เข้าสู่ระบบMenjelang subuh tadi, Rania baru bisa terlelap dalam kondisi setengah bingung. Dia pikir mereka akan melakukan hal-hal berbau dewasa, tapi pria itu malah tidur nyenyak lebih dulu.Sekarang ketika mereka bangun di tempat tidur yang sama, Rania langsung melemparkan tatapan butuh penjelasan pada Reygan. Jangan salah sangka. Bukannya dia sebegitu inginnya berhubungan dengan pria ini. Dia malah merasa bersyukur karena tidak terjadi apa-apa semalam. Hanya saja Rania sedikit merasa heran."Aku punya insomnia parah. Aku perlu memeluk seseorang kalau mau tidur," pungkas Reygan seolah mengerti apa arti tatapan tak tersirat yang diarahkan Rania padanya. "Aneh banget. Kalau insomnia tuh perginya ke dokter. Bukannya malah cari cewek buat dipeluk," seloroh Rania. Keningnya berkerut samar tanda tidak habis pikir dengan alasan ini. "Udah. Tapi tetap aja nggak bisa tidur," timpal Reygan.Rania mendecih. Dia sama sekali tidak peduli. Ini p
Hidung Sissy berkerut samar. Rahangnya juga mengetat erat. Balasan tak terduga dari Rania tak ayal membuatnya sedikit kesal. "Oke. Lima belas menit juga nggak apa-apa," ujar Sissy seraya mengajak Rania duduk di sofa.Namun, belum sempat Rania mengikuti, Abian yang sejak tadi hanya diam pun tiba-tiba bangkit berdiri. Dia lalu menarik lengan Rania keluar dari ruangan itu tanpa basa-basi. Mereka meninggalkan Sissy yang kamudian menghentakkan kaki dengan kesal."Eh, Bi. Lepasin!" ujar Rania memberontak. Abian tidak bergeming. Dia terus menyeret Rania menuju pojokan yang agak tersembunyi di lantai dua. Setelah mendesak Rania di antara dinding dan tubuhnya sendiri, Abian mulai berkata. "Ran, serius kamu kerja di tempat macam ini?"Wajah Abian tampak berkerut tidak senang ketika menanyai Rania tentang hal ini. "Iya. Emang kenapa?" Rania balik bertanya sambil mengelus pergelangan tangannya yang agak panas akibat dari cengkeraman
Reygan melotot seperti tidak menyangka. "Yakin? Lo serius?!" tanyanya memastikan.Rania ingin meneriakkan kata tidak, tapi kesadaran bahwa dia benar-benar membutuhkan perlindungan terutama setiap pulang kerja membuatnya harus menelan kembali sepenggal kata itu."Terpaksa," jawabnya sambil mengangkat bahu acuh sekaligus miris. "Lo salah paham mengenai tidur yang gue maksud tadi."Rania dengan cepat mengibaskan tangan di depan wajah. "Nanti saja dibicarakan. Gue udah telat nih. Ayo antar gue sekarang juga."Senyum konyol seketika merekah di bibir Reygan. "Sebentar. Gue ambil helm dulu," ujarnya sambil buru-buru kembali ke dalam kamar.Rania tetap berdiri di luar tanpa ada keinginan untuk mengintip bagaimana isi kamar pria itu. Dia hanya berdiri sambil menatap kosong ujung sepatunya, sedikit khawatir dengan apa yang mungkin akan terjadi nanti saat pulang kerja."Kenapa bengong? Ayo berangkat!" Kurang dari ti
'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan
"Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak
Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti







