LOGINKabut di ujung pelataran terbelah sepenuhnya. Sesosok wanita muncul dari baliknya.
Langkahnya tertatih, napasnya tersengal, jubah nya robek di beberapa bagian dan berlumur darah kering. Rambutnya terurai acak, sebagian menempel di wajahnya yang pucat. Namun, matanya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang tampak hampir roboh.
Gran Dong langsung menyipitkan mata.
“Manusia…?”
Wanita itu tidak menjawab.
Dalam satu gerakan cepat yang sama sekali tidak selaras dengan tubuhnya yang tampak sekarat, ia mengibaskan tangannya.
WHUUUSH!
Selembar tanda spiritual melesat seperti kilat hijau, menembus tekanan asap hitam dan menempel tepat di punggung Qu Cing.
Plak!
Tanda itu bergetar, garis-garis rune di permukaannya menyala redup.
“Apa yang kau lakukan!” Gran Dong menggeram.
Wanita itu menekan lututnya ke tanah, satu tangan menyangga tubuhnya, tangan lain membentuk segel aneh. Bibirnya bergerak cepat, suaranya serak.
“Aktifkan… tanda!”
Tanah di sekitar Qu Cing bergetar. Dari bawah batu pelataran, akar-akar hijau gelap menerobos keluar, melilit tanda teleportasi di punggung bocah itu. Daun-daun kecil bermekaran seketika, memancarkan cahaya kehijauan.
Seo Rang tersentak.
“Pengendali tumbuhan…?!”
Wanita itu memejamkan mata, dahinya berkeringat.
“Jaringan akar… hubungkan koordinat lama…” gumamnya. “Portal darurat… buka!”
Rune pada tanda teleportasi menyala terang.
Di bawah tubuh Qu Cing, lingkaran cahaya terbentuk retak, seperti sesuatu yang dipaksakan aktif di ambang kehancuran.
Gran Dong mengangkat tombak kegelapannya.
“JANGAN BIARKAN—!”
Terlambat.
WHUUUS!
Tubuh Qu Cing tenggelam ke dalam cahaya, seolah ditelan oleh tanah itu sendiri. Dalam sepersekian detik sebelum segalanya gelap.
Ingatan Qu Cing yang nyaris hancur tersentak terbuka. Ia melihat sebuah pelataran sempit berbentuk lingkaran.
Portal teleportasi.
Saat ia melihat portal itu, muncul bayangan dirinya sendiri dan teman sekelasnya. Di sana, mereka tampak sedang menyusun batu spiritual. Itu adalah moment beberapa waktu lalu.
Bayangan itu bergetar.
Satu sosok lain muncul lagi seperti pantulan di permukaan air yang retak.
Jubah oranye pucatnya berkibar pelan. Rambutnya terikat rapi. Jia Gong An, sang ahli tanda dengan kekuatan pengendali tumbuhan.
Bayangan wanita itu melangkah ke tengah lingkaran portal, tepat di atas susunan batu spiritual yang belum sempurna. Ia menunduk, menyentuh salah satu rune dengan jemari gemetar.
Ia mengangkat kepala. Tatapannya tegas, berbeda dari tubuh yang nyaris roboh di dunia nyata.
“Karena Guru telah menyelamatkanku,” ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa menghantam, “maka… aku tidak akan menyia-nyiakan kehidupan ini!”
Darah hangat menetes dari tubuh anak itu. Setetes darah, jatuh tepat ke pusat susunan batu.
Klik!
Portal aktif.
Pelataran itu kini terbuka berdenyut liar, menyedot tubuh Qu Cing sepenuhnya.
Namun, tidak ada seorang pun yang menyadari, di antara akar-akar yang menjulur dari tanah, seutas tumbuhan merambat dengan daun bergerigi ikut terseret, ujungnya menyentuh cahaya portal… lalu menghilang bersama Qu Cing.
Whuuuus!
Cahaya padam.
Pelataran Perguruan Long Ji kembali sunyi.
Hanya tersisa retakan tanah, sisa akar yang mengering, dan tanda teleportasi yang hangus menjadi abu.
Cahaya portal lenyap sepenuhnya.
Hening.
Sesaat, pelataran Perguruan Long Ji terdiam, seolah dunia ikut menahan napas.
Lalu, aura kegelapan Gran Dong meledak tanpa kendali. Asap hitam menyembur ke langit seperti badai, menghantam pilar-pilar batu hingga hancur berkeping. Tanah terbelah, retakan menjalar liar seperti luka menganga. Iblis merah dan hijau terlempar ke segala arah, sebagian bahkan hancur sebelum sempat menjerit.
“AAAAARGH!!”
Aura kegelapan Gran Dong meledak, menghantam pilar-pilar batu hingga runtuh. Tanah terbelah, iblis-iblis bawahan terpental tanpa sempat menjerit.
Namun amukan itu berhenti tiba-tiba.
Gran Dong menatap tanah kosong tempat bocah itu menghilang, napasnya berat.
“DIA… LOLOS?!”
Tombak kegelapan di tangannya menghantam tanah kosong tempat Qu Cing tadi terbaring. Ledakan menghancurkan pelataran, batu-batu terangkat lalu runtuh kembali seperti hujan puing.
