Tetangga Bikin Nagih

Tetangga Bikin Nagih

last updateLast Updated : 2026-08-31
By:  MokaciinooOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Keinginan Rania sangat sederhana, yakni menyelesaikan skripsinya tepat waktu, lalu mencari pekerjaan dengan gaji besar agar bisa kembali menikmati hidup berkecukupan seperti sebelum keluarganya bangkrut beberapa bulan lalu. Namun, pertemuannya dengan tetangga sebelah yang gemar bercinta tengah malam membuat hidup Rania tidak tenang. Tidak hanya itu saja, dia bahkan ikut terseret dalam lika-liku hidup pria itu yang ternyata tidak biasa. Belakangan dia tahu kalau ternyata pria itu adalah....

View More

Chapter 1

1. Pria dari Kamar Sebelah

"Udah jam tiga."

Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.

Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa.

Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.

Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega.

"Fiuuhh, selamat," gumamnya.

"Ah... Ahh.. "

Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar.

Suara ini lagi.

Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak orang yang tinggal tepat di sebelah kamarnya itu.

"Ah... sayang... pelan-pelan~"

Rania membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Sengaja dia lakukan sebagai pengingat bahwa tetangga samping kamarnya bukan satu-satunya orang yang tinggal di tempat ini.

Tanpa berganti pakaian, Rania langsung saja membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur tipis yang membentang di lantai. Rania tidak pernah hidup serampangan macam ini sebelumnya. Dia biasanya selalu sangat rapi dan bersih. Dia paling anti berbaring di atas kasur dengan pakaian yang sudah dipakai berkelana keluar rumah.

Namun, jungkir balik kehidupan yang dijalani selama tiga bulan belakangan ini telah mengubah hampir semua kebiasaannya.

Karena tubuh dan pikiran yang sudah lelah, Rania langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Suara-suara mengganggu dari kamar sebelah tidak lagi dia hiraukan.

Keesokan harinya, dering telepon membangunkan Rania. Melalui mata yang terbuka setengah, dia menekan tombol hijau pada layar.

"Halo?" sapanya pada orang di seberang telepon.

"Lo ke kampus hari ini?"

"Iya."

"Gue tungguin di kantin fakultas ya. Berangkat jam 9 'kan?"

"Hm."

Klik,

Begitu obrolan singkat dengan sahabat baiknya, Rania menggeliatkan tubuh yang terasa kaku. Suara langkah kaki dan obrolan kecil para penghuni kosan ini mulai terdengar samar-samar. Rania membuka matanya dengan agak enggan.

Melihat bercak kekuningan akibat rembesan hujan di setiap sudut plafon, Rania yang baru saja merasa malas langsung beranjak dari kasur tipisnya. Dia lalu menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu dan gayung berisi peralatan mandinya sebelum kemudian keluar dari kamar.

Kebangkrutan orang tuanya benar-benar telah membuat hidup Rania jatuh ke titik terendah. Bahkan untuk menyewa kos-kosan yang sedikit lebih layak tidak lagi mampu dia lakukan. Dia hanya bisa menyewa kamar kos kumuh di pinggiran ibukota ini.

Dengan kamar mandi luar, Rania tentu harus sabar mengantre. Saat ini, dia menunggu di depan pintu kamar mandi bersama seorang pria berparas tampan. Pria ini adalah tetangga di kamar sebelahnya yang selalu membuat suara-suara ambigu setiap malam.

Keluhan akan perilaku pria ini sudah Rania simpan lama di dalam hati. Hanya menunggu momen yang pas untuknya mengeluarkan unek-unek.

"Heh, ngapain lo lihat-lihat gue dengan muka julid begitu."

Suara berat pria itu yang tiba-tiba menegurnya membuat Rania yang baru saja sibuk dengan pikirannya langsung tersadar.

Dia lalu menunjuk dirinya sendiri. "Lo ngomong sama gue?" tanya Rania memastikan.

"Ya iyalah. Nggak ada orang selain lo di sini," tukas pria itu.

Merasa momennya pas, Rania menggerakkan matanya memindai pria di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot mata yang dia tunjukkan mengandung cibiran pekat.

"Gue punya mata. Terserah gue dong mau melihat apa," balas Rania sewot.

"Cih," pria itu mendengkus sambil tersenyum tipis. "Gue tahu muka gue tampan paripurna. Lo pasti terpesona 'kan?"

Pupil mata Rania otomatis melebar mendengar ucapan narsis itu. "Gue? Terpesona sama lo? Mimpi aja sana. Yang ada gue mau nyakar muka lo tahu nggak!" serunya bersungut-sungut.

"Lah, tiba-tiba banget mau nyakar muka tampan gue. Kenapa?" pria itu berjengit tidak mengerti.

"Lo berisik. Suara desahan pacar lo setiap malam itu mengganggu kemana-mana. Lo tahu nggak sih kalau setiap kamar di kosan ini dindingnya tipis. Malu dong!" omel Rania panjang lebar.

Setelah lama memendam, dia akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata yang telah lama mengganjal di hatinya. Tetapi bukannya sadar, pria ini justru menyunggingkan senyum misterius. Pria itu yang semula bersandar pada pilar di seberang Rania tiba-tiba menyeret langkah mendekatinya.

"Eh, mau ngapain lo?" tuding Rania agak panik.

Pria itu tidak menjawab. Senyum di wajahnya justru semakin lebar. Hanya setelah tiga langkah panjang, jarak di antara mereka terkikis sepenuhnya. Kedua telapak tangan pria itu kemudian menempel di dinding belakang kepala Rania. Pose ini mengungkung Rania antara dinding yang kokoh dan pria itu.

Dalam jarak yang begitu dekat, Rania bisa mencium aroma kayu lembut yang menguar samar dari tubuh pria itu. Tanpa sadar dia menelan ludah dengan susah payah. Gayung berwarna pink berisi peralatan mandinya, Rania peluk di dada dengan erat untuk dijadikan sebagai penghalang antara mereka.

"L-Lo mau ngapain?" Rania mengulang ucapannya dengan nada tercekat serak. Pupil matanya bergerak-gerak menghindari tatapan pria itu.

Ini bukan pertama kalinya Rania berada dalam jarak yang begitu dekat dengan seorang lawan jenis, tapi aura penindasan dari pria di depannya ini benar-benar membuat Rania tidak bisa berkutik.

"Lo yakin merasa terganggu? Bukan karena lo ikutan merasa horny?" bisik pria itu di depan wajah Rania. Hembusan napasnya membuat Rania bergidik ngeri.

***​

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status