Share

Bab 3

Auteur: Alwee Chan
last update Dernière mise à jour: 2026-01-08 16:38:45

"Mama, mama, mama."

Suara teriakan Calista terdengar dari arah luar rumah.

Semua sudah berdiri pada posisi masing-masing. Begitu juga dokter pribadi keluarga sudah ada di sana.

"Mama dimana?"

"Di kamar sedang diperiksa."

Tanpa pikir panjang Calista masuk ke dalam kamar ibunya dan melihat wanita itu terbaring lemah di atas ranjang.

Jantung Calista berdegup semakin cepat dengan mata mulai berkaca-kaca.

"Mama jangan tinggalin aku. Aku bersalah, maafin aku Ma. Mama harus buka mata. Aku janji gak bakal kabur lagi dari rumah."

Tangis Calista pecah.

"Kamu janji gak akan pergi lagi dari rumah."

"Iya Ma aku janji. Aku janji bakal jadi anak yang patuh."

Ririn—ibu kandung Calista tersenyum senang dengan kedatangan Calista—putri semata wayangnya, ditambah dengan janjinya.

Calista mengangkat kepalanya. "Mama masih hidup, maksudku mama gak meninggal. Maksudku mama bohongin aku, mama pura-pura."

"Jadi begitu, kamu berharap mama mati, meninggal beneran gitu."

"Gak gak gitu Ma. Aku cuma, cuma syok. Aku udah duluan negatif pikirannya. Aku takut mama ninggalin aku beneran."

"Calon dokter tapi gampang di tipu," ucap Ririn tersenyum.

"Iih, mama. Becandanya gak lucu. Aku marah beneran ya, aku pergi lagi dari rumah."

"Gak bisa gitu. Kamu udah janji gak akan pergi lagi dari rumah. Udah lah Calista. Untuk apa kamu ngekost di rumah susun itu. Mana tempatnya gak aman lagi. Banyak orang gak jelas di sana, bahaya tempat itu."

"Mama tau aku tinggal dimana?" Tanya Calista kaget.

"Selalu sayang, tapi kali ini tempat tinggal kamu sama sekali gak aman. Mama gak bisa tenang dan gak bisa pura-pura gak tau. Kamu satu-satunya yang Mama punya. Mama gak bisa bayangin jika hal buruk terjadi sama kamu. Mama akan menyalahkan diri mama sendiri untuk itu. Udah ya sayang, jangan pergi lagi dari rumah. Stop merajuk seperti ini."

Ririn membelai lembut pipi putrinya.

"Sudah waktunya untuk pergi. Semuanya sudah beres," ucap seorang pria dengan jas dokter. Adik kandung Ririn— Dimas.

"Om Dimas, bisa bisanya ikut bohongi aku," ucap Calista sambil berdiri di hadapan Dimas.

Ririn menggelengkan kepalanya pada Dimas. Memberi isyarat yang hanya dipahami oleh Dimas.

"Kepaksa Caca."

"Aah, stop panggil aku gitu, aku bukan lagi anak kecil."

"Di mataku, kamu tetap keponakan kecilku." Dimas tersenyum.

"Aku udah mau sarjana, Om."

"Tetap aja masih kecil."

"Ma, liat tuh Om Dimas. Gangguin aku terus."

Perdebatan kecil itu justru menjadi bumbu yang menambah kehangatan di pertemuan mereka saat ini.

"Lebih baik kamu bersihkan diri dulu, istirahat dulu. Nanti malam kita ada undangan makan malam. Teman sekolah Mama ngadain acara. Temenin mama ke sana ya."

"Iya Ma."

Setelah Calista keluar dari kamarnya. Dimas mendekati Ririn—kakaknya.

"Lebih baik beritahu dia sebelum semuanya terlambat."

"Gak sekarang."

"Ini gak adil untuk Caca, mbak."

"Melihat dia sedih itu lebih menyiksa. Dia kehilangan papanya saat kecil. Jika dia tau kondisiku, kesedihan akan datang kembali dalam hidupnya."

"Dia akan lebih terpukul jika tau belakangan." Dimas menjadi emosi.

"Setidaknya aku bisa melihat senyum cerianya untuk beberapa waktu. Tolong jangan paksa mbak, Dim. Mbak tau niat kamu baik. Mbak berterima kasih sama kamu."

"Hubungi aku jika perlu apapun."

"Pasti."

"Obatnya ada di laci biasa."

"Terima kasih untuk semuanya."

"Mbak harus semangat untuk sembuh. Mbak pengen liat Caca nikah kan. Semangatnya harus lebih lagi. Oh ya, nanti malam mbak beneran mau pergi? Kondisi mbak belum stabil. Aku takut terjadi sesuatu."

"Gak ada yang perlu dicemaskan. Hanya pusing sedikit nanti juga hilang. Kamu udah ngasih obat juga. Sebentar lagi mbak udah sehat lagi."

"Kalau itu keputusan mbak, aku tidak bisa memaksa mbak untuk tidak datang."

"Kita udah bahas ini sebulan yang lalu, Dim."

"Iya, aku cuma gak yakin dengan ide itu."

"Hanya perlu datang dan memastikan semuanya."

"Aku tunggu kabar dari mbak."

Pembicaraan empat mata antara Ririn dan Dimas tanpa sepengetahuan Calista. Pintu juga sengaja dikunci dari dalam.

Sampai akhirnya Dimas untuk pulang, ia keluar dan terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa.

"Om Dimas, aku mau bicara," ucap Calista yang berdiri di samping pintu.

Dimas kaget dan berusaha menetralkan dirinya kembali.

"Caca, kamu ngapain di situ?"

"Nungguin Om. Aku mau introgasi Om sekarang juga."

Tanpa aba-aba, Calista menarik Dimas ke halaman belakang.

"To the point aja. Mama aku sakit apa? Sakitnya parah? Om jangan bohongin aku. Aku bisa liat ekspresi mama liatin Om tadi. Hayo ngaku, jujur sama aku."

"Untuk apa Om bohong. Kamu juga bakal jadi dokter nantinya. Om gak akan bisa bohongin kamu."

"Makanya Om jujur aja deh. Mama sakit apa?"

"Om juga belum tau, mama kamu pingsan tadi. Keliatannya kurang tidur dan kelelahan."

"Jangan jangan mama begitu karena aku." Nada suara Calista melemah.

"Makanya jangan suka kabur. Stop berulah kayak bocah SMP. Mama kamu itu khawatir banget sama kamu. Mulai sekarang jadi anak baik ya. Kurang kurangin tuh sikap spontan mendadak hilang dari rumah."

"Ya, sorry. Habisnya mama maksa aku nikah sih."

"Kalau udah ada calonnya, turuti aja atau mau Om cariin, biar cepat ketemu."

"Iih, Om kok jadi ikutan kayak mama sih. Aku gak suka," ucap Calista menjauh dari Dimas.

Calista sangat tidak suka membahas pernikahan. Membayangkannya saja sudah membuat Calista mual.

"Gak mama, gak Om Dimas, ngebet banget sih nyuruh aku nikah. Dikira gampang apa nikah. Nikah itu ribet. Mending aku ngurus seratus anak daripada satu suami."

Malam hari, Ririn sudah menunggu di ruang tengah. Sementara Calista masih bersiap di kamarnya.

"Ya ampun, princess mama. Cantik banget sih," puji Ririn.

"Ma, emang harus ya pake gaun gini. Aku gak nyaman."

"Tapi cantik, cantik banget."

"Mama yakin? Ini bukan aku banget Ma."

"Udah, kita jalan sekarang. Sayang loh udah cantik begini."

"Aku yang nyetir ya Ma."

"Gak malam ini. Ada sopir yang bakal antar. Calista sayang duduk manis di belakang."

"Tapi Ma."

"Nurut ya," ucap Ririn tersenyum.

Kemudian keduanya masuk ke dalam mobil menuju tempat acara.

