LOGINWendy tertegun untuk beberapa saat melihat ketegasan yang ditunjukkan pria mengerikan itu.Chris kemudian mendekatkan wajahnya, lalu berbisik di samping telinga Wendy dengan suaranya yang berat, "Ini bukan tentang kau. Jika sudah ada yang berani bergerak, maka itu artinya di belakang, lebih banyak lagi orang yang bergerak.""Dan itu artinya, setelah ini, banyak yang tidak akan berpura-pura lagi," lanjutnya.Wendy membelalakkan kedua mata mendengar ucapannya. Namun, dia tidak begitu kaget, karena dunia bawah yang gelap memang bukanlah tempat yang bersih, bahkan teman pun bisa menikam dari belakang kapan saja."Aku mengerti," ucapnya pada akhirnya dengan suara yang terdengar dingin.Chris kemudian kembali berdiri tegak, lalu menatap tajam wanita di depannya. "Bagus."Setelah itu, dia kembali duduk di kursinya. Sembari mengetuk-ngetuk meja di sampingnya menggunakan telunjuknya, dia melanjutkan pembicaraan sebelumnya, "Sekarang, orang yang dipanggil 'Ken' itu, kenapa kau menanyakannya?""
Reynold kembali ke kamarnya, lalu tanpa menunggu lama langsung melompat ke atas kasurnya yang dingin. "Ayah ... apakah dia benar-benar menyelidiki kasus diculiknya Tuan Jimmy? Kalau iya, bagaimana ...." Pemuda itu menghentikan perkataannya ketika dirinya teringat akan sesuatu, "Apakah dia sengaja mencari informasi pada orang-orang di kantor Tuan Jimmy? Apakah iya, Ayah seserius itu untuk mencaritahu padahal itu bukan kasus yang sedang ditanganinya?" Dia berpikir sangat keras mengenai pembicaraan singkatnya dengan sang ayah barusan. Dia mengela napas ringan, sebelum menggelengkan kepala. "Aku benar-benar tidak bisa memperkirakan apa yang dipikirkan Ayah," gumamnya. Menyadari dirinya tidak bisa berbuat banyak mengenai sang ayah, pemuda itu pun memutuskan untuk mengesampingkan pikiran itu. Dia mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa pesan masuk yang mungkin terlewat olehnya. Ia terus menggulirkan layar ponselnya, membaca cepat pesan-pesan yang masuk itu dan membalas beberapa. Namun, p
Setelah membereskan kedua orang yang hendak menculik Lisa dan merusak semua alat komunikasi mereka, Reynold membeli sebotol minuman di kedai sebelumnya, lalu kembali ke tempat duduk sang kekasih. Dia menyodorkan air mineral yang dibelinya pada gadis cantik itu sambil berkata, "Ini, minumlah." Lisa terlihat sedikit terperanjat ketika melihat Reynold yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Terima kasih," ucapnya sambil menerima minuman itu. "Rey, kau lama sekali. Dari mana?" "Seperti yang kukatakan, beli minuman," jawab pemuda itu sembari mendudukkan diri di samping Lisa. Lisa memerhatikan Reynold beberapa saat, lalu kembali tertuju pada botol air mineralnya. Gadis tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Dia kemudian menyodorkan botol mineral itu pada Reynold, sembari mengatakan, "Rey, tutupnya terlalu kuat. Tolong bukakan." Reynold mengambil botol minuman itu, dan langsung membukakan tutupnya, sebelum mengembalikannya. "Ini dia." Ketika wanita itu mulai
Pasangan itu kini sudah berada di jalanan dengan Reynold yang mengendarai motornya sangat hati-hati. Di belakangnya, Lisa melingkarkan tangannya pada pinggang pemuda itu memeluknya dengan sangat erat. Jantungnya berdebar, karena kedekatan tanpa jarak degannya.Kepalanya bertengger di bahu kanan Renold, membuat mereka berdua terlihat begitu mesra di sana. "Sudah kubilang kan. Kalau memelukmu seperti ini, tubuhku terasa hangat," komentar Lisa.Reynold tidak menimpalinya. Fokusnya terus tertuju pada jalanan di depannya."Rey," panggil Lisa tepat di samping telinga pemuda itu dengan lembut. Reynold sedikit menoleh pada wanita di belakangnya. "Apa?" "Em, kalau kau tidak keberatan ... kita jangan langsung pulang dulu, ya," pinta gadis manis itu dengan penuh harap.Mendengar permintaannya, Reynold mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kau mau pergi ke mana?" "Aku ... aku mau ke bukit bintang. Malam ini cerah, aku pikir melihat pemandangan langit di sana akan sangat bagus," jawab Lisa se
