共有

Dijual Ibu

作者: YOSSYTA S
last update 公開日: 2025-07-23 17:19:29

Flashback.

Di suatu malam, tepat di jam sembilan. Seorang gadis yang baru selesai bekerja, tampak sangat kelelahan. Gadis berkemeja putih dan bercelana jeans itu kini berjalan menelusuri kota. Menapaki jejak di pinggiran pertokoan.

Malam yang sepi, ia terus melangkah pelan. Sambil menikmati semilir dinginnya angin malam. Cahaya lampu-lampu temaram, tampak begitu indah menghiasi pinggir jalan.

Langkahnya kian terasa berat. Tatkala ia semakin mendekat ke arah sebuah rumah kecil tempatnya ia tinggal sekarang. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk ia pulang. Malah justru membuatnya merasa sangat tertekan.

Lalu, ketika ia hampir sampai di depan rumah, Syaqilla merasa sedikit keheranan. Dahinya mengernyit saat melihat sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan, depan rumah. Dalam hati pun bertanya, "Mobil siapa ini? Apakah kali ini Ibu sedang berada di rumah?"

Tiap kali ia pulang kerja, rumah itu biasanya akan terlihat sepi. Karena ibunya jarang sekali pulang ke rumah. Sekalinya berada di rumah, pasti dia akan membawa teman laki-laki datang ke rumah itu juga. Sehingga membuat gadis yang baru berusia 21 tahunan itu sangat terganggu akan kehadiran mereka.

Akan tetapi, ia bisa apa? Dirinya sudah kerap kali mencoba melarang dan berusaha menasehati ibunya, agar tidak melakukan pekerjaan kotor itu. Namun, yang ada ia malah akan dimarahi habis-habisan dan bahkan ibunya itu tak segan untuk memberi pukulan. Dan parahnya lagi, terkadang Ibunya bisa saja berbuat lebih kasar dari itu. Membuat gadis itu hanya bisa pasrah melihat ibunya yang terus saja melakukan pekerjaan, sebagai wanita panggilan.

Perlahan, ia berjalan mendekati rumah. Sebuah rumah yang sangat sederhana di pinggiran kota Jakarta itu, hanya memiliki luas sepuluh meter persegi. Seperti rumah petak pada umumnya yang terlihat kecil dan terlihat biasa saja. Tidak ada yang istimewa dengan rumah tersebut. Hanya saja, itulah tempat satu-satunya untuk ia tinggal sekarang.

Lalu, dengan samar-samar ia seperti mendengar ada keributan dari dalam rumah. Membuatnya merasa sangat penasaran ingin mengetahui, apa yang sedang terjadi di dalam? Segera ia pun ingin masuk ke dalam rumah tersebut.

"Tolonglah kasih aku tenggang waktu beberapa hari lagi, Bang!" ucap Tamara memohon. "Aku janji, akan membayar hutang itu dengan segera."

Terdengar suara tawa seorang pria, bagai sedang mencemooh.

"Tamara ... Tamara! Mau sampai kapan kau terus memberi janji palsu seperti ini padaku?" Seorang pria berbadan tambun, dengan gaya sok angkuh duduk santai sambil menopang sebelah kaki, seperti Bos besar.

"Memangnya kau mau bayar pake apa nanti, huh? Pake tubuh renta mu itu? Sorry, aku sudah tidak tertarik lagi dengan wanita tua sepertimu." Dengan tersenyum sinis, pria itu mulai mencelanya.

"Ya elah, Bang, kau bisanya hanya menyela ku saja. Yang terpenting, 'kan aku bisa bayar utang." Wanita yang dipanggil ibu oleh Syaqilla itu, terlihat kesal.

"Lagian siapa juga yang mau menawarkan diri ke padamu, Bang? Masih banyak kok, lelaki lain yang lebih gagah dan lebih muda darimu di luaran sana yang mau denganku. Kenapa aku harus memilihmu yang sudah tua dan sudah punya banyak istri pula." Wanita paruh baya itu tersenyum miring balas mencemooh, sengit.

"Sombong sekali kau! Aku mau lihat, bagaimana caramu membayar semua hutang- hutangmu itu? Sementara kau saja sudah tidak ada lagi orang kaya yang mau denganmu, bukan?" Bibir hitam milik lelaki tua itu tampak tersenyum miring. Ia tak mau kalah. Dengan pongahnya balas mengejek.

"Itu bukan urusanmu, Bang! Yang terpenting aku bisa bayar hutang, dan masalah kita selesai!"

Kleek!

Tiba-tiba saja pintu terbuka.

"Assalamualaikum," ucap Syaqilla pelan.

Semua orang langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu. Bramantyo, pria 50 tahunan itu langsung terpesona ketika melihat ada sesosok gadis cantik yang sedang memasuki rumah.