Sekitar satu jam mereka tiba di sebuah rumah. Rumah dengan gaya eropa, terlihat mewah dan klasik dengan sentuhan modern dan minimalis. Cukup unik dan memanjakan mata dengan taman bunga yang menyambut mereka masuk.

Seorang wanita seumuran Ririn menunggu di depan pintu utama. Wanita itu adalah Rita— teman Ririn sejak sekolah.

"Kita udah di tungguin." Ririn menunjuk ke arah luar.

Rita segera mendekat saat Ririn dan Calista turun. Tangannya terbuka menyambut keduanya dengan pelukan.

Tatapan Rita berhenti pada Calista dengan senyum hangat dan tentunya dengan pujian.

"Ini pasti Calista, ternyata aslinya lebih cantik," ucap Rita dengan senyuman.

"Kita masuk dulu, acaranya udah mulai."

"Maaf, kami telat."

"Gak apa-apa. Aku malah mikirnya kamu gak bakalan datang. Sibuk banget ibu CEO, jadwalnya padat," ucap Rita tertawa.

Kedatangan Ririn disambut hangat oleh tamu di dalam. Mereka saling kenal, ini sudah seperti acara reunian mereka.

"Ma, aku kesana ya."

"Iya, jangan kabur ya."

"Iya, takut banget sih."

"Hanya waspada."

Setelah keliling sebentar, Calista memilih untuk ke pantry. Namun tiba-tiba ada yang menyapanya.

"Tante cantik ngapain di sini? Ngikutin aku?" Kay dengan gaya sombongnya menyapa.

"Hei bocil, sorry ya aku sama sekali gak ngikutin kamu."

"Oh, kirain. Makan yang banyak Tan. Bawa pulang juga boleh," ucap Kay tersenyum.

"Iih, ngeselin banget kamu."

"Mau aku temenin gak? Sendirian gabut."

Dari jarak jauh Angga melihat Calista dan Kay. Dahinya mengerut, dalam hati bertanya kenapa dirinya bisa bertemu wanita itu tiga kali dalam satu hari.

"Angga, ini Tante Ririn, sahabat mama."

Dengan sopan Angga menyambut sapaan Ririn.

"Tante Ririn datang bersama putrinya."

Rita menunjuk ke arah pantry dan bersamaan dengan itu Calista dan Kay sama-sama melihat ke sana.

Deg!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 71

    Calista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 70

    Calista berdiri di dekat pintu, bersiap pergi. Mira menemaninya sampai ke depan untuk memastikan semuanya aman.Tinggallah Angga dan Pak Arman di dalam ruangan."Bisa minta waktunya sebentar, Pak Arman?"Pak Arman menutup map dokumen di depannya, lalu menatap Angga dengan serius."Tentu, ada apa Pak Angga?""Saya ingin tau detailnya mengenai perusahaan.""Pak Angga, saya akan terbuka, lagipula hubungan antara Pak Angga dan Bu Calista, suami dan istri. Sejujurnya situasi perusahaan sekarang memang tidak sederhana."Angga berdiri dengan kedua tangan di saku celana."Berapa besar tekanan yang Alex lakukan?"Pak Arman menarik napas pelan."Jika dia berhasil menguasai lebih dari empat puluh persen saham, dia bisa memaksa rapat pemegang saham. Dari situ dia bisa menekan keputusan manajemen."Angga mengangguk pelan. "Berapa yang dibutuhkan untuk menutup celah itu?"Pak Arman sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Maksud Pak Angga?""Dana." Suara Angga tenang. "Berapa yang dibutuhk

