langkah Arkan melambat selama satu detik. Dia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kaca aula. Nara mencengkeram pulpennya hingga buku jarinya memutih. "Semua jawaban sudah mutlak," tiru Nara di dalam hati dengan rasa kesal yang membakar. Sifat arogan pria itu justru menjadi cambuk yang mengembalikan fokusnya. Dengan kemarahan yang tertahan, Nara memacu jemarinya untuk menyelesaikan sisa soal ujiannya. "Gila! Aku mau pingsan rasanya! Soal nomor tiga itu maksudnya apa coba?!" keluh Citra begitu mereka keluar dari aula ujian dua jam kemudian. Nara memijat lehernya yang kaku. "Itu jebakan logika hukum, Cit. Kalau kamu pakai pasal dasar, jawabannya pasti salah." "Ah, sudahlah! Otakku butuh asupan gula sekarang juga," cetus Citra lesu. "Nara!" Sebuah suara familier menghentikan langkah mereka di lobi lantai satu. Kevin berjalan mendekat dengan tas ransel yang disampirkan di satu pundak. Topeng golden boy-nya sudah kembali, meski gurat lelah pasca ujian tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Eh, Kak Kevin," sapa Citra spontan. Kevin tersenyum ramah, namun matanya langsung terkunci pada Nara. "Gimana ujiannya tadi, Nar? Sulit?" "Lumayan, Vin. Studi kasusnya di luar prediksi," jawab Nara formal, menjaga jarak aman setelah insiden di ruang Senat kemarin. "Ya, aku juga sempat kelabakan di bagian arbitrase tadi," Kevin tertawa kecil, mengacak rambutnya sendiri dengan gaya kasual. Dia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Nara. "Ngomong-ngomong, buat merayakan kita yang berhasil bertahan hidup dari ujian gila ini ... mau makan siang bareng di kafe depan kampus? Aku yang traktir." Nara ragu. "Aku …," "Ayo dong, Nar. Jangan menolak. Anggap saja ini tanda permintaan maafku atas ... kejadian kemarin. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita sebagai sesama rekan jurusan," potong Kevin dengan nada suara yang terdengar tulus, hampir memohon. Citra menyenggol lengan Nara dengan bersemangat, memberi kode mata agar Nara menerima ajakan pria tampan itu. Nara baru saja hendak membuka mulutnya untuk menolak secara halus, ketika suasana di lobi kampus yang ramai mendadak terasa mendingin secara drastis. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat dari arah koridor utama. Arkan berjalan melewati mereka. Pria itu membawa segelas kopi hitam di tangan kanannya, sementara tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Dia tidak berhenti berjalan, namun tepat saat tubuhnya sejajar dengan meja tempat Nara dan Kevin berdiri, Arkan memutar kepalanya perlahan. Matanya yang gelap mengunci pandangan Kevin, lalu beralih ke arah Nara. Itu adalah tatapan paling mengintimidasi yang pernah Nara lihat sepanjang hidupnya. Matanya tajam, dingin, dan sarat akan aura kepemilikan yang sangat pekat, sebuah peringatan sunyi yang seolah berkata 'Jangan coba-coba melangkah melewati batas jika kamu tidak mau hancur.' Kevin seketika terbungkam, senyum di wajahnya membeku di udara. Atmosfer di sekitar mereka mendadak begitu mencekam hingga Citra bahkan menahan napasnya tanpa sadar. Arkan terus berjalan lurus keluar menuju area parkir tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di lobi fakultas. Nara menatap punggung Arkan yang menjauh dengan jantung yang berdegup liar di dalam dadanya. Rasa takut dan getaran aneh kembali bercampur aduk di dalam dirinya. "Nar..." bisik Citra dengan suara bergetar, memecah keheningan. "Kak Arkan kalau menatap orang ... kenapa kayak mau membunuh ya?" Kevin berdeham, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat ciut. "Jadi gimana, Nara? Mau makan siang bareng?" Nara menarik napas dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Maaf, Kevin. Aku tiba-tiba ingat ada urusan keluarga yang mendesak di rumah. Aku harus pulang sekarang." Tanpa menunggu balasan dari Kevin, Nara langsung berbalik dan setengah berlari menuju gerbang kampus, mengejar siluet mobil sedan hitam yang dia tahu pasti sedang menunggunya di luarBab 9 Nara melangkah dengan hentakan kaki yang menggema di koridor basemen gedung fakultas. Lorong menuju ruang loker debat dan riset hukum sore itu sangat sepi, kontras dengan keriuhan di lantai atas. Dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Nara mendorong pintu ruang loker hingga membentur dinding dengan keras. Brak! Pria yang sedang merapikan dasi hitamnya di depan cermin menoleh dengan sangat tenang. Arkan bahkan tidak terkejut melihat nafas Nara yang memburu di ambang pintu. "Kamu gila, Arkan! Benar-benar gila!" teriak Nara, membanting tas ranselnya ke atas bangku kayu panjang. Arkan memutar tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana bahan hitamnya. "Gila di bagian mana, Nara? Aku cuma menjalankan tugasku sebagai penguji." "Tugas?" Nara maju beberapa langkah, menunjuk dada Arkan dengan jari yang bergetar. "Kamu sengaja membantaiku di depan Papa! Kamu sengaja bikin argumenku kelihatan cacat supaya mereka punya alasan buat menggagalkan aku!" "Kalau aku mau mengga