Begitu masuk ke dalam rumah, Ananda Syaqilla Maharani, atau yang sering dipanggil dengan nama Syaqilla itu, tampak kebingungan, saat melihat ada berapa orang laki-laki yang tengah terduduk di ruang tamu.

Satu orang laki-laki tua, duduk berhadapan dengan ibunya, sedangkan dua orang lagi berdiri di belakang laki-laki itu.

Laki-laki yang sedang terduduk itu, tampak sudah berumur. Badannya sedikit gembul, kepalanya botak, kumisnya tebal dan sorot matanya tampak genit menjijikan.

Sementara dua orang yang berada di belakang, berbadan kekar tampangnya pun sangar. Mungkin mereka adalah pengawal ataupun anak buah dari si lelaki tua tersebut.

Dengan tanpa berkedip Bramantyo menatapnya penuh nafsu. Syaqilla bergidik ngeri, merasa risih karena laki-laki itu terus mengamati dirinya dengan tatapan yang sangat mencurigakan. Sehingga ia memilih untuk pergi ke kamar saja.

"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu ya, Bu. Mari semua!" Gadis cantik itu tersenyum ramah seraya menunduk sopan. Kemudian, ia bergegas menuju kamar.

Bramantyo masih terus saja memandanginya . Matanya enggan sekali untuk berkedip barang sedetik pun. Ia masih terhipnotis oleh kecantikan Syaqilla yang begitu sempurna.

Wajahnya yang cantik, kulit langsat bercahaya, tubuhnya ramping namun berisi. Belum lagi senyum manisnya itu, bisa membuat semua orang yang melihat, langsung jatuh hati.

Apa lagi Bramantyo, si laki-laki mata keranjang yang suka sekali mengoleksi istri. Terlebih lagi, kalau yang masih muda dan masih segar seperti Syaqilla. Dia pasti sangat menyukainya.

"Ekhem!" Tamara berdehem, karena melihat Bram yang melongo bagai sapi ompong. Sambil terus menatap kepergian Syaqilla. Ia pun tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh si rentenir tua itu.

"Dasar, bandot tua! Liat yang masih seger aja langsung ijo deh, tuh mata. Hahaha ... tapi ini kesempatan bagiku agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, bukan?" Dalam hati Tamara merasa senang, karena akan mendapat mangsa baru yang akan memberinya banyak uang.

Bramantyo nyengir kuda, lalu berkata, "Siapa dia, Ra?"

"Dia anakku. Kenapa?" jawabnya ketus.

"Hah, anakmu! Sejak kapan kau punya anak?" Bramantyo pun terkejut dan tidak percaya kalau Tamara mempunyai seorang anak gadis yang begitu cantik nan jelita. Karena sebelumnya ia tidak mengetahui kalau ternyata wanita yang tak lagi muda itu telah mempunyai anak.

"Sudah lama."

"Tapi kok, aku tak pernah melihat?"

"Ya, karena aku menitipkannya di panti asuhan."

"Oh, begitu." Bramantyo manggut-manggut. "Tapi, beneran itu anakmu?" tanyanya lagi masih belum percaya.

"Iya beneran, Pak Bramantyo!" Seraya mengeratkan gigi, Tamar mulai merasa jengah.

Bramantyo malah terkekeh. "Jadi, apakah dia sama sepertimu?" Dengan menyeringai, lelaki itu menaikan sebelah alis.

"Tidak, dia masih suci."

"Benarkah?" Bramantyo bertambah senang ketika mendengar kalau gadis itu masih suci alias masih perawan. Berarti gadis itu belum pernah disentuh oleh siapa pun.

Otak nakalnya mulai traveling ke mana-mana. Membayangkan yang tidak-tidak dengan gadis tersebut. Lalu, tiba-tiba terlintas keingin untuk memiliki gadis cantik itu. Sehingga ia pun ingin melakukan negosiasi dengan Tamara.

"Jadi begini, Tam. Gimana ... kalau kau serahkan gadis itu padaku? Dan hutangmu nanti, aku anggap lunas," tawarnya.

"Tuh, kan benar? Sudah ku duga. Si bandot tua ini pasti akan langsung tertarik dengan Syaqilla. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ujar Tamara membatin.

"Oh jadi, anak gadisku yang masih perawan itu, cuma kau hargai lima puluh juta, doang?" ucapnya pongah.

"Terus, kau mau berapa, hah?" timpal Bram.

"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta!"

