FAZER LOGINIn search of love and to break off from her human nature, Amelia Lockwood, a plus size Omega, gets rejected, humiliated and sold by her boyfriend, Ryan. The Alpha of the pack she finds herself in comes to save her, but finds himself in a strange situation with her. He must make her his, as tradition demands, but disaster awaits Amelia in his pack.
Ver mais“Bagus! Utangmu lunas dan aku takkan mengambil rumah ini setelah Malati jadi istri keempatku!”
Tawa langsung memenuhi ruangan.
Paman dan Bibi dari Malati bahkan tampak bahagia sekali mendengar penuturan dari lintah darat itu.Mereka mengabaikan gadis berhijab itu yang terus menunduk–menahan pedih di hati karena dijadikan penebus utang.
Sungguh, Malati benar-benar tak menyangka Paman dan Bibinya itu begitu kejam!
Seusai pulang kampus, dia mendadak didandani. Kerudungnya bahkan sempat dipaksa untuk ditanggalkan, hanya untuk menyambut lintah darat ini.
Untungnya, Malati dapat mempertahankannya meski harus meronta-ronta.
Andai saja orang tuanya masih hidup, dia pasti tak akan bisa diperlakukan seperti ini!
“Hey, Cantik! Aku ingin melihat wajahmu yang cantik itu!”
Tiba-tiba saja, Hanan Jagal sudah berada di sampingnya.
Tangannya mengangkat dagu Malati kemudian menilik dengan seksama wajah cantiknya yang mirip dengan wanita yang dulu ia kejar, tapi selalu mengabaikannya.
Malati spontan menatap pria tua bangka itu.
Rasa jijik tiba-tiba mengalir di dirinya.
Entah memperoleh ilham dari mana, Malati pun menggerakan bibir mungilnya dengan hati-hati, “Maaf, tapi saya tak bisa menerima lamaran Tuan Hanan,” ucapnya.
“Apa maksudmu? Kau mau mempermainkanku?” bentak Hanan. Jelas sekali, juragan kaya raya itu tak suka mendengar kata penolakan.
Junaedi dan Nia sontak panik. Jika Malati menolak, tamatlah riwayat keduanya!
Bisa-bisa Paman dan Bibi Malati itu menjadi tunawisma bersama kedua anak mereka.
Sayangnya, belum sempat melakukan sesuatu, Malati sudah kembali berbicara, “Maaf, Tuan Hanan. Tapi, saya sudah tidak perawan. Saya mengatakan ini agar Tuan Hanan tidak menyesalinya setelah mengeluarkan biaya besar untuk pesta pernikahan nanti,” bohongnya.
“Sekali lagi, maafkan saya.”
Perkataan Malati jelas membuat syok semua orang yang berada di sana.
Terlebih, air mata penuh penyesalan tampak di wajahnya, hingga paman, bibi, dan dua sepupunya pun percaya dengan drama yang sedang dilakukannya.
“Sialan!” maki Hanan. Ia lalu menatap paman Malati dengan sorot kemarahan. “Juned, katamu keponakanmu masih perawan? Kalau seperti itu aku sudah bisa mendapatkan jalang dengan harga berapapun. Bahkan lelang perawan juga takkan semahal utang yang kau tunggak,” geramnya.
Plak!
Tak tahan dengan kemarahan Hanan, sebuah tamparan pun didaratkan Junaedi tepat di pipi Malati.
“Kau sudah bikin malu keluarga! Kau sudah membubuhkan arang di wajah Om dan Tantemu,” kata Junaedi dengan muntab.
Dia melimpahkan kesalahan pada Malati.
Hal ini jelas membuat orang-orang Hanan yang masih sanksi dengan pernyataan gadis itu–terkejut.
Brak!
Hanan Jagal menggebrak meja, tak terima. “Dengar! Aku sudah cukup sabar menghadapi kecoa seperti kalian! Aku beri waktu kalian seminggu untuk mengemasi barang-barang kalian dari rumah ini! Atau kau tukar gadis ini dengan putrimu yang lain!”
Junaedi dan Nia tersentak mendengar ultimatum Hanan Jagal.
Pria tua itu tak pernah bermain dengan kata-kata. Ia selalu serius.
Tak mungkin, keduanya menyerahkan putri-putri mereka yang sudah dipersiapkan menjadi menantu pengusaha, kan?
Hanya saja, Hanan Jagal dan rombongannya sudah berlalu sebelum berhasil mereka bujuk.
Beberapa saudara jauh Nia juga memutuskan untuk pulang.
Menyadari rencananya hancur, Junaedi pun pergi entah ke mana.
Kini tinggalah Malati dan Nia yang terlihat seperti monster dan akan menelan gadis itu hidup-hidup.
“Anak sialan! Kau sudah dikasih makan malah menggigit seperti seekor anjing!”
Nia mengamuk, kemudian menjambak kerudung gadis itu dan membenturkan kepalanya ke dinding.
“Ampun Tante!”
Malati memelas. Ia jatuh berjongkok dengan menguncupkan kedua tangannya, melindungi kepalanya agar tidak dibenturkan lagi ke dinding.
Sungguh, kepalanya terasa mau pecah.
“Tiada ampun! Kau harus dikasih pelajaran! Biar tau diri! Malu-maluin keluarga! Semua orang sini sudah tahu kau ini tidak perawan! Malu-maluin!”
Bug!
Nia terus mendorong tubuh mungil Malati hingga terpojok ke dinding.
“Baiklah, karena kau terlanjur jadi jalang kecil, kau akan bekerja di kota ikut Om Setiadji!” ancam Nia tak main-main.
Deg!
Siapa yang tak mengenal Setiadji?
Seorang mucikari yang berkedok penyalur tenaga kerja ke luar kota dan luar negeri.
“Jangan, Tante Nia!” mohon Malati langsung, “aku akan bekerja lebih giat lagi untuk membantu melunasi hutang kalian. Jangan kirim aku ke Om Setiadji! Aku akan melakukan apapun untukmu Tante.”
Malati bahkan langsung memeluk kedua betis Nia.
Namun, Nia sudah gelap mata. Dia justru menyeret kembali tubuh Malati yang ringkih dan mendorongnya hingga terbentur ke dinding untuk kedua kalinya.
Tanpa tedeng aling-aling, wanita paruh baya itu pun langsung menghubungi sang mucikari!
“Stop! Anda sudah melakukan KDRT!”
Suara bariton terdengar dari bibir pintu yang terbuka.
Nia sontak terkejut kala seorang pria berkemeja putih masuk begitu saja meski tanpa dipersilakan oleh sang empunya rumah.
“KDRT?” balasnya Tante Malati itu dengan kasar, “ini namanya sedang memberi pelajaran karena anak ini sudah tidak perawan lagi!!”
“Lagipula, siapa kau?! Ini urusan keluarga kami.”
Nia kembali mendorong Malati hingga terjungkal ke samping.
Untung saja, kepalanya tidak membentur ujung lemari yang sudutnya tajam.
“Aku? Kau tanya siapa aku?” Pria itu melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya–menampilkan wajahnya yang rupawan.
Didekatinya Malati dengan hati-hati. “Sayang, Kau tak usah tinggal di sini lagi! Sudah Mas bilang kita harus segera menikah jadi kau bisa terbebas dari siksaan wanita yang mengaku sebagai walimu!”
Hah?
Malati beberapa kali mengerjapkan matanya. Ia tak paham apa maksud perkataan Aldino Tama Waluyo–kepala sekolahnya waktu SMA ini!
Mengapa pria dewasa itu datang ke rumahnya?
Bukankah beberapa waktu lalu, dia menolak untuk menjadi pembimbing Olimpiade Matematika di sekolahnya dulu?
Lalu, apa maksud perkataannya dengan memanggilnya Sayang?
Di sisi lain, wajah Nia memerah.
Tampak sekali dia sangat emosi. “Siapa dia, anak sialan?” bentaknya, “apa dia yang sudah mengambil keperawananmu!”
The early morning sun fell softly on my face, as I strode to the window area.The day looked bright, with the chirping of the birds heard that early.Everything seemed perfect, except my mind.It was racing horribly against each other.Instinctively, my hands had gone around my tummy like I was holding a bump since Damian broke the news about me being pregnant again.Honestly, I didn't know what to say or how to feel. Worse, the news didn't come with a brighter mood. I couldn't tell why. Maybe it was just something about the timing not being right and all of that.I remember the joy I felt when I discovered I took in for the twins. It felt so wholesome and surreal that for the first time, I felt I had purpose for my life.I ran my hands across my tummy one more time, thoughts filling me.With this one, it just felt strange. Worst of all, I can't remember the last time I made love with Damian without protection. I sat on the chair which faced the window, eyes staring at my black so
Her eyes were so dark, like she was housing so many things.Her legs made contact with the floor, and immediately she began to walk up to me."Who is she?"I asked Damian, my eyes darting up in defense. Damian gave a faint smile which quickly faded from his lips."She's here to help you with your powers. She will be your teacher from today."He said. His hands ran across my shoulders, obviously encouraging me to calm down.I was obviously troubled by the woman's presence. Her dark eyes appeared darker than I'd ever seen.While she looked almost like a bag of bones.Something wasn't adding up, Damian hasn't mentioned something like this to me, and worse, I never told him that I needed another teacher.Leticia was everything to me and I intended to keep it that way.After I raised a hand to the woman, commanding her to stop coming closer to me, I took a glance at Damian. I had other things to ask him, but his eyes turned darker. His lips turned into what looked like a smirk this time
The next day came quickly, with thoughts about Oliver occupying my mind the whole night, despite having Damian beside me.Damian and I have been together since the day we left the starmoon pack.He had been and was still everything to me, reasons I found it annoying that Oliver still occupied my mind. The thoughts of him filled me.The confusion that rose to his face immediately saw me chairing the pack's company, his arched brows, the sudden terror that rose to his eyes.All flooded my mind.I rose up to meet the bright sun falling on my face. Damian was still fast asleep.There was a meeting that morning, either of us could represent. I gently pulled out of the bed, heading to the bathroom as I didn't want to wake him up.The water was warm, as I allowed it to flow down my body. I grabbed a bottle of soap, and quickly began to take out its content, pouring them on my body. The whole process of the bathing was quick, and soon , I was done bathing.I dressed in a red cotton dress, wh
Amelia. Oliver's eyes glued on me like he'd seen a ghost.Of course, I didn't miss the opportunity to display more elegance and poise for him to see. He was almost choking on high doses of my beauty when I began to speak. "Alright, we're gathered here because we have a new CEO of the starmoon leading company. In the name of...""I believe they should know who I am." I stated, interrupting the moderator of the meeting.Stretching my hands further towards the table to maintain a balance and poise, I began to speak."Being the new CEO of this company, I'll love to state that we have come to put in the work." I glanced at Damian who gave me a proud nod. "I and my partner is willing to work with you all for the betterment of this great company. We can make it greater if we all come together."My words flew with so much class and authority. Everyone paid rapt attention, the room so quiet that only my voice and a pin could be heard if thrown on the floor.I noticed Oliver adjusted his bu
I turned towards the door immediately, but no one was there. And when my hands ran over my body, there were no more wounds. I ran to the mirror immediately, to my surprise I was now looking normal. I had no cuts whatsoever, neither were my eyes blazing black. I sank on the bed, wondering what
My back laid against a cold stone, my breath, battling the heavy stench which hung in the air. The air was frigid, and I found myself shivering in this gloomy room. I attempted to lift my head from the stone as soon as I was about to move my body, but my face struggled with cobwebs. I pulled it
Amelia. My eyes widened immediately I heard the words come out of the great Xavier's mouth, and my eyebrows narrowed quickly. I felt my palm sweat and I swallowed uneasily. My chest began the irresistible rhythm, while I watched Alpha Oliver protest against what his father had said. "No, Fathe
Alpha Oliver I laid on the brown sofa at my balcony, my eyes over the large cities of my pack. It was my favorite spot as it helped me clear my head every evening. Being the Alpha of a large pack like mine has been tasking, it's was more daring than I thought it would be, adding to the fact t












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
avaliações