بيت / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 84 – Trapped in the Prince’s Room

مشاركة

84 – Trapped in the Prince’s Room

مؤلف: Ivy Morfeus
last update تاريخ النشر: 2026-06-03 23:29:14

Ia membuka matanya cepat.

Terkesiap dan segera bangkit setengah duduk.

Cahaya pagi yang menyelinap masuk melalui tirai tipis, jatuh di wajah Josselyn. Spontan tangannya terangkat.

Matanya mengerjap. Berusaha mengenali sekelilingnya.

Warna dinding yang berbeda jauh dengan kamarnya. Lebih mewah, dengan aksen emas yang cantik.

“Ah iya, semalam…” Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. “aku di kamar Killian.”

Josselyn langsung menoleh—Putra Mahkota masih di ranjangnya, terlelap dengan tenang.

Jos
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • The Alchemist's Touch    100 – The Fire Behind Closed Doors

    Malam itu menjadi malam menegangkan sejak Josselyn berada di istana ini. Dengan penuh kehati-hatian, Sebastian mengarahkan mereka keluar dari penjara bawah tanah.Tentunya dengan berbagai trick dan berusaha keras tanpa “kekerasan” —jika maksudnya adalah memukul atau menendang hingga berdarah.Sebastian dan Howarth hanya perlu memberi tekanan lebih kuat di beberapa titik untuk melenyapkan kesadaran mereka.“Semuanya aman?” tanya Sebastian saat mereka sampai di lorong istana yang sepi dan gelap.Josselyn mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu di atas kedua lututnya.“Aman.” jawabnya dengan napas terengah.“Baiklah, segera masuk ke kamar, Jossie.” ucap Howarth.Tangannya membelai puncak kepalanya dengan lembut, turun ke belakang kepalanya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.“Jika efeknya muncul. Datanglah padaku.”Josselyn mengerjapkan matanya beberapa kali. Napasnya belum teratur, dan kini bertambah dengan rasa panas yang naik ke wajahnya.‘Ah, iya. Aku tadi men

  • The Alchemist's Touch    99 – The Kiss That Brought Him Back to Life

    Keheningan di dalam sel itu terasa lebih berat daripada rantai yang melilit pergelangan tangan Killian.Tatapan Josselyn tidak goyah.“Kami tidak datang untuk menyelamatkanmu.”Suara itu dingin. Seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang tidak memiliki emosi sama sekali.Killian tersenyum tipis, napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk, meringis, lalu menekan dadanya.“Bagus.”Ia mengangkat sedikit kepalanya, meski gerakan itu membuat luka di lehernya kembali terbuka.“Aku hanya khawatir kau datang dengan niat bodoh.”Josselyn tidak menjawab. Tapi matanya menyapu seluruh tubuh Killian.Darah. Luka terbuka. Memar. Bekas cambukan yang bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.Satu titik di hati terdalamnya merasakan perih.Ia seperti melihat dirinya. Disiksa, dikhianati oleh sosok yang seharusnya melindunginya.Terdengar suara tarikan napas yang terseret dari Killian.Dan itu cukup untuk membuat satu hal jelas—dia tidak akan bertahan lama.“Howarth,” gumamnya pelan tanpa menoleh.L

  • The Alchemist's Touch    98 – The Prince They Chose to Use

    Keheningan setelah kata-kata Yorick terasa lebih menekan di dada Josselyn.Tatapannya masih tertuju pada nama yang terpahat di batu nisan itu.Anne.Jari-jarinya mengepal pelan. Lalu akhirnya, ia berbicara.“Aku tidak akan membuat keputusan dalam keadaan seperti ini.”Suaranya rendah. Stabil. Tapi dingin.Yorick mengerutkan kening.“Kita tidak punya waktu untuk—”“Waktu?” potong Josselyn tajam.Ia menoleh, menatap Yorick untuk pertama kalinya sejak tamparan itu.“Waktu adalah sesuatu yang Anda miliki sejak awal. Tapi Anda memilih diam.”Kalimat itu menghantam tanpa ampun.Yorick terdiam. Untuk sesaat, tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.Hanya napas berat yang tertahan di antara mereka.“Howarth.”Suara itu memecah ketegangan.Howarth melangkah maju dari bayangan. Tatapannya tidak tertuju pada siapa pun secara khusus. Tapi terasa seperti melihat semuanya sekaligus.“Masalahnya bukan lagi siapa yang bersalah,” ujar Howarth tenang.Ia berhenti di antara mereka.“Tapi siapa yang masi

  • The Alchemist's Touch    97 – She Choose The Enemy

    “Howarth—lepaskan aku!”Suara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.“Diam,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.”“Aku harus kembali—!” Josselyn berusaha memberontak lagi. “Anne—dia—”“Sudah mati.”Kalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewati—hutan kecil di dekat danau

  • The Alchemist's Touch    96 – The Letter in Her Dead Hand

    Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.“Seorang Alkemis… berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.”Suara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.“Saya hanya… mencari udara segar, Yang Mulia.”Sepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.‘Howarth!’Sekali lagi, ia memanggil di kepalanya.“Ah, jadi kau di sini.,” Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. “Aku mencarimu ke mana-mana.”Howarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar

  • The Alchemist's Touch    95 – The Girl in the Dungeon

    “Nona Josselyn, ini… surat untuk Anda.”Suara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersih—tapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakan—dingin, lembap dan… rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknya—napas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah… ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,

  • The Alchemist's Touch    86 – You Were Suppose to Destroy Me

    Udara di ruang pemeriksaan terasa terlalu tegang. Bahkan semua orang menahan napas.Josselyn berdiri di sisi ruangan, sedikit di belakang barisan bangsawan. Posisi yang cukup aman—tidak mencolok, tapi masih bisa melihat segalanya dengan jelas.Di tengah ruangan, kursi kayu tinggi ditempatkan sepert

  • The Alchemist's Touch    85 – The Men Who Would Destroy Each Other for Her

    Killian terbangun dengan napas berat.Kepalanya terasa lebih ringan. Tubuhnya juga terasa lebih baik. Ia sadar, semalam adalah tidurnya yang paling nyenyak dalam beberapa hari ini.Ia mengerjap pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya.Langit-langit kamarnya menyambutnya.Lalu—ingatan semalam datan

  • The Alchemist's Touch    83 – You Made Me The Villain

    “Putra Mahkota…”“Jadi benar… dia pelakunya?”“Selama ini dia memang dingin… mungkin ini sudah lama direncanakan…”Bisikan itu tidak lagi berusaha disembunyikan.Jika kemarin hanya mengalir pelan di balik dinding marmer, hari ini suara-suara itu mulai berani keluar, meski masih setengah tertahan.J

  • The Alchemist's Touch    81 – Turning Against Him

    “Ratu diracun…”Bisik-bisik itu sudah terdengar sejak pagi.Tidak ada yang benar-benar ribut. Tidak ada yang berani berbicara keras. Namun bisikan—halus, cepat, dan berbahaya—mengalir seperti racun di antara lorong-lorong marmer.“Ada pengkhianat di dalam istana…”“Siapa yang berani melakukan itu…?

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status