"Apa?! Lima ratus juta? Gila!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Emak kurang ajar. Udang nggak ngurusin sekarang anaknya mau di jual.
goodnovel comment avatar
Cerita Tina
tega banget
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
sabar Bunda ......
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Tamat Happy Ending

    1 TAHUN KEMUDIAN. Rumah Hendrawan sudah rame lagi. Tapi bukan karena Natasya. Karena ada bayi. Anaknya Syaqilla dan Alvaro. Bayi perempuan itu diberi nama 'Natasya Alvaro Hendrawan`. Panggilannya `Asya`. Alvaro sengaja ngasih nama itu pas Syaqilla hamil 8 bulan. "Biar kita inget, Willa. Hidup itu muter. Hari ini kita di atas, besok belum tentu. Jadi kita harus baik sama orang." Tentu saja Syaqilla setuju. `Asya` adalah pengingat. RUANG TAMU. Sintya duduk di sofa empuk, gendong `Asya` yg umur 6 bulan. Nyuapin bubur sambil nyanyi-nyanyi pelan. "Asya pinter... cucu Oma paling cantik." Matanya berbinar. Luka 1 tahun lalu pelan-pelan sembuh karena cucu ini. Di sofa seberang, Natasya duduk. Rapi. Pakai blazer kantor yayasan. Rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya sudah tidak setirus dulu. Hubungan dia dan Sintya masih kaku. Saling sapa "pagi" "udah makan". Tapi belum ada pelukan. Belum ada kata "Ma". Tiba-tiba Syaqilla masuk dari pintu belakang. Bawa map coklat. Wajahnya

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    KARMA BERPUTAR 360°

    6 BULAN KEMUDIAN. GEDUNG MEWAH. ACARA Resepsi pernikahan. Dekorasi putih emas. Tamu undangan pejabat semua. Di pelaminan, Syaqilla duduk. Pake kebaya putih. Cantik. Tenang. Di sebelahnya Alvaro. Genggam tangannya erat. Di baris depan, Bu Sintya nangis. Tapi nangis bahagia. "Anak Mama... akhirnya..." Pak Hendrawan merangkul bahu istrinya. "Udah. Jangan nangis!" Tiba-tiba pintu kebuka. Winda masuk. Pake baju kebaya yang senada dengan Sintya dan Hendrawan. Jalan pelan. Di samping ada suaminya juga Reno kakak angkat Alvaro. sementara di belakangnya dua bodyguard bawa hantaran. Semua orang diam. Winda langsung jalan ke Syaqilla. Berlutut di depan pelaminan. Depan ratusan orang. `DUG!' "Maafkan saya, Syaqilla?" Suara Winda pecah. "Selama ini saya buta. Saya pikir kamu anak wanita murahan itu. Ternyata... kamu menantu saya. Kamu putri keluarga Hendrawan." Syaqilla kaget. Turun. Ikut jongkok. "Bu... udah, bangun." "Tidak." Winda menggeleng. Air matanya jatuh. "S

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Rumah Yang Dingin

    RUANG PEMULIHAN. 2 HARI KEMUDIAN. Natasya sudah sadar. Tapi kondisinya lemah. Infus masih nempel. Di sudut ruangan, Pak Hendrawan duduk. Wajahnya tua 10 tahun dalam semalam. Bu Sintya berdiri di depan jendela. Membelakangi ranjang. "Mah!" bisik Natasya pelan. Suaranya serak. Sintya tak menoleh. Bahunya bergetar. "20 tahun..." Suara Sintya pelan. Tapi dingin. "20 tahun aku gendong kamu pas demam. Aku suapin kamu. Aku begadang pas kamu ujian." Mata Natasya mengerjap kebingungan melihat perubahan sikap Mama nya yang terasa aneh. "Pah, Mama kenapa?" Dia menoleh ke arah Hendrawan. "DIAM!" Sintya membentak. Matanya merah. Bukan karena sayang. Tapi karena marah dan sakit. Dia menatapnya tajam. "Kamu tau gak rasanya? Anak kandungku... dibuang di panti. Dipalak. Dihina. Sementara aku... aku sayang-sayanh kamu. Aku kasih semua yang terbaik buat anak orang!" `PLUK` Sintya buang vas bunga di meja. Pecah. Pak Hendrawan langsung berdiri. "Sudah, Mah. Cukup!" "CUKUP?! KAM

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Darah Yang Tidak Cocok

    `WIIIIINNN... WIIIIINNN...` Natasya langsung dilarikan ke IGD. Winda menunggu di luar. Cemas dia segera menghubungi Sintya. Pak Hendrawan dan Bu Sintya nyusul pake mobil, wajah pucat pasi. Dokter jaga langsung menghadang. "Keluarga pasien? Golongan darah Nona Natasya O. Butuh donor cepat. Ada yang O?" Pak Hendrawan maju. "Saya! Golongan darah saya O!" Bu Sintya juga. "Saya juga O Dok!" "Baik. Ikut ke ruang donor sekarang." 5 menit kemudian... Perawat keluar dengan wajah bingung. Bawa kertas lab. "Pak... Bu... maaf. Hasil crossmatch nya tidak ada yang cocok." `DUG` "APA! DARAH KAMI TIDAK COCOK?!" Pak Hendrawan membentak. "Bagaimana bisa?! Itu anak kandung kami!" Bu Sintya langsung lemas. Tangannya dingin. "Tidak... tidak mungkin... 20 tahun ini golongannya sama..." Rasa curiga menusuk di kepala mereka berdua. Tapi ditahan. Sekarang bukan waktunya. "Stok darah O di bank darah habis Pak Bu. Harus cari donor dari luar. Cepat!" desak dokter. Suasana IGD langs