“CARI DIA!!” raungnya.
“BALIKKAN SETIAP JENGKAL TANAH! AKU MAU ANAK ITU! HIDUP ATAU MATI!!”
Namun, tidak ada jejak. Tidak ada sisa koordinat. Tidak ada resonansi portal yang bisa diikuti.
Seo Rang berdiri beberapa langkah di belakangnya, jubah hitamnya berkibar pelan, nyaris tak tersentuh oleh amukan aura Gran Dong. Tatapan matanya tajam, dingin, jauh lebih tenang dibanding Raja Iblis Hitam itu.
“Koordinatnya tertutup,” gumamnya pelan.
“Portal itu bukan sekadar pelarian, tapi pemutusan jalur.”
Gran Dong berbalik, mata merahnya menyala liar.
“KAU BILANG APA?!”
Seo Rang melirik sisa abu tanda teleportasi, lalu ke akar-akar kering yang tersisa.
“Pengendali tumbuhan itu,” lanjutnya tenang, “tidak mengirimnya sembarangan. Ia menghubungkan bocah itu ke titik yang dilindungi… atau setidaknya, titik yang tidak bisa kita jamah dengan mudah.”
Pandangan Seo Rang bergeser.
Ke sosok wanita yang terjatuh di tengah pelataran.
Jia Gon An.
Tubuhnya ambruk bersandar pada tanah retak. Napasnya tersengal, darah mengalir dari sudut bibirnya. Jubahnya kini benar-benar koyak, kekuatan spiritualnya hampir habis.
Gran Dong menoleh. Aura pembunuhannya beralih.
“Kau,” desisnya rendah. “Perempuan sialan!” Asap hitam merayap, mengikat tubuh Jia Gon An seperti rantai.
Namun, wanita itu tertawa kecil. Batuk darah menyertainya, tapi senyum itu tetap terukir di wajahnya. Bukan senyum kemenangan… melainkan kepuasan yang tenang.
“Setidaknya…” ucapnya lirih, suaranya nyaris hilang, “…aku berhasil.”
Gran Dong menggeram. “Kau pikir, kematianmu berarti sesuatu?”
Jia Gon An mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya redup, tapi sorot di dalamnya masih hidup.
“Aku tahu… pilihan ini akan menagih harga yang jauh lebih besar,” katanya pelan.
Seo Rang mengerutkan kening tipis.
Jia Gon An menutup mata sesaat, napasnya semakin dangkal. Ia membuka mata sekali lagi, menatap langit yang retak. Kepalanya terkulai.
Namun senyum itu tidak hilang.
Gran Dong mengangkat tangannya perlahan. Aura kegelapan kembali memadat, berputar di sekeliling lengannya seperti pusaran maut.
“Kalau begitu,” katanya dingin, “aku akan menghancurkan segalanya, hingga bocah itu tidak punya tempat untuk kembali!”
Asap hitam bergolak.
Sebelum serangan itu dilepaskan, salah satu iblis bawahan yang berlutut di kejauhan tersentak, matanya melebar.
“Tu—Tuan!” serunya tergesa. “Ada desas-desus lama… bahwa bocah itu memiliki keterkaitan dengan Bangsa Siluman Kera. Kemungkinan besar tujuannya adalah Lembah Siluman Kera.”
Gerakan Gran Dong terhenti sepersekian detik.
Mata merahnya menyipit tajam.
“Oh, benar… Lembah Siluman Kera.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kalau begitu,” gumamnya rendah, “biarkan dia bersembunyi di sana.”
Tanpa ragu lagi, Gran Dong melesatkan serangannya.
Asap hitam memadat menjadi tombak gelap dan—
Jleb!
Serangan itu menembus lurus ke dada Jia Gong An.
Tubuhnya terangkat sesaat sebelum terhempas ke tanah. Darah memercik, napasnya tersendat, nyaris terputus.
Gran Dong bahkan tidak menoleh lagi.
“Cari ke Lembah Siluman Kera,” perintahnya dingin sambil berbalik pergi. “Jika bocah itu masih hidup… aku akan menghancurkan tempat itu.”
Asap hitam menyapu pelataran, dan para iblis menghilang satu per satu.
Kesunyian kembali turun.
Jia Gong An terbaring tak mengerti arah. Pandangannya buram, suara dunia menjauh.
"Jadi… sampai di sini saja…"
Ia tersenyum lemah. Kesadarannya hampir padam. Saat itu, cahaya hijau lembut menyinari wajahnya. Aroma dedaunan basah dan tanah hidup menyelimuti udara.
Sesosok wanita berdiri di hadapannya.
Mata hijau jernih seperti zamrud menatapnya tenang. Gaun putih kehijauan yang dikenakannya memancarkan cahaya lembut, dan di sekelilingnya, partikel hijau berkilau seperti serbuk cahaya hidup.
Jia Gong An membelalakkan mata. Napasnya berhenti sepersekian detik.
“Kau…?”
Kata itu terhenti di bibirnya. Dan dunia kembali sunyi.
Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s
Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it
Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar
Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan
Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang
Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya