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan saat ini, kelas siang Reynold sudah selesai. Reynold yang memiliki rencana makan malam dengan Lisa itu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah untuk bersiap dan beristirahat sebentar. Ketika memasuki rumah, dia langsung disambut oleh kegelapan, dan keheningan. Terasa dingin, tak ada seorang pun di dalam rumah yang menghangatkannya, mengingat kedua penghuninya jarang sekali berada dalamnya. Pemuda itu menyalakan beberapa lampu ruangan sebelum langsung pergi ke kamarnya. Ketika memasuki kamar, dia langsung mengeluarkan ponselnya, dan merebahkan diri di atas kasur empuknya yang dingin. Dia memeriksa beberapa pesan masuk yang belum dibukannya untuk beberapa saat. "Tidak ada yang penting," gumamnya. TING! Satu pesan masuk baru saja muncul. Dia membukanya, dan ternyata itu dari sang kekasih, Lisa. 'Aku tidak sabar makan malam nanti'. Itulah isi pesan darinya. Pemuda itu menghela napas berat, lalu menoleh ke arah jam dinding di ka
Mendengar ucapan mahasiswanya itu, Martin terlihat mengerutkan kening. "Em, ba-iklah. Memang Tuan Michael melakukan hal aneh apa, sehingga membuatmu merasa sangat penasaran?"Sembari memainkan buku di tangannya, pemuda itu menjawab dengan tenang, "Hanya penasaran dengan detail kecil."Martin memiringkan kepala, terlihat semakin penasaran. "Detail kecil, kah ... hm, aku mengerti." Meski penasaran, tetapi dia memutuskan untuk tidak memaksanya menjelaskan lebih jauh."Tapi ... belakangan ini aku tidak membicarakan banyak hal mengenai kasus apa pun dengan Tuan Michael," lanjutnya."Sebenarnya ... ayah tadi pagi mengatakan bahwa dia mau liburan, dan ingin mengajakku liburan bersamanya beberapa hari. Menurut Bapak, ayah menawarkan itu karena dia ada kasus atau apa?" Reynold punengatakan apa yang membuatnya penasaran mengenai sikap Michael tadi pagi. "Aku hanya ingin memastikan itu saja."Martin tersenyum lebar mendengar pengakuannya. "Well, intinya kau hanya khawatir dia mengajakmu karena a
DUG!Aku langsung masuk ke dalam apartemenku dan setelah itu mengunci pintunya rapat-rapat. Melihat Chris barusan, membuatku sedikit khawatir dan tentunya dengan melihatnya juga membuat suasana hatiku menjadi buruk."Akhirnya Aku sendirian," gumamku yang seketika merasa begitu lega berada sendirian
Gadis itu tampak sangat senang dengan sanjungan yang kulontarkan padanya. Tampangnya yang judes itu berubah menjadi senang dengan diwarnai segaris kebanggaan yang begitu tinggi."Hahahaha, orang bodoh sekali pun akan menyadari betapa beraninya Aku. Well, mau bagaimana lagi, keberadaanku memang tida
POV Wendy.Aku sudah cukup lama berdiri di sini, berusaha menguping pembicaraan kedua pria itu di dalam sana. Namun sayang sekali aku tidak bisa mendengar dengan jelas mengenai apa yang sedang mereka bicarakan karena situasi di sekitarku yang begitu riuh, ditambah lagi baik suara Reynold maupun Mar
Karena di hari pertama perkuliahan tidak ada penyampaian materi perkuliahan, setelah selesai mengabsen dan memberi sedikit pengarahan, serta sesi tanya jawab, Martin pun akhirnya mengakhiri kelas.Semua mahasiswa dan mahasiswi pergi meninggalkan kelas, terkecuali Wendy, karena ia diminta Martin unt







