Share

Tertawan Pesona Mantan Papa Tiri
Tertawan Pesona Mantan Papa Tiri
Penulis: Masrie Napitupulu

Kontrak Seumur Hidup

"Apa kabarmu, Miley?"

Gadis yang dipanggil Miley itu berjengit sesaat, kaget karena sang pimpinan mengetahui namanya di pertemuan mereka.

Miley sendiri tidak mengetahui tujuan ia dipanggil ke sini untuk apa. Ia yang melamar sebagai sekretaris pribadi bermodalkan nekad itu ketar-ketir, sedikit khawatir sang atasan memarahinya.

Untuk menghormati atasan yang masih memunggunginya itu, Miley menjawab dengan tenang, "Saya baik-baik saja, Pak."

"Bagus, itu yang aku harapkan, Miley.” Pimpinan itu kemudian memutar kursinya menghadap Miley. “Akhirnya aku menemukanmu setelah mencarimu berbulan-bulan.” Pria itu menunjukkan seringai di sela senyum dan tatapan tajamnya ke gadis itu.

Di hadapannya, Miley nyaris melompat dari kursinya. Napasnya berhenti sesaat saat melihat sosok pria itu. ‘D-Dia ….’

Pria itu tiba-tiba bangkit dari kursinya, lalu mendekat ke arah Miley. “Jadi, kamu bersembunyi di apartemen milikku?” Refleks, gadis itu ikut berdiri guna menghindar dari tatapan buas. Hampir saja ia jatuh, jika pria tersebut tidak cepat menangkap tubuhnya. “Kamu tidak apa-apa, Miley?”

"Ka ... kamu! Ma ... maaf, maksudku, Anda." Miley sangat gugup melihat sosok yang sangat ia benci selama ini, kini memeluknya sangat erat. Namun, ia pun segera tersadar, pria itu adalah pimpinannya saat ini.

"Iya, ini aku, Miley. Apa kamu kaget?" tanyanya berbisik dengan senyum seringainya. Dengan lancang kemudian pria itu menempelkan bibirnya di daun telinga Miley.

Sadar masih berada di pelukan sang pimpinan, Miley buru-buru mendorong tubuh sang pimpinan yang bernama Aland Halton, yang tak lain adalah mantan papa tirinya. "Mana Jenny?" tanyanya menaikan suaranya, tatapannya penuh kebencian.

Ia ingin tahu keberadaan Jenny- Mamanya saat ini, setelah beberapa tahun hubungan mereka tidak membaik. Ia berpikir … selama ini, Aland-lah penyebab Jenny berubah, sampai mamanya itu tega mengusirnya dari rumah.

Tidak bertemu beberapa tahun, nyatanya rasa bencinya kepada Aland belum juga surut. Ia bahkan pernah berpikir ingin memisahkan pria itu dari Jenny.

"Kami sudah bercerai," jawab Aland melepas tubuh Miley, dan kembali ke kursi kebesarannya.

"Mamamu yang mengajukan perceraian kami, dan pergi diam-diam ke Paris."

"Setelah Anda bosan dengannya, Anda justru menuduhnya menceraikan Anda?” Miley geram. Ia yakin, hal itu tidak mungkin terjadi, sebab ia tahu kalau mamanya begitu mencintai pria brengsek ini.

‘Dia yang mencampakkan, dia juga yang membuat alasan! Dasar brengsek!’ ujar Miley dalam hati.

Pria buaya memang selalu mencari pembenaran. Setelah Aland menguras habis harta kekayaan mamanya hingga menyebabkan ia diusir dari rumah … sekarang, setelah mendapatkan semua, pria itu mencari-cari alasan untuk meninggalkan mamanya.

Dan, apalagi tadi … pria itu katanya mencari-carinya? Miley pikir, mereka tidak memiliki urusan apa pun untuk dibicarakan. Lagi pula, mereka juga tidak terlalu dekat untuk saling mencari tahu kabar masing-masing. Pria itu pasti tengah membual lagi untuk menarik perhatian Miley.

Pandangan sinisnya mengikuti gerakan Aland yang tengah mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. Tampak senyum mengejek terukir di bibir pria itu, seolah tahu isi kepala Miley.

"Apa namanya ini, Miley?" tanya Aland mengangkat salah satu alisnya, kemudian melemparkan beberapa lembar foto di atas meja. "Masih menuduhku pria brengsek?"

Lembaran foto itu menarik atensi Miley. Di foto -foto itu, terlihat Jenny yang tengah memakai gaun pernikahan begitu mesra dengan pria lain. Memang dari dulu mamanya itu suka berteman dengan pria, tapi tidak pernah sampai menikah dan sebucin ketika Jenny bersama Aland.

"Tidak mungkin!” desisnya menyambar foto-foto pernikahan Jenny dengan pria lain itu dan membuangnya ke tong sampah.

Raut wajahnya tampak memerah menahan malu. Baru beberapa detik lalu ia menuduh Aland pria buaya, tetapi bukti yang pria itu berikan justru berkata sebaliknya. Jenny yang ia kira telah menemukan cinta, hingga sampai tega mengusirnya karena Aland, justru memutuskan menikah lagi dengan pria lain.

