LOGINPagi itu suasana mansion Orville tampak begitu sibuk, tak sekali dua kali para pelayan terlihat berlalu lalang untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Termasuk Ateera yang saat ini tengah membersihkan area lantai satu.
Ekspresinya begitu cemas dan gelisah. Bagaimana tidak, walaupun sudah berusaha untuk melupakan kejadian buruk yang dia alami tadi malam, tapi tetap saja itu tidak mudah. Karena secara tiba-tiba pengalaman buruk itu hinggap di kepalanya dan mengganggu aktivitasnya. Seperti sekarang, dia sama sekali tidak fokus. Terlebih dia juga takut jika akan bertemu dengan tuan mudanya itu. ‘Aku harap tuan muda akan benar-benar tidak ingat dengan wajahku,’ batinnya penuh harap. “Ra ... Ateera!” Deg! Ateera tersentak, ketika suara keras itu terdengar memanggilnya. Dia lantas menoleh, dan mendapati rekan sekamarnya yang datang menghampirinya. “Kau melamun? Aku tadi memanggilmu beberapa kali tapi kau tak kunjung menjawab.” “Ah, be-benarkah? Aku tidak dengar,” jawab Ateera. “Hmm.” Saat ini Ateera merasa begitu kikuk, terlebih teman sekamarnya ini hanya diam saja sembari melihatnya. “Tapi, kenapa kau memanggilku. Apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Ateera. “Oh itu, aku hanya merasa bingung. Karena semalam kau tidak datang ke kamar. Aku bertanya-tanya, apa mungkin kau pulang ke rumah. Tapi jika iya, itu kan melanggar aturan. Jadi, kau ke mana semalam, Ateera?” Pertanyaan itu tentu saja langsung membuat Ateera diam mematung. Bingung, ya dia tidak tahu harus menjawab apa. “I-itu ... semalam ... kau tahu kan, aku ini pelayan baru. Aku belum mengetahui seluk-beluk mansion ini. Karena itu aku berinisiatif untuk melihatnya sendiri.” “Tapi karena mansion ini sangat besar aku malah tersesat, karena hari sudah larut dan aku mengantuk, jadi aku tidur di sembarang tempat. Maafkan aku Mala, sepertinya aku membuatmu khawatir.” Ateera terpaksa berbohong, karena dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. “Ah seperti itu, harusnya aku yang minta maaf. Karena sebagai rekan sekamarmu aku terasa mengabaikanmu." "Ah tidak, itu karena aku yang terlalu malu untuk meminta bantuanmu,” jawab Ateera. “Baiklah jika seperti itu, mulai sekarang tanyakan apa pun padaku hal yang tidak kau ketahui. Aku pasti akan membantumu,” ujar Mala. ‘Hal yang tidak kuketahui? Haruskah aku bertanya pada Mala tentang kebenaran tunangan tuan muda,’ batinnya. “Kalau begitu Mala ....” Ucapan Ateera tiba-tiba terhenti saat dia melihat dua pelayan senior yang menjebaknya semalam. Ekspresi marah langsung terlihat jelas dari wajahnya, karena ulah dari dua pelayan itu dia harus mengalami hal buruk yang sangat mengerikan di hidupnya. “Ateera, apa yang ingin kau katakan?” “Tunggu sebentar Mala, ada hal yang harus aku selesaikan.” “Hm?” Mala melihat dengan bingung kepergian Ateera yang menghampiri dua pelayan di sana. “Ada urusan apa Ateera dengan kak Lani dan kak Sita,” gumamnya. “Kalian!” Ateera memanggil dengan nyaring dua pelayan itu, hingga membuat mereka pun menoleh padanya. Tidak ada ekspresi penyesalan dari mereka saat melihat Ateera, justru raut kepuasanlah yang tampak di sana, karena berhasil mempermainkan juniornya itu. “Melihatmu dalam keadaan baik-baik saja, sepertinya kau berhasil keluar dari sana tanpa ketahuan,” ujar pelayan bernama Sita. Ateera mengepalkan kedua tangannya erat, bukti kekesalan dari dalam hatinya yang sudah menggebu-gebu. “Sebenarnya apa niat kalian dengan menjebakku seperti itu?” tanyanya. “Tidak ada, kami hanya main-main saja. Karena kau pelayan baru,” jawab Lani. “Main-main?” “Ya, kenapa? Apa kau tidak suka? Jika tidak suka maka pergi saja. Atau, kau akan melaporkan kami pada kepala pelayan? Silakan saja, kau pikir siapa yang akan kepala pelayan percayai?” Ateera terdiam dengan hati yang semakin dongkol. Tapi mereka benar, percuma saja melapor. Statusnya hanya sebagai pelayan baru. Orang-orang di sini pasti tidak akan percaya padanya, termasuk kepala pelayan. “Tapi Ateera, kami masih penasaran. Bagaimana caramu keluar dengan selamat dari kamar tuan muda.” Deg! Kini, Ateera langsung mematung di tempatnya. Rasa kesal dan marah di dalam hatinya itu seketika berubah menjadi kecemasan. Sekarang, bagaimana dia akan menjawab. “Ateera, jangan bilang kau ... menggoda tuan muda?” Jederr! Benar saja, mereka berdua pasti menyadari sesuatu. “Hei, apa yang kau katakan,” tukas Lani yang mengelak pemikiran Sita. “Jika dia berani menggoda tuan muda, dia pasti sudah tidak ada lagi di sini. Dan lagi pula, untuk apa tuan muda tertarik padanya, sementara beliau memiliki tunangan yang cantik dan tentu saja setara dengannya,” lanjutnya. Ateera terdiam dengan pupil mata sedikit melebar, saat ia menggaris bawahi kata tunangan yang Lani katakan. 'Jadi, itu artinya benar. jika tuan muda sudah memiliki tunangan,' batinnya. Sementara itu, tanpa mereka sadari. Tepat di lantai dua, Valiant berdiri di dekat pagar penjaga. Pandangannya lurus melihat pada Ateera. Dia terus menatapnya, memperhatikan gerak-geriknya, hingga terlihat sebuah seringai yang terlukis di bibirnya.Tepat hari ini, Arash menjalani operasi.Di sana, terlihat Ateera yang sudah menunggu dengan penuh kekhawatiran.Dia terus berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi seraya menggigit kuku ibu jarinya.Dia sangat takut jika operasi Arash akan mengalami kendala, dan berujung pada sesuatu yang buruk yang tidak pernah bisa dia bayangkan.Saat ini sudah sekitar tiga jam berlalu, tapi operasi itu masih belum juga selesai.Di dalam hatinya Ateera terus bertanya-tanya, apakah semuanya berjalan dengan baik.Kenapa begitu lama, apakah mungkin sudah terjadi sesuatu yang buruk?“Hufffth, aku sama sekali tidak bisa tenang,” gumamnya.Dada Ateera juga terus berpacu dengan begitu cepat, dia sama sekali tidak akan bisa tenang sampai operasi itu selesai dilakukan.Hingga akhirnya setelah 4 jam berlalu, pintu ruang operasi pun terbuka dan memperlihatkan dokter Sean juga dokter yang lebih senior darinya keluar dari sana.Melihat itu, tentu saja Ateera langsung mendekat dan bertanya, “Do-Dokter bagaim
24.Ateera terus berjalan mundur untuk menghindari Valiant. Sementara di depannya pria itu terus melangkah maju mendekatinya.Ekspresi wajahnya begitu menakutkan, seakan ia tengah begitu marah saat ini.“Apa kau tidak dengar yang kukatakan, atau kau memang sengaja untuk melanggar perintahku!”“Ti-tidak Tuan, saya hanya ... ahh.” Ateera meringis, kala kakinya tersandung ranjang di belakangnya dan membuatnya terjatuh.Di depannya, Valiant kini sudah berdiri amat dekat dengannya. Satu tangannya itu tergerak dan memegang dagu Ateera."Katakan alasanmu, apa yang membuatmu berani tidak mendengarkanku!” ujarnya.“Tuan Muda, saya ... saya tidak mungkin melawan Anda. Itu karena, sa-saya merasa takut,” jawab Ateera.“Takut?” Valiant bertanya dengan keningnya yang berkerut.“Tadi saya pikir Anda keluar untuk memanggil pelayan, saya pikir—““Pfhhh hahaha.”Ucapan Ateera terpotong, saat tiba-tiba Valiant tertawa.Kening Ateera mengerut, dia merasa bingung kenapa Valiant tertawa. Memangnya ada yang
“Tu-Tuan Muda, sa-saya mohon berhenti.” Ateera meminta dengan suara yang sudah begitu lemah.Tubuhnya juga sudah terasa begitu lemas hingga tak sanggup lagi untuk berdiri.Entahlah sudah berapa kali atau berapa lama Valiant melakukannya. Yang jelas, saat ini Ateera sudah menyerah dan tidak sanggup lagi.“Berhenti? Jangan bercanda, itu sama sekali belum cukup.”“Ahh, Tuan Muda.” Ateera mengerang dengan kuat saat Valiant mendorong tubuhnya semakin kuat.Entah sebenarnya apa yang terjadi, walaupun Valiant memang selalu melakukannya lebih dari sekali. Tapi saat ini, rasanya ini begitu berlebihan.Dari pada menunaikan janjinya, hal ini lebih terlihat seperti dirinya yang tengah menerima hukuman.‘Apa aku sudah melakukan kesalahan?’ batin Ateera.“Keuggh!” Suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Ateera saat Valiant yang tanpa terduga mencekiknya.“Tuan Muda,” panggilnya dengan suara parau.“Beraninya kau memikirkan hal lain saat bersamaku. Siapa yang sedang kau pikirkan, hah? Apakah itu pria
Cup!“Hmpph, ahh.”Cup...!Cup!Suara pautan bibir terdengar begitu jelas, memenuhi kamar Valiant.Tampak Ateera yang kini tengah memenuhi janjinya pada Valiant untuk membalas kebaikan pria itu yang sudah menepati janjinya memberikan donor jantung untuk adiknya.Walaupun sebenarnya Ateera tidak menyangka jika hal seperti inilah yang tuan mudanya ini inginkan darinya.Dia tahu, tubuhnya ini adalah bayaran atas perjanjian yang terjalin di antara mereka.Karena itu awalnya dia pikir, saat ini Valiant akan meminta hal lain terhadapnya.Tapi rupanya, semua itu salah. Dia sama sekali tidak mengerti, kenapa Valiant begitu menginginkan tubuhnya. Padahal dia memiliki tunangan yang begitu cantik dan setara dengannya.Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran pria ini, Ateera sama sekali tidak mengerti.“Haahh, Tu-Tuan,” desah Ateera. Saat Valiant menyapu habis bibirnya dan menggigitnya dengan cukup keras.“Kenapa? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau akan membalas kebaikanku? Dan sekarang kau
Ateera sudah berada di rumah sakit saat ini. Kini, dia berdiri tepat di samping Arash yang masih belum sadarkan diri.Ateera menangis, karena tidak seperti di video yang Valiant tunjukkan. Rupanya kondisi Arash lebih mengkhawatirkan jika dilihat secara langsung.“Dokter Sean, Arash pasti baik-baik saja, kan?” tanya Ateera.Sean yang memang sejak tadi selalu berada di samping Ateera pun tampak melihatnya. “Kau tenang saja Ateera, aku berjanji padamu. Operasi itu pasti akan berjalan lancar. Dan Arash pasti akan sadar kembali. Berdoalah, semoga Tuhan mengabulkan harapan kita.”Ateera mengangguk, walaupun jauh dari lubuk hatinya dia merasa khawatir. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu saat operasi itu berlangsung.Walau bagaimanapun Arash masih kecil. Kenapa dia harus menanggung beban seberat ini.“Sekarang lebih baik kita keluar dan tenangkan dirimu ya.”Ateera kembali mengangguk, sekarang ini dia hanya bisa menurut. Karena itu semua demi kebaikan Arash.***Matahari sudah terbenam di
“Ikutlah denganku Ateera,” ajak Sean.Ateera mengangguk. “Saya memang akan ke sana, Dokter.”“Kalau begitu ayo.” Sean membukakan pintu mobil sebelah kiri di sampingnya, dan mempersilakan Ateera untuk masuk.Dengan sopan, Ateera menerima ajakan Sean terhadapnya. Dia pun kemudian masuk, dan duduk di sana.Terlihat Sean yang juga ikut masuk, lantas melajukan mobilnya pergi dari area kediaman Orville.Tanpa mereka sadari, jika dari dalam ruang kerjanya Valiant terus memperhatikan mereka.Rasa tidak suka di wajahnya itu tampak semakin jelas. Kala ia melihat Ateera yang masuk ke dalam mobil Sean dan pergi bersamanya.“Ada apa? Apa yang kau lihat?” tanya Victoria yang akhirnya sukses menyadarkan Valiant.“Tidak ada,” jawabnya dingin.Namun pandangannya itu masih terus melihat pada mobil Sean yang terus melaju, hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.***Sementara itu, dalam perjalanan menuju rumah sakit.Suasana di dalam mobil Sean saat ini terlihat begitu hening.Ateera yang hanya







