LOGIN“Kenapa kita tidak kabur saja?”Kata-kata Darius masih menggantung di udara, berat, menekan, seolah memiliki wujud.Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Terlalu sunyi. Bahkan Josselyn tak dapat mendengar isi kepalanya sendiri.Ia berdiri di sana, membelakangi Darius, jemarinya masih mencengkeram tepi meja kayu. Napasnya pelan, tapi tidak stabil.Ia tidak menjawab. Tidak bisa. Karena satu jawaban saja—akan menjadi akhir yang salah.Di belakangnya, Darius tidak bergerak. Ia menunggu.Satu detik.Dua detik.Lima detik.Lalu ia tertawa pelan. Hambar.“Begitu ya…” gumamnya.Josselyn menutup matanya sejenak. Ini terlalu tiba-tiba. Dia tak tahu harus merespon apa. Dan ia tak ingin gegabah.Tapi Darius sepertinya menganggap diamnya Josselyn dengan arti lain.“Tidak apa-apa,” lanjut Darius, suaranya lebih tenang sekarang. Terlalu cepat tenang. “Aku sudah menduga.”Josselyn menggertakkan giginya. Ia mengetukkan jarinya tiga kalaai di atas meja. Memaksa otaknya untuk berpikir cepat.“Aku
Josselyn menahan napasnya.Lorong itu terasa terlalu sempit, terlalu penuh oleh kehadiran dua pria di hadapannya. Howarth berdiri santai, seolah dunia ini hanya panggung hiburan untuknya. Darius di sisi lain—kaku, diam, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.Josselyn menatap Howarth, rahangnya sedikit mengeras.‘Tuan, bukankah itu tidak sopan?’Ia hanya memikirkannya. Tatapannya cukup tajam untuk menyampaikan maksud itu.Howarth hanya mengunyah santai.“Aku hanya lapar.”Nada suaranya ringan. Ia menelan potongan terakhir kue itu, lalu menatap Josselyn dengan senyum tipis.“Padahal aku membawakan roti madu untukmu.”Josselyn membeku.Roti madu.Sesuatu dalam ingatannya bergerak cepat.Pagi itu. Rasa manis yang lembut. Hangat. Familiar.Matanya menyempit sedikit.“Itu… dari Anda?”Howarth mengangkat bahu. “Kau memakannya, bukan?”Josselyn tidak langsung menjawab.Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari kenyataan itu. Cara perhatian itu diberikan—diam-diam, tanpa i
Rasa sakit itu tidak datang sekaligus.Ia merambat.Perlahan. Pasti. Seperti racun yang sengaja dibiarkan menyebar.Darius menggantung dengan kedua tangan terikat rantai besi di atas kepalanya. Pergelangan tangannya sudah lecet, kulitnya terbuka, darahnya mengering lalu pecah lagi setiap kali tubuhnya bergerak sedikit saja.Dingin ruang bawah tanah tidak membantu.Justru memperjelas segalanya.Setiap luka. Setiap denyut. Setiap napas.Tubuhnya hampir telanjang. Hanya sisa kain tipis yang tidak cukup untuk menutupi apa pun. Keringat mengalir dari pelipisnya, turun melewati luka-luka di dadanya.Menambah perih.Langkah sepatu terdengar. Perlahan dan berat.Darius tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa itu.“Masih hidup.”Suara itu tenang. Hampir bosan.Darius tersenyum tipis. Bibirnya pecah.“Sayangnya… masih.”Killian berdiri di depannya. Tegap. Bersih. Tidak tersentuh sedikit pun oleh kekacauan yang ia ciptakan.Pecut masih ada di tangannya. Basah. Dan ada bekas merah yang ter
“Ugh…” Josselyn masih mengusap kepalanya, tempat buku itu mendarat sebelum terbuka di lantai. Josselyn membungkuk dan mengambilnya. Begitu jemarinya menyentuh sampulnya, dahinya berkerut. Buku itu tipis. Tapi sampulnya kaku, dan cukup keras, terbuat dari kayu. Josselyn membaliknya—baru menyadari dari mana rasa sakit itu berasal. Ujung dan tengah sampulnya dipasang tonjolan logam. Jelas itu akan terasa sakit sekali saat mengenai kepalanya. “Untung kepalaku tidak sobek karena logam ini.” gumamnya. Ia membukanya. Kertasnya menguning. Beberapa bagian bahkan terlipat dan lecek, seperti sudah dibuka beratus kali. Pinggirannya tidak rapi—ada bekas sobekan, noda samar yang tidak bisa ia pastikan itu apa. Tapi… sampulnya bersih. Tidak ada debu. Tidak ada lapisan yang biasanya menempel pada benda yang lama tidak disentuh. Alis Josselyn tertaut. “…seseorang sering membacanya.” Ia menoleh sekilas ke arah pintu, lalu kembali menatap buku itu. Ruang Herbal ini bukan tempat yang bebas di
“Ke mana kau semalam, Darius—hingga seseorang bisa masuk ke kamarku tanpa izin?” Udara di lorong itu berubah. Hanya ada mereka bertiga, tapi udara terasa sesak dan sempit. “Darius.” Suara itu datar. Tidak tinggi, tidak keras—tapi cukup untuk membuat tulang belakang menegang. Josselyn berhenti. Perlahan, ia menoleh. Killian sudah berdiri di sana. Tidak ada yang tahu sejak kapan. Tidak ada suara langkah. Seakan ia memang sudah seharusnya ada di sana sejak awal. Tatapannya langsung tertuju pada Darius. “Tak bisa kau jelaskan?” Pertanyaan itu sederhana. Tapi cara ia mengucapkannya, membuat udara di tenggorokan berhenti. Darius tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak. Bahunya kaku, tapi tidak menunduk. “Saya sedang tidak bertugas, Yang Mulia.” Jawaban yang aman tapi terasa janggal. “Saya bertukar jadwal dengan Eric, karena…” Darius sedikit memalingkan wajah, hingga pipi kebiruannya terlihat lebih jelas dari arah Killian. Killian tidak langsung merespons. Ia m
Pipi itu semakin jelas warnanya. Biru keunguan, kontras dengan kulit Darius yang biasanya tenang dan bersih dari luka mencolok. Josselyn menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Apa tidak sakit?” tanyanya akhirnya. Darius tersenyum tipis. Menggosok pipinya pelan. “Tidak seberapa.” Josselyn mendengus pelan. “Kalau tidak segera diobati, warnanya akan semakin buruk.” Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. “Ikut. Ke Ruang Herbal.” Darius terdiam sepersekian detik di tempatnya. “…Sekarang?” tanyanya, nadanya sedikit berubah. Josselyn menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Tentu saja sekarang. Anda ingin menunggu sampai wajah Anda jadi bahan lelucon para ksatria lain?” “Tidak, aku hanya—” Darius terbatuk pelan, mengalihkan pandangan. “Baik. Aku ikut.” ‘Ada sesuatu yang aneh dengannya.’ pikir Josselyn. Cara pria itu berjalan di sampingnya sedikit kaku. Terlalu sadar akan jarak. Atau justru… terlalu sadar akan kedekatan mereka. Josselyn tidak mengataka
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan






