ANMELDENAlessia menatap Leonardo yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapan pria itu tertuju padanya, begitu dalam dan penuh emosi, seolah ada ribuan pikiran yang berputar di kepalanya.Keheningan itu perlahan terasa menyesakkan, membuat Alessia akhirnya berdeham pelan.“Leonardo,” panggilnya dengan suara lembut namun jelas. “Sejak tadi kau hanya menatapku. Ada apa?”Leonardo tersentak kecil, seakan baru menyadari bahwa ia terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri.Dia kemudian menarik napas dalam, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Tatapannya kini beralih ke tangan Alessia yang terbaring lemah di atas selimut putih.“Aku hanya … sedang berpikir,” jawabnya pelan.Alessia mengerutkan kening. “Tentang apa?” tanyanya lagi.Nada suaranya tetap tenang, tetapi terselip kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. “Atau … apakah kau tidak siap untuk memiliki anak?” tanyanya kemudian.Leonardo segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, hamp
Leonardo tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah, langkahnya tergesa menyusuri lorong panjang yang dipenuhi aroma antiseptik.Jas kerjanya tampak kusut, dasi yang biasanya terpasang rapi kini longgar, menandakan betapa paniknya ketika dia menerima kabar yang mendadak itu.Sorot matanya langsung menangkap sosok Gabby yang berdiri di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, wajah gadis itu pucat dan dipenuhi kecemasan.Leonardo segera menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi pada Alessia?” tanyanya dengan suara berat, nyaris bergetar menahan kekhawatiran.Gabby menoleh, matanya yang berkaca-kaca menatap ayahnya. Ia menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, Pa. Tiba-tiba saja dia pingsan di restoran. Sebelumnya dia sempat mengeluh pusing.”Leonardo memejamkan mata sesaat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Tidak ada apa-apa sebelumnya?” desaknya sambil berusaha menemukan celah penjelasan.Gabby menarik napas panjang. “Ada,” katanya lirih. “Kakek datang ke restoran lagi saat aku tidak
Beberapa jam kemudian, suasana restoran kembali dipenuhi aktivitas ringan.Beberapa karyawan tampak mondar-mandir menata bahan makanan, sementara alunan musik pelan mengisi ruang yang masih lengang menjelang jam ramai.Pintu restoran terbuka, dan Gabby masuk dengan kedua tangan penuh membawa kantong berisi bahan-bahan yang baru saja dia beli. Wajahnya tampak cerah seperti biasa, meski langkahnya sedikit terburu-buru.Pandangan Gabby segera tertuju pada meja kasir. Di sana, Alessia duduk diam, menatap satu titik kosong dengan sorot mata kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari tempat ia berada. Gabby mengerutkan kening, lalu melangkah mendekat.“Hey,” tegurnya sambil meletakkan kantong belanja di lantai. “Jangan melamun terus. Nanti pelanggan datang, kau malah tidak sadar.”Alessia tersentak ringan, lalu menoleh ke arah Gabby. Dia pun mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan. “Maaf,” ucapnya pelan.Gabby memperhatikannya lebih saksama. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi sah
Alessia menghentikan langkahnya begitu sosok itu berdiri tepat di hadapannya.Restoran yang biasanya ramai dengan aktivitas karyawan dan pengunjung kini terasa mendadak sunyi, seolah udara di sekelilingnya membeku.Jantung Alessia berdetak lebih cepat saat menyadari bahwa pria yang berdiri di sana tidak lain adalah John.Gabby tidak berada di restoran saat itu; putri Leonardo tersebut tengah keluar untuk membeli beberapa keperluan tambahan dan meninggalkan Alessia sendirian menghadapi situasi yang sama sekali tidak ia harapkan.Alessia menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, namun ia tetap berusaha menjaga sikapnya.Dengan napas yang ditahan rapi, dia menundukkan kepala sedikit dan menyapa, lebih sebagai formalitas daripada harapan akan balasan. “Selamat siang, Tuan John.”Seperti yang sudah dia duga, sapaan itu tidak mendapat tanggapan apa pun.John justru melangkah mendekat dengan tatapan dingin yang menusuk, seakan ingin menembus pertahanan terakhir Aless
Anthony mengetuk pintu ruang kerja Leonardo dengan ketukan singkat namun tegas.Suara itu menggema di ruangan luas yang dipenuhi rak buku, berkas-berkas perusahaan, serta meja kerja besar dari kayu gelap yang menambah kesan formal dan berwibawa.Leonardo yang tengah menandatangani beberapa dokumen hanya melirik sekilas ke arah pintu, sudah dapat menebak siapa yang berdiri di baliknya.“Masuk,” ucap Leonardo dengan nada datar.Pintu terbuka dan tanpa menunggu undangan lebih lanjut, John melangkah masuk ke dalam ruangan.Anthony hanya berdiri di ambang pintu selama beberapa detik, lalu memilih mundur dengan raut wajah tegang.Dia sadar betul, pertemuan antara ayah dan anak itu tidak akan berlangsung singkat, apalagi damai. Pintu pun kembali tertutup, menyisakan keheningan yang terasa berat.John berdiri tepat di hadapan meja kerja Leonardo. Tatapannya begitu dingin, menusuk, dan penuh tekanan.Wajah pria tua itu kaku, rahangnya mengeras, seolah sedang menahan amarah yang sewaktu-waktu b
Sarapan pagi itu berlangsung dalam suasana yang hangat dan akrab.Meja makan besar di ruang makan telah tertata rapi, dipenuhi dengan hidangan sederhana namun menggugah selera.Pancake hangat tersusun rapi di piring saji, ditemani semangkuk kecil madu, mentega, serta sepoci kopi yang masih mengepulkan uap tipis.Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca besar, menciptakan suasana tenang yang jarang benar-benar dinikmati oleh penghuni rumah tersebut.Leonardo telah siap sepenuhnya untuk berangkat kerja. Jas berwarna gelap membalut tubuhnya dengan rapi, rambutnya tertata sempurna, dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.Wibawanya sebagai seorang pemimpin perusahaan terpancar jelas, kontras dengan suasana santai pagi itu. Sementara itu, Alessia dan Gabby masih mengenakan pakaian rumahan yang sederhana.Alessia tampak anggun meski tanpa riasan, sedangkan Gabby terlihat santai dengan kaus longgar dan rambut yang dibiarkan tergerai.Leonardo duduk di ujung meja, menyesap k







