Beranda / Romansa / Tetangga Bikin Nagih / 5. Tawaran Tetangga Sebelah

Share

5. Tawaran Tetangga Sebelah

Penulis: Mokaciinoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 08:40:04

"Brengsek!"

Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan.

"Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat."

"Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan.

"Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong.

"Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.

Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.

Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah.

Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong.

"Sialan!" makinya.

"Sini maju. Segitu aja kemampuan lo?" cibir Reygan sombong.

Pria bertampang preman itu kembali menyerang, tapi Reygan selalu berhasil menghindar. Bahkan dia sekali lagi berhasil memberikan pukulan telak di perut pria itu.

Di tengah serangan satu pihak yang dilakukan Reygan, pria yang selangkangannya sempat ditendang oleh Rania itu akhirnya pulih dari rasa sakitnya.

Melihat Rania berdiri di sudut tembok, pria itu hendak melanjutkan aksinya. Akan tetapi, Reygan dengan sigap menghalangi.

Dua lawan satu.

Reygan tidak tampak kesulitan menghadapi mereka. Gerakan menghindar dan menyerangnya begitu lincah. Dia terlihat seperti seorang petarung berpengalaman.

Mungkin karena mereka tidak bisa membalas satu pun serangan Reygan, mereka akhirnya memilih untuk kabur. Sosok mereka perlahan hilang di balik gelap malam.

"Lo baik-baik saja 'kan?" tanya Reygan menghampiri Rania yang masih tidak bergeming.

Rania meneguk ludah dengan keras untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Gue baik-baik saja," ucapnya lirih.

"Good. Ayo balik!" ujar Reygan.

"Hm," gumam Rania.

Dengan langkah yang agak tertatih karena kedua tungkainya masih gemetar, Rania mengikuti Reygan menuju kos-kosan mereka yang berjarak satu rumah lagi.

"Lo selalu pulang jam segini setiap hari?" tanya Reygan di sepanjang jalan.

"Iya," jawab Rania.

"Lo tahu nggak kalau pulang jam segini buat perempuan cantik macam lo itu sangat berbahaya?" seloroh Reygan. Ada nada marah yang terdengar dalam suaranya.

"Nggak ada pilihan lain," ujar Rania.

Keluarganya bangkrut. Dia harus bekerja untuk menyambung hidup. Sementara di pagi hari dia harus bolak-balik konsul untuk menyelesaikan skripsinya yang tinggal sedikit lagi. Dia benar-benar hanya punya waktu luang di malam hari.

Seandainya bisa, dia juga tidak ingin selalu diliputi perasaan tegang dan waspada bertemu dengan orang jahat setiap kali pulang bekerja.

Setelah berjalan kurang dari lima menit lagi, mereka akhirnya tiba di kosan.

"Gue benar-benar berterima kasih untuk malam ini. Kalau nggak ada lo, nggak tahu deh gue bakal kayak gimana," pungkas Rania tulus, tapi juga penuh dengan ketakutan yang masih tersisa.

"Gue bisa antar jemput lo kerja, tapi ada syaratnya. Lo mau dengar nggak?" tukas Reygan.

"Apa?" tanya Rania.

"Besok aja deh. Sekarang sudah larut. Mending lo istirahat dulu."

Rania sudah terlalu lelah sekarang. Dia tidak lagi memiliki tenaga untuk berpikir. Jadi dia hanya mengangguk samar sebagai tanggapan.

"Udah cepat masuk sana. Gue nggak mau lo tiba-tiba hilang di depan pintu kamar karena diculik orang."

Rania lantas membuka pintu kamarnya. Dan sebelum pintu itu dia tutup, Rania kembali berkata. "Sekali lagi terima kasih banyak untuk malam ini."

"Ya," timpal Reygan sembari melambaikan tangannya.

Bersandar di balik pintu kamarnya yang kini tertutup rapat, tubuh Rania merosot. Air mata yang sudah dia tahan sepanjang jalan akhirnya jatuh perlahan membasahi pipi. Kepalanya dia tenggelamkan di antara lutut, menangis dalam diam.

