Beranda / Romansa / Tetangga Bikin Nagih / 4. Pria ini Ada Dimana-mana

Share

4. Pria ini Ada Dimana-mana

Penulis: Mokaciinoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 08:39:38

Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja.

Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu.

"Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang.

Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu.

Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya.

Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat.

"Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona cantik?"

Rania menolak untuk menjawab. Dia malah menyikut perut Reygan dengan cukup keras, lantas beranjak dari pangkuannya. Berurusan dengan pria ini selalu membuatnya kesal.

Reygan mengaduh samar. Tapi kali ini dia membiarkan Rania beranjak pergi. "Nona, lo sudah punya pacar belum? Gue berniat ngejar nih!" seru Reygan dari tempat duduknya.

Langkah Rania sama sekali tidak melambat mendengar deklarasi pria itu. Di dalam hati dia malah diam-diam mengacungkan jari tengah.

"Dia siapa, Bos? Mangsa baru?"

Sudut mata Rania berkedut mendengar tanya seorang pria asing dalam ruangan itu. Ketika hendak menutup pintu, Rania diam-diam mencuri lihat siapa saja yang bersama dengan Reygan di ruangan itu.

Ada satu orang pria dan satu orang wanita yang tentu saja tidak Rania kenal.

Sebelum pintu ruangan itu benar-benar tertutup, Rania sempat beradu pandang dengan Reygan yang mengacungkan gelas berisi minuman beralkohol ke arahnya. Ada juga senyum lebar yang begitu misterius disunggingkan pria itu untuknya.

***

Pukul tiga lebih sedikit, pekerjaan Rania akhirnya berakhir. Namun, seperti malam-malam biasanya, dia belum bisa rileks sampai nanti dia tiba dengan selamat di kos-kosan.

Melalui jalan yang sama, Rania mengambil langkah-langkah lebar. Langit tanpa bintang dan pendar lampu yang berkedip-kedip di ujung jalan membuat hati Rania tegang.

Entah mengapa, kali ini dia merasakan firasat buruk yang tak biasa. Jalanan yang biasanya sunyi, kini diwarnai dengan suara langkah kaki yang sangat samar di belakangnya.

Rania mengangkat telinga tinggi-tinggi. Dia tidak salah dengar. Di belakangnya memang ada suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya.

Rania tidak berani menoleh. Dia mengencangkan pegangan pada tali tas selempang di bahunya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Apa yang selama ini dia khawatirkan, mulai datang menghampiri.

Setelah meneguhkan tekad, Rania mengayun langkahnya berlari meninggalkan jalanan sepi itu. Suara langkah kaki di belakangnya terdengar turut mempercepat langkah.

"Hah!"

"Hah!"

Baru beberapa menit berlari, Rania sudah merasakan napasnya menjadi berat. Akan tetapi, dia tidak bisa mengendur walaupun sepasang tungkainya sudah terasa mau copot.

"Jangan menyerah sekarang Rania. Tinggal jarak dua rumah lagi lo akhirnya bakal sampai kos," gumam Rania memotivasi diri.

Dia hampir saja menarik napas lega, tetapi tali tasnya tiba-tiba ditarik dari belakang. Saking fokusnya berlari, Rania tidak terlalu menyadari bahwa orang yang membuntutinya sudah berada begitu dekat dengannya.

Jantung Rania mencelos. Laju langkahnya dengan paksa berhenti. Tubuhnya pun tiba-tiba didorong hingga menabrak tembok rumah warga.

"Hei, cantik. Sendirian aja. Mau ditemani, nggak?"

Pupil mata Rania melebar melihat dua orang pria bertampang mesum yang mengitarinya.

"Lepasin gue. Kalian mau apa?!" teriak Rania. Dia berusaha untuk tetap terlihat tegar, tapi suaranya yang tercekat seperti tikus kejepit pintu mengkhianatinya.

"Mau ditemani cewek cantik macam lo ini dong," tukas para pria itu. Mereka kemudian terkekeh di depan wajah Rania. Napas mereka menguarkan aroma busuk alkohol.

"Gue bakal kasih semua uang yang gue punya, tapi lepasin gue!" ujar Rania mencoba untuk bernegosiasi di balik rasa takut yang menyelimutinya.

Kedua pria itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kita tidak perlu memilih cantik. Kita bisa dapatin lo dan juga uang lo."

Rania menggigit bibir bawahnya dengan keras. Kepalanya celingak-celinguk mencoba mencari pertolongan. Tapi di jam tengah malam ini, jalanan benar-benar sepi.

Melihat gelagat Rania, pria itu kembali berkata, "Jam segini nggak bakal ada yang nolongin lo cantik. Jadi lebih baik lo patuh aja ikutin kita. Nanti kita cari tempat sepi untuk bersenang-senang."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. Jantungnya berdetak kepayahan. Dua lawan satu. Dia pasti tidak akan bisa menang. Namun, Rania juga tidak mau menyerah pada nasib buruk yang hendak menjebaknya.

Rania menarik napas panjang. Di tengah tenggorokan yang terasa kering, dada yang sesak dan kaki yang gemetar, dia berusaha untuk tetap tegar.

"Toloooonngg!" Rania berteriak sekuat tenaga.

Kedua pria itu kembali saling tatap. Ada ekspresi jenaka yang melintas di mata mereka.

"Terus aja teriak. Udah dibilang nggak bakal ada yang nolongin lo!" ucap pria itu percaya diri.

"Toloooonnngg!"

Rania tahu kemungkinannya sangat kecil. Namun, dia terus berteriak meminta tolong sambil mengajak kepalanya memikirkan celah agar bisa melarikan diri.

Kedua pria itu terlalu jumawa. Mereka pikir Rania adalah makhluk kecil yang tak berdaya. Akan tetapi, siapa sangka kalau sikap lengah kedua pria itu justru dimanfaatkan oleh Rania untuk menendang salah satu dari selangkangan pria itu.

Jeritan keras pun bersaing dengan suara teriakan Rania yang bergema meminta tolong.

Melihat pria itu membungkuk kesakitan, Rania langsung melipir melalui celah kecil di sampingnya. Dia kembali berlari sekuat tenaga. Tapi pria yang satunya dengan cepat berhasil mengejar.

"Cewek sialan. Dibaikin malah ngelunjak!" dengus pria itu marah.

Tanpa memedulikan dimana mereka sekarang, pria mesum itu hendak memaksakan dirinya pada Rania yang mulai berurai air mata. Bajunya ditarik hingga terdengar suara robekan entah dimana.

"Tolooongg!"

Rania masih berteriak minta tolong. Tetapi sekarang suaranya sudah mulai terdengar lemah.

Melihat tampangnya yang hampir putus asa, pria itu menyeringai penuh kemenangan. Tangannya hendak bergerak mengelus wajah Rania.

Buuggghhh!

Belum sempat tangan kotor pria itu menyentuh kulitnya, sebuah bogem mentah tiba-tiba mendarat di pipi pria itu.

Rania terkejut, dia menoleh ke arah pemilik pukulan yang baru saja menyelamatkannya. Ternyata Reygan.

Pria ini ada dimana-mana.

***​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tetangga Bikin Nagih    6. Menerima nasib

    'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan

  • Tetangga Bikin Nagih    5. Tawaran Tetangga Sebelah

    "Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak

  • Tetangga Bikin Nagih    4. Pria ini Ada Dimana-mana

    Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti

  • Tetangga Bikin Nagih    3. Putus?

    Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar."Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang. Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin. Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai ak

  • Tetangga Bikin Nagih    2. Hubungan yang Menggantung

    "Horny sama orang kayak lo sih nggak mungkin ya," bantah Rania. "Yakin?""Ya iyalah. Minggir lo!" hardik Rania dengan tidak sabar.Akan tetapi, pria ini tidak bergeming. "Lain kali kalau mau gabung bilang aja," bisiknya dengan kurang ajar.Bibir Rania megap-megap. Namun, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan, suara siulan tiba-tiba menginterupsi mereka.Rania menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria paruh baya yang baru saja keluar menatap mereka dengan penuh arti. "Setelah malam yang panjang, masih belum puas juga bro?" sindir pria itu. Rania merutuk dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Dia lantas mendorong keras-keras dada pria yang belum diketahui namanya itu, lalu melesat menuju kamar mandi. Dia tidak peduli kalau pria itu sudah mengantre lebih dulu. Rania bersandar di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bahunya yang semula tegang, perlahan merosot rileks. Tok tok tok,Pintu di belakangnya diketuk dari luar. "Na

  • Tetangga Bikin Nagih    1. Pria dari Kamar Sebelah

    "Udah jam tiga."Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa. Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega."Fiuuhh, selamat," gumamnya. "Ah... Ahh.. "Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar. Suara ini lagi.Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status