بيت / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 19 - Between Beasts and Poison

مشاركة

19 - Between Beasts and Poison

مؤلف: Ivy Morfeus
last update تاريخ النشر: 2026-03-17 22:11:34
“Aku akan mempertimbangkannya.”

Suara Killian datar, tapi tegas. Ia tidak lagi menatap alat pintal di tangan Howarth, melainkan langsung ke mata amber pria itu.

Howarth tersenyum tipis. “Tentu saja. Keputusan besar memang butuh waktu.”

Sebastian, yang berdiri di sampingnya, menambahkan dengan tenang, “Namun waktu kita tidak banyak, Yang Mulia. Dua bulan sebelum musim dingin. Dan Duke Corven masih menutup jalur selatan.”

Killian bersandar, jari-jarinya mengetuk pelan meja.

Josselyn memperhat
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • The Alchemist's Touch    97 – She Choose The Enemy

    “Howarth—lepaskan aku!”Suara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.“Diam,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.”“Aku harus kembali—!” Josselyn berusaha memberontak lagi. “Anne—dia—”“Sudah mati.”Kalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewati—hutan kecil di dekat danau

  • The Alchemist's Touch    96 – The Letter in Her Dead Hand

    Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.“Seorang Alkemis… berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.”Suara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.“Saya hanya… mencari udara segar, Yang Mulia.”Sepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.‘Howarth!’Sekali lagi, ia memanggil di kepalanya.“Ah, jadi kau di sini.,” Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. “Aku mencarimu ke mana-mana.”Howarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar

  • The Alchemist's Touch    95 – The Girl in the Dungeon

    “Nona Josselyn, ini… surat untuk Anda.”Suara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersih—tapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakan—dingin, lembap dan… rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknya—napas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah… ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,

  • The Alchemist's Touch    94 – The King’s Hidden Hand

    Josselyn tidak langsung menjawab.Kata-kata Howarth masih menggantung di udara, seperti benang tipis yang tak terlihat… tapi perlahan menarik pikirannya ke arah yang tak ingin ia tuju.Orang yang salah.Itu tidak masuk akal.Atau… mungkin terlalu masuk akal.Ia menelan ludah. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.“Apa maksud Anda?” ulangnya pelan, suaranya nyaris berbisik.Howarth terdiam. Matanya yang tajam justru mengamati Josselyn. Menunggu sekaligus menilai respons gadis itu.Seolah ingin memastikan… apakah gadis itu benar-benar siap mendengar.“Kau sempat merasa aneh, kan?” katanya ringan, seolah sedang membahas gosip yang menarik.Josselyn mengernyit.“Aneh?”Howarth mengangkat bahu santai.“Raja,” lanjutnya santai. “Putranya dituduh mencoba membunuh Ratu… dan dia hanya duduk diam. Tenang sekali. Nyaris mengagumkan.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat dada Josselyn menegang. Ia memang memikirkannya.Sejak sidang itu. Sejak tatapan Raja yang terlalu tenang.“T

  • The Alchemist's Touch    93 – The Wrong Target

    ‘Kami tidak melakukan apapun. Jangan gegabah!’Josselyn tidak mengucapkannya. Tapi pikirannya menjerit jelas. Matanya tertuju pada Howarth.Dan pria berambut perak panjang itu—tertawa pelan. Seolah mendengar jeritan di hatinya.“Hmm… untuk saat ini?” kata Howarth santai sambil menyilangkan tangan, membalas tatapan Josselyn. “Mempercayai siapa pun terdengar seperti ide yang buruk.”Darius mendengus pelan. Ia merasa ucapan itu untuknya. Langkahnya maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Josselyn. Protektif. Menghalangi.“Oh ya?” balasnya dingin. “Kalau begitu, bagaimana denganmu?”Howarth mengangkat alis. Tatapannya bergeser pada Darius.“Kau mulai terdengar menarik,” Howarth memiringkan kepala. “Lanjutkan.”Darius menatapnya tajam.“Apakah kau yakin bisa dipercaya?” lanjutnya. “Bukankah kau yang merencanakan Madame Angeline muncul di istana ini?”Josselyn membeku. Nama itu mengusiknya.“Apa…?” bisiknya pelan.Matanya langsung beralih ke Howarth. Dengan tatapan menuntut

  • The Alchemist's Touch    92 – The King Who Said Nothing

    Josselyn menghela napas.Ia di sini lagi. Ruang sidang kerajaan, dipenuhi bisik-bisik.Para bangsawan duduk berderet, mengenakan pakaian terbaik mereka, tapi tak satu pun dari mereka terlihat benar-benar tenang. Mata mereka saling bertukar pandang. Suara-suara rendah memenuhi ruangan.Di ujung ruangan, singgasana berdiri megah.Dan di sana—Raja duduk. Wajahnya tenang. Terlalu tenang mengingat putra satu-satunya, pewaris tahta, akan disidang karena rumor yang mengerikan sebentar lagi.Josselyn berdiri di sisi ruangan, bersama para tabib dan alkemis lainnya. Tangannya terlipat di depan tubuhnya, tapi jemarinya terasa dingin.Di seberangnya—Killian.Putra Mahkota berdiri tegak, meskipun jelas bahwa semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya. Tatapannya lurus ke depan. Dingin. Tidak terbaca.Tapi Josselyn tahu, ada sesuatu yang pria itu sembunyikan.“Sidang dimulai.”Suara anggota dewan utama menggema di ruangan.“Putra Mahkota Killian,” lanjutnya, “Anda dituduh terlibat dalam percob

  • The Alchemist's Touch    4 – The Sword Raised For Me

    ‘Edevan?’ Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda. Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa. “Namamu…” “Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru mempe

  • The Alchemist's Touch    3 – Protected by The Heir

    Ketukan tergesa terdengar dari balik pintu kamarnya. Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat. “Nona Josselyn… Ratu tak bisa tidur. Tubuhnya berkeringat hebat, perutnya melilit,” kata pelayan. Tubuh Josselyn menegang. Kilatan pedang Killian terbayang di depan matanya. Tanpa menunggu waktu

  • The Alchemist's Touch    2 – A Taste of Treason 

    “Kau sadar, satu tetes madu bisa dianggap racun di istana ini?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Tidak mungkin,” Josselyn hampir berhenti. “Justru jika saya tak ubah rasanya, saya takut Ratu akan mengira ku berusaha meracuninya.” Ia menoleh

  • The Alchemist's Touch    1 – A Bitter Taste of Trust

    “Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Ka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status