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kecelakaan Maut

    `l"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta!"Teriakan Amira menggema, memantul di dinding pagar rumahnya sendiri yang reot. Udara sore yang tadinya tenang, mendadak terasa menyesakkan.Syaqilla terdiam. Lututnya lemas. Air matanya jatuh satu-satu tanpa suara. "Bu... aku... aku bukan boneka yang bisa Ibu jual," suaranya serak, patah-patah. "Aku manusia, Bu. Aku adalah putrimu.""MANUSIA?! Putri?!" Amira mendengus sinis, matanya melotot merah. Ia melangkah maju, jari telunjuknya menuding wajah Syaqilla. "Selama 20 tahun aku yang ngerasain capek ngurus dan biayain kamu! Aku yang ngerasain sakit! Terus sekarang giliran kamu hidup enak, mau lepas gitu aja? Bayar! 500 juta! Kalau enggak, aku umbar ke media kalau kamu anak haram!"Winda menutup mulutnya, syok. Juga geleng kepala. "Gila! Sebenarnya kau ini ibu macam apa? Bahkan tega mau menjual anak sendiri."Dari dalam mobil Alphard hitam, suara gedoran semakin keras. 'Buk buk buk!'"BUKA PINTUNYA! SYAQILLA!!" Suara Alvaro serak, pe

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kemarahan Winda

    "Mama!" pekik Alvaro syok. Sungguh ia tak mengira, kalau ternyata Mamanya tengah berada tepat di hadapannya kini. Refleks, ia ingin melindungi Syaqilla. "Syaqilla, kamu gak papa?" Seraya meraih wajah Syaqilla, hatinya teriris sedih, ikut merasakan sakit, tatkala ia melihat ada ruam kemerahan di sebelah pipinya. Ia mengusap lembut bekas tamparan keras yang diberikan oleh Mamanya tadi. "Aww!" Syaqilla tampak sedikit meringis kesakitan. Sambil tersenyum kecil, gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa kok," ucapnya berbohong. Tentu, ia merasakan sensasi panas juga sedikit perih di pipi. Namun, ia tak mau membuat Alvaro khawatir dan juga tidak ingin memperkeruh keadaan. Winda yang sudah merasa sangat geram melihat kedekatan putranya dengan Syaqilla, langsung saja memisahkan keduanya. Kasar, ia mendorong tubuh Syaqilla agar menjauh dari putra kesayangannya. "Dasar wanita jalang! Menjauh lah dari putraku!" Lagi, baik itu Syaqilla juga Alvaro kembali kaget, saat melihat tind

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Tertangkap

    Sontak saja Syaqilla yang merasa sangat kesal segera menoleh ke arah pria itu. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia melihat siapa orang itu, Syaqilla dibuat syok bukan kepalang. Dengan menelan ludah, mata gadis itu langsung membola tatkala ia melihat salah seorang pria yang sempat mengejarnya saat

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Bersembunyi

    "Ayo kita cari ke dalam!" Dua orang itu mulai bergerak memasuki ruang perpustakaan. Tap-tap-tap. Suara derap langkah terdengar kian mendekat ke arah Alvaro dan Syaqilla. Membuat rasa panik juga waspada di hati mereka meningkat dua kali lipat. Seraya menahan nafas, dua pasang mata saling meloto

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kebencian Widya

    Tak berapa lama, Alvaro telah sampai di depan panti asuhan 'Harapan Kasih. Ia langsung menepikan mobil mendekati sang Mama yang kini tengah berdiri di pinggir jalan. "Hai, Mah!" sapanya. "Kamu, ini lama banget sih, Al? Sampai lumutan nih kaki Mama, gara-gara nungguin kamu," gerutu sang Mama kesa

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Moreno Sagara

    Pemuda yang bernama Moreno Sagara ini, adalah kakak angkatnya Alvaro Dirgantara. "Hai, Al! Tumben-tumbenan kau datang ke sini?" Sembari tersenyum, lelaki yang bernama Moreno atau lebih akrab dipanggil Reno itu langsung bangkit dari tempat duduk, dan segera memeluk tubuh kekar adik lelakinya. A

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status