Bab 8 Malam kian larut, namun Nara masih terjaga. Pukul satu dini hari, dia berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang lelah. Tiba-tiba, suara pintu penghubung balkon di sebelahnya bergeser pelan. Arkan berdiri di sana, hanya terpisah oleh pagar besi setinggi dada. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di pagar, menatap Nara dengan rokok yang belum dinyalakan di jarinya. "Belum tidur? Berkas wawancaramu sesulit itu?" tanya Arkan, suaranya berat membelah keheningan malam. Nara menoleh ketus, "Gimana aku bisa tidur kalau ada orang gila yang terus meneror ponselku?" Arkan terkekeh pelan, seringai tipisnya terlihat samar di bawah temaram lampu balkon. "Aku tidak menerormu, Nara. Aku cuma mengingatkan agar kamu realistis." "Realistis?" Nara melangkah mendekati pagar pembatas, menatap Arkan dengan mata menyala. "Realistis versi kamu itu artinya aku harus menyerah pada mimpiku? Aku harus tinggal di rumah ini, pura-pura jadi adik tiri yang manis, sementara
Bab 7 Suara deburan hujan yang menghantam atap mobil sedan hitam milik Arkan menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di sepanjang jalan pulang. Nara duduk menyamping, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, sengaja melempar pandangannya jauh ke luar. Matanya masih sedikit sembap dan dadanya masih terasa sesak oleh sisa amarah di parkiran kampus tadi. Arkan mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu pada sandaran lengan. Pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai tergenang air. "Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?" suara berat Arkan memecah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Nara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. "Jangan ajak aku bicara." "Kita akan sampai di rumah dalam sepuluh menit, Nara. Hapus air matamu kalau kamu tidak mau Mama berpikiran yang tidak-tidak," ucap Arkan, nadanya kembali datar dan dingin, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu telah menguap
Bab 6 Nara menatap papan pengumuman digital di lobi Fakultas Hukum dengan mata tak berkedip. Di baris paling atas hasil seleksi tertulis Global Prestise Scholarship, namanya tercetak jelas. Nara Anindita (NIM: 2024011032) – Skor: 95 Kevin Mahendra (NIM: 2022011005) – Skor: 90 Arkananta Dewangga (NIM: 2022011001) – Skor: 89 "Nar! Kamu peringkat pertama!" Citra mengguncang bahu Nara dengan histeris. "Kamu mengalahkan Kak Kevin dan Kak Arkan sekaligus! Gila, kamu resmi jadi legenda baru fakultas!" Nara tidak bersorak, jantungnya justru mencelos melihat angka 89 di samping nama Arkan. Sembilan puluh lima berbanding delapan puluh sembilan? Jarak angka itu terlalu jauh untuk standar seorang Arkananta. "Cit, aku ke ruang panitia dulu," ucap Nara datar, melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya. "Eh? Mau ngapain? Bukannya harusnya merayakan?" "Ada berkas administrasi yang mau kupastikan." Nara setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen panitia beasiswa. R
Bab 5 Atmosfer Aula Utama Lantai 4 Gedung Rektorat pagi ini terasa seperti ruang eksekusi. Bau kertas ujian yang khas berbaur dengan ketegangan dari lima puluh mahasiswa terbaik fakultas. Nara melirik jam dinding besi di atas mimbar. 08.55 WIB. Lima menit sebelum ujian seleksi tertulis Global Prestise Scholarship dimulai. "Nar, tanganmu dingin banget," bisik Citra, yang duduk di baris meja sebelah kanan Nara. "Kamu sudah belajar semua studi kasus hukum internasional yang keluar tahun lalu, kan?" Nara memaksakan senyum, meremas jemarinya yang mendadak beku. "Sudah, Cit. Cuma ... atmosfer ruangan ini agak bikin sesak." "Bukan ruangannya yang bikin sesak, tapi orang di baris depan itu," timpal Citra sambil memajukan dagunya ke arah baris terdepan, tepat di nomor kursi 01. Arkananta Dewangga, Pria itu duduk dengan punggung tegak, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan gerakan ritmis yang sangat tenang. Tidak ada buku di mejanya. Tidak ada guratan panik di wajahnya. Seolah ujian penent
Bab 4 Matahari pagi belum sepenuhnya menghalau sisa dingin bekas hujan semalam, namun atmosfer di koridor Gedung B Fakultas Hukum sudah terasa membakar bagi Nara. Langkah kakinya terasa berat, tetapi cengkraman tangan Arkan di pergelangan tangannya memaksanya untuk terus maju. "Arkan, lepas! Kita sudah di koridor kampus," bisik Nara setengah mendesis, mencoba menyentak tangannya. "Kalau ada anak angkatan kita yang lihat, selesai sudah." Arkan tidak melepaskannya. Pria itu terus berjalan lurus menatap pintu kayu ruang Senat Mahasiswa di ujung lorong. "Jam menunjukkan pukul 09.05, Nara. Kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu si pemeras habis. Kamu masih mau peduli soal gosip?" "Tapi …," Braak! Arkan mendorong pintu ruang Senat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sentakan keras itu membuat satu-satunya orang di dalam ruangan, yang sedang santai menyesap kopi di balik meja kerja, tersentak kaget hingga hampir menumpahkan minumannya. Kevin Mahendra. Sang Golden Bo







