Beranda / Romansa / Tetangga Bikin Nagih / 6. Menerima nasib

Share

6. Menerima nasib

Penulis: Mokaciinoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 08:40:37

'Setiap malam lo harus tidur sama gue.'

Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa.

Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing.

"Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan.

"Ke-lu-ar!"

"Dengarin dulu... "

Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya.

"Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania.

Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal.

Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan lelucon kotor macam ini padanya.

Tapi sekarang setelah hidupnya terbalik, tidak ada lagi yang menganggapnya berarti. Hal ini membuat Rania tersenyum pahit.

"Nasib oh nasib!" gumamnya.

Tidak ingin tenggelam dalam perasaan kesal untuk waktu yang lama, Rania memilih untuk menyibukkan diri di depan laptopnya. Dia masih harus merevisi skripsi yang telah dicoret-coret oleh dosennya kemarin.

Rania cukup lama tenggelam dalam tugasnya ketika ponselnya berdering nyaring. Nama 'Bunda' terpampang pada layar panggilan video. Rania pun buru-buru mengangkatnya.

"Halo, Bun?" sapa Rania sambil mengarahkan layar ponsel ke arah wajahnya.

"Ran, gimana kabar kamu, sayang? Sehat-sehat aja 'kan?"

"Sehat kok, Bun. Bunda sama Ayah sendiri gimana?"

"Bunda sama Ayah juga sehat. Kamu makannya gimana di sana? Uangnya masih ada nggak?"

Rania tersenyum tipis. Melihat wajah ayah dan bundanya yang tampak lebih tua sepuluh tahun setelah kebangkrutan keluarga mereka membuat Rania cukup sedih.

"Uangnya masih ada kok. Rania sekarang udah kerja," beritahu Rania.

"Udah kerja?!" pekik ayahnya kaget.

"Hm," jawab Rania mengangguk.

Tadinya dia tidak berencana untuk memberitahu orang tuanya mengenai dia yang sudah bekerja. Bukannya dia gengsi. Hanya saja dia takut orang tuanya akan khawatir ketika mengetahui pekerjaannya. Tetapi kalau dia tidak memberitahu mereka bahwa untuk masalah uang dia cukup aman, orang tuanya pasti akan tetap merasa khawatir. Untuk menghindari mereka mengirimkan semua uang yang mereka miliki untuknya, Rania memilih untuk memberi tahu mereka.

"Kamu kerja dimana?"

"Rania kerja jadi pelayan bar," jawab Rania lirih hampir tak terdengar.

"Apa? Pelayan bar?" Ayah dan Bundanya memekik kompak. Namun, Rania hanya tersenyum tipis.

Sebelum kedua orang tuanya sempat mengutarakan kekhawatiran, Rania buru-buru melanjutkan dengan berkata. "Gajinya lumayan. Cukup kok untuk Rania bayar uang kos dan buat makan. Ada lebihnya sedikit. Kalau Ayah dan Bunda kekurangan uang di sana, kasih tahu Rania."

Melalui layar kecil ponselnya, Rania bisa melihat ayah dan bundanya saling bertukar tatap sebelum kemudian mereka kembali melihat ke arah Rania.

"Sayang, maafin ayah yang nggak becus. Kamu udah biasa hidup mewah selama ini. Tapi gara-gara ayah, kamu harus ikutan susah."

"Hal itu nggak usah dibahas lagi, Yah. Kita maju aja ke depan. Semua yang udah berlalu, biar kita tinggal di belakang," pungkas Rania sungguh-sungguh.

Di awal kebangkrutan orang tuanya, Rania sempat meratap. Tapi sekarang dia sudah bisa beradaptasi dengan baik. Terlena dalam ingatan indah kehidupan jaya mereka tidak akan membuat segalanya berubah seperti semula.

"Ayah sama Bunda sendiri gimana di sana? Semuanya baik-baik aja 'kan?" tanya Rania.

Bunda tersenyum tipis. "Semuanya baik-baik aja kok. Di sini ayah dan bunda bantuin Om kamu kerja di sawah."

"Keluarganya Om di sana baik sama bunda dan ayah 'kan?" tanya Rania dengan hati-hati.

Sudut bibir bunda yang semula terangkat karena senyum pun seketika turun sedikit. Sorot mata cemerlang wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu juga tampak perlahan meredup. Perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Rania. Namun, dia tidak mengatakan apapun karena ibunya dengan cepat mengubah kembali ekspresinya.

"Mereka baik kok. Jangan khawatir," pungkas bunda sambil tersenyum tipis untuk menenangkan Rania.

"Syukurlah," timpal Rania singkat.