"Apa kamu masih menuduhku yang bersalah, Miley?"

Aland kembali mendekat dan menyentuh kedua bahunya. Kini, keduanya berdiri berhadapan, nyaris tidak berjarak. Wajah mereka bahkan hampir bersentuhan ketika Miley mengangkat wajah dan menatapnya.

Meski anggapan negatif tentang Aland yang brengsek telah dipatahkan oleh bukti pernikahan tadi, tetapi, hal tersebut tidak lantas menyurutkan rasa bencinya pada pria itu

Sedikitnya, ada perasaan bersalah yang dirasakan Miley, karena telah berpikiran buruk pada atasannya sendiri. Beberapa detik menimbang, Miley yang telah menandatangani kontrak kerja sebagai sekretaris Aland sebelumnya, kini telah memutuskan, "Aku mau membatalkan kontrak kerjaku.” Setelahnya, gadis itu berbalik, hendak keluar dari ruangan yang terasa menyesakkan ini.

Sayang, baru saja melangkah … tangan Aland justru kembali menahannya. Tubuh mereka kembali berhimpitan, dengan Miley yang kini membelakangi tubuh sang mantan papa tiri.

"Kenapa, Miley? Apa nominal gajimu kurang?" kata Aland mempermainkan jari tangannya di helai rambut panjang Miley. Sesekali menyesap dalam aroma sampo yang menguar dari surainya yang hitam. "Atau, karena telah tahu mantan papa tirimu adalah pemilik perusahaan ini?"

Aland semakin lancang menyembunyikan wajahnya di lebatnya rambut hitam Miley. Desahan napasnya terasa hangat, membuat tubuhnya membatu dan meremang.

Anehnya, kedua tangan dan kakinya terasa kaku, sulit digerakkan untuk menghindar dari serangan nakal Aland. Mantan papa tirinya itu begitu pintar membuatnya tidak berkutik.

Melihat Miley hanya terdiam dan seolah menikmati sentuhan hangat darinya, Aland semakin berani melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu.

Besaran gaji yang ditawarkan perusahaan ini terbilang besar. Namun, jika dibandingkan dengan ketenangan diri yang harus ia korbankan jika terus berhadapan dengan sang atasan seperti Aland … ia dengan suka rela melepas dan mencari pekerjaan lain di luar sana.

"Apa kamu tidak sadar sedari awal, kalau perusahaan Aland Corp ini milik mantan papa tirimu ini?"

Meski Miley tidak melihat mimik wajah Aland, ia menebak pria itu tengah menyeringai. Nada suaranya bahkan begitu mengejek kecerobohannya karena tidak menyadari kesamaan nama perusahaan dengan nama pria itu.

‘Dasar bodoh!’ makinya pada diri sendiri.

Tubuh Miley bergetar ketika bibir Aland menerkam ganas leher jenjangnya, meninggalkan tanda kepemilikannya di sana. Miley mendadak bisu.

Rasa panas dari kecupan Aland itu seolah mengembalikan seluruh kekuatannya. Ia menepis tangan Aland dan mendorongnya kasar.

"Apa yang kamu lakukan?!" Tangan gadis itu sudah terkepal kuat. Ia ingin sekali menampar Aland sekuat tenaga, tapi ia pun mengurungkan niat, mengingat siapa dirinya di hadapan Aland saat ini. "Aku bilang, aku ingin membatalkan—"

“Kamu telah menyetujui kontrak itu, Miley." potongnya mengangkat dagunya angkuh. “Dan tidak ada kontrak yang bisa dibatalkan oleh pihak kedua, kecuali kamu siap membayar pinalti.”

Aland mempermainkan pandangannya di wajah cantik Miley yang memerah menahan kesal.

Ia tersenyum miring seperti meremehkan Miley yang tidak bisa berkutik dalam perangkapnya kini.

“Ah, apa kamu membaca dengan jelas kontrak itu?” tanya Aland masih dengan wajahnya yang angkuh. Melihat Miley yang bergeming, dengusan keluar dari bibir pria itu. “Dasar ceroboh. Kamu telah menyetujui kontrak kerja seumur hidupmu.”

"K-kontrak seumur hidup?” Miley kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah menemukan satu pun perusahaan yang pernah menawarkan kontrak seumur hidup. “Jangan mengada-ada, ya!”

Namun, dalam hati, gadis itu juga mengutuk dirinya sendiri yang tidak cermat membaca kontrak meski tadi HR telah memintanya mengecek berkas itu lagi. Tidak hanya itu, ia bahkan tidak mengingat kolom apa aja yang telah ia bubuhkan tanda tangannya. Sial.

"Sekarang ambil map diatas meja itu dan ikut aku!" titah Aland mengubah nada suaranya, setengah mendorong tubuh Miley ke arah mejanya.

"I - ikut ke mana?"

Aland memutar badan cepat, menghampirinya dan mencengkeram pinggang Miley. Alih-alih mengajak sang sekretaris menghadiri kerja, gestur pria itu lebih mirip buaya yang sedang ingin menerkam mangsanya. "Bukankah seharusnya kita merayakan pertemuan istimewa ini, Sayang?"

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status