LOGIN“Ini tidak normal.”Yorick mengulang kalimat itu pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Josselyn.Josselyn menelan ludah. “Anda sudah bilang itu tiga kali.”“Apa biasanya seperti itu?” tanya Yorick cepat. Josselyn menghela napas kesal. “Kalau ini biasa terjadi, saya tak akan seterkejut ini.”Yorick terdiam sejenak. Matanya masih menatap Josselyn, tajam, seolah sedang membedah sesuatu yang tak kasat mata.“Buka tanganmu.” perintahnya tiba-tiba.“Apa?”“Buka. Sekarang.”Josselyn ragu, tapi tetap menurut. Ia mengulurkan tangannya, dengan telapak menghadap ke atas.Yorick mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebilah pisau kecil.Josselyn langsung menarik tangannya. “Hei—! Apa yang Anda lakukan?”“Tes.” jawab Yorick tenang.“Saya tidak setuju!”“Kau ingin tahu kebenarannya atau tidak?” potong Yorick tajam.Josselyn mengatupkan rahangnya.“…Sedikit saja,” lanjut Yorick, nadanya lebih rendah. “Aku tidak akan melukaimu lebih dalam.”Josselyn menggertakkan gigi, tersirat kesal di matanya. “
“Minum.”Suara itu menariknya ke permukaan kesadaran.Josselyn membuka mata perlahan. Sosok tinggi di depan sel tampak samar di penglihatannya yang masih buram.“Kalau kau mati karena dehidrasi, aku yang disalahkan,” lanjut Darius, yang kini berjongkok di depan sel.Josselyn menatapnya tanpa ekspresi. Bibirnya masih perih—tidak, seluruh tubuhnya. Ia ingat sempat pingsan, lidahnya terluka sampai membuat tubuhnya panas dingin.“Ambil atau tidak?” tanya Darius lagi, nada suaranya tetap dingin.Josselyn perlahan bangkit duduk dengan susah payah. Rantai di pergelangan tangannya berdering pelan saat ia mengulurkan tangan, meraih cangkir kayu itu.Ia meringis saat membuka mulutnya. Sudut bibirnya, bekas darah yang mengering membuatnya sedikit perih. Tapi tenggorokannya terasa sangat kering. Ia mau tak mau meneguknya dengan hati-hati.Ia bersiap meringis ketika air dingin menyentuh lidahnya. Tapi, yang dirasakannya justru berbeda.Josselyn membeku. Alisnya sedikit berkerut.“…Tidak perih?” gu
“Jalan.”Suara Darius terdengar dingin di belakangnya.Josselyn tidak menjawab. Ia hanya berjalan lebih cepat, berusaha menyamai langkah panjang para prajurit yang mengawalnya.“Lebih cepat,” dorong salah satu dari mereka.Josselyn hampir terjatuh. Dengan tangan yang terikat, keseimbangan tubuhnya sulit untuk dijaga.“Aku bisa berjalan sendiri,” balas Josselyn tajam, menarik lengannya dari cengkeraman kasar itu.“Tidak,” potong Darius tanpa menoleh. “Kau tidak bisa dipercaya.”Josselyn mengatupkan rahangnya. Hatinya berdenyut perih saat melihat Kepala Ksatria yang beberapa waktu lalu bercengkrama hangat bersamanya, kini memperlakukannya dengan dingin.Lorong yang mereka lewati semakin sepi. Cahaya obor mulai jarang, udara terasa lembap dan dingin. Ketakutan mulai merayap di hati Josselyn.“…Ke mana kalian membawaku?” tanyanya, kali ini lebih pelan. Tapi tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat hening yang mencekam, langkah mereka berhenti di depan pintu besi besar. Jantung Josselyn la
“Memang benar Putra Mahkota mengatakan itu?”Pertanyaan Yorick membuat langkah Josselyn terhenti sesaat.Yorick—pria berambut coklat terang dengan mata hijau lumutnya—berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan, nada suaranya terdengar lembut seperti biasa, hanya saja bagi Josselyn terdengar bagaikan tentara kerajaan yang sedang menginterogasi.“Apa maksudmu?” Josselyn mencoba terdengar santai.Yorick menoleh perlahan. “Aku hanya penasaran, apakah benar itu berasal dari Putra Mahkota?”Josselyn menahan napas. Tangannya meremas gaun hijaunya dengan gelisah.“Tentu saja,” jawabnya cepat.Yorick tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Setahuku, Putra Mahkota tidak pernah menitipkan pesan sepenting itu pada siapa pun.”Josselyn menggigit bagian dalam pipinya.“Kecuali pada Darius,” lanjut Yorick pelan.Udara di sekitar mereka berdua menegang. Langkah mereka kembali berjalan, tapi suasana berubah.“Dan hari ini,” Yorick meliriknya, “kau berbicara di hadapan Raja. Membawa nam
“Ada yang mencoba meracuniku.”Josselyn mengatakannya tanpa basa-basi.Yorick berhenti melangkah. Menatap asistennya itu selama beberapa detik lalu tertawa kecil.Mata Josselyn bergerak-gerak bingung dengan reaksi Yorick. Ia sadar, tawa pria itu bukan tawa hangat seperti biasanya. Tapi seperti tawa meremehkan.“Meracunimu?” ulangnya ringan. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”Josselyn mengernyit, mencoba menjelaskan apa yang dia rasakan hari ini.“Tubuhku terasa aneh.”“Aneh? Seperti apa?”“Panas. Pusing. Dan…” ia ragu sejenak, “sebenarnya, aku tidak ingat apa yang terjadi semalam.”Yorick tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Josselyn.“Tidak ingat?” ulangnya pelan. “Sama sekali?”Wajah Josselyn ragu. Tapi ia tetap memejamkan mata sejenak, berusaha menarik ingatannya kembali.Sayangnya, gelap dan kosong.Ia menggeleng, ragu. “Tidak.”Hening sesaat.Yorick menghela napas, lalu menepuk punggung tangan Josselyn ringan. “Kau terlalu banyak berpikir. Terlebih sejak P
“Aku akan mempertimbangkannya.”Suara Killian datar, tapi tegas. Ia tidak lagi menatap alat pintal di tangan Howarth, melainkan langsung ke mata amber pria itu.Howarth tersenyum tipis. “Tentu saja. Keputusan besar memang butuh waktu.”Sebastian, yang berdiri di sampingnya, menambahkan dengan tenang, “Namun waktu kita tidak banyak, Yang Mulia. Dua bulan sebelum musim dingin. Dan Duke Corven masih menutup jalur selatan.”Killian bersandar, jari-jarinya mengetuk pelan meja.Josselyn memperhatikannya. Tapi ia tak tahan lagi, lalu menyenggol tangan Darius.“Kenapa Valmare bersaudara tidak langsung menghadap Raja?” bisik Josselyn. “Bukankah Raja lebih bijak dalam mengambil keputusan?”Darius tidak menoleh. Tapi pembuluh di pelipisnya berkedut, dan Josselyn dapat melihat dengan jelas sudut bibirnya terangkat tipis.“Aku tidak salah kan?” bisik Josselyn lagi, sedikit defensif karena ‘ditertawakan’ oleh Kepala Ksatria yang gagah itu.“Dia bisa mendengarmu,” balas Darius pelan.Josselyn langsu