Share

Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]
Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]
Author: Donat Mblondo

1. Kehancuran Perguruan Long Ji

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2026-01-25 05:43:24

“Ha ha ha!”

Tawa berat Gran Dong, sang Raja Iblis Hitam, mengguncang langit-langit Perguruan Long Ji. Asap hitam pekat berputar liar, menelan cahaya lentera, mengurung bocah berusia sepuluh tahun di tengah pelataran.

Dari balik kabut, dua sosok melangkah keluar, iblis merah bermata bara dan iblis hijau bersisik dengan taring mencuat. Jumlah mereka tak terhitung, mengepung dari segala arah, membuat udara bergetar oleh tekanan aura.

'Bagaimana bisa… sebanyak ini…?'

Tubuh Qu Cing gemetar, namun sorot matanya tetap dingin. Ia tahu, satu langkah salah berarti kematian.

Suara berbisik menggema langsung di pikirannya.

“Tak tersentuh teknik pengikisan jiwa… benar-benar bakat langka. Sayang, malam ini kau harus mati.”

Kabut terbelah.

Seorang pria tampan melangkah maju, wajah manusia, mata merah, aura gelap mengalir tenang namun menekan. Qu Cing mengenalinya seketika.

Seo Rang.

Satu-satunya iblis berwajah manusia.

“Jadi kau sendirian, Bocah?” ucapnya lembut, tapi dinginnya menusuk tulang. “Aku penasaran… siapa yang berani menghalangi kami.”

Gran Dong tertawa berat. “Biarkan dia merasakan sendiri, Tuan Seo Rang. Jangan terburu-buru. Anak ini… menarik.”

“Jika kau tak membunuhnya sekarang,” balas Seo Rang tenang, “suatu hari dia yang akan membunuhmu.”

Ucapan itu menghantam seperti pisau.

Asap hitam Gran Dong bergejolak. Langit bergetar, lentera pecah beruntun, tanah merintih menahan amarahnya.

“Aku mengingatnya dengan jelas,” suara Gran Dong rendah dan penuh kebencian. “Bagaimana anakku… menjerit… sebelum mati di tangan bocah ini.”

Tekanan aura menghantam pikiran, bukan tubuh.

Qu Cing terhuyung.

Bisikan, jeritan, wajah-wajah asing menindih kesadarannya.

“Bunuh dia…”

“Ini salahmu…”

“Kau seharusnya mati…”

Telapak tangan kanannya berdenyut keras.

Tanda matahari bereaksi. Cahaya putih samar menyala, memaksa kegelapan mundur. Rasa panas menyambar pembuluh darahnya, seperti api mengalir dari dalam.

Darah merembes dari celah tanda itu.

Dengan napas tersengal, Qu Cing mengangkat tongkat saktinya. Cahaya meledak, membentuk perisai tipis namun kokoh, menahan tekanan Gran Dong.

“Menarik,” dengus Raja Iblis Hitam.

Langkah ringan terdengar.

Seo Rang sudah berdiri di hadapan perisai.

Ia mengangkat tangan kirinya, telapak terbuka.

“Cahaya yang indah,” gumamnya. “Sayang… ini bukan milikmu sepenuhnya.”

Sentuhan ringan.

Perisai bergetar, retak... lalu runtuh. Cahaya tersedot ke telapak tangan Seo Rang.

Qu Cing terpental. Darah menyembur dari mulutnya. Tongkat saktinya bergetar hebat… lalu mati, seolah tunduk pada tangan lain.

Seo Rang menatap cahaya yang memudar di telapak tangannya, lalu menyimpan tongkat itu.

“Benar dugaanku,” katanya pelan. “Kau bukan hanya penyembuh.”

Seo Rang menatap bocah itu lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu selain keyakinan di matanya.

“Tanda itu… menunjukkan kau benar-benar darah keturunannya.”

Keturunan siapa…?

Seo Rang menoleh ke Gran Dong. “Jika bocah ini hidup…”

Ia melangkah mendekat, bayangannya menelan tubuh kecil Qu Cing.

“Dia akan menjadi bencana bagi kita semua.”

“Bunuh dia!” raung Gran Dong.

Asap hitam runtuh seperti lautan dari langit.

Tubuh Qu Cing terhempas ke lantai batu. Napasnya tersendat, dunia berputar, kegelapan merayap di tepi penglihatannya.

“Yang paling menyenangkan,” suara Gran Dong menggema, “melihat penyembuh mati tanpa bisa menyembuhkan dirinya sendiri.”

Asap hitam menyusup ke pori-porinya.

Wajah-wajah teman sekelasnya muncul dalam bayangan.

“Tolong…”

“Kenapa kau tak menyelamatkan kami…?”

“Cukup!” teriak Qu Cing.

Tanda matahari menyala terang dipaksa aktif.

Cahaya putih meledak, membakar kegelapan di sekitarnya. Namun tubuh bocah itu langsung menjerit menanggung akibatnya.

Di dalam dirinya, satu jalur utama meridian retak… lalu runtuh sepenuhnya.

“Dia memaksakan tanda itu,” ucap Seo Rang datar.

Qu Cing mencoba menyembuhkan diri sendiri.

Tapi, kosong...

Tak ada jawaban.

“Kenapa… tidak sembuh…?” bisiknya.

Gran Dong tertawa. “Tubuhmu sudah kau hancurkan sendiri.”

Kesadarannya mengambang. Suara menjadi jauh.

Seo Rang menoleh. “Akhiri sekarang.”

Asap hitam memadat di telapak tangan Gran Dong, membentuk tombak kegelapan yang berdenyut pelan.

Qu Cing terbaring, napasnya tipis.

“Ma…af…”

Tombak turun.

Pada detik itu, tanda matahari di telapak tangannya berdenyut untuk terakhir kalinya.

Cahaya putih tidak meledak keluar. Ia berbalik… masuk ke dalam tubuhnya sendiri.

Seo Rang menyipitkan mata.

Gran Dong menghentikan gerakan setengah napas.

Cahaya itu liar, mengalir deras di jalur yang rapuh, lalu hancur.

Satu kehancuran menyeluruh.

Tubuh Qu Cing terkulai. Tanda matahari meredup, retaknya jelas, seperti matahari patah di tengah gerhana.

“Sudah cukup,” gumam Gran Dong. “Dendamku berakhir di sini.”

Tombak kegelapan diarahkan ke jantung bocah itu.

"Akhirnya... aku menemukanmu!"

Suara yang terengah, serak, seolah pemiliknya berlari menembus jarak yang seharusnya mustahil ditempuh.

Udara di pelataran Perguruan Long Ji mendadak bergetar hebat.

Semua iblis merah, hijau, bahkan Gran Dong serentak menoleh.

Kabut terbelah, dan bayangan seseorang mulai muncul di ujung pelataran, bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menagih sesuatu yang telah lama tertunda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   12. Sang penjaga wilayah

    Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   11. Wilayah Inti

    Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   10. Keraguan

    Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   9. Getaran hati

    Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   8. Dihadang para kera

    Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   7. Kesadaran

    Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status