مشاركة

Pelunasan Hutang

مؤلف: YOSSYTA S
last update تاريخ النشر: 2025-07-23 19:31:56

"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta. Aku jamin kalau dia benar-benar masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapa pun!" tandas Tamara, dengan entengnya menyebutkan nominal harga yang ia inginkan. Wanita paruh baya itu bagai sedang menawarkan suatu barang dagangan saja. Padahal, yang ia jual adalah keperawanan anak gadisnya sendiri.

"Apaa?! Lima ratus juta? Gila! Kau benar-benar sudah tidak waras!" Mata Bramantyo langsung melotot syok mendengarnya. Tentu saja lelaki tua itu terlihat sangat kesal dengan nominal yang disebutkan oleh Tamara. Nominal itu terlalu besar buat membayar anak seorang pelacur. Walau putrinya masih perawan, tetapi bagi Bram, itu angka fantastis yang tidak masuk akal. "Kau meminta uang bayaran, atau mau memerasku, hah?"

Dengan acuh Tamara mengangkat bahu. Tanda ia tidak perduli dengan respon Bram yang sedang meneriakinya kesal.

"Itu sih, terserah kau saja, Bang. Kalau setuju, silahkan! Kalau tidak, ya udah sana-sana kau pergi saja deh sekarang!" Tamara mengibaskan tangan, sebagai tanda mengusir Bram dari rumah.

"Lagi pula, jika kau tak mau, masih banyak orang yang mengantri demi mendapatkan putriku yang masih ting-ting itu, kok!" Tamara tampak tersenyum sinis padanya.

Bram terdiam sesaat, ia seperti sedang berfikir. Sungguh ia sangat menginginkan dan tergiur dengan gadis itu. Apa bila ia tak bertindak cepat, benar kata Tamara, pasti ada banyak laki-laki lain yang juga menginginkan gadis tersebut.

Hingga pada akhirnya ia pun berkata, "Ok, aku setuju. Tapi, uang yang lima ratus juta itu akan kuberikan setelah aku menikah dengannya nanti."

"Ok, deal." Dengan senang hati Tamara langsung menyetujui tawaran itu. "Tapi, tidak terpotong sama hutangku itu loh, Bang. Jadi, besok aku mau terima utuh uang lima ratus juta."

"Ok, tapi, aku ingin membawa gadis itu malam ini juga. Dan besok pagi aku akan langsung menikahinya." Lelaki itu tersenyum miring, merasa senang. Karena sebentar lagi ia akan segera memiliki gadis itu. Tetapi, ia juga sedikit kesal dengan cara licik Tamara yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa terbebas dari hutang.

"Eh tunggu, sabar dululah, Bang! Gak sabar banget, sih," sungut Tamara mendengkus kesal.

"Yah, karena kalau nunggu besok, takutnya nanti anakmu tidak mau dan malah kabur dari sini, bagaimana?"

"Oh, jadi Abang takut, kalau aku akan menipumu gitu, Bang?"

"Ya, siapa tau begitu?"

"Ok, tapi beneran ya, Bang. Setelah kalian menikah besok, kau akan langsung memberikan uang itu 'kan?"

Bram mengangguk mantap. "Ya ya ya, langsung aku tranfer besok."

"Baiklah, kalian tunggu sebentar! Aku akan memanggilnya." Kemudian wanita paruh baya itu langsung pergi menuju kamar sang anak. Sementara ke tiga pria itu dengan sabar menunggu di ruang tamu.

Syaqilla yang semula akan merebahkan diri di atas kasur, merasa kaget saat mendengar ada suara ketukan pintu. Sehingga ia terpaksa menunda keinginannya untuk beristirahat. Dengan malas ia beranjak dari tempat tidur, dan berjalan menuju pintu.

Kleek!

Saat pintu terbuka, ia cukup kaget melihat ibunya.

"Eh, Ibu. Ada apa?" tanya Syaqilla.

"Sekarang kamu siap-siap ikut Pak Bram!" perintah Tamara tiba-tiba.

"Hah, siap-siap?" Syaqilla mengerutkan dahi, merasa bingung tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya. "Siap-siap untuk apa? Da-dan Pak Bram itu siapa, Bu?"

"Ya siap-siap untuk ikut Pak Bram ke rumahnya, Syaqilla!"

"Huh, ke rumahnya? Untuk apa aku ikut ke sana?"

"Kamu akan ibu nikahkan dengannya, Besok! Dan Ibu tidak ingin ada bantahan sedikit pun darimu, titik!"

"A-apa? Me-menikah?!" Tentu saja gadis itu langsung terpekik kaget. Ucapan ibunya bagaikan petir di siang bolong. Seketika itu juga, rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan, hilang begitu saja. Mendengar kata 'Menikah' membuatnya sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa.

"Ja-jadi, ma-maksud Ibu aku harus menikah dengan Pak Bram?" ucapnya terbata-bata.

"Ya, bukannya kamu ingin Ibu berhenti dari pekerjaan itu 'kan?"

Syaqilla menggangguk.

"Makanya kamu harus menikah dengan Pak Bram," lanjut Tamara.

Syaqilla terdiam mematung, masih mencoba mencerna perkataan dari ibunya. Namun, tiba-tiba Tamara malah menarik tangan, dan dengan paksa membawanya menuju ke ruang tamu.

"Aww, sakit, Bu!" pekik Syaqilla menahan sakit di pergelangan tangan. Karena sang Ibu mencengkram nya terlalu kuat. Namun, ia terpaksa mengikuti langkah sang ibu yang menyeretnya ke ruang depan.

Tamara menghempaskan tangan Syaqilla kasar. "Ini, dia. Kalian boleh membawanya sekarang juga!"

Gadis bergigi gingsul itu sampai terbengong dibuatnya. Ia tidak mengira kalau Ibunya ini tega menyerahkan dirinya kepada pria yang bernama Bram.

"Tunggu! Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa aku harus ikut mereka? Aku tidak mau!" Syaqilla bersuara lantang mencoba melawan perintah ibunya.

"Apa, kamu bilang? Tidak mau? Kamu mau jadi anak durhaka, yang membangkang pada orang tua, hah!" Dengan sangat geram Tamara berteriak dan melotot tajam ke arah Syaqilla.

"Tapi, aku belum mau menikah. Dan kenapa pula Ibu tiba-tiba saja menjodohkan ku dengan Pak Bram?" protesnya lagi.

"Pak Bram itu orang kaya, orang terpandang, Syaqilla! Kamu bisa hidup enak tanpa harus capek-capek kerja keras seperti yang sekarang ini. Dan pastinya dia akan cukupi semua kebutuhanmu nanti. Jadi, kurang enak apa lagi, coba?" ujar Tamara, memberikan berbagai alasan untuk membela diri. Padahal dalam hatinya, ia hanya ingin mendapatkan uang yang banyak tanpa memperdulikan bagaimana nasib gadis itu kedepannya nanti.

"Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan, Bu. Aku hanya ingin hidup damai bersama Ibu. Dan aku ingin Ibu menyayangiku, itu aja sudah cukup."

"Kalau soal uang, aku masih sanggup bekerja untuk Ibu." Dengan menatap sedih, Syaqilla mulai mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam selama ini.

"Alah, omon tersenyum sinis, Tamara mengibaskan tangan, seolah meremehkan omongan putrinya. "Memangnya dengan kamu, bekerja sebagai pelayan toko, berapa uang yang bisa kamu berikan ke Ibu, huh? Buat makan aja kurang, sok-sok'an mau ngebahagiain Ibu!"

Syaqilla masih terdiam membatu, menatap tidak percaya, kalau sang ibu akan berkata seperti itu padanya. Jadi, selama ini yang ibunya pikirkan hanyalah uang dan uang. Dia tidak pernah memikirkan perasaanya sedikit pun.

Perlahan bulir-bulir bening seperti kristal mulai mengalir di kedua pipi. Hatinya terasa sangat sakit. Ternyata memang benar, ibunya tidak pernah menyayanginya dengan sepenuh hati.

Lalu, sebenarnya apa tujuan beliau mengajaknya untuk tinggal di rumah ini?

Jika saja Syaqilla tahu, kalau ibunya tak pernah menyayanginya. Ia akan lebih memilih untuk tetap tinggal di pantai asuhan.

"Ibu, apakah Ibu pernah menyayangiku walau hanya sedikit?" tanya Syaqilla tiba-tiba.

