Share

3. Putus?

Penulis: Mokaciinoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 08:39:10

Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya.

Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar.

"Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.

Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang.

Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin.

Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.

Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.

Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya Rania memilih menyerah lebih dulu.

"Bi, kita putus yuk," ucap Rania lirih.

Alis Abian terangkat tinggi. Ada keterkejutan yang terlintas di sorot matanya. "Putus?" katanya.

Rania mengangguk. "Aku rasa kita sudah tidak cocok lagi."

Mulut Abian terbuka dan tertutup beberapa kali. Untuk sementara, dia tidak bisa mengatakan apapun. Namun, Rania menunggu dengan sabar.

Tidak lama kemudian, Abian meraih jemarinya. Tangan pria itu menggenggamnya dengan hangat dan kuat. Rania tidak bergeming. Dia juga tidak berusaha untuk menepis tangan itu.

Matanya menatap lurus pada wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi mantannya. "Ran, kamu tahu 'kan kalau aku cinta banget sama kamu, tapi sorry... " tukas Abian sambil kepalanya terkulai lesu. Suaranya juga begitu lirih hingga hampir tidak terdengar. "Mama aku nggak ngizinin aku buat dekat-dekat sama kamu lagi. Aku harap kamu bisa maklum."

Rania tersenyum kecut. Memikirkan tentang mamanya Abian juga menjadi salah satu alasan mengapa Rania tidak yakin kalau hubungan ini akan terus berlanjut. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu sangat mementingkan status sosial.

Rania tidak akan menyalahkan mereka. Karena memang begitulah hukum alam yang berlaku. Tidak peduli di era manapun, kisah sang pangeran dan si upik abu hanya bisa berakhir indah dalam dongeng semata.

"Kalau begitu, kita resmi selesai ya," tukas Rania. Suaranya terdengar sedikit tercekat karena menahan air mata yang ingin jatuh.

"Hm," gumam Abian. Ada enggan yang terlihat berkelabat di matanya.

"Aku balik ke kantin dulu," pamit Rania cepat seraya berbalik pergi. Dia tidak akan memperlihatkan pada Abian ekspresi mendung di wajahnya.

"Ran... " panggil Abian menghentikan langkah Rania yang sudah satu meter jauhnya.

Rania hanya menolehkan separuh wajahnya. "Semoga masalahmu cepat selesai dan bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku."

"Pasti," balas Rania kemudian lanjut melangkah ke dalam kantin.

Tisya tidak mengatakan apapun ketika melihat Rania kembali dengan lesu ke meja mereka. Dia hanya diam-diam menyodorkan tisu ke hadapan sahabat baiknya itu. Dan Rania tidak ragu mengambilnya.

Karena sebentar lagi dia ada janji temu dengan dosen pengampu skripsi, air mata Rania hanya menggenang sedikit di pelupuk mata.

"Apa lo akhirnya putus?" tanya Tisya ketika mereka sudah selesai menyantap nasi goreng masing-masing.

Rania memberikan senyum tipis. "Yah, akhirnya putus," jawabnya pahit.

Sekalipun dia sudah menduga bahwa hubungan mereka akan berakhir, tapi hati Rania masih sedikit terasa berat. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Sangat banyak memori indah yang telah mereka ukir bersama.

"Tadi siapa yang mutusin duluan? Lo apa dia?"

"Gue."

"Dan dia menerima gitu aja?"

"Ya. Dengan kondisi keluarga gue yang sekarang, mamanya nggak kasih restu."

Tisya mengangguk paham. "Bagus. Mama boy kayak gitu yang apa-apa selalu lebih mendengarkan mamanya emang nggak cocok buat lo," tukasnya. Dia lalu menepuk dengan cukup keras bahu Rania. "Jangan khawatir. Dunia ini luas. Cowok-cowok bergelimpangan di luar sana asal lo mau buka hati aja."

Rania mengangkat bahunya pelan. "Untuk sekarang, gue nggak mau pacar-pacaran dulu. Mau fokus kerja."

