Masuk“Memang benar Putra Mahkota mengatakan itu?”Pertanyaan Yorick membuat langkah Josselyn terhenti sesaat.Yorick—pria berambut coklat terang dengan mata hijau lumutnya—berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan, nada suaranya terdengar lembut seperti biasa, hanya saja bagi Josselyn terdengar bagaikan tentara kerajaan yang sedang menginterogasi.“Apa maksudmu?” Josselyn mencoba terdengar santai.Yorick menoleh perlahan. “Aku hanya penasaran, apakah benar itu berasal dari Putra Mahkota?”Josselyn menahan napas. Tangannya meremas gaun hijaunya dengan gelisah.“Tentu saja,” jawabnya cepat.Yorick tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Setahuku, Putra Mahkota tidak pernah menitipkan pesan sepenting itu pada siapa pun.”Josselyn menggigit bagian dalam pipinya.“Kecuali pada Darius,” lanjut Yorick pelan.Udara di sekitar mereka berdua menegang. Langkah mereka kembali berjalan, tapi suasana berubah.“Dan hari ini,” Yorick meliriknya, “kau berbicara di hadapan Raja. Membawa nam
“Ada yang mencoba meracuniku.”Josselyn mengatakannya tanpa basa-basi.Yorick berhenti melangkah. Menatap asistennya itu selama beberapa detik lalu tertawa kecil.Mata Josselyn bergerak-gerak bingung dengan reaksi Yorick. Ia sadar, tawa pria itu bukan tawa hangat seperti biasanya. Tapi seperti tawa meremehkan.“Meracunimu?” ulangnya ringan. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”Josselyn mengernyit, mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan hari ini.“Tubuhku terasa aneh.”“Aneh? Seperti apa?”“Panas. Pusing. Dan…” ia ragu sejenak, “sebenarnya, aku tidak ingat apa yang terjadi semalam.”Yorick tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Josselyn.“Tidak ingat?” ulangnya pelan. “Sama sekali?”Wajah Josselyn ragu. Tapi ia tetap memejamkan mata sejenak, berusaha menarik ingatannya kembali.Sayangnya, gelap dan kosong.Ia menggeleng, ragu. “Tidak.”Hening sesaat.Yorick menghela napas, lalu menepuk punggung tangan Josselyn ringan. “Kau terlalu banyak berpikir. Terlebih sejak P
“Aku akan mempertimbangkannya.”Suara Killian datar, tapi tegas. Ia tidak lagi menatap alat pintal di tangan Howarth, melainkan langsung ke mata amber pria itu.Howarth tersenyum tipis. “Tentu saja. Keputusan besar memang butuh waktu.”Sebastian, yang berdiri di sampingnya, menambahkan dengan tenang, “Namun waktu kita tidak banyak, Yang Mulia. Dua bulan sebelum musim dingin. Dan Duke Corven masih menutup jalur selatan.”Killian bersandar, jari-jarinya mengetuk pelan meja.Josselyn memperhatikannya. Tapi ia tak tahan lagi, lalu menyenggol tangan Darius.“Kenapa Valmare bersaudara tidak langsung menghadap Raja?” bisik Josselyn. “Bukankah Raja lebih bijak dalam mengambil keputusan?”Darius tidak menoleh. Tapi pembuluh di pelipisnya berkedut, dan Josselyn dapat melihat dengan jelas sudut bibirnya terangkat tipis.“Aku tidak salah kan?” bisik Josselyn lagi, sedikit defensif karena ‘ditertawakan’ oleh Kepala Ksatria yang gagah itu.“Dia bisa mendengarmu,” balas Darius pelan.Josselyn langsu
“Seharusnya aku tak bisa menerima tamu.”Suara Killian terdengar datar. Ia melirik ke arah Darius, menatapnya tajam.“Maafkan hamba, Paduka. Lord Edevan memaksa untuk bertemu, katanya ada hal penting tentang kerajaan—”Pria berambut perak itu menepuk bahu Darius, tersenyum santai sambil melangkah keluar dari balik punggung ksatria itu.“Ah, aku sudah tak tahan lagi atas kesalahpahaman ini. Aku mencoba memaklumi. Tapi Anda tahu kan, Yang Mulia, nama kerajaan disandangkan dengan nama kami rasanya sedikit…” Howarth menarik napas panjang, menatap Darius. “... berat. Boleh aku memperkenalkan diri ulang? Aku Howarth Valmare, adikku Sebastian Valmare, kami dari Kerajaan Edevan. Jadi, berhenti memanggil kami Lord Edevan.”Pria rambut perak itu akhirnya tersenyum lega. Ia kembali menghadap Killian.“Aku sudah dengar itu. ‘Putra Mahkota sedang dikurung di kamarnya selama seminggu dan hanya menerima Josselyn untuk melayani kebutuhannya’…” kata Howarth ringan, matanya beralih ke Josselyn.“Oh, h
“Di mana aku…?”Suara Josselyn serak saat ia membuka mata. Langit-langit kamar yang dilihatnya bukan miliknya.Terlalu tinggi. Dan mewah.Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyingkirkan kabut di kepalanya. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi kapas.Lalu kesadaran datang perlahan. Ranjang ini bukan miliknya. Kamar ini juga bukan.Josselyn langsung duduk.Gerakannya terlalu cepat, membuat kepalanya berdenyut.“Pelan.”Suara laki-laki itu datang dari sisi ruangan.Josselyn membeku. Perlahan ia menoleh.Killian duduk di kursi dekat jendela, satu kaki menyilang santai. Cahaya matahari dari jendela jatuh ke rambut hitamnya, membuat matanya yang abu kebiruan terlihat lebih tajam.“Selamat pagi,” katanya datar.Josselyn menatapnya seperti melihat hantu.“Ini… kamar Anda.”“Benar.” Killian menjawab dengan tenang, menyeruput secangkir teh di tangannya.Josselyn langsung menarik selimut lebih tinggi.“Apa yang saya lakukan di sini?”Killian mengangkat alis, meletakkan perlahan cangkirnya d
“Jawab aku.”Suara Killian rendah, dingin, dan menekan.Tangannya masih mencengkeram dagu Josselyn, memaksanya menatap lurus ke dalam mata biru keabuannya. Jarak mereka begitu dekat sampai Josselyn bisa merasakan napas hangat pria itu menyentuh bibirnya.Josselyn menepis tangannya.“Saya sudah menjawabnya.”Killian tidak bergerak. Tatapannya tetap tajam.“Belum cukup jelas.”“Saya tidak mengirim paman saya ke istana,” balas Josselyn cepat. “Dan saya tidak peduli apa yang dia inginkan dari Raja.”Killian mengangkat alis sedikit. “Tidak peduli? Dia keluargamu. Kau yang paling diuntungkan jika keinginannya terwujud.”Josselyn mendengus.“Beruntung?” Ia tersenyum sinis. Lalu melirik Darius yang masih berdiri di sudut kamar.‘Apa aku perlu memberitahunya juga soal bekas lukaku?’ Josselyn menimang sebentar tapi kemudian menggelengkan kepala.‘Tidak. Bagaimana kalau tubuhku bereaksi berlebihan seperti saat di Ruang Herbal?’Josselyn refleks membenarkan gaunnya, menutupi tubuhnya.“Jika dia t