Degh!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Buat mereka keringat kamu Syakila. biar masa tuanya ada yang di andalkan.
goodnovel comment avatar
Nyoman Sarthi
apa mungkin tamara bukan ibu kandungnya syaqila
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Tamat Happy Ending

    1 TAHUN KEMUDIAN. Rumah Hendrawan sudah rame lagi. Tapi bukan karena Natasya. Karena ada bayi. Anaknya Syaqilla dan Alvaro. Bayi perempuan itu diberi nama 'Natasya Alvaro Hendrawan`. Panggilannya `Asya`. Alvaro sengaja ngasih nama itu pas Syaqilla hamil 8 bulan. "Biar kita inget, Willa. Hidup itu muter. Hari ini kita di atas, besok belum tentu. Jadi kita harus baik sama orang." Tentu saja Syaqilla setuju. `Asya` adalah pengingat. RUANG TAMU. Sintya duduk di sofa empuk, gendong `Asya` yg umur 6 bulan. Nyuapin bubur sambil nyanyi-nyanyi pelan. "Asya pinter... cucu Oma paling cantik." Matanya berbinar. Luka 1 tahun lalu pelan-pelan sembuh karena cucu ini. Di sofa seberang, Natasya duduk. Rapi. Pakai blazer kantor yayasan. Rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya sudah tidak setirus dulu. Hubungan dia dan Sintya masih kaku. Saling sapa "pagi" "udah makan". Tapi belum ada pelukan. Belum ada kata "Ma". Tiba-tiba Syaqilla masuk dari pintu belakang. Bawa map coklat. Wajahnya

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    KARMA BERPUTAR 360°

    6 BULAN KEMUDIAN. GEDUNG MEWAH. ACARA Resepsi pernikahan. Dekorasi putih emas. Tamu undangan pejabat semua. Di pelaminan, Syaqilla duduk. Pake kebaya putih. Cantik. Tenang. Di sebelahnya Alvaro. Genggam tangannya erat. Di baris depan, Bu Sintya nangis. Tapi nangis bahagia. "Anak Mama... akhirnya..." Pak Hendrawan merangkul bahu istrinya. "Udah. Jangan nangis!" Tiba-tiba pintu kebuka. Winda masuk. Pake baju kebaya yang senada dengan Sintya dan Hendrawan. Jalan pelan. Di samping ada suaminya juga Reno kakak angkat Alvaro. sementara di belakangnya dua bodyguard bawa hantaran. Semua orang diam. Winda langsung jalan ke Syaqilla. Berlutut di depan pelaminan. Depan ratusan orang. `DUG!' "Maafkan saya, Syaqilla?" Suara Winda pecah. "Selama ini saya buta. Saya pikir kamu anak wanita murahan itu. Ternyata... kamu menantu saya. Kamu putri keluarga Hendrawan." Syaqilla kaget. Turun. Ikut jongkok. "Bu... udah, bangun." "Tidak." Winda menggeleng. Air matanya jatuh. "S

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Rumah Yang Dingin

    RUANG PEMULIHAN. 2 HARI KEMUDIAN. Natasya sudah sadar. Tapi kondisinya lemah. Infus masih nempel. Di sudut ruangan, Pak Hendrawan duduk. Wajahnya tua 10 tahun dalam semalam. Bu Sintya berdiri di depan jendela. Membelakangi ranjang. "Mah!" bisik Natasya pelan. Suaranya serak. Sintya tak menoleh. Bahunya bergetar. "20 tahun..." Suara Sintya pelan. Tapi dingin. "20 tahun aku gendong kamu pas demam. Aku suapin kamu. Aku begadang pas kamu ujian." Mata Natasya mengerjap kebingungan melihat perubahan sikap Mama nya yang terasa aneh. "Pah, Mama kenapa?" Dia menoleh ke arah Hendrawan. "DIAM!" Sintya membentak. Matanya merah. Bukan karena sayang. Tapi karena marah dan sakit. Dia menatapnya tajam. "Kamu tau gak rasanya? Anak kandungku... dibuang di panti. Dipalak. Dihina. Sementara aku... aku sayang-sayanh kamu. Aku kasih semua yang terbaik buat anak orang!" `PLUK` Sintya buang vas bunga di meja. Pecah. Pak Hendrawan langsung berdiri. "Sudah, Mah. Cukup!" "CUKUP?! KAM

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Darah Yang Tidak Cocok

    `WIIIIINNN... WIIIIINNN...` Natasya langsung dilarikan ke IGD. Winda menunggu di luar. Cemas dia segera menghubungi Sintya. Pak Hendrawan dan Bu Sintya nyusul pake mobil, wajah pucat pasi. Dokter jaga langsung menghadang. "Keluarga pasien? Golongan darah Nona Natasya O. Butuh donor cepat. Ada yang O?" Pak Hendrawan maju. "Saya! Golongan darah saya O!" Bu Sintya juga. "Saya juga O Dok!" "Baik. Ikut ke ruang donor sekarang." 5 menit kemudian... Perawat keluar dengan wajah bingung. Bawa kertas lab. "Pak... Bu... maaf. Hasil crossmatch nya tidak ada yang cocok." `DUG` "APA! DARAH KAMI TIDAK COCOK?!" Pak Hendrawan membentak. "Bagaimana bisa?! Itu anak kandung kami!" Bu Sintya langsung lemas. Tangannya dingin. "Tidak... tidak mungkin... 20 tahun ini golongannya sama..." Rasa curiga menusuk di kepala mereka berdua. Tapi ditahan. Sekarang bukan waktunya. "Stok darah O di bank darah habis Pak Bu. Harus cari donor dari luar. Cepat!" desak dokter. Suasana IGD langs