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 69

    Mobil Angga melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ia sukai.Calista bukan tipe orang yang pergi malam-malam tanpa memberi tahu siapa pun. Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia terlihat sangat lelah.Angga mencoba menelepon lagi. Masih tidak diangkat.Rahangnya menegang. "Calista, kamu lagi apa sebenarnya?"Angga menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Instingnya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan Alex.***Sementara itu, di ruang rapat kantor perusahaan milik mendiang Ririn.Pak Arman menutup map dokumen di depannya. "Kalau kita bicara secara teknis, menjual lima puluh satu persen saham berarti Ibu kehilangan kendali penuh terhadap perusahaan."Calista mengangguk. "Saya paham."Mira masih berdiri dengan wajah tegang. "Bu, kita masih punya opsi lain. Kita bisa cari investor lain. Kita bisa restrukturisasi saham.""Gak cukup cepat," potong Calista pelan. "Pak Alex bergerak terlalu cepat." Pak Arman menatapnya dengan serius."Apa

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 68

    Kay sudah masuk kamar lebih awal karena besok harus bangun pagi untuk sekolah dan latihan basket. Rita juga kembali ke kamarnya setelah cukup lama berbicara dengan Angga mengenai langkah hukum jika Alex benar-benar mulai bergerak.Calista duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, berpura-pura membaca laporan. Padahal pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Pesan terakhir yang ia kirim masih terngiang di kepalanya. 'temui aku jam delapan malam ini.'Belum ada balasan dari Alex. Namun Calista tahu satu hal, Alex pasti datang.Calista menarik napas pelan. Langkah kaki Angga terdengar dari arah dapur. Pria itu membawa dua gelas air hangat."Kamu masih kerja?" tanyanya.Calista mengangguk kecil. "Sedikit lagi."Angga menaruh gelas di meja. "Jangan terlalu dipaksakan.""Iya, Mas."Tatapan Angga berhenti beberapa detik di wajah Calista."Aku temenin?""Gak usah, Mas."Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Tapi Angga tidak menanyakannya."Kalau udah selesai, langsung istirahat."Ca

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 67

    Keesokan paginya."Kay, mau bareng gak?" tanya Calista.Kay menimbang. "Aku mau bawa motor hari ini.""Oh, oke." Calista mengulas senyum. "Kalau perlu apa-apa kabari aja nanti."Alis Kay berkerut, terdengar sedikit aneh baginya. "Oh, oke.""Kay," panggil Calista, lagi."Apa?""Gak ada apa-apa. Cuma mau bilang hati-hati di jalan."Dari kejauhan Angga melihat keduanya mengobrol dan sedikit penasaran. Langkah Angga cepat mendekati mereka.Kay menangkap pergerakan Angga. "Pa, aku berangkat dulu!" ucap Kay sambil menyambar tas.Angga yang baru saja akan bergabung kemudian berkata. "Sopir yang akan antar kamu sampai depan gerbang sekolah. Jangan jalan sendiri."Kay mendengus pelan. "Pa, aku bisa sendiri.""Di antar, lebih aman juga.""Gak hari ini Pa.""Kay, tolong. Papa cuma khawatir, kamu ingat, kamu pernah masuk ke rumah sakit gara-gara jatuh dari motor. Ujian sebentar lagi. Kamu gak boleh kenapa-kenapa."Ingatan Kay berputar pada kejadian waktu itu. Calista di samping Kay menyadari sesu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 66

    "Gara-gara aku di sini. Mas Angga harus tidur di sofa."Calista memandangi Angga yang masih tertidur lelap dengan tangan bersilang di atas dada. Pagi datang terlalu cepat bagi Calista. Setelah sedikit drama tempat tidur.Semalam Calista dan Angga harus tidur di kamar yang sama. Karena tidak mungkin tidur terpisah, Rita pasti akan mempertanyakan itu.Meski satu kamar, namun mereka tidur terpisah. Calista di ranjang dan Angga di sofa. Angga memberi ruang untuk Calista merasa nyaman.Pernikahan mereka dadakan dan bukan atas dasar cinta. Pernikahan karena sebuah sandiwara yang berakhir dengan pernikahan yang di terima keduanya.Calista memijat pelan kepalanya. Ia terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena cukup istirahat justru karena pikirannya tidak pernah benar-benar tidur.Di satu sisi, ia adalah dokter magang yang harus datang tepat waktu, belajar, mengikuti instruksi, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.Di sisi lain, ia adalah pimpinan perusahaan peninggalan ibunya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status