LOGIN"Mama, mama, mama."
Suara teriakan Calista terdengar dari arah luar rumah. Semua sudah berdiri pada posisi masing-masing. Begitu juga dokter pribadi keluarga sudah ada di sana. "Mama dimana?" "Di kamar sedang diperiksa." Tanpa pikir panjang Calista masuk ke dalam kamar ibunya dan melihat wanita itu terbaring lemah di atas ranjang. Jantung Calista berdegup semakin cepat dengan mata mulai berkaca-kaca. "Mama jangan tinggalin aku. Aku bersalah, maafin aku Ma. Mama harus buka mata. Aku janji gak bakal kabur lagi dari rumah." Tangis Calista pecah. "Kamu janji gak akan pergi lagi dari rumah." "Iya Ma aku janji. Aku janji bakal jadi anak yang patuh." Ririn—ibu kandung Calista tersenyum senang dengan kedatangan Calista—putri semata wayangnya, ditambah dengan janjinya. Calista mengangkat kepalanya. "Mama masih hidup, maksudku mama gak meninggal. Maksudku mama bohongin aku, mama pura-pura." "Jadi begitu, kamu berharap mama mati, meninggal beneran gitu." "Gak gak gitu Ma. Aku cuma, cuma syok. Aku udah duluan negatif pikirannya. Aku takut mama ninggalin aku beneran." "Calon dokter tapi gampang di tipu," ucap Ririn tersenyum. "Iih, mama. Becandanya gak lucu. Aku marah beneran ya, aku pergi lagi dari rumah." "Gak bisa gitu. Kamu udah janji gak akan pergi lagi dari rumah. Udah lah Calista. Untuk apa kamu ngekost di rumah susun itu. Mana tempatnya gak aman lagi. Banyak orang gak jelas di sana, bahaya tempat itu." "Mama tau aku tinggal dimana?" Tanya Calista kaget. "Selalu sayang, tapi kali ini tempat tinggal kamu sama sekali gak aman. Mama gak bisa tenang dan gak bisa pura-pura gak tau. Kamu satu-satunya yang Mama punya. Mama gak bisa bayangin jika hal buruk terjadi sama kamu. Mama akan menyalahkan diri mama sendiri untuk itu. Udah ya sayang, jangan pergi lagi dari rumah. Stop merajuk seperti ini." Ririn membelai lembut pipi putrinya. "Sudah waktunya untuk pergi. Semuanya sudah beres," ucap seorang pria dengan jas dokter. Adik kandung Ririn— Dimas. "Om Dimas, bisa bisanya ikut bohongi aku," ucap Calista sambil berdiri di hadapan Dimas. Ririn menggelengkan kepalanya pada Dimas. Memberi isyarat yang hanya dipahami oleh Dimas. "Kepaksa Caca." "Aah, stop panggil aku gitu, aku bukan lagi anak kecil." "Di mataku, kamu tetap keponakan kecilku." Dimas tersenyum. "Aku udah mau sarjana, Om." "Tetap aja masih kecil." "Ma, liat tuh Om Dimas. Gangguin aku terus." Perdebatan kecil itu justru menjadi bumbu yang menambah kehangatan di pertemuan mereka saat ini. "Lebih baik kamu bersihkan diri dulu, istirahat dulu. Nanti malam kita ada undangan makan malam. Teman sekolah Mama ngadain acara. Temenin mama ke sana ya." "Iya Ma." Setelah Calista keluar dari kamarnya. Dimas mendekati Ririn—kakaknya. "Lebih baik beritahu dia sebelum semuanya terlambat." "Gak sekarang." "Ini gak adil untuk Caca, mbak." "Melihat dia sedih itu lebih menyiksa. Dia kehilangan papanya saat kecil. Jika dia tau kondisiku, kesedihan akan datang kembali dalam hidupnya." "Dia akan lebih terpukul jika tau belakangan." Dimas menjadi emosi. "Setidaknya aku bisa melihat senyum cerianya untuk beberapa waktu. Tolong jangan paksa mbak, Dim. Mbak tau niat kamu baik. Mbak berterima kasih sama kamu." "Hubungi aku jika perlu apapun." "Pasti." "Obatnya ada di laci biasa." "Terima kasih untuk semuanya." "Mbak harus semangat untuk sembuh. Mbak pengen liat Caca nikah kan. Semangatnya harus lebih lagi. Oh ya, nanti malam mbak beneran mau pergi? Kondisi mbak belum stabil. Aku takut terjadi sesuatu." "Gak ada yang perlu dicemaskan. Hanya pusing sedikit nanti juga hilang. Kamu udah ngasih obat juga. Sebentar lagi mbak udah sehat lagi." "Kalau itu keputusan mbak, aku tidak bisa memaksa mbak untuk tidak datang." "Kita udah bahas ini sebulan yang lalu, Dim." "Iya, aku cuma gak yakin dengan ide itu." "Hanya perlu datang dan memastikan semuanya." "Aku tunggu kabar dari mbak." Pembicaraan empat mata antara Ririn dan Dimas tanpa sepengetahuan Calista. Pintu juga sengaja dikunci dari dalam. Sampai akhirnya Dimas untuk pulang, ia keluar dan terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa. "Om