"Itu juga bagus."

Rania tidak menimpali, sepasang netranya menerawang kosong menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin lembut.

***

Jedag-jedug suara musik DJ mengalun memenuhi ruangan itu. Di dance floor yang berada tepat di tengah ruangan dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk menggoyangkan tubuhnya dengan acak.

Dalam balutan seragam kerjanya, Rania menyelipkan tubuhnya di antara mereka. Dia terus bergerak dari sudut ke sudut dan dari ruang yang satu ke ruang lainnya. Nampan berisi minuman tidak pernah lepas dari tangannya.

"Ran, tolong antarkan minuman ini ke ruang VIP nomor 05."

"Baik," sahut Rania dengan luwes.

Sudah tiga bulan belakangan ini, Rania bekerja sebagai pelayan Bar. Suatu pekerjaan yang tidak pernah dia bayangkan akan digeluti suatu saat nanti. Tetapi karena kondisinya, Rania mau tidak mau harus melakukan ini. Lagipula gaji bekerja di tempat ini terbilang lumayan untuknya. Selain mendapatkan gaji pokok, dia juga bisa mendapat tips dari pelanggan yang cukup royal.

Tiba di depan ruangan yang dimaksud, Rania mengetuk pintu sekali sebelum kemudian masuk ke dalam. Semua hal bisa terjadi di dalam ruang-ruang VIP macam ini. Oleh karena itu, sebisa mungkin Rania menundukkan kepalanya dengan mata yang hanya fokus pada meja. Setelah meletakkan minuman yang dia bawa, dia akan langsung keluar.

Selama dia bekerja di sini, Rania selalu lolos dengan aman. Pelanggan yang dia temui masih sangat sopan. Drama-drama yang kerap dia khawatirkan untungnya tidak pernah terjadi. Namun, hal itu tidak mengendurkan sikap kehati-hatian Rania. Sampai kemudian...

"Loh, cantik. Kamu bekerja di sini?"

Telinga Rania tiba-tiba terasa gatal mendengar suara familiar ini. Sudut matanya terangkat sedikit ke arah sumber suara.

Benar saja, duduk di sofa yang berada di sampingnya, ada tetangga sebelah kamar yang sedang memandang ke arahnya dengan senyum lebar.

***​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tetangga Bikin Nagih    6. Menerima nasib

    'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan

  • Tetangga Bikin Nagih    5. Tawaran Tetangga Sebelah

    "Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak

  • Tetangga Bikin Nagih    4. Pria ini Ada Dimana-mana

    Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti

  • Tetangga Bikin Nagih    3. Putus?

    Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar."Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang. Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin. Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai ak

  • Tetangga Bikin Nagih    2. Hubungan yang Menggantung

    "Horny sama orang kayak lo sih nggak mungkin ya," bantah Rania. "Yakin?""Ya iyalah. Minggir lo!" hardik Rania dengan tidak sabar.Akan tetapi, pria ini tidak bergeming. "Lain kali kalau mau gabung bilang aja," bisiknya dengan kurang ajar.Bibir Rania megap-megap. Namun, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan, suara siulan tiba-tiba menginterupsi mereka.Rania menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria paruh baya yang baru saja keluar menatap mereka dengan penuh arti. "Setelah malam yang panjang, masih belum puas juga bro?" sindir pria itu. Rania merutuk dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Dia lantas mendorong keras-keras dada pria yang belum diketahui namanya itu, lalu melesat menuju kamar mandi. Dia tidak peduli kalau pria itu sudah mengantre lebih dulu. Rania bersandar di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bahunya yang semula tegang, perlahan merosot rileks. Tok tok tok,Pintu di belakangnya diketuk dari luar. "Na

  • Tetangga Bikin Nagih    1. Pria dari Kamar Sebelah

    "Udah jam tiga."Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa. Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega."Fiuuhh, selamat," gumamnya. "Ah... Ahh.. "Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar. Suara ini lagi.Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status