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kecelakaan Maut

    `l"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta!"Teriakan Amira menggema, memantul di dinding pagar rumahnya sendiri yang reot. Udara sore yang tadinya tenang, mendadak terasa menyesakkan.Syaqilla terdiam. Lututnya lemas. Air matanya jatuh satu-satu tanpa suara. "Bu... aku... aku bukan boneka yang bisa Ibu jual," suaranya serak, patah-patah. "Aku manusia, Bu. Aku adalah putrimu.""MANUSIA?! Putri?!" Amira mendengus sinis, matanya melotot merah. Ia melangkah maju, jari telunjuknya menuding wajah Syaqilla. "Selama 20 tahun aku yang ngerasain capek ngurus dan biayain kamu! Aku yang ngerasain sakit! Terus sekarang giliran kamu hidup enak, mau lepas gitu aja? Bayar! 500 juta! Kalau enggak, aku umbar ke media kalau kamu anak haram!"Winda menutup mulutnya, syok. Juga geleng kepala. "Gila! Sebenarnya kau ini ibu macam apa? Bahkan tega mau menjual anak sendiri."Dari dalam mobil Alphard hitam, suara gedoran semakin keras. 'Buk buk buk!'"BUKA PINTUNYA! SYAQILLA!!" Suara Alvaro serak, pe

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kemarahan Winda

    "Mama!" pekik Alvaro syok. Sungguh ia tak mengira, kalau ternyata Mamanya tengah berada tepat di hadapannya kini. Refleks, ia ingin melindungi Syaqilla. "Syaqilla, kamu gak papa?" Seraya meraih wajah Syaqilla, hatinya teriris sedih, ikut merasakan sakit, tatkala ia melihat ada ruam kemerahan di sebelah pipinya. Ia mengusap lembut bekas tamparan keras yang diberikan oleh Mamanya tadi. "Aww!" Syaqilla tampak sedikit meringis kesakitan. Sambil tersenyum kecil, gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa kok," ucapnya berbohong. Tentu, ia merasakan sensasi panas juga sedikit perih di pipi. Namun, ia tak mau membuat Alvaro khawatir dan juga tidak ingin memperkeruh keadaan. Winda yang sudah merasa sangat geram melihat kedekatan putranya dengan Syaqilla, langsung saja memisahkan keduanya. Kasar, ia mendorong tubuh Syaqilla agar menjauh dari putra kesayangannya. "Dasar wanita jalang! Menjauh lah dari putraku!" Lagi, baik itu Syaqilla juga Alvaro kembali kaget, saat melihat tind

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Ibu Yang Kejam

    Tamara terdiam, tidak menjawab. Dirinya bingung mau menjawab apa. Apakah harus berkata jujur, atau akan tetap membiarkan putrinya berfikiran entah seperti apa tentang dirinya. "Sudah cukup dramanya! Mending sekarang kau ikut denganku saja gadis cantik!" sahut Bramantyo tiba-tiba. Wajah sembab S

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Dijual Ibu

    Flashback. Di suatu malam, tepat di jam sembilan. Seorang gadis yang baru selesai bekerja, tampak sangat kelelahan. Gadis berkemeja putih dan bercelana jeans itu kini berjalan menelusuri kota. Menapaki jejak di pinggiran pertokoan. Malam yang sepi, ia terus melangkah pelan. Sambil menikmati semi

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Malaikat Penolong

    Berapa jam kemudian. Di suatu ruang bernuansa putih, dua orang paruh baya terduduk di sofa panjang, yang ada di sudut ruang. Dengan perasaan khawatir dua orang tersebut tampak cemas, menunggu seorang gadis yang kini terbaring lemas di atas pembaringan. Dua mata gadis itu tertutup rapat, masih d

  • Terpikat Cinta Gadis Panti Asuhan    Kabur

    Di pinggir jalan. "Woy, berhenti! Jangan kabur!" Dua orang pria berbadan kekar sedang berlari mengejar seorang gadis. Terlihat, dua kaki mungil telanjang tanpa alas, terus berlari tiada henti di tepi jalanan yang sangat sepi. Suara napasnya menderu dan tersengal-sengal. Kadang dada terasa ses

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status