LOGIN
“Ateera, malam ini tugasmu untuk membersihkan kamar tuan muda,” ujar salah seorang pelayan.
“Sa-saya?” tanya Ateera dengan suaranya yang terdengar ragu-ragu. “Ya, kau.” “Ta-tapi, saya—“ “Ini perintah dari kepala pelayan, sebagai pelayan baru apa kau sudah berani menentangnya?” “Ah ti-tidak, saya akan lakukan.” “Ya, itu memang sudah tugasmu.” Pelayan senior itu hendak pergi, namun sejurus kemudian dia pun berhenti dan berbalik lagi pada Ateera. “Oh iya, ada yang harus aku beritahukan padamu.” Ateera pun mengangkat wajahnya, dan melihat pada rekan sesamanya itu. “Kau tahu, tuan muda itu terkenal dingin dan tak tersentuh. Beliau sangat tidak suka jika ada seseorang yang mengganggu miliknya. Jadi perhatikan baik-baik letak barang-barangnya, jangan ada satu pun posisinya yang berubah.” “Jika kau melakukan kesalahan sedikit saja, kami tidak bertanggung jawab. Apa kau mengerti?” jelasnya. “Baik.” “Ah dan satu lagi, tuan muda akan kembali pukul 9 malam, jadi pastikan kau menyelesaikannya sebelum tuan datang.” “Baik, saya mengerti,” jawab Ateera lagi dengan patuh. Pelayan itu menunjukkan sebuah senyum licik, sebelum akhirnya pergi dari sana bersama dengan rekannya yang lain. Sementara Ateera menoleh, melihat kepergian mereka seraya mendengar samar-samar apa yang dua seniornya itu bicarakan dengan berbisik. “Hei, apa ini tidak apa-apa. Bagaimana jika terjadi masalah besar?” “Kau tenang saja, bukankah wajar memberikan pelajaran pada pelayan baru.” Ateera menggigit bibir bawahnya, entah kenapa ekspresi yang dia lihat dari kedua pelayan itu membuatnya menjadi gelisah. Hingga malam harinya, tepat pukul 7. Hujan mengguyur dengan begitu deras, bersamaan dengan dentuman petir yang menggelegar, suara langkah kaki terdengar melewati lorong lantai dua. Langkah kaki pelan seakan memberitahu suatu keraguan dari pemiliknya. Ateera melihat ke sana kemari, sebagai pelayan baru, dia memang belum mengenal seutuhnya mansion mewah ini. Dia juga tidak mengerti, kenapa dia sudah ditugaskan untuk melakukan tugas yang terbilang sulit ini. Langkah Ateera lalu terhenti, tepat di depan sebuah pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat. “Ya, ini adalah kamar tuan muda. Aku harus cepat, sebelum tuan muda datang.” Saat membuka pintu di depannya itu, entah kenapa perasaan Ateera tiba-tiba menjadi tidak enak, tapi dia tidak boleh mangkir dari tugasnya. Seraya menarik napasnya pelan dia pun masuk ke dalam, pandangannya mengedar, melihat keadaan kamar yang terbilang sudah sangat rapi ini. “Apa yang harus aku bersihkan, ini sudah rapi,” gumamnya sambil terus melihat keseluruhan kamar itu. “Tapi coba aku bersihkan saja, mungkin masih ada debu yang menempel,” lanjutnya. Dengan sebuah kemoceng di tangannya, Ateera pun membersihkan kamar itu dengan hati-hati. Dia juga mengingat perkataan seniornya untuk tidak mengubah letak barang-barang yang ada di sini. “Hati-hati, aku tidak boleh melakukan kesalahan.” Sejujurnya Ateera merasa begitu terbebani sekarang, terlebih entah kenapa hatinya itu terus merasa tidak nyaman. Deg! Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat dan berhasil membuat Ateera tersentak. “Siapa itu?” gumamnya, pupil mata Ateera melebar, saat ia melihat handle pintu yang bergerak ke bawah dan membuka pintu di sana. Refleks, Ateera yang kebingungan itu pun bersembunyi. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, saat telinganya itu memantulkan suara seorang pria. “Hah ... hah....” “Itu, apakah itu tuan muda?” pikir Ateera, “tapi, bukankah tuan muda akan pulang pukul 9 malam?” Pria yang baru saja masuk itu, tampak berjalan dengan tergopoh-gopoh, menuju ranjang tempat tidurnya. Dengan suara napas yang terengah juga wajah yang memerah, dia membuka laci nakas di sana dan mengambil sesuatu. Sebotol kecil pil, yang kemudian dia keluarkan dengan tangannya yang gemetar. Pria itu lantas meminumnya, berharap keadaannya itu membaik. Namun... “Kurang ajar, tidak berguna!” Crack! Pria itu justru marah dan melempar botol pil itu ke lantai hingga pecah. Ateera yang mendengar keributan itu tersentak, dia semakin merasa takut. Dia lalu menyalahkan dirinya sendiri, yang justru bersembunyi seperti ini, padahal dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun. Dimana kebodohannya itu, justru membuatnya terjebak saat ini. Tapi kemudian, karena merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ateera pun membuka sedikit pintu lemari tempat dirinya bersembunyi. Dia terkejut, dengan pupil matanya yang melebar, saat melihat apa yang tengah tuan mudanya lakukan. Pria itu membuka ritsleting celananya dan mengeluarkan miliknya. Tangannya terus menyentuh benda itu yang semakin membesar, menggosoknya ke atas dan ke bawah disertai suara desahan juga napasnya yang terengah. “Hah, haah...” Ateera refleks mengalihkan pandangannya, menutup mulutnya dengan lebih rapat setelah hampir saja berteriak. “A-apa yang baru saja aku lihat? Tu-tuan muda, di-dia baru saja ....” “Aku pikir itu hanya perasaanku saja, tapi rupanya benar ada tikus di kamarku.” Deg! Suara berat itu sukses membuat Ateera diam membeku di tempatnya, dia lalu menengadah dan mendapati seorang pria yang berdiri di depannya dengan pintu lemari yang sudah terbuka. “Tu-Tuan Muda ....”Tepat hari ini, Arash menjalani operasi.Di sana, terlihat Ateera yang sudah menunggu dengan penuh kekhawatiran.Dia terus berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi seraya menggigit kuku ibu jarinya.Dia sangat takut jika operasi Arash akan mengalami kendala, dan berujung pada sesuatu yang buruk yang tidak pernah bisa dia bayangkan.Saat ini sudah sekitar tiga jam berlalu, tapi operasi itu masih belum juga selesai.Di dalam hatinya Ateera terus bertanya-tanya, apakah semuanya berjalan dengan baik.Kenapa begitu lama, apakah mungkin sudah terjadi sesuatu yang buruk?“Hufffth, aku sama sekali tidak bisa tenang,” gumamnya.Dada Ateera juga terus berpacu dengan begitu cepat, dia sama sekali tidak akan bisa tenang sampai operasi itu selesai dilakukan.Hingga akhirnya setelah 4 jam berlalu, pintu ruang operasi pun terbuka dan memperlihatkan dokter Sean juga dokter yang lebih senior darinya keluar dari sana.Melihat itu, tentu saja Ateera langsung mendekat dan bertanya, “Do-Dokter bagaim
24.Ateera terus berjalan mundur untuk menghindari Valiant. Sementara di depannya pria itu terus melangkah maju mendekatinya.Ekspresi wajahnya begitu menakutkan, seakan ia tengah begitu marah saat ini.“Apa kau tidak dengar yang kukatakan, atau kau memang sengaja untuk melanggar perintahku!”“Ti-tidak Tuan, saya hanya ... ahh.” Ateera meringis, kala kakinya tersandung ranjang di belakangnya dan membuatnya terjatuh.Di depannya, Valiant kini sudah berdiri amat dekat dengannya. Satu tangannya itu tergerak dan memegang dagu Ateera."Katakan alasanmu, apa yang membuatmu berani tidak mendengarkanku!” ujarnya.“Tuan Muda, saya ... saya tidak mungkin melawan Anda. Itu karena, sa-saya merasa takut,” jawab Ateera.“Takut?” Valiant bertanya dengan keningnya yang berkerut.“Tadi saya pikir Anda keluar untuk memanggil pelayan, saya pikir—““Pfhhh hahaha.”Ucapan Ateera terpotong, saat tiba-tiba Valiant tertawa.Kening Ateera mengerut, dia merasa bingung kenapa Valiant tertawa. Memangnya ada yang
“Tu-Tuan Muda, sa-saya mohon berhenti.” Ateera meminta dengan suara yang sudah begitu lemah.Tubuhnya juga sudah terasa begitu lemas hingga tak sanggup lagi untuk berdiri.Entahlah sudah berapa kali atau berapa lama Valiant melakukannya. Yang jelas, saat ini Ateera sudah menyerah dan tidak sanggup lagi.“Berhenti? Jangan bercanda, itu sama sekali belum cukup.”“Ahh, Tuan Muda.” Ateera mengerang dengan kuat saat Valiant mendorong tubuhnya semakin kuat.Entah sebenarnya apa yang terjadi, walaupun Valiant memang selalu melakukannya lebih dari sekali. Tapi saat ini, rasanya ini begitu berlebihan.Dari pada menunaikan janjinya, hal ini lebih terlihat seperti dirinya yang tengah menerima hukuman.‘Apa aku sudah melakukan kesalahan?’ batin Ateera.“Keuggh!” Suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Ateera saat Valiant yang tanpa terduga mencekiknya.“Tuan Muda,” panggilnya dengan suara parau.“Beraninya kau memikirkan hal lain saat bersamaku. Siapa yang sedang kau pikirkan, hah? Apakah itu pria
Cup!“Hmpph, ahh.”Cup...!Cup!Suara pautan bibir terdengar begitu jelas, memenuhi kamar Valiant.Tampak Ateera yang kini tengah memenuhi janjinya pada Valiant untuk membalas kebaikan pria itu yang sudah menepati janjinya memberikan donor jantung untuk adiknya.Walaupun sebenarnya Ateera tidak menyangka jika hal seperti inilah yang tuan mudanya ini inginkan darinya.Dia tahu, tubuhnya ini adalah bayaran atas perjanjian yang terjalin di antara mereka.Karena itu awalnya dia pikir, saat ini Valiant akan meminta hal lain terhadapnya.Tapi rupanya, semua itu salah. Dia sama sekali tidak mengerti, kenapa Valiant begitu menginginkan tubuhnya. Padahal dia memiliki tunangan yang begitu cantik dan setara dengannya.Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran pria ini, Ateera sama sekali tidak mengerti.“Haahh, Tu-Tuan,” desah Ateera. Saat Valiant menyapu habis bibirnya dan menggigitnya dengan cukup keras.“Kenapa? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau akan membalas kebaikanku? Dan sekarang kau
Ateera sudah berada di rumah sakit saat ini. Kini, dia berdiri tepat di samping Arash yang masih belum sadarkan diri.Ateera menangis, karena tidak seperti di video yang Valiant tunjukkan. Rupanya kondisi Arash lebih mengkhawatirkan jika dilihat secara langsung.“Dokter Sean, Arash pasti baik-baik saja, kan?” tanya Ateera.Sean yang memang sejak tadi selalu berada di samping Ateera pun tampak melihatnya. “Kau tenang saja Ateera, aku berjanji padamu. Operasi itu pasti akan berjalan lancar. Dan Arash pasti akan sadar kembali. Berdoalah, semoga Tuhan mengabulkan harapan kita.”Ateera mengangguk, walaupun jauh dari lubuk hatinya dia merasa khawatir. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu saat operasi itu berlangsung.Walau bagaimanapun Arash masih kecil. Kenapa dia harus menanggung beban seberat ini.“Sekarang lebih baik kita keluar dan tenangkan dirimu ya.”Ateera kembali mengangguk, sekarang ini dia hanya bisa menurut. Karena itu semua demi kebaikan Arash.***Matahari sudah terbenam di
“Ikutlah denganku Ateera,” ajak Sean.Ateera mengangguk. “Saya memang akan ke sana, Dokter.”“Kalau begitu ayo.” Sean membukakan pintu mobil sebelah kiri di sampingnya, dan mempersilakan Ateera untuk masuk.Dengan sopan, Ateera menerima ajakan Sean terhadapnya. Dia pun kemudian masuk, dan duduk di sana.Terlihat Sean yang juga ikut masuk, lantas melajukan mobilnya pergi dari area kediaman Orville.Tanpa mereka sadari, jika dari dalam ruang kerjanya Valiant terus memperhatikan mereka.Rasa tidak suka di wajahnya itu tampak semakin jelas. Kala ia melihat Ateera yang masuk ke dalam mobil Sean dan pergi bersamanya.“Ada apa? Apa yang kau lihat?” tanya Victoria yang akhirnya sukses menyadarkan Valiant.“Tidak ada,” jawabnya dingin.Namun pandangannya itu masih terus melihat pada mobil Sean yang terus melaju, hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.***Sementara itu, dalam perjalanan menuju rumah sakit.Suasana di dalam mobil Sean saat ini terlihat begitu hening.Ateera yang hanya