Malam ini dia benar-benar ketakutan. Kalau saja Reygan tidak muncul untuk menolongnya, Rania tidak tahu bagaimana nasibnya. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Rania yakin malam ini dia pasti akan bermimpi buruk.

***

Hari ini Rania tidak ada rencana untuk berkonsultasi. Jadi dia tidur cukup lama dan baru bangun menjelang pukul sembilan pagi. Itupun karena pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar.

"Hei, Nona cantik. Lo masih hidup 'kan?"

Ketukan itu disertai dengan suara tetangga sebelah kamarnya. Rania menggeliatkan tubuhnya yang terasa sakit akibat aktivitas fisik dadakan yang dia lakukan semalam.

Setelah semua nyawanya terkumpul menjadi satu, Rania berjalan sedikit sempoyongan menuju pintu.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Gue bawain sarapan nih buat lo. Cuci muka sana!" ujar Reygan menarik tubuh Rania keluar dari kamar, lalu mendorongnya menuju kamar mandi.

Karena semalam pria ini sudah menyelematkannya, Rania dengan patuh menyeret kakinya menuju kamar mandi. Dia hanya mencuci muka dan berkumur sebelum kembali.

Kening Rania agak berkerut saat melihat Reygan duduk dengan rapi di dalam kamarnya.

"Cuma nasi bungkus, semoga lo suka," tukas Reygan.

"Terima kasih," ucap Rania agak canggung.

Ini adalah pertama kalinya dia berada di kamar hanya berdua dengan lawan jenis. Bahkan ketika dia berpacaran dengan Abian dulu, Rania tidak pernah berani memasukkan seorang pria ke area privasinya. Tetapi karena pria ini telah menyelamatkannya, Rania tidak tahu bagaimana cara mengusirnya agar tidak terlihat terlalu tidak tahu diri.

"Harga nasi bungkusnya berapaan?" tanya Rania setelah mereka selesai menyantap sarapan itu.

Reygan mengibaskan tangan di depan wajah. "Santai aja. Emang sengaja gue beli buat lo. Nggak usah diganti."

"Tapi... "

"Udah, nggak ada tapi-tapi," sergah Reygan. "Ngomong-ngomong lo masih ingat apa yang gue bilang semalam soal ngantar jemput lo kerja 'kan?"

Rania menganggukkan kepala samar.

"Lo mau dengar syaratnya sekarang nggak?"

Walau ada keraguan di dalam hatinya, tapi Rania tetap mengangguk. "Ya."

"Setiap malam lo harus tidur sama gue."

***​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tetangga Bikin Nagih    6. Menerima nasib

    'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan

  • Tetangga Bikin Nagih    5. Tawaran Tetangga Sebelah

    "Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak

  • Tetangga Bikin Nagih    4. Pria ini Ada Dimana-mana

    Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti

  • Tetangga Bikin Nagih    3. Putus?

    Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar."Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang. Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin. Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai ak

  • Tetangga Bikin Nagih    2. Hubungan yang Menggantung

    "Horny sama orang kayak lo sih nggak mungkin ya," bantah Rania. "Yakin?""Ya iyalah. Minggir lo!" hardik Rania dengan tidak sabar.Akan tetapi, pria ini tidak bergeming. "Lain kali kalau mau gabung bilang aja," bisiknya dengan kurang ajar.Bibir Rania megap-megap. Namun, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan, suara siulan tiba-tiba menginterupsi mereka.Rania menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria paruh baya yang baru saja keluar menatap mereka dengan penuh arti. "Setelah malam yang panjang, masih belum puas juga bro?" sindir pria itu. Rania merutuk dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Dia lantas mendorong keras-keras dada pria yang belum diketahui namanya itu, lalu melesat menuju kamar mandi. Dia tidak peduli kalau pria itu sudah mengantre lebih dulu. Rania bersandar di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bahunya yang semula tegang, perlahan merosot rileks. Tok tok tok,Pintu di belakangnya diketuk dari luar. "Na

  • Tetangga Bikin Nagih    1. Pria dari Kamar Sebelah

    "Udah jam tiga."Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa. Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega."Fiuuhh, selamat," gumamnya. "Ah... Ahh.. "Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar. Suara ini lagi.Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status