Namun, jemari tangannya yang sedang memegang ponsel tanpa sadar menggenggam benda pipih itu dengan lebih erat. Hatinya semakin bertekad untuk segera lulus agar bisa mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih layak. Dia harus membawa kembali orang tuanya ke ibukota.

"Ya sudah. Bunda sama Ayah mau pergi bantuin Om kamu dulu. Kalau ada apa-apa, harus hubungin ayah sama bunda. Jangan dipendam," tukas Bunda.

Rania seketika teringat akan pengalaman kelamnya semalam. Namun, dia tentu saja tidak memberitahu orang tuanya.

"Bunda sama Ayah juga. Kalau ada apa-apa, kasih tahu Rania."

"Iya."

Setelah telepon tertutup, Rania kembali menekuri upaya merevisi skripsinya. Sampai tiba waktunya dia harus kembali berangkat kerja di malam hari.

Rania pikir semuanya akan berlangsung baik-baik saja seperti semula. Tetapi entah mengapa dia merasa keringat dingin mulai menjalar di sepanjang garis punggung. Tangannya juga dingin dan jantungnya berdegup dengan kencang. Pikiran akan kejadian semalam kembali berputar dalam benaknya, membuat Rania mual.

Apakah dia trauma?

Rania menggigit bibir bawahnya dengan keras. Dia beberapa kali menarik napas panjang untuk memberi jalan bagi oksigen memasuki paru-parunya yang tiba-tiba terasa menyempit.

Rania mengelus dadanya dengan harapan jantungnya bisa kembali berdetak normal. Dia masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dia tidak boleh membiarkan ketakutan menguasainya.

Namun, begitu dirinya keluar dari kamar, Rania tidak bisa melangkah. Kakinya goyah seperti jelly. Dia harus berpegangan pada dinding di samping agar tidak jatuh merosot dengan memalukan. Baru saat itulah dia mengingat tawaran Reygan pagi tadi.

Dengan perasaan berat dia menoleh ke arah pintu kamar sebelah yang tertutup rapat. Rania berpikir bolak-balik sebelum kemudian membuat keputusan tegas. Pada akhirnya dia hanya bisa menerima nasib.

Rania lantas berjalan goyah menuju kamar Reygan. Setelah mengetuk sebentar, sosok pria itu membuka pintu untuknya.

"Gue sudah memikirkannya. Gue setuju untuk menjadi teman tidur lo setiap malam."

***​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tetangga Bikin Nagih    6. Menerima nasib

    'Setiap malam lo harus tidur sama gue.' Kalimat yang baru saja dilontarkan Reygan bergema di setiap relung otak Rania. Dia sempat berpikir bahwa pria ini mungkin tidak seburuk kesan pertama yang dia miliki setelah aksi penyelamatan yang dilakukan semalam. Tapi sekarang Rania benar-benar kecewa. Tanpa basa-basi, dia beranjak dari posisi duduknya. Ditunjuknya pintu yang terbuka lebar, lantas berkata. "Keluar!" usir Rania. Nadanya dingin dan terasing. "Eh, gue belum selesai ngomong," tukas Reygan. "Ke-lu-ar!" "Dengarin dulu... " Tanpa membiarkan Reygan menyelesaikan ucapannya, Rania langsung mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamarnya. "Lo jangan coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar cowok brengsek!" maki Rania. Begitu Reygan sudah berada di luar, Rania segera menutup pintu kamarnya dengan sekali bantingan keras. Wajahnya cemberut maksimal. Dulu ketika dia masih menjadi nona muda keluarga Harjadinata, mana ada orang yang berani melemparkan

  • Tetangga Bikin Nagih    5. Tawaran Tetangga Sebelah

    "Brengsek!" Pria mabuk yang jatuh tersungkur itu berteriak dengan marah. Dia lalu bangkit berdiri dan menuding wajah tampan Reygan."Minggir lo. Jangan ikut campur urusan gue. Ini cewek gue duluan yang liat.""Cih!" Reygan mendengkus. "Ini cewek gue. Lo kalau nggak mau lebih babak belur dari ini, mending minggat," ujar Reygan."Lo pikir gue takut sama lo?" tantang pria itu dengan sombong. "Oh, jadi lo nggak takut? Bagus deh," balas Reygan.Dia lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ke dua lengannya juga diputar seperti sedang peregangan. Setelahnya, tanpa aba-aba dia kembali memberikan bogem keras di wajah pria yang telah mengganggu Rania.Pria itu kembali tersungkur. Melalui cahaya temaram lampu pinggir jalan, Rania bisa melihat sudut bibir pria itu berdarah. Namun, pria pengganggu itu tampaknya tidak mau menyerah. Tangannya terkepal. Dia siap melakukan aksi balasan. Tetapi Reygan dengan lincah menghindar. Alhasil pria itu hanya bisa memukul udara kosong. "Sialan!" mak

  • Tetangga Bikin Nagih    4. Pria ini Ada Dimana-mana

    Melihat gelagat pria ini yang ingin bersikap sok kenal dengannya, Rania buru-buru mengalihkan pandangan. Dia pura-pura tidak kenal sambil dengan cepat meletakkan gelas-gelas dalam nampan ke atas meja. Selesai menjalankan tugasnya di ruangan ini, Rania siap melangkah pergi. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Reygan sehingga tubuhnya limbung dan jatuh ke atas pangkuan pria itu. "Issh, lo apa-apaan sih!" keluh Rania risih. Wajahnya berkerut kusut tanda tidak senang. Dia lalu bangkit dengan marah. Akan tetapi, lengannya lagi-lagi ditarik hingga dia kembali jatuh ke pangkuan pria itu. Kesabaran Rania hilang. Dia memutar matanya sambil menghela napas panjang. "Kita tidak saling mengenal. Jangan kurang ajar!" desisnya. Rania tidak berani marah dengan terlalu keras karena takut menciptakan drama tidak perlu yang bisa membuatnya dipecat. "Kalau begitu, ayo kenalan. Tadi pagi gue udah bilang nama gue Reygan. Kalau boleh tahu, nama lo siapa nona canti

  • Tetangga Bikin Nagih    3. Putus?

    Rania tidak langsung menanggapi. Sepasang netranya pertama-tama menatap lekat pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria ini masih sama tampan dan mempesona seperti yang selalu dia ingat. Namun, kali ini tidak ada antusiasme pertemuan yang meletup di dalam diri Rania. Semuanya terasa datar dan hambar."Mau bicara di mana?" tanya Rania dengan tenang.Tanpa menjawab, Abian melepaskan lengannya dari Sissy, lalu berjalan begitu saja keluar dari kantin. Rania pun mengikuti dengan langkah pelan di belakang. Mereka baru berhenti ketika mencapai pohon akasia tua yang tidak jauh dari pintu masuk kantin. Rania berdiri tegak di depan Abian. Matanya menatap lurus pada manik mata pria itu. Hatinya sudah siap mendengar kata putus dilontarkan untuknya.Tetapi di luar dugaan, Abian malah diam. Ekspresi di wajah pria itu justru terlihat rumit. Seperti banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tidak mampu diungkapkan.Menit demi menit pun berlalu, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Sampai ak

  • Tetangga Bikin Nagih    2. Hubungan yang Menggantung

    "Horny sama orang kayak lo sih nggak mungkin ya," bantah Rania. "Yakin?""Ya iyalah. Minggir lo!" hardik Rania dengan tidak sabar.Akan tetapi, pria ini tidak bergeming. "Lain kali kalau mau gabung bilang aja," bisiknya dengan kurang ajar.Bibir Rania megap-megap. Namun, belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun sebagai balasan, suara siulan tiba-tiba menginterupsi mereka.Rania menoleh ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria paruh baya yang baru saja keluar menatap mereka dengan penuh arti. "Setelah malam yang panjang, masih belum puas juga bro?" sindir pria itu. Rania merutuk dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Dia lantas mendorong keras-keras dada pria yang belum diketahui namanya itu, lalu melesat menuju kamar mandi. Dia tidak peduli kalau pria itu sudah mengantre lebih dulu. Rania bersandar di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bahunya yang semula tegang, perlahan merosot rileks. Tok tok tok,Pintu di belakangnya diketuk dari luar. "Na

  • Tetangga Bikin Nagih    1. Pria dari Kamar Sebelah

    "Udah jam tiga."Rania melirik arloji murahan yang melingkar di lengan kirinya sambil menghela nafas panjang. Menatap jalanan yang sunyi, Rania mengeratkan genggaman pada tali tas selempangnya.Tidak ingin menunda, Rania menyeret tungkai panjangnya menyusuri trotoar jalan. Ini sudah menjadi rutinitas hariannya sejak tiga bulan lalu. Meski begitu, Rania belum juga terbiasa. Melalui jalan sepi ini sendirian, Rania tidak bisa mengurangi perasaan waspada. Sesekali dia akan celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mengikutinya.Sampai di kos-kosan lusuh yang dia tempati, barulah Rania menarik sedikit napas lega."Fiuuhh, selamat," gumamnya. "Ah... Ahh.. "Dengungan tertahan yang sampai di telinganya tiba-tiba menghentikan Rania dari gerakan membuka pintu kamar. Nafasnya pun tertahan selama beberapa detik sebelum kemudian dihembuskan dengan kasar. Suara ini lagi.Seandainya dia masih memiliki energi yang tersisa, Rania ingin sekali rasanya melabrak or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status