Dimas, aku mau bicara," ucap Calista yang berdiri di samping pintu. Dimas kaget dan berusaha menetralkan dirinya kembali. "Caca, kamu ngapain di situ?" "Nungguin Om. Aku mau introgasi Om sekarang juga." Tanpa aba-aba, Calista menarik Dimas ke halaman belakang. "To the point aja. Mama aku sakit apa? Sakitnya parah? Om jangan bohongin aku. Aku bisa liat ekspresi mama liatin Om tadi. Hayo ngaku, jujur sama aku." "Untuk apa Om bohong. Kamu juga bakal jadi dokter nantinya. Om gak akan bisa bohongin kamu." "Makanya Om jujur aja deh. Mama sakit apa?" "Om juga belum tau, mama kamu pingsan tadi. Keliatannya kurang tidur dan kelelahan." "Jangan jangan mama begitu karena aku." Nada suara Calista melemah. "Makanya jangan suka kabur. Stop berulah kayak bocah SMP. Mama kamu itu khawatir banget sama kamu. Mulai sekarang jadi anak baik ya. Kurang kurangin tuh sikap spontan mendadak hilang dari rumah." "Ya, sorry. Habisnya mama maksa aku nikah sih." "Kalau udah ada calonnya, turuti aja atau mau Om cariin, biar cepat ketemu." "Iih, Om kok jadi ikutan kayak mama sih. Aku gak suka," ucap Calista menjauh dari Dimas. Calista sangat tidak suka membahas pernikahan. Membayangkannya saja sudah membuat Calista mual. "Gak mama, gak Om Dimas, ngebet banget sih nyuruh aku nikah. Dikira gampang apa nikah. Nikah itu ribet. Mending aku ngurus seratus anak daripada satu suami." Malam hari, Ririn sudah menunggu di ruang tengah. Sementara Calista masih bersiap di kamarnya. "Ya ampun, princess mama. Cantik banget sih," puji Ririn. "Ma, emang harus ya pake gaun gini. Aku gak nyaman." "Tapi cantik, cantik banget." "Mama yakin? Ini bukan aku banget Ma." "Udah, kita jalan sekarang. Sayang loh udah cantik begini." "Aku yang nyetir ya Ma." "Gak malam ini. Ada sopir yang bakal antar. Calista sayang duduk manis di belakang." "Tapi Ma." "Nurut ya," ucap Ririn tersenyum. Kemudian keduanya masuk ke dalam mobil menuju tempat acara. Sekitar satu jam mereka tiba di sebuah rumah. Rumah dengan gaya eropa, terlihat mewah dan klasik dengan sentuhan modern dan minimalis. Cukup unik dan memanjakan mata dengan taman bunga yang menyambut mereka masuk. Seorang wanita seumuran Ririn menunggu di depan pintu utama. Wanita itu adalah Rita— teman Ririn sejak sekolah. "Kita udah di tungguin." Ririn menunjuk ke arah luar. Rita segera mendekat saat Ririn dan Calista turun. Tangannya terbuka menyambut keduanya dengan pelukan. Tatapan Rita berhenti pada Calista dengan senyum hangat dan tentunya dengan pujian. "Ini pasti Calista, ternyata aslinya lebih cantik," ucap Rita dengan senyuman. "Kita masuk dulu, acaranya udah mulai." "Maaf, kami telat." "Gak apa-apa. Aku malah mikirnya kamu gak bakalan datang. Sibuk banget ibu CEO, jadwalnya padat," ucap Rita tertawa. Kedatangan Ririn disambut hangat oleh tamu di dalam. Mereka saling kenal, ini sudah seperti acara reunian mereka. "Ma, aku kesana ya." "Iya, jangan kabur ya." "Iya, takut banget sih." "Hanya waspada." Setelah keliling sebentar, Calista memilih untuk ke pantry. Namun tiba-tiba ada yang menyapanya. "Tante cantik ngapain di sini? Ngikutin aku?" Kay dengan gaya sombongnya menyapa. "Hei bocil, sorry ya aku sama sekali gak ngikutin kamu." "Oh, kirain. Makan yang banyak Tan. Bawa pulang juga boleh," ucap Kay tersenyum. "Iih, ngeselin banget kamu." "Mau aku temenin gak? Sendirian gabut." Dari jarak jauh Angga melihat Calista dan Kay. Dahinya mengerut, dalam hati bertanya kenapa dirinya bisa bertemu wanita itu tiga kali dalam satu hari. "Angga, ini Tante Ririn, sahabat mama." Dengan sopan Angga menyambut sapaan Ririn. "Tante Ririn datang bersama putrinya." Rita menunjuk ke arah pantry dan bersamaan dengan itu Calista dan Kay sama-sama melihat ke sana. Deg!Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu
"Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir
Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan
"Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri
"Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit
"Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob







